Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Mulut Licin dan Transformasi Nenek Pengemis
"Halah, nggak usah didengerin! Palingan juga isi kepalanya masih sibuk mikirin khayalan halusinasi gila yang tadi sore terjadi di apartemen gue. Masa dia tadi pas bangun tidur ngaku-ngaku habis konser megah jadi idol K-pop terkenal?"
Adit tertawa terpingkal-pingkal sampai bagian bahunya terguncang hebat di kursi.
"Gue beneran nggak lagi halusinasi, Adit! Sumpah demi apa pun, gue tadi beneran dandan mewah... terus di sekeliling gue ada pancaran lampu-lampu sorot..."
Reno mencoba sekuat tenaga membela kehormatan dirinya dengan gerakan kedua tangan yang memeragakan gerakan orang sedang menari dance, namun jatuhnya malah terlihat aneh mirip seperti orang yang sedang sibuk mengusir kawanan lalat.
Rakha tampak menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah dengan sisa wibawa kepemimpinan yang dimilikinya, meskipun sudut bibirnya sudah berkedut menahan tawa.
"Wah, udah parah sih lo, Ren. Kayaknya level halusinasi harian lo udah bukan masuk tingkat dewa lagi, tapi udah melompat jauh ke tingkat mitologi Yunani kuno. Perlu gue pesenin satu kamar VIP di Rumah Sakit Jiwa sekarang juga?"
Reno seketika terdiam seribu bahasa. Ia menatap lekat-lekat ke arah wajah teman-temannya yang kembali asyik tertawa terbahak-bahak dan kembali sibuk dengan urusan dunia mereka yang normal.
Ia sebenarnya sangat ingin menjelaskan tentang keberadaan kakek golok botak, tentang tragedi dikejar singa betina, dan tentang kenangan berharga saat dirinya memeluk erat tubuh kecil almarhum sahabat mereka Rayi di masa lalu, tapi melihat ekspresi wajah meremehkan mereka, Reno sadar sebuah kenyataan pahit: menceritakan kebenaran supranatural ini sekarang hanya akan membuat tubuhnya berakhir dipaksa memakai baju pasien putih dengan kondisi kedua tangan terikat ketat di dalam ambulans.
Ia akhirnya hanya bisa kembali menyesap cairan kopinya yang sudah mendingin, berharap penuh agar si kakek botak segera memberikan instruksi misi baru sebelum sepasang matanya benar-benar terpejam pulas.
"Buset dah, Reno! Itu lambung lo sebenarnya organ tubuh manusia apa tandon penampungan air bersih, hah?! Ini udah gelas keenam lo, coy! Nggak ada rasa takut-takutnya apa itu organ ginjal lo bakal mengajukan surat resign malam ini?" seru Adit sambil matanya melotot horor melihat deretan cangkir gelas kosong yang berjejer rapi di depan Reno bagaikan susunan batu nisan kenangan.
"Gue... gue sengaja lakuin ini, biar sepasang mata gue tetep bisa melek cerah kayak pancaran lampu neon!" balas Reno dengan nada suara serak, sementara kedua telapak tangannya masih setia mencengkeram kuat pinggiran meja kayu seolah-olah ia takut lantai kafe tiba-tiba bakal berubah fungsi jadi perosotan antar-dimensi ghaib.
Aji menyeringai nakal, sambil tangannya sibuk mengelap permukaan meja dengan gaya bos kafe yang menyebalkan.
"Alasan klasik lo mah! Bilang aja lo sengaja mumpung dapet fasilitas gratisan, kan? Mumpung lagi momen ditraktir sama Adit, semua menu main lo sikat habis. Perut lo udah kelihatan kayak penampakan ikan kembung yang mau meletus gitu, Ren!"
Sumbu kesabaran Reno yang ukurannya sudah sangat pendek akibat akumulasi ledekan dari Aji akhirnya resmi terbakar habis malam itu. Aliran kafein yang bergejolak brutal di dalam darahnya membuat tingkat kontrol diri Reno langsung jebol seketika.
Pertahanan mentalnya runtuh berantakan tepat di depan ledekan Aji yang ketajamannya setajam silet cukur.
