Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Setengah Piring Nasi
Hari kelimaku di rumah Adiwijaya dimulai dengan setengah piring nasi.
Bu Nah menambah telur balado ke piringku, tetapi aku mengembalikannya ke mangkuk saji ketika dia berpaling. Perutku sudah melilit sejak malam. Aku tetap mengunyah perlahan, menghitung suapan agar tubuhku tidak sempat merasa kenyang.
"Mbak Sekar, nasinya kok sedikit terus?" tanya salah seorang pekerja.
"Kalau banyak, saya mengantuk."
Alasan itu sudah kupakai tiga pagi berturut-turut.
Langkah terdengar dari tangga. Aku langsung menunduk. Den Nara masuk dengan kemeja biru gelap, ponsel di satu tangan. Sejak malam di belakang rumah, kami belum pernah bicara lagi. Namun setiap kali berada di ruangan yang sama, aku bisa merasakan ketegangan tipis yang tidak terlihat orang lain.
Dia mengambil kopi dari Bu Nah. Saat hendak pergi, pandangannya jatuh ke piringku.
"Itu sarapanmu?"
Aku merapatkan jari pada sendok. "Iya, Den."
"Setengah piring?"
"Saya sudah cukup."
Matanya menyipit, seakan tahu aku berbohong. Sebelum dia sempat berkata lagi, tangis bayi pecah dari lantai atas.
Den Nara belum bergerak. "Bu Nah, mulai besok siapkan sarapan pekerja dengan lauk lengkap."
"Sudah lengkap, Den," jawab Bu Nah heran.
Pandangan Den Nara tetap pada piringku. Aku merasa seluruh meja ikut melihat setengah telur dan nasi yang tersisa.
"Kalau begitu, pastikan dimakan."
Aku membuka mulut, tetapi dia sudah berbalik. Beberapa pekerja tersenyum kecil, mengira dia hanya sedang memeriksa aturan rumah. Hanya aku yang tahu pertanyaannya terhubung dengan piring berisi sisa tahu di belakang rumah malam itu.
Jantungku berdetak aneh. Dia memperhatikan.
Kesadaran itu seharusnya membuatku takut. Entah mengapa, di bagian kecil yang paling sepi dalam diriku, ada rasa hangat yang muncul sebelum buru-buru kutekan.
Bu Nah menepuk dahinya. "Arka bangun lagi. Ya Allah, semalam baru tidur dua jam."
Tangis itu semakin keras. Aku segera berdiri, lega karena punya alasan meninggalkan meja dan tatapan Den Nara.
***
Arka berusia delapan bulan, dengan pipi bulat dan rambut halus yang berdiri di atas kepala. Saat aku masuk ke kamar bayi, wajahnya merah karena menangis. Kedua kakinya menendang kasur, sementara tangannya meraih-raih udara.
Bu Nah mengangkatnya. Arka justru melengking lebih keras.
"Mbak Ratih giliran pagi di rumah sakit," katanya panik. "Mas Bagas juga keluar kota. Dari kemarin Arka rewel. Susu ditolak, digendong menolak."
"Biar saya coba, Bu."
Bu Nah ragu. "Kau yakin?"
Aku mengulurkan tangan. "Dulu saya sering menjaga anak tetangga."
Arka berpindah ke pelukanku dengan tubuh tegang. Aku menyangga leher dan punggungnya, lalu menepuk pantatnya pelan. Tangisnya tidak langsung berhenti, tetapi kepalanya mulai berputar mencari sumber aroma di dekat bahuku.
Aku tahu apa yang dia cari.
"Bu, boleh ambilkan air hangat? Sedikit saja."
Ketika Bu Nah keluar, aku memunggungi pintu dan mengambil bungkusan kecil dari saku dalam. Serpihan ramuan Mbah Sari sudah kularutkan pagi tadi ke dalam botol minum biasa. Aku membasahi ujung jariku, lalu mengusapkannya tipis pada kain gendong, tidak ke mulut Arka.
Aroma kenanga yang lembut menguar.
