"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 29, Cincin Pernikahan
Anna melangkahkan kaki keluar dari rumah kedua orang tuanya dengan dada yang terasa sesak.
Udara sore di Kepulauan Seribu sebenarnya tidak terlalu panas. Angin laut berembus perlahan, membawa aroma asin yang samar-samar bercampur dengan wangi tanah basah dan dedaunan. Namun entah mengapa, bagi Anna, setiap tarikan napas terasa berat.
Seolah-olah ada sesuatu yang menindih dadanya.
Percakapan dengan ibunya beberapa menit lalu masih berputar-putar di kepalanya.
Perceraian.
Kekecewaan.
Pengorbanan.
Dan kalimat-kalimat tajam yang sejak kecil selalu berhasil membuat Anna merasa dirinya tidak pernah cukup baik.
Ia membuka pintu dan lalu menuruni anak tangga teras rumah. Entah mengapa, sesuatu menarik perhatiannya.
Anna menoleh ke arah kanan.
Di sana terdapat pagar hidup yang menjulang di sisi rumah. Rimbunan daun hijau menutupi sebagian besar permukaannya. Benda bunga mawar rampai yang tumbuh liar di sela-sela pagar bergoyang.
Namun, Anna yakin jika daun-daun dan bunga-bunga mawar rampai yang bergerak itu bukanlah angin semata. Seperti ada seseorang yang baru saja lewat dengan gerakan cepat.
Yang lebih menarik perhatiannya adalah salah satu ranting bunga tersebut bergerak sedikit keras daripada yang lainnya.
Anna menyipitkan mata. "Apa ada kucing?"
Ia menatap beberapa detik, akan tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya dedaunan dan bunga-bunga berwarna pink bergoyang yang di terpa angin sore.
Anna menghela napas, mungkin saja dirinya terlalu lelah setelah meluapkan emosinya barusan. Sebelum salah satu anggota keluarganya menyusul, gegas Anna memilih untuk melanjutkan langkah dengan tergesa.
Langkahnya semakin jauh, semakin kecil. Hingga akhirnya sosoknya hanya menjadi bayangan yang perlahan di telan jalan.
Namun Anna tidak pernah tahu bahwa beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi, seseorang memang tengah bersembunyi. Jeevan Aditya menahan napas dibalik rimbunan daun pagar.
Tubuh tingginya nyaris menyatu dengan bayangan pepohonan. Sejak suara langkah dari dalam terdengar tadi, pria itu berdiri diam di sana, sengaja memilih tempat yang cukup tersembunyi agar keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun.
Terutama Anna.
Ia tidak pernah berniat menguping.
Awalnya Jeevan hanya datang untuk menemui kedua orang tua Anna. Setelah putusan bercerai, ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya. Ia merasa harus meminta maaf kepada mereka. Dan meskipun pernikahan mereka telah berada di ujung tanduk, Jeevan masih merasa dirinya memiliki tanggung jawab atas luka yang mungkin ditinggalkannya.
Namun niat itu malah merubah segalanya, Jeevan mengetahui sebuah rahasia yang selama ini Anna simpan sendirian. Jeevan merasa gagal selama pernikahan mereka jalani, ternyata dirinya sama sekali tidak pernah mengerti Anna.
Kepalanya kembali memutar ulang pada sebuah kalimat.
"Atasanku melecehkan aku, Bu."
Tangannya mengepal begitu kuat, rahangnya mengeras menahan emosi. Ia kembali menoleh ke arah Anna yang semakin tidak terlihat.
...🌴🌴🌴...
Malam telah jatuh ketika Jeevan kembali ke Jakarta.
Ia turun dari bus di halte yang tak jauh dari kawasan apartemen dirinya tinggal. Ia berjalan lunglai sendirian, lampu-lampu apartemen dari kejauhan menyala terang. Tetapi, jalanan itu seperti tempat yang telah kehilangan lampu-lampu hias yang di tata oleh kontruksi bangunan.
"Sudah pulang, Mas...."
Seorang satpam apartemen menyapa Jeevan.
"Iya." Jawab Jeevan dengan memaksakan senyum.
Ia kembali melangkah terus memasuki gedung apartemen tempat ia tinggal. Saat memasuki lift, ia kembali teringat pada ucapan Anna.
Anna mengalami depresi, Anna pernah dilecehkan oleh atasannya, Anna menanggung semuanya sendirian.
"Kenapa kamu gak pernah cerita, Na?" batinnya seraya memejamkan mata sejenak.
Pintu lift terbuka, ia gegas keluar dan pada saat berjalan menuju apartemennya, ia menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita paruh baya mengenakan blouse krem dengan rok hingga mata kaki.
Perempuan itu menenteng sebuah tas serbaguna di kedua tangannya.
