Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saniya Wilman : 30
Saniya enggan memalingkan muka, bertahan memandang hampa sebuah restoran berkonsep gazebo dengan lantai lesehan.
Fahmi masih sama seperti dulu saat kekasih yang sudah dilamar secara pribadi, belum menikah dengan pria lain. Ia tidak suka memaksa apabila Saniya menunjukkan gesture kaku.
“Ayo kita makan, sudah sampai sini gak mungkin terus menerus saling diam, ‘kan?” Sabuk pengaman dilepaskan, dan dirinya membuka pintu mobil.
Setelah mendengar pintu mobil ditutup, barulah Saniya memalingkan wajah. Ia membuka laci dasbor mobil, hatinya langsung terenyuh memandangi benda-benda miliknya tersimpan rapi di sana.
Sepasang topi warna hitam, kacamatanya, bando putih, sisir, dan casing ponsel.
Saniya menunduk, menutup laci dasbor dan menempelkan kening disana — menahan tangis agar tak berubah menjadi jeritan.
“Ternyata aku belum ikhlas melepasmu, Mas. Disini.” Dadanya dipukul pelan. “Sakit sekali rasanya. Dari ribuan hari telah terlewati, tak ada satupun yang bisa dijadikan alasan membenci agar mudah untuk melupakan. Kamu memang sebaik itu , terus harus dengan cara apa aku belajar ikhlas?”
Di luar, Fahmi pun menitikkan air mata, dia menunduk dalam. Lewat kaca jendela bagian depan bisa melihat bahu gemetar Saniya.
‘Apa kalau aku memintamu melepaskan dia, kamu akan bersedia Saniya?’
Dia sudah tak lagi menimbang-nimbang baik buruknya, pun menghitung untung ruginya, enggan pula memikirkan nama baik keluarga Basya.
“Kukira dengan terus menggenggam tanganmu sambil berjuang meraih restu Ibu, tetap bisa berjalan seiringan meski kerikil kecil selalu menjadi penghalang. Kenyataannya, aku kehilanganmu. Sakit Niya.” Kepalanya mendongak, jari-jari tangan menyisir kasar rambut tebalnya. Dia meninju angin melampiaskan ketidakberdayaan.
Saniya Syamira berusaha tegar, mensugesti diri demi menenangkan gemuruh dalam dada. Dagunya terangkat — mata yang basah, langsung menyaksikan pemandangan menyayat hati.
Pria yang namanya masih terus tersemat dalam untaian doa, sama seperti dirinya berpura-pura kuat, menipu diri sendiri.
Diambilnya tisu, lalu digunakan mengelap air mata. Saniya merapikan rambut yang keluar dari kunciran satu, sekarang surainya digelung.
Pintu mobil dibuka, tali tas disampirkan pada bahu, Saniya turun sembari menghela napas panjang.
Sepasang insan yang sama-sama masih saling cinta, menatap lama, mereka sudah terbiasa berbicara lewat mata — melangkah beriringan memasuki restoran.
Fahmi memesan tempat makan yang jauh dari area bermain anak-anak.
Sang pramusaji mengantarkan tamu ke bagian ujung, melewati jalan berpasir lembut, sampai pada sebuah gazebo dengan atap genteng, memiliki anak tangga tiga pijakan.
Pelayan restoran berlalu sebentar, sebab tidak sopan menunggui pengunjung yang baru tiba seolah memaksa mereka untuk langsung memesan. Buku menu sudah ada di atas meja.
“Niya, duduklah di lantai atas tangga, biar Mas yang melepaskan sepatumu.” Fahmi bersiap menekuk kaki kirinya.
“Niya bisa sendiri, Mas —”
“Mas gak tau kedepannya masih bisa bertatap muka denganmu atau tidak, tolong kali ini anggap saja kita masih bersama. Sekali saja membohongi diri, memilih buta dan tuli,” suaranya tercekat saat memohon.
Saniya menggigit kuat bibir bawah bagian dalam. Dia pun berusaha duduk tanpa naik ke tangga, dan tidak mau menatap sosok yang sudah merunduk demi melepaskan sepatunya.
Kemudian mereka tersenyum dengan bibir bergetar menahan tangis, pelupuk mata penuh buliran siap tumpah.
‘Kali ini, ya … biar lah sekali ini saja aku jadi egois teruntuk dia yang sudah sangat baik, setia, dan melindungi selama empat tahun lebih lamanya,’ batinnya menyuarakan tekad, dan ia pun telah memutuskan tidak akan menyia-nyiakan momen ini.
