Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 : Badai Pertentangan
Suasana di dermaga timur Pelabuhan Sunda Kelapa malam itu membeku dalam ketegangan yang teramat pekat. Kilatan cahaya dari lampu senter bertenaga tinggi memecah pekatnya malam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di atas tumpukan peti kemas dan lambung kapal kayu kolonial. Aroma mesiu dari senjata api yang baru saja dikokang berpadu dengan bau amis air laut, menciptakan atmosfer mematikan yang siap merenggut nyawa dalam hitungan detik.
Di tengah kepungan tersebut, Julian van Houten berdiri kokoh dengan postur tegap, menempatkan tubuhnya tepat di depan Clara van der Berg untuk melindunginya dari arah moncong senjata para pengawal sindikat. Pistol perak di tangan kanan Julian terarah lurus ke arah Bang Jafar, panglima kepercayaan keluarga Liem yang memimpin barisan pengepungan. Sorot mata hazel Julian memancarkan dingin yang luar biasa tajam, menunjukkan bahwa ia tidak akan ragu menarik pelatuk jika ada salah satu dari anak buah sindikat yang berani mengambil langkah agresif ke depan.
"Jafar! Turunkan senjatamu!" teriak Clara dengan suara bergetar namun tegas dari balik punggung Julian. Gadis itu mencengkeram erat ujung mantel beludru hitam milik Julian, berusaha mendesak maju untuk menunjukkan wajahnya di bawah sorot lampu senter. "Jangan berani-berani melukai Tuan Muda Julian! Jika kalian menembaknya, kalian sama saja memicu kehancuran total bagi kita semua!"
Bang Jafar menatap tajam ke arah Clara dengan raut wajah yang dipenuhi rasa frustrasi dan kecemasan mendalam. Pria paruh baya itu menurunkan sedikit arah moncong pistolnya, meski kewaspadaannya sama sekali tidak mengendur. Sebagai orang yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk melindungi keluarga Liem dan menjaga keselamatan Tuan Besar Ho, Jafar tahu betul apa konsekuensi dari situasi ini.
"Nona Clara, Anda tidak mengerti risiko dari apa yang sedang Anda lakukan!" seru Bang Jafar dengan suara menggelegar, berusaha menembus deru angin laut malam. "Tuan Besar sedang murka besar di kediaman Menteng! Perintah beliau mutlak: bawa Nona pulang dalam keadaan selamat, dan singkirkan siapa pun yang berani menghalangi, termasuk pewaris keluarga Van Houten ini! Anda sedang menjerumuskan diri Anda sendiri ke dalam lubang maut, Nona!"
Sebelum Clara sempat membalas ucapan pengawalnya, suara deru mesin mobil sedan hitam berukuran besar tiba-tiba memecah kesunyian dari arah gerbang masuk dermaga pelabuhan. Lampu depan mobil itu menyorot terang, membelah kegelapan malam sebelum akhirnya berhenti mendadak tepat di samping barisan anak buah sindikat. Pintu mobil terbuka dengan bantingan keras, dan sesosok pria paruh baya bertubuh tegap berbalut jas mewah turun dengan langkah kaki yang menghentak tanah penuh wibawa.
Tuan Besar Ho.
Kehadiran penguasa sindikat bawah tanah Batavia itu membuat seluruh anak buah yang hadir langsung merunduk hormat, memberikan jalan selebar-lebarnya bagi sang pemimpin besar. Wajah Tuan Besar Ho tampak sangat mengerikan—pucat karena amarah yang meluap-luap, dengan urat-urat di pelipisnya yang berdenyut kencang. Di tangan kanannya, sebuah revolver perak digenggam erat tanpa keraguan.
Manik mata gelap Tuan Besar Ho langsung menghujam tajam ke arah dua sosok yang berdiri di ujung dermaga. Tatapan itu penuh dengan kekecewaan yang mendalam, amarah yang membakar, serta ancaman pembunuhan yang nyata.
