Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semuanya Aku Peroleh Sendiri

Sesampainya di rumah, Haselyn langsung disambut pemandangan yang sudah begitu akrab baginya.

Seluruh anggota keluarganya berkumpul di ruang tengah, menyambut kepulangan Nisrina dari Singapura. Tawa memenuhi ruangan, suara obrolan saling bersahutan, dan perhatian semua orang hanya tertuju pada kakak sulungnya.

Tak seorang pun menyadari Haselyn baru saja pulang. Atau mungkin, mereka memang tidak peduli. Haselyn mendecih pelan. Tanpa berniat ikut bergabung, ia memilih melangkah menuju tangga. Tubuhnya terasa lelah, sementara hatinya jauh lebih penat daripada biasanya.

“Tidak penting juga,” gumamnya lirih. Kakinya menghentak dengan sedikit keras agar orang-orang menyadari kehadirannya

Suara langkah kaki Haselyn membuat Mama Mayrah menoleh “Hasel!” Suara Mama Mayrah menghentikan langkahnya.

Haselyn menoleh sekilas tanpa bereaksi lebih atas panggilan sang mama, kakinya masih ada di atas anak tangga tanpa bergerak sedikitpun.

“Kamu nggak nyapa kakakmu dulu? Dia baru pulang dari Singapura, lho.” Heran saja dengan kelakuan anak bungsunya yang malah tidak menyapa kakaknya yang baru pulang dari luar negeri

Haselyn mengembuskan napas pelan. “Hasel capek, Ma. Nanti saja nyapanya.” Ia kembali melangkah.

“Hasel!” Kali ini suara Faeyza terdengar lebih tajam. “Kamu nggak sopan banget, sih? Kakakmu baru datang, harusnya kamu nyapa dulu.” Faeyza benar-benar tersinggung dengan sapaan adiknya yang terlihat kurang ramah

“sabar mas” Melaney, istri dari Faeyza membujuk suaminya agar tidak terlalu galak pada Haselyn, namun mana Faeyza peduli dengan teguran itu

Haselyn memejamkan mata sesaat, berusaha menahan diri. “Aku capek banget, Kak. Nanti saja, ya.”

Hari ini ia benar-benar tidak memiliki tenaga untuk berdebat. Hatinya masih terlalu rapuh setelah seharian menelan rasa kecewa. Ia belum siap mendengar ceramah, sindiran, atau perbandingan yang selalu membuatnya merasa tidak pernah cukup.

“Kamu ini anak nggak sopan!” bentak Mama Mayrah. Ucapan itu membuat langkah Haselyn akhirnya terhenti.

Perlahan ia berbalik. Tatapannya menelusuri wajah satu per satu anggota keluarganya. Ada sesuatu yang dingin di matanya sesuatu yang lahir dari kekecewaan yang sudah terlalu lama dipendam.

“Aku sudah bilang nanti akan menyapa Kak Nisrina,” ucapnya, menahan gemetar di suaranya. “Aku baru pulang dan aku capek. Lagi pula, Kak Nisrina juga nggak akan balik ke Singapura dalam waktu dekat, kan?” Emosi yang sedari tadi ia tekan akhirnya mulai merembes keluar.

Ruangan seketika menjadi lebih sunyi.

Nisrina yang sejak tadi memperhatikan adiknya akhirnya angkat bicara. “Sudahlah, Ma,” katanya lembut. “Mungkin Hasel memang benar-benar capek. Lihat, ini sudah jam lima sore dan dia baru pulang sekarang, kita masih bisa bicara saat makan malam.”

Nisrina menatap Haselyn dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Biarkan dia istirahat dulu.”

Haselyn tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam erat map yang sejak tadi dibawanya. Map berisi piagam kelulusan terbaik. Piagam yang bahkan belum sempat dilihat oleh siapa pun di rumah itu.

“Capek apanya?” Faeyza mendengus sinis. “Paling juga habis main seperti biasanya. Yang kamu tahu cuma main dan hura-hura.” Ucapan itu menghantam Haselyn seperti tamparan.

“Apa Kakak bilang?!” teriaknya, suaranya meninggi untuk pertama kalinya.

Dadanya naik turun menahan amarah yang selama ini ia pendam.

Main?

Hura-hura?

Sejak kapan ia punya waktu untuk semua itu?

Setiap hari hidupnya dihabiskan untuk belajar, bekerja, dan mengumpulkan uang demi membayar kebutuhan sekolahnya sendiri. Saat teman-teman sebayanya menikmati masa remaja, Haselyn justru sibuk mencari cara agar tetap bisa bertahan. Bahkan untuk sekadar membeli buku atau ongkos transportasi, ia harus memikirkannya berkali-kali. Lalu dengan begitu mudahnya Faeyza menuduhnya hidup bersenang-senang.

