Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tahun Terakhir yang Berat
Tahun terakhir kuliah akhirnya tiba. Dan ternyata... ini bukan penutup yang manis. Ini ujian terberat sepanjang perjalanan.
Semua orang sibuk luar biasa. Skripsi, ujian komprehensif, tawaran kerja, pindah kota, perpisahan di mana-mana. Teman sekelas yang dulu selalu bareng, sekarang perlahan menghilang — sibuk di dunianya masing-masing. Kadang ketemu cuma di lorong, senyum sekilas, lalu berlari lagi ke arah yang berbeda.
"Lo lihat Rina?" tanya gue sore itu di kantin. "Dulu tiap hari bareng, sekarang udah sebulan gak ketemu."
"Dia dapet tawaran kerja di pulau seberang. Minggu depan berangkat." Farhan aduk kopinya pelan, matanya lihat ke meja kosong di seberang. "Banyak yang udah selesai duluan. Pergi tanpa pamit."
Gue pegang buku skripsi erat. "Kita juga bakal gitu ya?"
Dia diam sebentar, lalu tatap gue tegas. "Gak. Kita beda."
Tapi beban tetap jatuh ke pundak kita bertubi-tubi. Dosen pembimbing gue ganti mendadak, skripsi harus direvisi dari awal. Farhan dapet tugas penelitian di luar kota — dua minggu, gak bisa pulang. Kita yang tiap hari ketemu, tiba-tiba cuma bisa pesan singkat di tengah malam.
"Sibuk ya? Gak apa-apa. Kerjain dulu."
"Maaf ya, Mir. Balas nanti."
"Jangan lupa makan."
Pesan makin pendek, jarang makin lama. Gue diem di kamar malam-malam, natap HP gelap. Takut ngetik — takut ganggu, takut jawabannya singkat, takut kerasa kita makin jauh.
Suatu malam, hujan deras lagi. Gue duduk di meja belajar, mata perih, skripsi numpuk, badan lemas. Tiba-tiba HP bunyi — telepon dari Farhan.
"Halo..." suaranya berat, napasnya kedengaran di seberang sana. "Masih bangun?"
"Masih. Lo gimana di sana?"
"Panas, berisik, capek banget." Dia hening sebentar. "Tapi gue kangen banget. Rasanya udah berbulan-bulan gak lihat muka lo."
"Baru tiga hari, Han."
"Kayak tiga tahun." Suaranya melembut. "Maaf ya. Belakangan ini gue jarang kabarin. Gue takut lo ngerasa ditinggal."
"Gue takut sih..." jujur gue pelan. "Tapi gue tau lo sibuk. Gue ngerti."
"Jangan ngerti sampai lupa ngomong ya." Dia tarik napas dalam. "Kalau lo kesepian, bilang. Kalau lo capek, bilang. Gue juga manusia, Mir. Gue gak bisa baca pikiran lo."
"Lo juga begitu. Jangan pendam sendiri."
"Janji."
Minggu berikutnya dia pulang. Langkahnya berat, matanya pucat, tapi senyumnya langsung mekar pas lihat gue nunggu di depan gerbang. Tanpa kata dia peluk gue erat, seakan mau pastikan gue beneran ada di sini.
"Pulang," katanya pelan di pelukan. "Akhirnya pulang."
Tapi ujian belum selesai. Skripsi gue hampir ditolak, Farhan sakit demam setelah pulang dari luar kota, dan kabar berdatangan satu demi satu — teman dekat kita satu per satu pergi ke kota lain. Pemandangan di depan mata berubah cepat banget.
Suatu sore kita duduk di bangku taman, tempat yang udah jadi saksi ribuan percakapan kita. Orang-orang lewat beriringan, berpisah, pergi.
"Takut ya?" tanya gue pelan.
"Takut." Dia jujur tanpa ragu. "Takut kita ikut terpisah. Takut kebiasaan ini hilang. Takut bangun nanti dan semuanya udah beda."
"Kita harus ikut mereka pergi ya?"
Dia berbalik badan, pegang kedua bahu gue. "Dengerin gue. Kita gak harus jalan sama cepatnya. Kalau lo lambat, gue nunggu. Kalau gue lambat, lo tunggu. Yang penting — arah kita jangan beda."
Gue pegang lengan bajunya erat. "Janji?"
"Janji. Gak akan pernah lari ke depan sendirian. Gak akan pernah tinggalin lo di belakang."
Malam itu kita buat aturan baru. Sederhana, cuma tiga poin:
1. Kalau capek — bilang, bukan pergi.
2. Kalau ragu — tanya, bukan tebak.
3. Kalau sibuk — kabarin, bukan hilang.
"Gampang diucap, berat dijalanin," kata Farhan sambil tulis di secarik kertas. "Tapi kita coba ya."
"Bersama-sama."
Hari-hari berikutnya makin berat. Tidur dua jam sehari, kopi jadi makanan pokok, mata merah tiap pagi. Tapi pesan singkat tetap datang — bukan panjang, cukup sepatah dua patah: "Semangat. Gue di sini." "Makan ya." "Satu langkah lagi."
Kadang kita ketemu cuma sepuluh menit di perpustakaan — duduk sebelahan, masing-masing baca buku, gak ngobrol. Tapi bahu bersentuhan, itu cukup. Cukup buat tau: gak sendirian.
Suatu malam hujan turun lagi, gue belajar sampai jam dua pagi. Tiba-tiba pesan masuk dari Farhan:
"Masih bangun? Lihat jendela."
Gue tarik gorden. Di bawah, di gerbang depan, Farhan berdiri di bawah payung, natap ke atas.
"Han?!" Gue langsung lari turun, lupa pakai jaket. "Lo belum tidur? Kenapa ke sini?"
Dia senyum lelah tapi bahagia. "Lewat sini, lihat lampu kamar lo nyala. Gue cuma mau pastikan — kita masih jalan. Kita masih di sini."
"Jam dua pagi..."
"Gue tau. Tapi besok kita bakal sibuk lagi. Mungkin gak sempat ketemu. Jadi malam ini cukup lihat lo sebentar." Dia usap pipi gue yang basah kena hujan. "Semangat ya, Mir. Tinggal sedikit lagi."
"Lo juga, Han. Jangan nyerah."
"Gak akan. Selama lo juga gak nyerah."
Malam itu kita berdiri di hujan sebentar, gak banyak bicara. Cuma berdiri, saling tatap, simpan muka satu sama lain di ingatan.
Malamnya gue tulis di buku catatan:
"Tahun terberat. Semua orang pergi. Semua hal berubah. Tapi hari ini gue tau — perpisahan bukan soal kota yang berbeda. Perpisahan soal hati yang berubah arah. Selama kita tetap pilih satu sama lain tiap hari... gak ada jarak yang cukup jauh."
"Gak harus cepat. Gak harus sama. Cuma jangan berhenti."