Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Satu Rumah Dua Pria
Rania masih sibuk menatap layar laptopnya.
Beberapa dokumen perusahaan terbuka di hadapannya, sementara Daffa masih berbaring santai di sofa.
Setelah beberapa menit bekerja, Rania merasa tenggorokannya kering.
Tangannya perlahan meraih gelas air putih yang berada di atas meja.
Jemarinya hampir menyentuh gelas tersebut ketika tiba-tiba...
Ucapan Brian kembali terlintas di pikirannya.
"Daffa bukan pria yang baik untukmu."
Rania terdiam.
Kemudian suara Brian kembali menggema di kepalanya.
"Jika kau tidak bisa menjaga anak kita, aku akan memastikan kau tidak perlu pergi ke mana pun lagi."
"...aku akan mengurungmu di dalam sangkar emasku."
Rania mengerutkan kening.
Kenapa ia terus mengingat perkataan Brian? Pria itu memang menyebalkan.
Terlalu posesif. Terlalu percaya diri.
Namun entah mengapa, sejak malam ini Rania justru merasa ada sesuatu yang berbeda.
Tangannya masih berada di dekat gelas. Rania melirik Daffa sekilas. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya.
Rania kemudian menarik tangannya perlahan, seolah membatalkan niat untuk minum.
Namun ia segera menyadari bahwa gerakannya mungkin terlihat mencurigakan.
Rania pun berpura-pura mengambil berkas di samping gelas.
Daffa yang sejak tadi memperhatikannya dari sudut mata langsung menyadari hal tersebut.
Namun wajahnya tetap tenang. Tidak ada perubahan ekspresi.
"Kenapa?" tanyanya santai.
Rania menoleh. "Tidak apa-apa."
Daffa mengangguk kecil. "Kalau haus, minum saja."
Rania tersenyum tipis. "Nanti."
Daffa kembali menatap layar ponselnya.
Namun di balik wajah tenangnya, rahangnya mengeras.
Dia mulai mencurigaiku? Daffa menahan emosinya, ia tidak boleh terburu-buru.
Tidak boleh membuat Rania menyadari apa pun.
Waktu terus berlalu, hingga kini menunjukkan pukul 21.30.
Rania menguap untuk kesekian kalinya.
Daffa memperhatikannya dari sofa. "Kau sudah terlalu lelah."
Rania masih mengetik. "Sedikit lagi."
Daffa menghela napas. "Sudahi pekerjaanmu."
Rania akhirnya berhenti mengetik, ia menatap jam di dinding. "Sudah setengah sepuluh?"
Daffa mengangguk. "Besok masih bisa dilanjutkan."
Rania mengangguk pelan. "Sudah, ini sudah selesai," ucap Rania setelah menekan tombol enter di laptopnya, ia lalu menutup laptop.
Namun tiba-tiba...
"Ah..." Rania memegang perutnya.
Daffa langsung memperhatikannya. "Kenapa?"
Rania menggeleng. "Tidak apa-apa." Ia kemudian terdiam beberapa detik.
Tanpa sadar, sebuah kalimat keluar begitu saja dari bibirnya. "Aku ingin makan cake manis."
Begitu menyadari apa yang baru saja ia katakan, Rania langsung menutup mulutnya.
Matanya membesar. "Aku..."
Daffa justru tersenyum. "Kau sedang mengidam?"
Rania menunduk malu. "Entahlah."
Daffa bangkit dari sofa. "Aku akan membelikannya."
Rania langsung menggeleng. "Jangan, ini sudah malam Daffa."
Daffa berhenti. "Aku bisa mencarinya."
"Tidak perlu, Daffa." Rania menggeleng lagi. "Bagaimana kalau tokonya sudah tutup? Aku tidak ingin merepotkanmu."
Daffa tersenyum lembut. "Kau tidak merepotkanku." Ia mendekat. "Kalau itu yang kau inginkan, aku akan mendapatkannya."
Rania terdiam.
Daffa menatapnya dengan sorot mata penuh perhatian. "Tunggu aku kembali."
Rania menghela napas. "Baiklah."
Daffa mengambil jaketnya. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. "Jangan pergi ke mana-mana."
Rania mengangguk.
Daffa tersenyum. "Sebentar lagi aku kembali."
Klik! Pintu ruangan tertutup.
