Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31. Masuk ke kampus suara gosip yang Hampir membongkar tentang mereka berdua
Pagi itu, suasana di gerbang kampus terasa berbeda dari biasanya. Alih-alih sapaan hangat dan tawa ringan, udara justru terasa penuh bisik-bisik dan tatapan aneh yang saling berbagi antar mahasiswa. Aku berjalan masuk dengan tenang, namun setiap langkah terasa berat. Beberapa orang menatapku lalu berbisik pelan ke teman di sebelahnya, sesekali melirik ke arahku dengan senyum yang penuh selidik. Jantungku berdebar kencang, namun aku berusaha tetap tenang, berpura-pura tak menyadari apa pun.
Saat sampai di kantin, tempat yang biasanya riuh rendah, suasana justru hening sejenak saat aku melangkah masuk. Aku duduk di meja pojok bersama Rina, berusaha bersikap biasa. Namun baru saja duduk, Rina langsung mencondongkan tubuhnya, wajahnya terlihat cemas sekaligus serius.
"Lisna... kamu dengar belum?" bisiknya pelan, matanya menatapku lekat-lekat. "Ada gosip yang menyebar sejak pagi tadi di seluruh fakultas. Katanya... ada hubungan khusus antara kamu dan Pak Arga."
Darah seketika berdesir hebat di seluruh tubuhku. Napasku tertahan, dan tanganku yang memegang gelas air gemetar pelan. "Apa... apa yang mereka katakan?" tanyaku dengan suara yang berusaha kupertahankan tenang, walau hatiku sudah berantakan tak karuan.
"Mereka bilang... ada yang melihat kamu naik mobil Pak Arga pagi kemarin. Bahkan ada yang bilang melihat dia menurunkanmu di pintu samping yang sepi. Lalu ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan kalian yang sering berpapasan di lorong, cara dia menatapmu di kelas, dan perhatian-perhatian kecil yang mulai disadari orang... semua itu kini disatukan dan dijadikan bahan pembicaraan. Banyak yang bilang kalian sudah berpacaran, bahkan ada yang bilang sudah bertunangan."
Rina berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, "Dan yang paling buruk... kabar itu sudah sampai ke telinga beberapa dosen senior. Katanya, Pak Arga dipanggil ke ruang dekan pagi ini untuk menjelaskan soal ini."
Kakinya terasa lemas seketika. Aku tak menyangka hal yang sedemikian rapi dan berhati-hati justru bisa tercium oleh orang-orang. Satu kesalahan kecil — naik mobilnya di pagi hari — dan semuanya terancam hancur. Bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana dengan nama baiknya sebagai dosen? Bagaimana dengan janji-janji yang pernah kami ucapkan?
Aku berdiri dengan tangan yang gemetar. "Aku harus menemui Pak Arga. Aku harus menjelaskan bahwa itu bukan salahnya, bahwa aku yang..."
Rina segera menahan tanganku, "Jangan, Lisna! Kalau kamu pergi ke ruangannya sekarang, justru makin membuktikan bahwa gosip itu benar. Kamu harus tetap di sini, bersikap tenang, dan biarkan dia yang menanganinya. Dia orang dewasa, dia tahu apa yang harus dilakukan."
Namun aku tak bisa diam. Perasaanku tak tenang. Aku tak ingin dia menanggung semua tuduhan itu sendirian. Dengan alasan ke perpustakaan, aku berjalan cepat menuju lorong gedung administrasi, berharap bisa melihatnya sekilas, memastikan bahwa dia baik-baik saja. Namun saat aku melewati ruang dekan, pintunya terbuka sedikit, dan suara Arga terdengar tegas dan tenang dari dalam.
"Benar, saya yang mengantarkan mahasiswi itu ke kampus kemarin," ucapnya dengan nada yang mantap tanpa rasa takut sedikit pun. "Namun itu bukan karena hubungan khusus yang tidak pantas. Saya kebetulan lewat, melihatnya berjalan sendirian di pagi hari yang masih sepi dan agak gelap, dan saya memutuskan untuk memberinya tumpangan demi keselamatan semata. Itu adalah tindakan kemanusiaan dasar, bukan hal yang perlu dibesar-besarkan."
Suara dekan terdengar penuh keraguan, "Tapi banyak mahasiswa yang melihat kalian berdua sering terlihat bersama, berpapasan di tempat sepi, dan perlakuanmu padanya terlihat berbeda dari mahasiswa lain."
Arga menjawab dengan tenang namun tegas, "Saya mengajar ratusan mahasiswa setiap semester, Pak. Saya memperhatikan setiap orang yang berusaha dan berprestasi. Lisna adalah salah satu mahasiswi yang rajin dan cerdas, wajar jika saya lebih sering memperhatikannya dalam hal akademis. Namun itu semua hanya sebatas hubungan dosen dan mahasiswa. Tak ada hal lain di antara kami. Saya menjamin itu dengan seluruh tanggung jawab saya sebagai pendidik."
Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan isak tangis yang hampir keluar. Dia... dia mengambil semua alasan itu sendiri, menanggung semuanya dengan kepala tegak, tanpa pernah sekalipun menyalahkanku, tanpa pernah membocorkan sedikit pun tentang hubungan kami. Dia memilih melindungiku dengan cara itu — menyembunyikan kebenaran agar aku tak terkena dampak, meski dia sendiri harus menghadapi tekanan dari atas.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Arga keluar. Wajahnya tetap tenang, namun matanya terlihat sedikit lelah. Saat melihatku berdiri di sana, dia terkejut sejenak, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tetap tenang. Saat berpapasan di sampingku, dia berbisik pelan dan cepat, "Jangan khawatir. Semuanya sudah baik-baik saja. Tetaplah bersikap biasa. Jangan biarkan gosip ini menguasai hatimu. Percayalah padaku."
Lalu dia berjalan pergi, seakan tak ada hal istimewa yang diucapkannya. Namun kalimat itu saja sudah cukup untuk menenangkan badai di hatiku. Dia berhasil menenangkan dekan, dan berkat ketegasan serta kebijaksanaannya, gosip itu perlahan mereda dalam beberapa hari. Orang-orang mulai berhenti berbisik, karena tak ada bukti nyata yang bisa mereka tunjukkan.
Namun hari itu menjadi pelajaran paling berharga bagi kami. Gosip itu hampir membongkar segalanya, hampir menghancurkan semua yang kami bangun. Tapi justru di saat itulah aku melihat betapa besar tanggung jawab dan kasih sayangnya padaku — dia rela menanggung semua tuduhan demi melindungiku, tanpa pernah membiarkan aku terluka. Dan sejak hari itu, kami berjanji untuk jauh lebih berhati-hati, lebih menjaga batas, dan lebih kuat dalam menghadapi segala rintangan. Karena kami tahu, di balik setiap bisik-bisik orang lain, ada cinta yang jauh lebih kuat daripada rasa takut — cinta yang siap berjuang, menunggu, dan sabar sampai saat di mana kami tak perlu lagi bersembunyi dari siapa pun.
bersambung...