Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah berjam-jam menangis, menumpahkan beban, dan memutar ulang video bukti yang terasa bagai mimpi buruk.
Malam itu Tiyas akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Imelda menolak keras untuk melangkah keluar dari rumah Tiyas
“Aku tidak akan meninggalkan kamu malam ini. Titik,” tegas Imelda sambil membopong bantal menuju kamar tamu.
“Kamu itu butuh teman yang nyata, bukan sekadar pelukan via Zoom atau voice note basi.”
Tiyas tersenyum tipis. Matanya masih sembab dan berair, tetapi batinnya jauh lebih tenang.
“Makasih banyak, Mel. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana kalau kamu nggak datang tadi.”
Imelda tersenyum tipis dan melangkah ke dapur, membuatkan dua cangkir teh hangat aromatik.
Kemudian keduanya duduk bersama di ruang tamu pribadi lantai atas—benteng perlindungan baru milik Tiyas.
“Rumah ini bakal berubah total, Mel. Aku sudah perintahkan semua pelayan untuk merombak kamar, membuang tempat tidur yang pernah kami gunakan dan aku juga akan mengganti cat warna dinding rumah ini. Aku mau menghapus setiap jengkal jejak Gio dari sini.” ucap Tiyas.
“Langkah yang tepat, Tiyas. Ini bukan cuma rumahmu, tapi benteng pertahananmu. Kamu nggak perlu lagi menyimpan apa pun yang membekaskan luka.”
Ketika teh hangat itu tandas dan larut malam makin mengikis waktu, Imelda memastikan seluruh akses pintu sudah terkunci rapat dan sistem keamanan rumah aktif.
Ia pamit masuk ke kamar tamu, sementara Tiyas melangkah ke kamarnya yang kini terasa lapang—tanpa ranjang lamanya, hanya ditopang kasur sementara yang disiapkan oleh para asisten rumah tangga.
Sebelum merebahkan diri, Tiyas membuka pesan singkat dari Wildan:
[Besok pagi, saya akan mencari saksi di vila Lembang. Ada penjaga dan resepsionis yang mungkin tahu detail mengenai kedatangan Gio dan Mia.]
Tiyas langsung membalas pesan dari Wildan.
[Lanjutkan. Pastikan semua bukti terkumpul rapi dan tersimpan aman.].
Kemudian ia mencoba untuk memejamkan matanya, dan membiarkan tubuhnya untuk beristirahat.
Sementara itu di Bali, waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari.
Namun, Narendra belum juga mampu memejamkan mata.
Tatapannya menerawang kosong, menembus langit-langit kamar vila yang hening.
Meski fisiknya lelah setelah seharian meninjau proyek lapangan, pikirannya terus melayang kembali ke Yogyakarta—pada kenyataan pahit yang disampaikan Tiyas.
Ponselnya tergeletak di atas meja nakas. Ia menatap benda itu dengan keraguan yang menggantung, sebelum akhirnya memberanikan diri menekan ikon panggilan video ke satu nama yang kini menghuni pikirannya: Tiyas.
Panggilan terhubung dalam beberapa detik dan di layar memperlihatkan paras Tiyas yang ternyata juga tidak bisa tidur.
Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab memerah.
Belum sempat sepatah kata pun terucap dari bibir Narendra, tangis Tiyas pecah seketika.
“Naren,” bisik Tiyas pelan.
Tangisannya terdengar dalam, lirih, dan sarat akan beban berat di dada.
Narendra membisu. Matanya berkaca-kaca menyaksikan kepedihan wanita di balik layar itu.
Ia memperbaiki posisi duduknya, mendekatkan wajah ke layar ponsel.
“Tiyas, aku di sini. Menangislah, aku akan mendengarkan semuanya.”
Tiyas menggenggam ponselnya dengan jemari yang gemetar hebat.
Ia mencoba merangkai kata, namun hanya isakan emosional yang sanggup keluar.
“Rasanya, sakit semua, Naren. Rumah ini penuh kenangan, tapi ternyata semuanya penuh kepalsuan."
“Aku paham betul, Tiyas.” sahut Narendra lirih.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Setiap kali bayangan Mia melintas di kepalaku, rasanya seperti ditusuk dari belakang. Tapi kamu harus ingat satu hal.”
Tiyas perlahan mengadah, menatap manik mata Narendra di layar.
“Kamu nggak sendiri. Ada aku. Dan, aku bakal terus ada sampai kamu bisa berdiri tegak lagi.”
Air mata Tiyas kembali luruh, tetapi kali ini bukan semata karena derita luka, melainkan karena kehangatan yang merayap masuk—sebuah empati dari jiwa yang sama-sama hancur, namun memilih untuk saling menopang.
“Terima kasih banyak, Naren.” bisiknya tulus.
“Tidurlah, Tiyas. Besok kamu butuh tenaga ekstra. Aku tahu kamu sosok wanita yang kuat."
Mereka saling pandang di dalam keheningan layar.
Tidak ada bualan manis, sebab luka yang sama telah menautkan pemahaman tanpa perlu banyak kata.
Malam itu, dua hati yang remuk perlahan merajut kekuatan baru.
Seusai panggilan video dengan Narendra terputus, Tiyas masih duduk terdiam di tepi peraduan.