Arka terisak dua kali. Jemarinya menggenggam kerah bajuku, kemudian tubuh kecilnya melunak. Aku mengayun perlahan sambil melantunkan tembang Jawa yang dulu dinyanyikan Ibu.
"Lelo, lelo, anakku..."
Kelopak mata Arka turun. Dalam waktu kurang dari lima menit, tangisnya berubah menjadi napas panjang teratur.
Aku menunggu lebih lama sebelum duduk. Bayi yang terlalu lelah bisa terbangun bila posisi berubah mendadak. Satu tanganku tetap menyangga tengkuknya, tangan lain mengusap punggung dari atas ke bawah. Ketika napasnya benar-benar dalam, barulah aku memindahkannya ke ranjang dengan kaki lebih dulu, lalu punggung dan kepala. Jemarinya masih mencengkeram bajuku, jadi kulepaskan satu per satu tanpa menarik.
Arka mendesah, memiringkan wajah, kemudian tidur lagi.
Bu Nah kembali membawa air dan berhenti di ambang pintu.
"Lho? Sudah tidur?"
Aku menempelkan telunjuk ke bibir. Arka bergerak sedikit, lalu menyusupkan wajah ke dadaku tanpa terbangun.
"Kau ini punya bakat, Mbak Sekar." Bu Nah mendekat dengan langkah berjinjit. "Dari semalam kami bergantian sampai punggung saya mau patah."
Aku tersenyum kecil. Pujian itu menghangatkan dada, tetapi juga membuatku takut. Semakin berguna aroma ini, semakin sering aku harus memakainya. Semakin sering dipakai, semakin besar risiko rahasiaku diketahui.
Bu Retno masuk beberapa menit kemudian. Dia memeriksa suhu dahi Arka, botol susunya, lalu posisi kepalanya di lenganku.
"Kau yang membuatnya tidur?"
"Iya, Bu. Mungkin dia hanya kembung dan terlalu lelah."
"Caranya?"
"Saya gendong sambil bersenandung. Kainnya saya beri sedikit air ramuan untuk aroma. Bukan obat, Bu, dan tidak diminumkan."
Aku memilih berkata setengah jujur. Menyembunyikan seluruhnya justru akan terlihat mencurigakan.
Bu Retno mengendus kain gendong. "Seperti kenanga."
"Ramuan kampung untuk menenangkan. Kalau Ibu tidak berkenan, tidak akan saya pakai lagi."
"Selama tidak masuk ke tubuh bayi dan tidak membuat iritasi, boleh. Cuci kainnya setelah dipakai."
Dia melihat Arka yang tidur pulas, lalu menatapku dengan sorot yang tidak setajam hari pertama.
"Mulai hari ini kau pegang jadwal Arka pada siang hari. Gajimu kutambah lima ratus ribu."
Aku hampir salah menyangga bayi.
"Lima ratus ribu, Bu?"
"Tanggung jawabnya juga bertambah. Catat jam minum susu, makan, tidur, dan popoknya. Kalau demam atau muntah, lapor. Jangan merasa bisa mengobati sendiri."
"Iya, Bu. Saya mengerti. Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu. Buktikan kau konsisten."
Bu Retno menyerahkan buku kecil yang disimpan di meja bayi. Halamannya berisi kolom jam, susu, makanan pendamping, tidur, popok, dan catatan kondisi kulit. Aku membaca semua petunjuk dua kali.
"Kalau Mbak Ratih pulang dari rumah sakit, laporkan catatannya kepadanya," ujar Bu Retno. "Dia ibunya. Jangan merasa karena Arka tenang padamu lalu kau bisa mengambil keputusan sendiri."
"Tidak, Bu. Saya hanya membantu. Semua keputusan tetap keluarga."
Jawabanku membuat sorotnya sedikit melunak. Aku paham arti batas. Di rumah ini, keahlian bisa memberiku tempat, tetapi bukan hak untuk melupakan siapa aku.
Setelah Bu Retno pergi, Bu Nah menyenggol lenganku pelan. "Nah, rezeki anak saleh. Baru lima hari sudah naik gaji."
