Indonesia
NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam itu suasana rumah terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Tidak ada perdebatan. Tidak ada sindiran tajam. Tidak ada wajah dingin seperti orang asing. Hanya suara televisi kecil dari ruang tengah dan sesekali tawa Kaivan yang sedang bermain mobil-mobilan bersama Kalingga.

Sementara itu di kamar, Kartika dan Deva duduk berhadapan di tepi ranjang. Lampu kamar dibuat redup. Setelah beberapa hari, kini mereka benar-benar bicara dari hati ke hati.

Tangan mereka saling bertaut, namun tetap terasa canggung. Karena luka yang beberapa hari terakhir muncul masih belum benar-benar hilang.

Deva mengusap pelan punggung tangan istrinya sambil menunduk. “Aku kepikiran cari kerjaan tambahan,” ucapnya pelan.

Kartika mengangkat wajah.

“Mungkin jadi driver online,” lanjut Deva.

Beberapa detik hening. Lalu, Kartika tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, tetapi lebih seperti seseorang yang baru mendengar sesuatu yang terasa ironis.

Deva langsung salah tingkah. “Aku serius, Yang.”

“Aku tahu.” Kartika tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. “Aku enggak ngetawain Mas.”

“Terus kenapa ketawa?”

Kartika menghela napas kecil lalu menatap suaminya dalam. “Karena lucu aja.”

“Lucu?”

“Iya.” Kartika menggeser duduknya sedikit mendekat. “Mas yang gajinya dua puluh lima juta aja sampai kepikiran jadi driver online buat nambah penghasilan.”

Wanita itu berhenti sebentar. “Tapi kenapa adik-adik Mas enggak kepikiran cari tambahan juga?”

Deva langsung diam.

Kartika melanjutkan dengan nada tenang, tetapi jelas menusuk logika. “Mereka kan punya motor. Gavin dan Kenzie masih muda dan juga sehat.”

Ia menatap Deva lekat-lekat. “Kenapa yang terus mikirin tambahan uang itu selalu Mas?”

Deva menunduk pelan. Entah kenapa pertanyaan itu terasa sulit dijawab. Dia mengembuskan napas kasar. 

“Mungkin mereka capek kerja.”

Kartika langsung mengernyit kecil. “Memangnya Mas enggak capek?”

Kalimat itu membuat Deva terdiam lagi. Tentu saja ia capek. Bangun pagi, pulang menjelang malam. Ditekan target kantor. Belum lagi memikirkan kebutuhan semua orang.

Namun, anehnya beberapa hari terakhir, yang paling melelahkan justru bukan pekerjaannya. Melainkan rumahnya sendiri.

“Capek,” jawab Deva lirih akhirnya. Ia mengangkat wajah menatap Kartika. Sorot matanya terlihat lelah. “Tapi lebih capek waktu kamu diem sama aku.”

Kartika langsung terdiam.

“Waktu kamu enggak perhatian lagi,” lanjut Deva pelan. “Itu rasanya nyiksa.”

Suara pria itu mengecil di akhir kalimat. Tidak ada nada marah. Hanya kejujuran yang akhirnya keluar begitu saja.

Kartika menatap suaminya lama. Untuk pertama kalinya Deva terlihat benar-benar takut kehilangan dirinya.

“Mas ....” Kartika menghela napas kecil. “Aku kayak gitu karena capek.”

Ia menunduk sebentar sebelum kembali bicara. “Itu karena Mas. Terus saja memanjakan dan tidak bisa menolak keinginan keluarga Mas, tapi sama keluarga sendiri Mas tega dan abai. Istri mana yang tidak akan kesal. Aku capek selalu ngalah. Capek lihat Mas lebih takut mengecewakan keluarga Mas dibanding menyakiti aku.”

“Aku tidak melarang Mas berbuat baik, menolong, dan berbagi dengan keluarga Mas. Tapi, jangan korbankan istri dan anak-anak. Utamakan dulu kita yang menjadi tanggung jawabmu, Mas. Istri dan anak itu harus menjadi prioritas utama seorang suami. Setelah bisa mencukupi semua kebutuhan istri dan anak, baru Mas beri saudara-saudara yang lain,” jelas Kartika dengan nada serius dan tatapan tegas.