"Clara..." suara Tuan Besar Ho bergemuruh rendah, memecah udara malam dengan nada yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan. Pria itu melangkah mendekat perlahan, sementara para pengawalnya segera mengangkat senjata, memperketat kepungan. "Maju ke sini sekarang juga, anak durhaka. Jauhkan dirimu dari bajingan berdarah dingin itu."
Clara merasakan sekujur tubuhnya menegang hebat. Ia tahu betul watak ayahnya; Tuan Besar Ho tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika ia tidak mengambil langkah yang tepat, malam ini akan berakhir dengan genangan darah segar di atas kayu dermaga Sunda Kelapa.
Namun, sebelum Clara sempat melangkah maju, Julian dengan lembut menahan lengan gadis itu. Julian memutar tubuhnya sedikit, menatap manik mata Clara dengan senyuman tipis penuh keyakinan, seolah ingin menyampaikan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan wanita yang dicintainya disakiti oleh siapapun—bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Julian kemudian melangkah maju satu langkah ke depan, mengangkat dagunya tinggi-tinggi tanpa menunjukkan secercah rasa takut pun di hadapan penguasa sindikat yang paling ditakuti di Batavia.
"Tuan Besar Ho," ucap Julian dengan suara bariton yang tenang, tegas, dan menggema di seluruh sudut dermaga. "Simpan senjata Anda. Kedatangan kami ke pelabuhan ini bukan untuk memicu perang klan, melainkan untuk mengakhiri kebohongan yang selama ini menghancurkan kedua keluarga kita."
Tuan Besar Ho menghentikan langkahnya. Alis tebal pria paruh baya itu bertaut rapat, menatap Julian dengan senyuman sinis yang mengerikan. "Kebohongan? Bocah tengik sepertimu berani menceramahiku tentang kebohongan di hadapan moncong senjataku? Keluargamu adalah musuh bebuyutan sindikatku selama puluhan tahun! Dan sekarang kau berani menculik putriku?"
"Saya tidak menculiknya," balas Julian dingin. "Dan permusuhan darah antara keluarga Liem dan keluarga Van Houten yang selama ini diagungkan oleh para tetua... itu semua adalah rekayasa busuk yang diciptakan oleh para pejabat tinggi pemerintahan kolonial Belanda demi mengadu domba kita!"
Mendengar kata-kata itu, Tuan Besar Ho tertegun sejenak. Sorot matanya menunjukkan kilasan keterkejutan yang langsung ia tutupi dengan kemarahan yang semakin menjadi-jadi. "Omong kosong apa yang kau katakan?!"
Clara tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia segera melepaskan diri dari pegangan Julian, melangkah maju berdiri di samping sang pangeran reinkarnasinya, lalu mengangkat secarik catatan arsip bukti yang ia bawa.
"Itu bukan omong kosong, Ayah!" seru Clara dengan suara parau namun lantang, menatap langsung ke dalam mata ayahnya dengan air mata yang mulai mendesak keluar dari pelupuk matanya. "Dokumen rahasia ini membuktikan bahwa puluhan tahun lalu, kompeni belandalah yang membunuh kakek dan paman kita, lalu memfitnah kedua keluarga agar kita saling membunuh sementara mereka merampas seluruh kekayaan kita! Kita selama ini dipermainkan di atas panggung boneka mereka!"
Tuan Besar Ho menatap putrinya, lalu beralih menatap gulungan kertas di tangan Clara. Suasana dermaga mendadak hening seketika, menyisakan suara ombak yang berdebur pelan di tiang pancang. Di balik kemarahan yang luar biasa besar, keraguan mulai merayap di benak sang penguasa sindikat.
Namun, sebelum ada kata-kata lanjutan yang terucap, suara deru kendaraan militer kolonial tiba-tiba terdengar menderu mendekat dari arah jalan raya utama pelabuhan, membawa lampu sorot terang yang menyilaukan dan siap menghancurkan malam perundingan rapuh tersebut.
*•*
*•*
*•*