Mataku panas. Lima ratus ribu bukan sekadar tambahan uang. Itu satu langkah menjauh dari Desa Sukorejo. Satu langkah menjauh dari tangan Bapak yang menganggap hidupku bisa dipakai membayar utang.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini, aku merasa mungkin aku tidak hanya bersembunyi. Mungkin aku sedang membangun jalan keluar.
***
Menjelang siang, Arka bangun dalam suasana lebih baik. Dia meminum susu, memukul-mukul botol dengan telapak tangan, lalu tertawa kecil ketika aku mengajaknya ke taman belakang.
Matahari tersaring daun palem. Aku memasang kain penutup pada kereta bayi dan berjalan di jalur batu dekat tembok samping. Den Nara sudah berangkat. Bu Retno menerima tamu di depan. Taman terasa aman.
Sampai suara siulan terdengar dari balik tembok.
"Hei, pembantu baru."
Aku berhenti.
Seorang lelaki bertengger di bagian tembok yang lebih rendah dekat rumah sebelah. Rambutnya dicat cokelat terang, kausnya tanpa lengan. Aku pernah melihatnya dari jendela dapur, duduk berjam-jam di warung sambil merokok. Bu Nah menyebut namanya Roy, keponakan pemilik rumah tetangga yang lebih sering membuat masalah daripada bekerja.
"Saya sedang menjaga bayi," kataku. "Tolong turun dari sana."
Roy tertawa. "Galak juga. Namamu siapa?"
Aku mendorong kereta bayi untuk pergi.
Dia melompati tembok.
Sepatuku berhenti di atas batu. "Ini rumah orang. Anda tidak boleh masuk sembarangan."
"Cuma mau kenalan." Dia berjalan mendekat, menghalangi jalan. "Dari desa, ya? Pantas manis."
Arka mengeluarkan suara tidak nyaman. Aku memutar kereta, tetapi Roy ikut bergeser.
"Minggir."
"Kasih nomor WA dulu."
"Tidak."
Senyumnya hilang. "Jangan sok mahal. Kau cuma pembantu."
Kalimat itu menampar lebih keras daripada yang seharusnya. Bukan karena aku malu menjadi pekerja rumah tangga, tetapi karena dari mulutnya, pekerjaanku terdengar seperti izin untuk memperlakukanku sesuka hati.
Aku meraih pegangan kereta lebih erat. "Kalau tidak pergi, saya panggil satpam."
"Panggil saja." Roy mencondongkan tubuh. Bau rokok basi menyerbu hidungku. "Sebelum satpam datang, kita bisa ngobrol baik-baik."
Aku menekan tombol panggilan pada ponsel tanpa mengalihkan mata darinya. Layar menampilkan nama Bu Nah, tetapi sebelum sambungan masuk, Roy merebut ponsel itu dan melemparkannya ke rumput.
"Saya bilang minggir!"
"Suaramu bagus kalau marah." Matanya bergerak ke kereta bayi. "Tenang saja, aku tidak akan ganggu anak orang kaya itu. Aku cuma tertarik sama pengasuhnya."
Aku mendorong kereta ke belakang tubuhku, menempatkan diri di antara Roy dan Arka. Lututku gemetar, tetapi aku tidak boleh jatuh. Bayi itu dipercayakan kepadaku. Kalau harus berteriak sampai seluruh kompleks mendengar, aku akan melakukannya.
"Tolong! Satpam!"
Roy mengumpat dan menoleh ke arah rumah. Tak ada orang yang segera muncul. Ketika dia kembali menatapku, wajahnya lebih keras.
Tangannya terangkat menuju wajahku.
Aku mundur. Roda kereta bayi membentur pinggir jalur. Arka terkejut dan mulai menangis.
"Jangan sentuh saya!"
Roy malah tersenyum, seolah ketakutanku memberinya keberanian. Ujung jarinya tinggal sejengkal dari pipiku. Aku mendorong kereta menjauh, tetapi tumitku terjepit di antara dua batu.
Tubuhku oleng ke belakang.
Arka menangis semakin keras. Peganganku terlepas dari kereta. Dalam satu kilatan panik, aku melihat tangan Roy terus mendekat dan bayangan seseorang memanjang dari belakangnya.
Seseorang bergerak cepat.