Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Undangan, Rahasia, dan Janji Malam

Satu tahun telah berlalu. Matahari pagi menyinari rumah kayu sederhana itu dengan cahaya yang lebih hangat dari sebelumnya. Rumah yang dulu hanya dihuni oleh tiga orang — Angel, Rebeca, dan Kael — kini terasa hidup, penuh, dan lengkap.

Angel kini berusia sembilan tahun. Wajahnya yang dulu selalu tertutup bayang kesepian kini bersinar cerah. Ia tak lagi sendirian. Di sisinya kini ada ayahnya, Yofaith; ada Lazark yang selalu membuat suasana riuh; ada Ellion yang sering berkunjung; dan tak lama lagi, kakaknya, Ezra, akan datang menemui mereka.

Di halaman depan rumah, angin pagi berhembus lembut. Angel dan Rebeca sedang menjemur pakaian di tali jemuran yang membentang di antara dua pohon. Yofaith pun ikut membantu, melipat pakaian yang sudah kering dengan gerakan yang sedikit kaku namun penuh kesabaran.

"Ayah, lipatannya tidak rapi!" seru Angel sambil tertawa kecil, memperbaiki lipatan yang dibuat ayahnya.

Yofaith tersenyum malu. "Maaf, Nak… selama ratusan tahun aku hanya memegang pedang, bukan pakaian. Tapi aku berusaha!"

Rebeca tertawa renyah, menyatukan kedua tangan mereka. "Sudah, biarkan saja. Yang penting niatnya tulus."

Sementara itu, di atas atap rumah, Kael sedang sibuk memukul paku dan menata papan yang mulai lapuk. Di sampingnya berdiri Lazark — yang sejak tadi hanya memegang palu dengan wajah bingung, sesekali mengetuk paku namun justru membuatnya miring.

"Kael…" keluh Lazark sambil mendengus kasar, meletakkan palu dengan kasar. "Kenapa sih aku harus melakukan hal begini? Aku ini bisa menebas gunung dengan satu ayunan pedang! Bisa menghancurkan benteng dalam sekejap! Tapi memperbaiki atap? Ini lebih sulit daripada melawan seratus dewa sekaligus!"

Kael tidak berhenti bekerja, namun menjawab dengan tenang:

"Guru, jika terus-menerus mengeluh begitu, atap ini tidak akan selesai sampai malam tiba. Fokuslah sebentar saja."

"Tapi ini tidak masuk akal!" Lazark terus bicara dengan nada mengeluh yang keras. "Kenapa harus paku? Kenapa harus papan? Kenapa tidak cukup dengan menempelkan kekuatan kita saja? Lebih cepat, lebih kuat, dan tidak perlu kotor tangan begini! Muridku, kau dengar aku?!"

Suara keluhan Lazark terdengar jelas hingga ke bawah. Angel, Rebeca, dan Yofaith yang mendengarnya tak kuasa menahan tawa. Tawa mereka bergema di halaman itu — tawa yang ringan, bahagia, dan penuh syukur.

"Dia memang tidak pernah berubah ya…" ucap Yofaith sambil tersenyum lebar, menatap sosok yang sedang mengomel di atas atap itu. "Dulu di medan perang ia mengerikan dan ditakuti seluruh dunia. Tapi sekarang… ia hanya terlihat seperti anak kecil yang tidak mau disuruh kerja rumah."

Rebeca mengangguk sambil tersenyum hangat. "Dan itulah yang membuat rumah ini terasa begitu hidup. Kekuatan besar bukanlah segalanya — tawa dan kebersamaan inilah yang paling berharga."

Angel menatap mereka semua — ibunya, ayahnya, dan kedua orang yang seperti pamannya di atas atap. Hatinya terasa penuh, utuh, dan hangat. Namun di tengah kehangatan itu, Lazark yang sedari tadi terus mengomel di atas atap seketika terdiam. Gerakannya berhenti sepenuhnya, dan pandangannya tertuju lurus ke arah jalan setapak yang membelah hutan kecil di kejauhan.

Kael menyadari perubahan itu dan ikut menoleh. "Ada apa, Guru?"

Lazark tidak menjawab. Tanpa menunggu sedetik pun, ia melompat turun dari atap dengan gerakan yang begitu cepat hingga bayangannya hampir tak terlihat. Langkahnya berat dan menghentak tanah, seketika itu juga ia bergegas menyusul sosok yang berjalan perlahan mendekati rumah itu.

Semua orang di halaman ikut berdiri tegak, menatap dengan rasa bingung sekaligus waspada. Sosok itu mengenakan pakaian resmi akademik yang rapi, wajahnya tampak tegang namun penuh hormat — ia adalah utusan langsung dari Kepala Akademik, Ellion.

Belum sempat utusan itu membuka mulutnya, Lazark sudah berdiri tepat di hadapannya. Tanpa peringatan, tangan Lazark mencengkeram kerah baju utusan itu, lalu dengan cepat naik — mencekik lehernya erat, mengangkat tubuhnya sedikit hingga kakinya terangkat dari tanah. Wajah Lazark bukan lagi wajah yang penuh tawa dan canda. Matanya tajam dan dingin, memancarkan aura kematian yang membuat udara di sekitarnya terasa mencekam seketika.