Senyum lembut di wajah Daffa perlahan menghilang. Ia berjalan meninggalkan rumah dengan langkah tenang.
Namun begitu berada jauh dari Rania, senyum tipis muncul di wajahnya.
Cake manis.
Tangannya mengepal, malam ini tidak boleh gagal.
Sementara di kamar lantai satu...
Brian masih terjaga, ponselnya berada di tangan.
Panggilan dari Kakek Barra baru saja masuk.
Brian menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
"Ya, Kakek?"
Suara Barra langsung terdengar. "Brian, kapan kau membawa Rania kemari?"
Brian memejamkan mata. "Kakek, bersabarlah."
"Aku sudah cukup bersabar!" Jawab Barra.
Brian mengusap wajahnya. "Kondisi Kakek baru saja membaik. Jangan terlalu banyak berpikir."
"Tapi aku ingin bertemu Rania." Protes Barra.
"Nanti."
"Kapan?" Sahut pak tua itu.
Brian terdiam, ia tahu percakapan ini tidak akan berakhir jika ia terus menjawab pertanyaan kakeknya.
"Kakek harus istirahat," titah Brian.
"Tapi—"
"Selamat malam, Kakek."
Tut! Brian langsung memutus panggilan.
Brian menurunkan ponselnya.
"Kalau tidak begitu, dia akan terus merengek sampai pagi," gumam Brian.
Brian menyandarkan tubuhnya. Namun pikirannya kembali kepada Rania.
Wanita itu sama sekali tidak banyak bertanya mengenai kondisi Kakek Barra.
Padahal dulu...
Rania selalu menjadi orang pertama yang menanyakan kesehatan kakeknya.
Bahkan hal kecil sekalipun tidak pernah luput dari perhatiannya.
Brian mengerutkan kening. "Kemana Rania yang dulu?"
Ia terdiam, kemudian sebuah pikiran muncul.
"Atau..." Brian membuka matanya, "Rania sedang merencanakan sesuatu?"
Ia kembali mengingat semua kejadian beberapa hari terakhir.
Kakek Barra sudah memberikan Rania sebuah perusahaan.
Bahkan sebuah rumah.
Namun Rania sama sekali tidak berusaha mencari tahu kondisi kakeknya.
Tidak mendesak Brian. Tidak meminta bertemu. Tidak menunjukkan rasa penasaran yang berlebihan.
Justru sebaliknya, Rania seperti sengaja menjaga jarak.
Brian menyipitkan mata. "Aneh." Ia menatap langit-langit.
"Kalau kau memang sudah tidak peduli..." Brian terdiam. "Kenapa kau masih berusaha menyembuhkan kakiku?"
Pertanyaan itu membuat pikirannya semakin rumit.
Namun satu hal yang paling mengganggunya tetap sama.
Daffa.
Tatapan pria itu kepada Rania.
Cara Daffa bersikap seolah memiliki hak penuh atas wanita tersebut.
Brian mengepalkan tangannya. "Aku tidak menyukainya." Sorot matanya berubah dingin. "Bahkan sangat membencinya."
Brian kemudian meraih ponselnya, ia membuka kontak Rio.
Tut! Panggilan tersambung.
"Ya, Tuan?"
"Rio."
"Ya, Tuan."
"Atur pertemuan bisnis Rania besok dengan investor barunya," ucap Brian.
Rio terdiam sesaat. "Di mana, Tuan?"
"Di sebuah club malam." Nada suara Brian terdengar tenang.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat perintahnya terasa mengancam.
"Pastikan informasi mengenai pertemuan itu sampai kepada Mona." Brian berhenti sejenak. "Dan Daffa."
Rio memahami maksudnya. "Apakah Anda akan mulai membalas dendam pada Tuan Daffa?"
Brian tersenyum tipis. "Ya." Ia menatap ke arah pintu kamar. "Kurasa sudah waktunya."
Brian mengembuskan napas perlahan. "Kita lihat seberapa kuat dia mempertahankan semua yang dimilikinya."
Rio mengangguk dari seberang telepon. "Baik, Tuan. Semuanya akan saya persiapkan."
Tut! Panggilan berakhir.
Brian menurunkan ponselnya. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya. "Permainan kita baru saja dimulai, Daffa."
Bersambung...