SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: HUJAN DI TAYUPAN DAN BEKAL YANG SAMA
Langit di atas SMA Garuda mendadak berubah menjadi abu-abu gelap tepat saat bel pulang sekolah berbunyi pukul empat sore. Tak berselang lama, gemuruh petir menyambar di kejauhan, disusul hujan deras yang mendadak mengguyur bumi tanpa ampun.
Di bawah atap tayupan—area tempat berteduh di dekat parkiran motor—puluhan siswa berdiri berdesakan. Suara bising air hujan yang menghantam atap seng berpadu dengan riuk desah kecewa anak-anak yang tidak membawa jas hujan atau payung.
Aluna berdiri di sudut tayupan, merapatkan jaket rajut cokelatnya. Hawa dingin perlahan merayap naik menembus kulitnya. Ia melirik jam di pergelangan tangan: sudah pukul empat lewat seperempat. Maya sudah pulang duluan dijemput ayahnya naik mobil, sementara Aluna masih terjebak di sini.
Dari jarak beberapa meter, Devan berdiri di antara deretan anak-anak kelas 12. Beberapa teman laki-lakinya sibuk bersenda gurau, sementara Devan hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk singkat. Namun, pandangannya secara berkala bergulir ke sudut tempat Aluna berdiri.
Ia melihat Aluna mengusap-usap kedua telapak tangannya sendiri untuk mencari kehangatan. Bibir perempuan itu tampak sedikit pucat karena terpaan angin dingin yang membawa cipratan air hujan.
Devan menghela napas pelan. Tanpa memedulikan tatapan teman-temannya, ia melepas jaket varsity hitam tebal berlogo tim basket sekolah yang mengenakan namanya di dada kanan.
"Bro, mau ke mana lu?" tanya Rian, teman sekelas Devan, saat melihat Devan berjalan menembus kerumunan.
"Ada urusan sebentar," jawab Devan singkat.
Devan melangkah santai mendekati tempat Aluna. Langkah kakinya yang tenang membuat beberapa siswi yang berdiri di dekat Aluna berbisik-bisik. Aluna yang sedang menunduk mendadak mendongak saat melihat sepasang sepatu kets hitam berhenti tepat di depannya.
Sebelum Aluna sempat bereaksi, sebuah jaket tebal yang masih menyimpan kehangatan tubuh Devan disampirkan dengan lembut ke bahunya.
"Pake," kata Devan datar, seolah-olah apa yang dilakukannya adalah hal yang sangat biasa.
Aluna membelalakkan mata panik. "E-eh?! Kak Devan, jangan! Nanti anak-anak lain pada lihat—"
"Biarin," potong Devan pelan namun tidak bisa dibantah. Tangannya terulur menaikkan resleting jaket itu hingga merapat ke leher Aluna, menutupi tubuh mungil adiknya dari dinginnya angin sore. "Kamu kedinginan dari tadi. Nanti sakit."
Beberapa pasang mata di sekitar mereka memang mulai menoleh curiga. Aluna bisa merasakan tatapan bertanya-tanya dari adik kelas dan teman-temannya. Pipinya terasa membakar seketika.
Devan berpaling sedikit, menatap deretan motor mereka yang terpapar hujan deras di lapangan parkir. "Hujannya nggak bakal awet, tapi dingin. Kamu tunggu di sini sebentar."
"Kakak mau ke mana?" tanya Aluna khawatir.
Devan tidak menjawab. Ia justru merogoh kantong celananya dan menyerahkan sebuah kotak kecil berbahan plastik bening yang dibungkus kain serbet.
"Ibu tadi pagi nyelipin bekal ekstra di tas aku," kata Devan. "Isinya sandwich keju. Makan dulu biar perutmu nggak kosong."
Aluna menerima kotak bekal itu dengan perasaan membuncah. Ia tahu betul, Ibu selalu membuatkan bekal dengan porsi yang sama untuk mereka berdua setiap pagi. Artinya, Devan sengaja tidak memakan bekalnya sendiri di jam istirahat tadi demi menyimpannya untuk Aluna di saat seperti ini.
"Terus Kak Devan makan apa dari tadi siang?" bisik Aluna dengan mata berkaca-kaca.
Devan menatapnya dalam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat hangat. "Aku kenyang cuma dengan liat kamu habisin itu."
Kalimat sederhana itu sukses membuat jantung Aluna berdesir hebat. Kata-kata Devan selalu tenang, tetapi efeknya seperti ledakan kembang api di dalam dada Aluna.
Tanpa memedulikan hujan yang makin membesar, Devan berjalan ke arah kantin luar untuk membeli dua gelas teh manis hangat. Dari tempatnya berdiri, Aluna memeluk jaket varsity Devan erat-erat. Aroma wangi maskulin yang menempel di kain jaket itu membungkus tubuhnya, memberikan rasa hangat dan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bagaimana bisa aku menahan perasaan ini, batin Aluna sambil menatap punggung Devan di kejauhan, kalau kamu selalu membuatku merasa sejuta kali lebih berharga seperti ini?