Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:750.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Luka yang Terlihat

Pagi setelah Bambang mengamuk, Ratna tetap membuka klinik.

Raka tidak setuju.

"Bu, lengan Ibu masih merah. Minimal tutup sehari."

Ratna mengancingkan manset bajunya. Bekas jari Bambang memang masih terlihat samar di lengan bawah, seperti bayangan ungu yang malas pergi.

"Kalau Ibu tutup, orang makin ramai."

"Orang memang sudah ramai."

"Maka jangan beri mereka tambahan bahan."

Raka berdiri di pintu ruang periksa, wajahnya kusut karena tidur di kursi plastik. "Bu, kadang Ibu terlalu kuat sampai bikin orang lain merasa tidak perlu melindungi Ibu."

Ratna berhenti.

Kalimat itu membuatnya menoleh.

Raka tampak menyesal sudah bicara, tetapi tidak menariknya kembali.

"Aku bukan marah," katanya pelan. "Aku cuma... semalam lihat Bapak pegang lengan Ibu begitu, rasanya ingin menghajar dia. Tapi Ibu masih sempat bilang tidak apa-apa."

Ratna menatap bekas merah di lengannya.

"Ibu terbiasa mengatakan tidak apa-apa."

"Nah. Jangan biasakan lagi."

Ratna tersenyum lelah. "Baik. Hari ini Ibu akan bilang sakit kalau sakit."

"Janji?"

"Janji."

Raka baru mau menjawab ketika ponsel Ratna berdering. Nama Farida muncul di layar.

Ratna mengangkat.

"Assalamualaikum, Bu Ratna. Saya sudah lihat foto yang Raka kirim. Bekas cengkeraman itu sebaiknya diperiksa dan dibuat catatan medis. Bukan berarti harus langsung lapor polisi, tapi dokumentasi penting."

Ratna melirik Raka.

"Catatan medis oleh siapa? Saya sendiri dokter."

"Justru jangan Ibu sendiri. Bisa ke Puskesmas atau klinik lain. Minta visum ringan kalau memungkinkan, atau minimal rekam medis luka."

Ratna diam.

Raka langsung berkata, "Kita ke Puskesmas."

Ratna menutup mikrofon ponsel. "Ibu ada pasien."

"Pasien bisa ke Puskesmas juga. Kali ini Ibu yang jadi pasien."

Farida seperti mendengar, karena ia berkata dari telepon, "Raka benar."

Akhirnya klinik dibuka hanya satu jam. Bu Rini yang datang untuk membeli obat maag langsung diminta menempelkan pengumuman.

Klinik buka kembali sore. Bu Dokter ada urusan medis.

Bu Rini membaca tulisan itu, lalu menatap Ratna. "Urusan medis siapa, Bu?"

Raka menjawab sebelum ibunya, "Ibu saya."

Bu Rini langsung diam.

Di Puskesmas Sukamaju, Ratna duduk di kursi pasien. Rasanya aneh. Biasanya ia yang memegang tensimeter, ia yang bertanya keluhan. Hari itu, seorang dokter muda memeriksa lengannya dan bertanya, "Ini karena apa, Bu?"

Ratna membuka mulut, tetapi suara tidak langsung keluar.

Raka berdiri di sampingnya, menatapnya, tidak mendesak.

Ratna akhirnya berkata, "Dicengkeram suami."

Dokter muda itu berhenti menulis sebentar, lalu mengangguk profesional.

"Kapan kejadiannya?"

"Semalam."

"Ada nyeri saat digerakkan?"

"Sedikit."

"Ada ancaman lain?"

Ratna menatap meja.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat tenggorokannya kering. Dulu, kalau ditanya orang apakah Bambang pernah menyakitinya, ia pasti menjawab tidak. Karena Bambang jarang memukul. Karena kata-kata kasar dianggap biasa. Karena cengkeraman dianggap emosi sesaat. Karena dalam rumah tangga, banyak hal buruk diberi nama "khilaf".

"Ada keributan," jawab Ratna. "Dia memaksa saya pulang."

Dokter muda mencatat.

Raka menggenggam sandaran kursi.

Setelah pemeriksaan selesai, Ratna mendapatkan salinan rekam medis dan saran untuk datang lagi jika nyeri bertambah. Dokter muda juga memberi nomor layanan pendampingan perempuan di kabupaten.

Ratna menerima kertas itu dengan canggung.

"Saya tidak sampai..."

Dokter muda berkata lembut, "Disimpan saja, Bu. Tidak harus dipakai hari ini."

Di mobil Raka, Ratna memandangi kertas itu lama.

Raka tidak menyalakan mesin.