Mereka tidak duduk saling bersebelahan, melainkan berhadapan. Tidak pula menyentuh demi menunjukkan kasih sayang, dengan memandang lembut sudah menjelaskan jika sepasang kekasih itu saling mencintai.
Saniya Syamira kembali menjadi pribadi sedikit manja sama seperti dulu ketika dia pergi berkencan dengan Fahmi Basya.
Manjanya bukan mendambakan sentuhan, tetapi banyak bicara, berani mendebat, bahkan bersuara keras.
Fahmi tersenyum, tertawa dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Proyek mas Fahmi di negeri Jiran gimana, lancar?” tanyanya sesaat sesudah menyeka air mata dengan tisu.
“Sedikit ada kendala, tetapi sudah teratasi. Niya sendiri, tidak mendapatkan kesulitan selama mengajar, ‘kan?” tanyanya balik.
Saniya menggeleng, memuaskan diri memandangi pria dihadapannya. “Anak-anak bertambah lucu, ada saja tingkahnya yang buat aku tertawa, Mas.”
“Jadi guru memang cocok untukmu yang memiliki sifat keibuan, Say —” ia berhasil mengerem mulut, tetapi gagal menjaga suasana tetap hangat.
Kecanggungan kembali datang, mereka yang berpura-pura bersandiwara, melupakan sejenak tentang status, serta hubungan tak lagi bisa diteruskan, kini sama-sama terdiam.
“Sulit ya berpura-pura tetap biasa saja, bahkan mau menyebutmu Sayang, seakan ada jurang pemisah yang mencegah, mengingatkan tentang jarak tidak lagi bisa dijangkau,” ungkapnya pelan.
Saniya memandangi permukaan meja persegi. ‘Dulu, tepatnya empat tahun lalu, saat kisah kita dimulai, mau sedingin apapun perlakuan keluargaku, selagi ada kamu, aku merasa semua masih baik-baik saja Mas. Namun, sekarang ….’
“Ayo pesan menu makanan saja, Mas,” ia mengalihkan pembicaraan.
Fahmi menyerahkan keputusan ke wanita yang masih hafal menu kesukaannya.
Menu hidangan pun dipesan, dan mereka sedang menunggu sambil kembali memulai obrolan ringan.
Baik Saniya dan juga Fahmi, tidak ada yang membahas tentang keluarga Yarash Wilman, seakan sosok itu tidak pernah ada diantara mereka.
Kala detik berlalu berganti menit terus berjalan, tak lama kemudian pesanan seafood mulai berdatangan.
“Mau mas bukain cangkangnya, gak?” sebenarnya dia hanya basa-basi, sudah hafal kebiasaan wanita yang masih dianggap sebagai gadis cantiknya.
“Gak mau. Lebih terasa lezat kalau membuka cangkang seafood sambil menyeruput bumbu yang menempel di kerang maupun kulit Udang, Sayangku. Maaf.” Helaan napasnya memberat, dadanya terasa menyempit. Ia kelepasan, sangat mendalami peran menjadi kesayangannya Fahmi yang langsung bereaksi menarik tangannya, menggenggam erat.
Helaan napas saling bersahutan, Saniya sejenak memejamkan mata, lalu menarik tangannya, dan sesudahnya mulai menyantap makanan dalam diam.
Kesunyian itu terasa hangat, sang pria sungguh perhatian — mengambilkan tisu, menuang air putih, dan menunggu si wanita selesai menikmati hidangan lezat.
Peralatan makan kotor sudah diangkat, sekarang yang terhidang di atas meja, sepiring potongan buah Semangka.
Pria yang melepaskan dua kancing kemeja dikarenakan hawa panas, tiba-tiba berbicara serius.
“Niya, jujur … Mas gak sanggup kalau harus menjadi asing setelah kita pernah mengukir banyaknya momen enggan Mas lupakan,” ia mengaku kalah. Berpura-pura bukanlah keahliannya.
Bibir Saniya terlipat agar suaranya tidak lolos. Mau bagaimanapun statusnya sekarang seorang istri sekaligus ibu tiri.
“Saniya Syamira. Ayo kita tinggalkan semua ini. Pergi ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang kita kenal — memulai hidup baru hanya berdua saja, mau ya?” ia mengiba. Kepulangannya selain melaporkan langsung keberhasilan yang dicapainya, juga berencana mengajak wanitanya pergi jauh.
“Saniya Wilman!”
.
.
Bersambung.
memang ayah dan suami idaman banget ya mas yarash
itu nada sepesial tau mas yarash