Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan Mulut dan Petir
Langkah kaki Ye Chen bergema pelan di dalam Jurang Halilintar.
Ngarai sepanjang dua mil itu dipenuhi oleh dinding batu hitam legam yang permukaannya berkilau karena kandungan mineral besi alami. Di atas kepalanya, langit yang tadinya biru seketika tertutup oleh gulungan awan badai pekat berputar, memancarkan sambaran-sambaran petir alami yang bergemuruh keras. Tempat ini memang sebuah jebakan maut yang sempurna.
Saat Ye Chen tepat berada di tengah-tengah ngarai, langkahnya terhenti.
BZZZTTT! ZAAAP!
Tiba-tiba, puluhan pilar cahaya petir biru menyala terang secara serentak di sepanjang dinding tebing kiri dan kanan, membentuk sebuah kubah energi masif yang menyegel jalan masuk dan keluar jurang.
Syuuup! Syuuup! Syuuup!
Ratusan bayangan melesat turun dari atas tebing, mendarat di atas bebatuan dan puncak batu karang di sekitarnya. Mereka adalah lima ratus murid elit Sekte Pedang Petir, mengacungkan pedang dan tombak yang dialiri arus listrik, mengunci setiap jengkal ruang gerak Ye Chen.
Di tengah kepungan yang menyesakkan itu, langit di atas kepala mereka terbelah secara paksa.
BOOOOM!
Sesosok bayangan manusia yang dikelilingi oleh ribuan petir menyambar turun dengan kecepatan meteor, mendarat tepat sepuluh meter di depan Ye Chen. Hantaman kaki itu menciptakan kawah berdiameter tiga meter dan meniupkan gelombang angin petir yang membuat para murid di barisan depan terdorong mundur.
Asap tebal dan percikan listrik berderak di sekitar sosok tersebut. Perlahan-lahan, asap itu menipis, menampakkan seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan rambut abu-abu berdiri tegang.
Itu adalah Lei Tianba, Ketua Sekte Pedang Petir.
Mata Lei Tianba menyala biru terang. Aura dari Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut menekan udara di dalam jurang hingga terasa berat seperti timah, membuat siapa pun yang berada di dekatnya kesulitan bernapas.
Ia menatap Ye Chen dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah sedang memeriksa bangkai binatang buruan.
"Jadi..." suara Lei Tianba bergemuruh, sarat akan kebencian yang mendalam dan niat membunuh yang meluap-luap. "...kaulah bocah tak berakal yang menyebut dirimu 'Iblis Berpedang Hitam'? Berani sekali kau berjalan kaki dengan kepala tegak ke wilayah Sekte Pedang Petir setelah menghancurkan putraku dan membunuh dua tetua intiku!"
Ye Chen sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Ia bahkan bersidekap dada, menyandarkan Pedang Besi Hitam di bahunya dengan santai. Matanya yang memancarkan kilat keemasan menatap lurus ke mata Lei Tianba.
"Wilayah Sekte Pedang Petir?" Ye Chen tersenyum sinis, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai mengejek. "Kulihat tidak ada garis batas atau nama sektamu yang terukir di tanah ini. Tempat ini adalah alam liar. Lagipula, aku tidak datang untuk bertamu ke sarangmu."
"Lalu, untuk apa kau datang ke sini, Bajingan?!" bentak Lei Tianba, urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Aku datang untuk membubarkan tempat sampah ini," jawab Ye Chen ringan, seolah ia sedang membicarakan cuaca hari ini.
Deg!
Lima ratus murid yang mengepung mereka menahan napas serentak. Membubarkan Sekte Pedang Petir?! Di hadapan Ketua Sekte yang berada di Tahap Pembentukan Fondasi tingkat lanjut?! Apakah pemuda ini sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya?!
Wajah Lei Tianba berkedut hebat. Alih-alih marah besar, ia justru tertawa dingin—sebuah tawa penuh racun yang menggetarkan batu-batu karang di sekitar mereka.
"Hahaha... Bagus! Bagus sekali!" Lei Tianba melangkah maju perlahan, setiap langkahnya menciptakan letupan petir di tanah. "Sudah puluhan tahun tidak ada orang yang berani berbicara selancang itu di hadapanku! Bocah, kau mungkin memiliki sedikit bakat iblis, dan mungkin kau berhasil membunuh Tetua Ketiga dan Keempat karena mereka meremehkanmu... tapi di hadapanku, kultivasimu yang hanya berada di tingkat ketujuh tidak lebih dari debu di bawah sepatu!"
Lei Tianba menunjuk ke arah Ye Chen dengan jari telunjuknya yang dipenuhi petir biru.
"Dengar baik-baik apa yang akan kulakukan padamu," lanjut Lei Tianba dengan suara berbisik namun mematikan. "Aku tidak akan langsung membunuhmu. Aku akan meremukkan keempat anggota tubuhmu satu per satu, menguliti kulitmu hidup-hidup, lalu menggantung kepalamu di gerbang sekte selama tiga tahun agar seluruh dunia tahu akibatnya jika berani menyentuh keluarga Lei!"
Mendengar ancaman sadis itu, ekspresi Ye Chen tetap tidak berubah. Ia menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepalanya dengan gestur kecewa.
"Putramu, Lei Kuang, adalah sampah yang sombong dan tak berguna. Dan sekarang, melihatmu... aku mengerti dari siapa dia mewarisi kebodohan itu," ucap Ye Chen tajam, sengaja memprovokasi. "Sekte ini penuh dengan orang-orang arogan yang mengira diri mereka penguasa dunia, padahal kalian tidak lebih dari katak dalam tempurung yang hanya bisa mengandalkan jumlah orang dan senjata pinjaman."
"KAU... KAU BENAR-BENAR MENCARI MATI!"
Kesabaran terakhir Lei Tianba hancur berkeping-keping. Raungan murka dari sang Ketua Sekte mengguncang seluruh dinding Jurang Halilintar, memicu sambaran petir alami dari langit untuk menyambar ke arah bumi secara serentak.
BOOOMM!
"Array Petir Pemusnah Sembilan Penjuru! Aktifkan sepenuhnya! Bakar dia menjadi abu!" perintah Lei Tianba dengan suara menggelegar.
Lima ratus murid elit sekte segera mengalirkan seluruh Qi mereka ke dalam formasi di dinding tebing. Dalam sekejap, jaring petir raksasa berwarna biru menyilaukan terbentang menutupi seluruh langit jurang, siap menghujani Ye Chen dengan jutaan volt listrik murni.
Di tengah lautan petir yang bersiap meledak itu, Ye Chen perlahan menurunkan pedang besarnya dari bahu dan menancapkannya ke tanah batu.
Api Roh Emas Ungu meledak dari tubuhnya, membentuk perisai api yang berputar liar mengelilinginya, menepis percikan petir pertama yang menyambar. Ia mendongak, menatap Lei Tianba yang kini melayang di udara dengan palu atau pedang roh tingkat tinggi yang mulai memancarkan cahaya menyilaukan.
"Silakan," tantang Ye Chen, seringai di bibirnya semakin melebar. "Mari kita lihat, apakah petirmu yang lebih panas, atau api di dalam darahku."