"Bu."

"Ya?"

"Dulu pernah?"

Ratna tahu maksudnya.

"Tidak seperti semalam."

"Tapi pernah?"

Ratna menatap halaman Puskesmas. Ada ibu muda menggendong bayi, bapak tua membeli masker, anak sekolah tertawa sambil menunggu obat. Hidup orang lain terus berjalan.

"Bapakmu kalau marah kadang menarik tangan. Mendorong kursi. Membanting piring. Ibu selalu pikir itu bukan apa-apa."

Raka menutup mata.

"Kenapa Ibu tidak pernah bilang?"

"Kamu masih kecil. Lalu kamu besar, punya hidup sendiri. Ibu juga tidak punya bahasa untuk menyebutnya."

"Itu kekerasan, Bu."

Ratna mengangguk pelan.

"Sekarang Ibu tahu."

Raka menyalakan mesin, tetapi tidak langsung jalan.

"Aku minta maaf."

"Untuk apa?"

"Karena baru tahu sekarang."

Ratna menyentuh tangan anaknya.

"Anak tidak bertanggung jawab atas dosa ayahnya."

"Tapi anak bisa bertanggung jawab menjaga ibunya setelah tahu."

Ratna tidak menjawab.

Sore itu, ketika mereka kembali ke klinik, Arman sudah menunggu di depan warung Bu Rini. Ia tidak masuk, mungkin karena tahu kehadirannya bisa membuat cerita baru.

Raka turun lebih dulu. Tatapannya pada Arman hati-hati.

"Pak Arman."

"Raka, ya?"

"Iya."

Keduanya berjabat tangan.

Ratna turun dari mobil. "Pak Arman, ada apa?"

Arman melihat lengannya. Tatapannya berhenti sebentar, lalu kembali ke wajah Ratna.

"Saya hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja."

"Saya baik."

Raka berdeham.

Ratna mengoreksi, "Lengan saya sakit. Tapi saya sudah periksa."

Arman mengangguk. "Bagus."

Ia tidak berkata, "Saya sudah bilang." Tidak bertanya detail. Tidak menyuruhnya melapor. Ia hanya mengeluarkan sebuah kartu dari saku.

"Ini nomor langsung saya dan nomor asisten saya. Kalau Pak Bambang datang lagi dan Ibu butuh saksi tambahan, telepon."

Ratna menerima kartu itu.

Raka menatap Arman lebih lama, lalu berkata, "Terima kasih."

Arman mengangguk. "Saya menghormati Bu Ratna. Bukan mau mengambil alih."

Kalimat itu seperti sengaja ditujukan pada Raka.

Raka terdiam, lalu mengangguk singkat.

Malamnya, Ratna menyimpan rekam medis luka di map gugatan. Di samping bukti chat, foto, kuitansi makam, dan perjanjian rumah untuk Sari, kini ada bukti baru.

Bekas tangan Bambang.

Luka yang dulu mungkin ia sembunyikan di balik lengan panjang, kini tertulis rapi dalam bahasa medis.

Nyeri tekan pada lengan bawah kanan. Memar akibat trauma tumpul.

Ratna membaca kalimat itu.

Sederhana.

Dingin.

Tetapi benar.

Untuk pertama kalinya, sakitnya punya nama.

Malam itu, Raka pulang setelah Anisa menelepon tiga kali. Sebelum pergi, ia memeriksa pagar rumah sewa Ratna, jendela dapur, dan kunci belakang seperti petugas keamanan.

"Bu, kalau Bapak datang, jangan buka pintu sendirian."

"Iya."

"Kalau Sari datang?"

"Ibu juga tidak buka sendirian."

"Kalau Pak Arman datang?"

Ratna menatapnya.

Raka mengangkat bahu. "Aku cuma memastikan aturan berlaku untuk semua laki-laki."

Ratna hampir tersenyum. "Kalau Pak Arman datang, Ibu juga akan bicara di teras."

"Bagus."

Setelah Raka pergi, rumah sewa itu terasa lebih sunyi, tetapi tidak menakutkan. Ratna mengambil kompres dingin dan menempelkan pada lengannya. Memar itu tidak besar, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa tubuhnya pernah dipaksa mengikuti kehendak orang lain.

Ponselnya bergetar.

Arman: Sudah dikompres?

Ratna menatap pesan itu. Ia tidak tahu siapa yang memberi tahu Arman soal kompres, mungkin Raka, mungkin Farida, mungkin Arman memang terbiasa memikirkan hal kecil.

Ratna: Sudah.

Arman: Jangan pijat bagian memar.

Ratna: Saya dokter.