"Ibu?" sapa Jeevan.
Wanita itu menoleh, lalu tersenyum menatap putranya.
"Kamu baru pulang?" tanyanya ramah.
"Ya." Jawab Jeevan singkat.
Jeevan kembali melangkah mendekati pintu, ia menekan tombol keamanan pintu. Setelah itu pintu bisa dibuka, dan mereka pun gegas masuk.
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain, di rumah sewa milik Sherly, Anna duduk seorang diri di bangku kayu yang diletakkan di rooftop rumah.
Kepalanya mendongak.
Langit malam terbentang luas di sana. Sayangnya, tidak ada satu pun bintang yang berkedip, hanya warna gelap yang menggantung seperti tirai.
Anna menarik napas panjang.
Ia sudah memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta selama masa pemulihan. Mungkin kedepannya juga ia akan mencari pekerjaan untuk menafkahi dirinya sendiri. Karena tidak mungkin ia akan terus bergantung pada Sherly atau pun Irene.
Respons ibunya tentang perceraian membuatnya sadar bahwa pulang bukan selalu berarti kembali ke tempat yang aman. Kadang rumah adalah hanya tempat yang mengingatkan seseorang pada alasan mengapa ia pernah ingin pergi.
"Masih bengong?"
Suara Sherly membuat Anna menoleh.
Perempuan itu muncul dari arah tangga yang menghubungkan lantai dua dengan rooftop sambil membawa dua kaleng minuman soda.
Satu kaleng di sodorkan kepada Anna. "Nih!"
Anna tersenyum tipis seraya meraih kaleng minuman itu. Awalnya hanya diam, menegak minuman mereka masing-masing sambil menatap langit malam tanpa bintang.
"Jadi, kamu bener-bener tetap tinggal di Jakarta?" tanya Sherly tanpa menoleh.
Anna menunduk menatap kaleng minumannya seraya mengangguk. "Hmm..."
"Baguslah, daripada kamu tinggal sama keluargamu yang terus ngutamain Abang sama Adekmu mulu...."
Anna tersenyum getir, hanya dirinya yang menjadi anak kedua. Sherly dan Irene memang anak tunggal.
"Oh iya, Sher...aku juga...izin numpang dulu ya disini...nanti kalau aku udah dapat kerjaan...aku bakal cari tempat tinggal." Ujar Anna dengan nada tak enak.
Sherly menoleh. "Ah elah, santai aja kali Na. Lagian...aku seneng kok kamu tinggal bareng sama aku. Gak usah kemana-mana, kalau kamu udah dinyatakan sembuh baru aku izinin kamu buat cari tempat tinggal."
Anna mengulum senyumnya. "Makasih ya, Sher."
"Sama-sama, santai aja." Jawab Sherly enteng.
Hening kemudian.
"Kamu... beneran udah lupain Mas Jeevan?" tanya Sherly hati-hati.
Anna diam sesaat. "Aku lagi belajar."
Sherly mengangguk. "Beberapa hari lalu, aku ketemu sama Mas Jeevan. Dia datang ke kafe ketemu sama beberapa orang. Mungkin kliennya."
Anna mengangguk. "Mungkin."
"Kamu...beneran udah gak ada kontakan lagi sama dia, Na?" tanya Sherly penasaran.
"Iya. Kenapa?" Anna menoleh dan menatap sahabatnya.
"Aku lihat...Mas Jeevan masih pakai cincin pernikahan loh." Ucap Sherly. "Kayanya...dia masih cinta sama kamu, Na."
Anna diam sesaat, seharusnya cincin pernikahan itu Jeevan lepaskan setelah keputusan untuk bercerai. Tapi kenapa Jeevan malah masih memakainya?
"Na," panggil Sherly lagi.
"Hmmm..." jawabnya.
"Bukan aku bermaksud mencampuri keputusan kamu ya. Tapi kayaknya...Mas Jeevan..."
Anna menyela. "Bisakah kita tidak bahas Mas Jeevan sekarang?"
"O-oh...tentu...ma...maaf..." seru Sherly gagu.
Tiba-tiba saja ponsel milik Sherly berdering. Ia meraih ponselnya dan menatap layar, ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?" sapa Sherly.
"To-tolong saya..."
Sambungan kembali terputus, Sherly menatap layar ponselnya dengan ekspresi heran.
"Ada apa?" tanya Anna.
"Gak tahu...ini... karyawan kafe udah hampir dua hari gak masuk kerja. Tapi barusan dia telpon aku sambil minta tolong gitu..." Ujar Sherly.
"Minta tolong?" tanya Anna.
...🌴🌴🌴...
Waduh...kenapa tuh? Mau tahu jawabannya? Tunggu bab selanjutnya 🫶
...BERSAMBUNG...