Ucapan itu membuat rahang Deva menegang. Namun, ia tidak membantah. Karena semua itu memang benar. Dia sudah di doktrin sama orang tuanya.

“Aku ini anak sulung, Yang,” gumam Deva pelan. “Dari kecil aku diajarin harus menjaga, menolong, dan ngalah buat keluarga.”

Deva tersenyum pahit. “Aku harus bantu adik. Harus bahagiain orang tua. Harus jadi sandaran mereka.”

Kartika mendengarkan tanpa memotong.

“Dan aku mikir,” lanjut Deva, “kalian itu bagian dari diriku. Jadi enggak apa-apa kalau harus ikut ngalah.”

Kartika langsung menggeleng pelan. “Nah, itu salahnya Mas.”

Deva menatap istrinya.

Kartika menggenggam tangan pria itu lebih erat. “Aku enggak pernah larang Mas bantu keluarga.”

“Sungguh.”

“Tapi, jangan sampai istri dan anak-anak dikorbankan.” Nada suaranya lembut, tetapi tegas. “Prioritas pertama seorang suami itu keluarganya sendiri dulu.”

Kartika menunjuk dada Deva pelan. “Aku dan anak-anak tanggung jawab Mas. Kalau rumah tangga kita aman, kebutuhan kita cukup, baru Mas bantu yang lain.”

Kartika menatap suaminya dalam-dalam. “Bukan sebaliknya.”

Deva kembali terdiam. Ucapan itu sederhana. Namun, seperti menampar kesadarannya pelan-pelan. Selama ini ia selalu merasa dirinya laki-laki baik karena membantu semua keluarganya. Namun ia lupa ada keluarganya sendiri yang diam-diam terus kekurangan. Dan yang paling menyakitkan istrinya sampai merasa sendirian.

Deva menunduk pelan lalu mengusap wajahnya kasar. “Maafin aku ya, Yang,” ucap Deva suaranya terdengar serak. “Aku enggak sadar udah bikin kamu sesakit itu.”

Kartika langsung menggigit bibir bawahnya.

Dadanya mendadak terasa sesak. Karena selama bertahun-tahun baru malam ini Deva benar-benar mengerti. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. 

Dan saat itulah Deva merogoh tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal lalu menyerahkannya pada Kartika. “Nih.”

Kartika mengernyit bingung. “Ini apa?”

“Uang bulanan.”

Kartika membuka amplop itu perlahan. Matanya langsung membesar. “Delapan juta?”

Deva mengangguk kecil. “Nanti kita hitung-hitung lagi pembagian uang gaji." ucap Deva sambil menghapus air mata istrinya. "Setelah tanya-tanya sama rekan kerja, dibandingkan istri mereka, rupanya istriku termasuk wanita yang pandai mengatur keuangan."

Kartika langsung menatap suaminya tidak percaya. “Mas ....”

Air mata Kartika langsung jatuh. Bukan karena nominal uangnya, tetapi karena akhirnya ia merasa didengar.

Deva tersenyum kecil lalu menghapus air mata istrinya dengan ibu jari. “Tadi aku sempat ngobrol sama teman kantor. Setelah tanya-tanya sama rekan kerja, dibandingkan istri mereka, rupanya istriku termasuk wanita yang pandai mengatur keuangan."

“Mereka sampai bilang,” Deva terkekeh kecil, “kalau istriku ternyata hebat.”

Kartika mengernyit.

“Mereka sampai heran gimana caranya kamu bisa ngatur uang segitu buat satu rumah.”

Kartika langsung tersipu. Pipinya memerah tipis. Kalau Anggun ada di sana, pasti wanita itu sudah teriak, "WOI! Jangan bucin-bucin lagi!"

Mendengar pujian sederhana dari suaminya saja hati Kartika sudah terasa hangat.

“Yang, tadi aku juga beli makanan,” kata Deva sambil tersenyum kecil. “Kita makan bareng ya?”

Kartika sebenarnya sudah kenyang karena tadi makan bersama anak-anak. Namun, melihat wajah Deva yang sedang berusaha memperbaiki semuanya ia tidak tega menolak.