Arman: Dokter juga kadang keras kepala.

Ratna membaca pesan itu dan menggeleng pelan.

Ia membalas:

Ratna: Pasien juga kadang terlalu cerewet.

Arman: Saya sedang belajar dari dokter saya.

Ratna meletakkan ponsel di meja. Ada senyum kecil yang muncul, tetapi kali ini ia tidak buru-buru menghapusnya.

Di rumah utama, lampu ruang tamu Bambang masih menyala. Dari kejauhan, Ratna bisa melihat bayangannya bergerak di balik gorden.

Dulu bayangan itu membuatnya merasa harus pulang.

Malam ini, bayangan itu hanya bagian dari rumah lama.

Keesokan paginya, Ratna memotret lengannya sendiri sebelum mandi.

Memarnya mulai berubah warna, dari merah keunguan menjadi biru samar. Tubuh memang punya cara sendiri untuk menyembuhkan. Tapi Ratna tahu luka batin tidak otomatis berubah warna lalu hilang.

Ia mencetak foto itu di toko fotokopi dekat pasar dan memasukkannya ke map.

Petugas fotokopi sempat melirik, tetapi Ratna menatap balik sampai anak muda itu menunduk.

Dulu ia malu membawa bukti luka.

Sekarang ia lebih malu kalau membiarkan orang lain menghapusnya.

Di perjalanan pulang dari toko fotokopi, Ratna membeli map plastik baru warna biru.

Ia menulis di depannya dengan spidol hitam: Bukti.

Tulisan itu pendek, tetapi membuat langkahnya lebih mantap. Selama ini banyak hal dalam hidupnya hanya disebut perasaan. Hari ini, sebagian sudah menjadi bukti.

1
Anonim
awal cerita masih masuk nalar, tp mulai ketemu Arman dan Sari selalu tau gerak gerik Ratna, cerita mulai agak aneh…, setiap ada kejadian pd Ratna, Arman sll ada begitu jg dg Sari sll tau apa gerak gerik Ratna kaya pd punya CCTV sendiri…😂
Anonim
kok Sari bisa langsung tau sih ? katanya Sari tinggal nya di kampung sebelah, kok semua tentang Ratna si Sari langsung tau ya ? aneeh….
Anonim
diusia 60 thn adlh usia pensiun, dari kerja kantoran (kecuali dokter, pengacara) krn diusia itu fisik kita jg sdh tdk muda lg, tinggal menikmati hsl kerja dan menikmati hari tua dg bahagia, tp seperti dr Ratna kasus nya beda, masa tua bersama pasangan (suami) yg sehrs nya menikmati kebahagiaan, malah menjd masa tua yg menyakitkan, lbh ikhlas ditinggal mati pasangan drpd ditinggal krn perselingkuhan dan perceraian 😢
Tien Tien
merasakan rasaaanya .masuk banget ..kita ditinggal atw juta meninggalkan .semoga yg tersisa kebaikan. dan tidak ada penyesalan .
dwi sulastri
episode sebelumnya bu ratna pakai jilbab, ini kok disanggul ya
Wirly Pena
Semangat thor, karya yang bagus 👍

halo temen2, dukung dan baca " aku istrimu, bukan babu mu "

terimakasih 🙏
AlviAlva
coba kamu Mita ke bapakmu Mel
Amarilys
dari muda sampai tua masih plin plan seperti itu?? /Drowsy/
echa purin
👍👍👍
ceyee
bahasanya kayak terjemahan. apa ini novel terjemahan? berarti copas
Rochsdha Andriani
nah itu dia...
Sabrina Sheron
novel paling bagus yg pernah saya baca.
semua ada di kisah nyata bukan khayalan layaknya dunia novel biasa. semangat buat penulisnya💪
Rochsdha Andriani
kebaya ?
Surati
Bagus ceritanya
Mama lilik Lilik
ceritanya bagus dan seperti real banget,cuma kadang alamat rumah kadang pindah² semula diklinik lalu pindah ,ke rumah sewa tiba² di klinik dekat kampung cempaka, terakhir ke apartemen, tetap semangat KK dn terimakasih 🙏
Zakia Ulfa
ayolooohhh Bu dokter calon jodohmu dataaaaang
Zakia Ulfa
kereeeennn Lo ceritanya
Aji Priatun
suka banget alur ceritanya, keren Author, terima kasih
Kukun Sabarno
kenapa pemikiran nelati terlalu jauh tentang pak arman,seakan memanfaatkan kesempatan ya. apa aku salah??
Ema Susanti
sama seperti mantan suamiku. semoga Allah berikan jodoh yang baik dan tepat., 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!