"Kau datang ke sini dengan niat apa?" suaranya rendah namun mengancam, menekan setiap kata. "Siapa yang menyuruhmu mendekati rumah ini? Berbicara!"

Wajah utusan itu pucat pasi, tangannya berusaha melepaskan cengkeraman itu namun sia-sia. Napasnya terengah-engah, matanya membelalak ketakutan.

"Lepaskan dia, Lazark."

Suara itu tenang namun tegas, dan begitu terdengar, tangan Lazark seketika melepaskan cengkeramannya sepenuhnya. Utusan itu jatuh berlutut di tanah, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya, wajahnya merah padam.

Yofaith melangkah maju, berdiri di samping Lazark, menatap utusan itu dengan tatapan lembut namun penuh wibawa. "Maafkan kelakuannya. Beliau tidak bermaksud menyakitimu — beliau hanya terlalu waspada terhadap siapa pun yang mendekati keluargaku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bangkitlah, jangan takut."

Rebeca pun melangkah mendekat, berdiri di samping suaminya, lalu menatap utusan itu dengan tatapan lembut namun penuh pertanyaan.

"Beritahu kami, Tuan… apa yang membuatmu datang sejauh ini ke kediaman kami?" tanyanya dengan nada sopan namun tegas. "Apakah ada sesuatu yang penting terjadi di akademik?"

Utusan itu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, lalu perlahan bangkit berdiri, menunduk penuh hormat kepada mereka berempat. Ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna keemasan yang dihiasi lambang akademik — lambang yang hanya digunakan untuk undangan tingkat tertinggi — lalu mengulurkannya dengan kedua tangan.

"Mohon maaf atas ketidaksopanan kedatanganku, Nyonya, Tuan," ucapnya dengan suara yang kini sudah kembali tenang namun tetap penuh rasa hormat. "Saya datang atas perintah langsung dari Tuan Kepala Akademik, Ellion. Izinkan saya memberikan undangan ini kepada Nona Angel — sebuah undangan resmi untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih lanjut, yang baru saja dibuka khusus untuk murid-murid berbakat yang telah lulus dengan prestasi tertinggi."

Mendengar namanya disebut, Angel segera melangkah maju dengan langkah ringan namun penuh keyakinan. Ia berdiri tepat di hadapan utusan itu, menatap amplop keemasan yang bersinar di tangan pria itu, lalu perlahan mengulurkan tangannya dengan sopan dan penuh hormat.

"Terima kasih, Tuan…" ucapnya lembut namun tegas, saat jari-jarinya menyentuh amplop itu dan menerimanya dengan kedua tangan. "Saya Angel… dan saya menerima undangan ini dengan senang hati."

Utusan itu tersenyum tipis, merasa lega melihat ketulusan gadis itu. "Semoga perjalananmu ke depan penuh cahaya, Nona Angel. Saya pamit undur diri." Ia memberi hormat sekali lagi kepada seluruh keluarga, lalu berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan kediaman itu.

Angel segera membuka lipatan amplop itu dan membaca isinya dengan saksama. Matanya berbinar semakin terang seiring setiap kata yang ia baca — di dalamnya tertulis bahwa ia diundang untuk masuk ke jenjang pelatihan tingkat lanjut, tempat di mana murid-murid terpilih akan diajarkan untuk menguasai kekuatan sejati mereka, bertarung dengan cara yang sesungguhnya, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia yang jauh lebih luas.

Ia segera berbalik menghadap ayah dan ibunya, memegang undangan itu erat-erat di dadanya. Tatapannya penuh harap, namun juga penuh tekad.

"Ibu… Ayah…" suaranya terdengar mantap, meski sedikit bergetar karena antusiasme. "Saya sudah membaca semuanya. Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk saya — untuk belajar lebih banyak, untuk menguasai kekuatan yang ada di dalam diri saya, dan menjadi seseorang yang bisa membanggakan keluarga ini. Saya mohon… izinkan saya untuk mengikuti pelatihan lanjutan di akademik itu."

Namun di tengah momen itu, Kael yang sedari tadi berdiri menyaksikan tiba-tiba merasa penasaran dengan isi undangan tersebut. Ia meminta izin untuk melihatnya sekilas, dan begitu matanya membaca tulisan di atas kertas itu, wajahnya perlahan berubah serius. Ia mengangkat kepala, menatap Yofaith dengan tatapan penuh kehati-hatian sekaligus rasa hormat.

"Mohon maaf, Tuanku…" ucap Kael pelan namun jelas, suaranya terdengar berat. "Izinkan saya untuk memberitahukan sesuatu. Dari apa yang tertulis di sini, serta apa yang saya ketahui — pelatihan lanjutan di akademik ini biasanya memiliki aturan khusus. Murid yang datang untuk mengikuti pelatihan ini didukung dan disponsori oleh beberapa bangsawan atau keluarga berpengaruh, Tuanku. Tanpa adanya dukungan tersebut, ada kemungkinan perlakuan yang diterima tidaklah sama… atau bahkan ada hal-hal tersembunyi yang belum terungkap."