"Kalau emang iya gue manfaatin gratisan emangnya kenapa, hah?! Bagus dong, jadi angka pemasukan kafe lo bisa nambah banyak! Gue emang sadar diri kok, Ji! Gue ini cuma sebatas beban kemajuan negara, remahan rengginang hancur yang nggak sengaja nyasar di antara kumpulan anak-anak sendok emas korporat kayak kalian! Level derajat hidup gue itu gembel, jauh banget jaraknya—"
PLAK! PLAK!
Reno mendadak menggeplak bibirnya sendiri berkali-kali sampai merah merona.
‘Mampus! Mulut bocor gue kenapa bisa mendadak lepas kontrol banget sih! Jangan pernah berani ngomong kata gembel, jangan ngomong gembel... ntar rambut gue berubah kribo klenik!’ batin Reno panik setengah mati sambil menatap nanar ke arah helai rambut klimis ber-pomade jeruknya.
Namun sayang, hukum alam ghaib yang berbunyi "ucapan adalah doa" versi Reno Alvarez terbukti bekerja jauh lebih cepat daripada sambaran kilat di langit Jakarta.
Detik itu juga, tepat setelah kata terlarang itu lolos dari bibirnya, kesadaran di dalam kepala Reno mendadak ambruk terkulai lemas menghantam permukaan meja bundar kafe.
BRAK!
"Eh, buset dah! Si Reno malah mendadak molor sambil ngorok keras di meja! Tadi gaya bicaranya ngegas berapi-api kayak orator, sekarang malah langsung pingsan tegak!" seru Adit geleng-geleng kepala heran melihat tingkah laku sahabat beban negaranya yang baru saja berapi-api, kini sudah pulas tertidur dengan bunyi dengkur nyaring yang menyerupai suara mesin traktor bajak sawah rusak.
****
CTAK!
Suasana ruangan lantai dua kafe milik Aji yang sejuk ber-AC dan aroma wanginya harum biji kopi roasted bean mahal itu seketika langsung lenyap tak berbekas dalam hitungan milidetik.
Reno mendadak merasa sekujur tubuh jangkungnya seperti sedang ditarik paksa secara brutal melewati sebuah lubang sedotan raksasa yang gelap gulita.
"Tumben banget ya... kali ini posisi mendarat gue nggak pake acara jatuh nyungsep atau mencium lantai?" gumam Reno kebingungan.
Ia mulai memposisikan dirinya berdiri tegak, lalu sepasang matanya sibuk memandang ke arah sekeliling lingkungan baru.
Pancaran sinar matahari siang bolong yang sangat terik terasa menyengat permukaan kulitnya dengan sangat brutal. Setelah pandangannya jelas, ia menyadari kalau dirinya saat ini sedang terdampar di sebuah area gang sempit bin kumuh yang aroma udaranya terasa sangat... 'eksotis' alias bau menyengat.
Reno mencoba mengendus-endus udara di sekitarnya. "Aduh, bau apaan sih ini? Aroma busuknya mirip banget kayak perpaduan kaos kaki olahraga yang nggak pernah dicuci selama tiga kali lebaran, terus dicampur sama tumpukan sampah busuk basah."
Ia perlahan menundukkan pandangan kepalanya ke bawah, dan pada detik itu juga, jantung di dalam dadanya serasa mendadak melompat kaget ke arah organ ginjal, terus nyasar masuk ke area empedu.
Kain jas hitam mahal milik Adit yang tadi sempat ia banggakan setinggi langit di depan cermin, kini telah berubah drastis menjadi selembar kain kumal yang dipenuhi oleh belasan tambalan kain warna-warni yang kondisinya sudah luntur parah.
Pakaian bajunya berubah compang-camping, dan yang paling parah dari segala musibah supranatural hari ini adalah Reno merasakan ada yang aneh dengan postur bentuk tubuhnya. Ia merasa... ukuran tubuhnya mendadak berubah jadi sangat pendek, cebol, dan posisinya bungkuk ekstrem ke depan.
Reno dengan tangan bergetar mencoba meraba area dadanya, lalu jari-jarinya beralih meraba permukaan kulit wajahnya yang terasa sangat kasar dan dipenuhi kerutan keriput tebal.
Ia melotot sempurna melihat sepasang telapak tangannya sendiri yang sedang erat memegang sebuah buntalan kain hitam besar yang kondisinya sangat berminyak.
"DEMI APA PUN DI DUNIA INI MA... KUTUKAN GILA APAAN LAGI INI SEKARANG?! GUE KENAPA BISA BERUBAH WUJUD JADI NENEK-NENEK GEMBEL, WOY?!"