“Memangnya aku salah?” balas Faeyza tanpa sedikit pun merasa bersalah. “Aku cuma ngomong yang benar tentang kamu.” Tudingkan akan sosok Haselyn yang ia yakini

Haselyn tertawa pelan, tetapi tawanya terdengar pahit. “Kakak nggak usah sok tahu kalau Kakak nggak tahu apa pun tentang hidupku!” Suasana ruang tengah mendadak membeku.

Haselyn menatap Faeyza dengan mata yang memerah. Kekecewaan yang bertahun-tahun ia telan kini berubah menjadi kemarahan yang sulit dibendung. Selalu seperti ini. Setiap kali terjadi sesuatu, ia yang akan disalahkan. Ia yang menjadi sasaran tuduhan. Seolah keberadaannya memang diciptakan untuk menanggung semua kesalahan, meski ia tidak pernah melakukannya.

“Hasel!” bentak Mama Mayrah. “Sopan sama kakakmu!”

Bentakan itu membuat Haselyn menoleh cepat. “Sopan?” ulangnya lirih, lalu tersenyum tipis dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Mama nyuruh Hasel sopan?”

Suaranya bergetar, tetapi setiap kata yang keluar terasa tajam. “Terus bagaimana dengan Kak Faeyza yang ngomong sembarangan tentang Hasel? Dia nuduh Hasel main dan hura-hura tanpa bukti apa pun. Dia bahkan nggak pernah tahu Hasel ke mana, ngapain, atau bagaimana Hasel menjalani hidup.” Haselyn menarik napas panjang, berusaha menahan sesak yang menekan dadanya.

“Kenapa Hasel yang selalu dituntut sopan? Kenapa orang yang menyakiti Hasel selalu dimaklumi, tapi saat Hasel membela diri, Hasel langsung dianggap anak yang kurang ajar?”

Ruangan itu kembali sunyi. Untuk sesaat, tak ada yang mampu menjawab. Karena untuk pertama kalinya, Haselyn tidak lagi memilih diam.

“Loh, memang salah Kakak di mana?” Faeyza tetap berdiri teguh pada pendiriannya. “Kamu itu cewek manja yang tahunya cuma main dan merengek sama Mama buat dapat apa yang kamu mau.” Jari telunjuk Faeyza terarah tepat ke wajah Haselyn.

Haselyn menyipitkan mata, menatap kakaknya tanpa berkedip. “Dari mana Kakak tahu?” tanyanya dingin. “Kakak pernah lihat aku main? Pernah lihat aku menghambur-hamburkan uang?”

“Setiap Kakak pulang ke rumah ini, kamu selalu nggak ada.” Jawab Faeyza dengan cepat

“Karena Kakak datang siang hari,” potong Haselyn cepat. “Kakak juga tahu aku selalu ada di rumah malam hari.”

“Ah, alasan!” Faeyza mengibaskan tangan, seolah ucapan Haselyn sama sekali tidak berarti. “Kakak tahu barang-barang yang kamu pakai itu mahal.” Tatapan Faeyza turun ke tas yang masih disampirkan di bahu Haselyn dan sepatu yang dikenakannya.

“Pasti kamu merengek sama Mama buat dibeliin semua itu.”

Haselyn terdiam sesaat. Lalu ia tertawa pelan. Tawa yang terdengar begitu pahit. Barang-barang itu? Tas yang ia beli dari hasil keuntungan bisnis kecilnya. Sepatu yang ia beli setelah berbulan-bulan menyisihkan uang. Tak satu pun berasal dari uang orang tuanya. Namun, tak ada seorang pun di rumah itu yang pernah bertanya. Mereka lebih memilih berasumsi.

Faeyza berbalik menatap Mama Mayrah. “Mama juga terlalu memanjakan Hasel. Makanya dia jadi berani sama orang yang lebih tua.”

Haselyn membeku. Wajahnya perlahan berubah, antara marah dan terluka.

“Apa Kakak bilang?” Suaranya nyaris berbisik, tetapi justru terdengar lebih menggetarkan.

“Manja?” Ia menatap Faeyza dengan mata yang mulai dipenuhi air mata, bukan karena lemah, melainkan karena terlalu sakit mendengar tuduhan itu.

“Selama ini Kakak benar-benar mengira semua yang aku punya berasal dari Mama?”

Haselyn menggeleng pelan. “Lucu ya. Kakak bisa menuduhku manja, padahal Kakak nggak pernah tahu bagaimana aku mendapatkan semua itu.”

Ia mengangkat tas yang masih berada di tangannya. “Ini aku beli sendiri.”

Lalu ia menunjuk sepatunya. “Yang ini juga.” Suaranya mulai bergetar.

“Bahkan biaya sekolahku, uang sakuku, dan banyak kebutuhan lain yang selama ini kupakai… aku usahakan sendiri.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Faeyza menatap Haselyn dengan raut tidak percaya, sementara Haselyn tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan terlalu banyak luka.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!