Air matanya mulai mengering, meski keletihan emosional masih menggelayuti tubuhnya.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Imelda melangkah masuk tanpa suara membawa sebotol air mineral dan tatapan penuh perhatian.
Ia duduk di samping Tiyas, mengapit erat jemari sahabatnya.
“Tiyas,” panggil Imelda lembut.
“Sudah cukup untuk malam ini, ya. Sekarang kamu harus istirahat. Kamu butuh tidur. Aku di sini menjaga kamu.”
Tiyas menatap Imelda, mengangguk pasrah lalu berbaring. Imelda menarik selimut hingga sebatas dada dan menepuk bahunya perlahan.
“Kamu wanita kuat, Nay. Tapi kamu juga manusia. Biarkan dirimu beristirahat sejenak.”
Malam itu, Tiyas akhirnya tertidur lelap—bukan sekadar karena lelah, melainkan karena merasa aman dalam perlindungan sahabatnya.
Imelda kembali ke kamar tamu dan ikut memejamkan matanya.
Keesokan paginya dimana mentari pagi menerobos celah tirai putih kamar Tiyas.
Aroma masakan yang menguar dari arah dapur membangunkan Tiyas secara perlahan.
Ia membuka mata dan merasakan perutnya yang keroncongan.
Dengan rambut yang masih sedikit acak-acakan dan gaun tidur sederhana, Tiyas melangkah turun.
Di tengah dapur modern yang biasanya sepi, berdiri Imelda yang tengah sibuk memegang spatula dengan celemek melingkar di pinggangnya.
“Selamat pagi, Tuan Putri yang sedang menyembuhkan hati,” sapa Imelda dengan ulas senyum lebar.
"Aku masakkan nasi goreng spesial andalanku. Yang selalu kamu klaim lebih enak dari restoran bintang lima itu.”
Tiyas terkekeuh ringan—sebuah tawa lepas pertama tanpa beban.
“Ya Tuhan, Mel. Kamu beneran masak nasi goreng untuk aku ?”
“Tentu, dong. Demi sahabat terbaikku? Jelas dong.”
Tiyas mengambil tempat di meja makan. Semangkuk nasi goreng hangat berhiaskan telur mata sapi dan irisan mentimun segar tersaji di hadapannya.
Aroma gurih bawang putih dan kecap manis seketika membangkitkan selera makan yang sempat hilang.
“Selamat menikmati. Hari ini kamu harus penuh energi, entah karena Gio bakal melempar kebohongan baru atau karena roda takdir berputar lebih cepat. Yang penting, perutmu kenyang dulu.”
Tiyas menyuap sendok pertamanya, memejamkan mata menghayati rasa.
“Imel, kamu bener-bener malaikat pelindungku."
“Jelas! Dan kamu adalah calon janda paling berkelas. Jadi, habiskan makanannya. Kita punya agenda besar hari ini.”
Beberapa saat kemudian, Tiyas duduk santai di sofa ruang tamu yang tengah dalam proses penataan ulang, masih menikmati sisa sarapannya. Imelda duduk di sampingnya, sesekali melempar pandangan jenaka.
Tiba-tiba ponsel Tiyas bergetar nyaring. Nama Gio tertera tegas di layar.
Tiyas menarik napas panjang, menetralkan emosi, lalu menggeser ikon hijau.
“Tiyas,” suara Gio terdengar begitu lembut di seberang sana, sarat akan nada kerinduan yang kini terasa sangat palsu.
“Aku lagi di tengah perjalanan bisnis, tapi aku kangen banget sama kamu.”
Imelda yang duduk di dekatnya refleks menahan tawa. Matanya membelalak lebar sembari mengamati ekspresi Tiyas yang berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap datar.
Tiyas melirik Imelda sekilas, lalu memfokuskan pandangannya ke depan.
“Perjalanan bisnis, ya?” ujar Tiyas dengan nada dingin namun sangat terkontrol.
"Kalau rindu, kenapa nggak bilang langsung? Jangan cuma lewat telepon.”
Imelda menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan agar gelak tawanya tidak bocor.
Gio terdengar sedikit gugup dan canggung di ujung telepon.
“Aku cuma ingin kamu tahu, sayang. Kalau di sini aku selalu mikirin kamu, Sayang."
Tiyas mengulas senyum tipis—sebuah senyuman penuh ironi dan makna terselubung.
“Kalau kamu beneran kangen aku, seenggaknya ayo kita video call, jangan cuma telepon suara begini.”
Imelda menepuk-nepuk punggung Tiyas pelan, menahan tawa hingga wajahnya memerah.
“Sayang, sepertinya sinyal di sini agak jelek nih. Aku tutup dulu ya teleponnya,” dalih Gio terburu-buru.
Setelah jeda hening selama beberapa detik, Tiyas membalasnya dengan nada sangat tenang.
“Selamat melanjutkan perjalanan bisnis, Gio.”
Sambungan terputus. Imelda seketika tertawa terbahak-bahak.
“Gila! Kamu keren banget, Nay! Kalau aku jadi kamu, mungkin udah tak semprot habis-habisan itu cowok!”
Tiyas membalas dengan senyuman kecil, sementara sorot matanya menyinarkan tekad baja yang makin bulat.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