### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karier Ketiga: Pedagang
Senin pagi, layar holografik itu muncul lagi tepat saat Reyhan baru selesai mandi, handuk masih tersampir di lehernya.
> [SISTEM KARIR MINGGUAN — MINGGU KE-3 DIMULAI.]
> [Karier Anda minggu ini: **PEDAGANG**]
> [Modal diberikan: Rp500.000]
> [Misi: Capai omzet kumulatif minimal Rp15.000.000 dalam 7 hari.]
> [Reward: Business Instinct Lv.1 + bonus sesuai performa]
Reyhan berdiri mematung di depan cermin, membaca ulang tulisan itu tiga kali.
"Lima ratus ribu?" gumamnya. "Sistem, ini serius? Minggu lalu aku dapet reward tiga puluh lima juta, sekarang malah cuma dikasih modal segini?"
> [Modal disesuaikan dengan jenis karier. Pedagang dimulai dari nol, bukan dari fasilitas siap pakai.]
"Terus aku harus jualan apa? Sistem nggak kasih arahan sama sekali?"
> [Pilihan produk diserahkan sepenuhnya kepada pengguna. Sistem hanya menilai hasil.]
Reyhan mengembuskan napas panjang, duduk di pinggir kasur sambil memutar-mutar handuk di tangannya. Ia mencoba berpikir keras dari semua hal yang bisa dijual, apa yang paling masuk akal buat orang yang bahkan belum pernah masak nasi goreng sekalipun?
Siang harinya, Reyhan menelepon satu-satunya orang yang menurutnya paling cocok ditanya soal urusan dagang: Dimas.
"Halo, Dimas? Ini Pak Reyhan."
"Pak Reyhan?!" suara Dimas terdengar kaget di seberang telepon. "Wah, kaget saya, Pak. Ada apa nih tumben telepon?"
"Gini, aku mau nanya-nanya soal jualan. Kalau misalnya aku mau mulai jualan makanan dari nol, modal kecil, kira-kira paling gampang jualan apa?"
Terdengar suara Dimas berpikir sebentar di seberang sana. "Bapak mau jualan, Pak? Serius?"
"Iya, serius. Long story, nggak usah ditanya kenapa."
"Kalau modal kecil sih, nasi goreng paling gampang, Pak. Bahannya murah, orang juga suka, nggak ribet kayak masakan lain."
"Nasi goreng, ya," Reyhan mengangguk-angguk sendiri meski Dimas tidak bisa melihatnya. "Bumbu rahasia warung kalian gimana? Boleh nggak aku minta tipsnya dikit?"
Dimas tertawa kecil. "Wah, itu rahasia dapur, Pak, hahaha. Tapi karena Bapak, boleh deh, dikit-dikit. Kunci utamanya itu di sambalnya, bukan di nasinya. Bapak saya suka pake sambal matah, beda dari kebanyakan gerobak nasi goreng biasa."
"Sambal matah? Itu yang ada bawang merah iris-iris, kan?"
"Iya, Pak, itu. Nanti saya kirimin fotonya lewat WhatsApp aja, biar Bapak nggak bingung."
"Makasih banyak, Dimas. Kamu penyelamat."
"Santai aja, Pak. Anggap aja balas budi soal warung kemarin."
Sore itu, Reyhan pergi ke pasar loak dekat kosnya, mencari gerobak bekas dengan sisa modal yang masih ketat sekali dihitung-hitung. Ia menemukan seorang bapak tua duduk di samping gerobak nasi goreng usang, papan namanya sudah pudar tulisannya.
"Pak, gerobak ini masih dijual?" tanya Reyhan.
Bapak tua itu mengangguk pelan. "Masih, Nak. Saya udah nggak kuat dorong-dorong lagi, kaki saya sakit. Anak saya nggak ada yang mau nerusin usaha ini."
"Berapa, Pak?"
"Tiga ratus lima puluh ribu aja. Udah termasuk kompor sama wajannya."
Reyhan menghitung cepat di kepala — sisa modalnya cuma seratus lima puluh ribu kalau dia beli gerobak ini. Cukup mepet, tapi masih bisa untuk bahan baku dua hari pertama.
"Saya ambil, Pak," katanya, mengeluarkan uang dari dompetnya.
Bapak tua itu tersenyum, menyerahkan gerobaknya sambil menepuk pelan bagian sampingnya, seperti melepas sesuatu yang berharga. "Rawat baik-baik ya, Nak. Gerobak ini udah nemenin saya dua puluh tahun jualan."
"Ada tips buat pemula, Pak?" tanya Reyhan, penasaran.
"Cari lokasi yang orangnya pulang kerja lewat situ. Jam lima sampai jam delapan malam, itu jam emas jualan makanan."
"Siap, Pak. Makasih banyak."
Malam harinya, Reyhan duduk di kamar kosnya, mengecek sisa uangnya yang tinggal seratus lima puluh ribu, sambil membuka catatan kecil untuk menghitung kebutuhan bahan baku.
"Beras, minyak, telur, bawang, kecap... " gumamnya sambil mencoret-coret angka. "Ini ketat banget."
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Dimas, berisi foto sambal matah lengkap dengan takaran kasar bahan-bahannya, plus catatan singkat: *"Ini resep andalan warung kita, Pak. Semoga laris!"*
Reyhan tersenyum membaca pesan itu, lalu membalas cepat: *"Makasih banget, Dimas. Doain lancar ya besok."*
Layar holografik sistem menyala pelan di sudut kamar, seolah memperhatikan.
> [Progres Misi: Rp0 / Rp15.000.000]
> [Sisa waktu: 7 hari.]
Reyhan menatap angka nol itu, menghela napas panjang. "Oke," katanya pelan pada dirinya sendiri, "besok, gerobak nasi goreng pertamaku mangkal."
Ia merebahkan diri, memejamkan mata, mencoba membayangkan bagaimana rasanya besok pagi berdiri di balik gerobak, menjadi pedagang nasi goreng dadakan tanpa pengalaman sama sekali sebuah tantangan yang, meski terdengar sederhana di atas kertas, terasa jauh lebih menakutkan dari yang dia kira.