“Baik, Mas,” jawab Kartika pelan.

Wajah Deva langsung terlihat lega. “Aku mandi dulu.”

Pria itu mengecup kening Kartika lembut sebelum berdiri. Dan entah kenapa setelah beberapa hari penuh pertengkaran, rumah itu akhirnya terasa hangat lagi.

Malam itu suara tawa kembali terdengar. Kalingga sibuk bercerita tentang sekolah. Kaivan tertawa sambil menyuapi ayahnya kerupuk.

Sedangkan Kartika hanya diam memperhatikan mereka dengan hati yang perlahan kembali tenang.

1
Mei Saroha
lambemu kaiiiii
Mei Saroha
beruntung ya keluarga deva dapet mantu org have
Mei Saroha
bu hania keturunan monster NPD apa ya, koq ngamuk mulu
Sfarlett Alexana
💪
Mei Saroha
kata gw mah mendingan ganti nomer HP aja Dav
Night Watcher
secara keseluruhan bagus, ada hikmah/ pelajaran yg bisa diambil,.
sayangnya outhor byk kurang teliti, shg banyak ketidaksesuaian antara cerita sebelumnya dgn cerita berikutnya.
mudah2an kedepan karya2mu lebih bagus, bukan cuma dr memancing emosi, keseruan perseteruan, tetapi dari segi konsistenitasnya.
moga sukses, maaf atas komentar2 kasarku (yg pasti tujuannya bkn utk menghina, tp utk kebaikan/ meningkatkan ketelitian yg akan mendorong otor berkarya lebih bermutu). trimakasih atas hiburan yg otor sajikan.🙏
Mei Saroha
sookooorrrr
Night Watcher
ya iyalah.. anggun walaupun pake pakaian olah raga ya tetap anggun, masa jd terlihat mak lampir... 😂😂😂🤭
Marina Tarigan
sela.at berbahsgia semua dari aeal amburadul dan keserakahan dpt titik temi saling menghormsto saling menghargai dan mau merbah sifst yg kursng baik akhirnya damai dan sejahtrs salam semuanya
Marina Tarigan
bagus dong akhirnya kelakuan yg serakah daro orang tua dan ketulusan Anggun dan Gavin menata hidup kembali kearah lebih sempurna terjadi juga salam hangat dsri pembava setis
Marina Tarigan
semoga Anggun dam Gavin betnodoj karena dua2 nya gagal dlm permikahan satu fitinhgal mati suami satu bercetai karena kergoisan pasangan deh
Marina Tarigan
bisa sm kartika itu orang tua tapi jgn se. kali2 campuri urusan rmh tgha Deva itu saja
Marina Tarigan
memang kamu nenek lampir egois arogan keras kepala Kalau kamu tahu siapa Kartika mungkin kamu mati berdori pura2 kaya lihat nanti satu2 anakmu jauh dari rmhmu larena kesibukan mereka sadarlah
Marina Tarigan
lanjutksn ceritanya sampai selesai baikmy haji rosita bantu keluarganya dan seluruh pendapatan gavin hanya dipakai utk cicilan rumah dan keperluan rmh tgha mereka dan tdk mengeluarkan dana utk keluarga rosita karen A Gavin bukan presdir atau CEO perusahaan tdk punya gaji banyak
Marina Tarigan
Deva kan kuli keluaga mereka terus desak Deva spya stroke tak pernah tenang hidupnya oleh benalu itu semia
Marina Tarigan
hati2 deva jgn karyika tersakiti lagi oleh keluargamu Rsngga akan mengusirmu ingat itu keluargamu liri kanan beNALU singkirkan semua
Marina Tarigan
metyus kefua belah pihak kok dus2 niadap ini sm 2 meronhrong tmh thga. anak
Marina Tarigan
lakban mulut ibu kalian dgn kuat ibu kalian itu psikopat aliad gila yg menghancurkam rmj tgga anaknya sendiri
Marina Tarigan
wah inu firhaka gara2 ibu monyet ini rmh tgga iriama dan Devs hancur
Marina Tarigan
lanjut keluarga amburaful egois ti gkat tinggi mampus lo semua ibu. ansk dama2 biadap nenek yv satu keparst
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!