Ruangan itu seketika hening. Yofaith terdiam mendengar penjelasan itu, tatapannya berubah menjadi serius. Rebeca pun berhenti bergerak, menatap Kael dengan cemas.

"Maksudmu… undangan ini bukan sekadar undangan biasa?" tanya Rebeca pelan. "Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya?"

Kael mengangguk pelan. "Bukan bermaksud meragukan Tuan Ellion, Nyonya. Namun sistem di akademik itu berjalan demikian — setiap murid yang masuk ke jenjang lanjutan terikat dengan pihak yang mensponsori, yang berarti… ada pihak lain yang memiliki andil atau hak atas murid tersebut. Saya hanya ingin memastikan Tuanku mengetahuinya sebelum Nona Angel benar-benar melangkah ke sana."

Yofaith menatap undangan itu, lalu menatap putrinya. "Terima kasih, Kael. Kau telah melakukan hal yang benar. Namun tidak peduli apa pun aturan di sana — Angel tetaplah putriku. Tidak ada satu pun bangsawan, tidak ada satu pun kekuasaan di dunia ini yang bisa menuntut hak atas anakku. Jika mereka mengundangnya, mereka harus menerimanya apa adanya — sebagai Angel, bukan sebagai milik siapa pun."

Angel memegang undangan itu erat, matanya berbinar tegas. "Ayah benar. Saya pergi ke sana untuk belajar, bukan untuk menjadi milik siapa pun. Jika ada yang ingin mencoba menguasai saya… saya akan melindungi diri saya sendiri!"

Lazark langsung menepuk pundak Angel dengan bangga. "Hahahaha! Itu baru Nona-ku! Kalau ada yang berani macam-macam, panggil saja aku — aku akan datang dan menghancurkan tempat itu dalam sekejap!"

Kael tersenyum tipis melihat tekad keluarga itu. "Baiklah, Tuanku. Jika itu keputusan kalian, maka saya siap mengantar dan menjaga Nona Angel sampai ke gerbang akademik esok hari."

Yofaith mengangguk mantap. "Kalau begitu, keputusan telah diambil. Angel, kau boleh pergi. Tapi ingat — kau selalu punya keluarga yang siap mendukungmu kapan saja."

Rebeca mendekat dan memeluknya erat. "Ibu juga mengizinkanmu, Angel. Belajarlah dengan rajin, jadilah dirimu sendiri. Dan ingat — apa pun yang terjadi, rumah ini selalu menjadi tempatmu pulang."

Angel tersenyum lebar, wajahnya bersinar bahagia. "Terima kasih, Ibu! Terima kasih, Ayah! Saya berjanji… saya akan berusaha sebaik mungkin!"

 

Matahari perlahan mulai turun, mewarnai langit dengan rona jingga keemasan yang hangat menyelimuti rumah kayu itu. Di dalam rumah, suasana terasa sibuk namun penuh kehangatan — Angel sedang duduk di tepi tempat tidurnya, menata dengan teliti perlengkapan yang akan dibawanya besok. Di sampingnya, Rebeca dengan lembut melipat pakaian yang rapi dan memasukkannya ke dalam tas kain buatan sendiri, sementara Yofaith dengan penuh kesungguhan menyiapkan bekal makanan kering serta buku-buku catatan yang berguna, bergerak dengan hati-hati seakan takut salah menaruh satu benda pun.

"Pakaian sudah lengkap… bekal makanan sudah siap… buku catatan juga sudah ada," gumam Yofaith pelan sambil mengecek satu per satu, wajahnya tampak bangga sekaligus sedikit cemas. "Semoga semuanya cukup, Nak."

Rebeca tersenyum melihat kesungguhan suaminya. "Sudah cukup, Sayang. Jangan terlalu banyak, nanti tasnya berat untuk dibawa Angel."

Belum lama berselang, pintu kayu rumah itu terbuka perlahan. Kael dan Lazark masuk dengan langkah pelan, membawa suasana sore yang sejuk ke dalam rumah. Kael berdiri di dekat pintu sambil tersenyum lembut melihat pemandangan itu, sementara Lazark berjalan mendekat hingga tepat berdiri di samping tempat tidur Angel. Matanya menyapu tumpukan barang-barang yang sedang disiapkan, lalu ia tersenyum lebar.

"Nona… jangan lupa bawa ini juga," ucap Lazark tiba-tiba, suaranya terdengar penuh semangat namun tulus. "Aku punya sesuatu untukmu bawa — hadiah dariku."

Sebelum Angel sempat bertanya, tangan Lazark terangkat perlahan. Di udara di hadapannya, seketika muncul lubang hitam yang pekat, berputar perlahan dan memancarkan aura dingin yang mencekam namun terkendali. Dari dalam pusaran kegelapan itu, ia perlahan mengeluarkan sebilah pedang — tampak mengerikan namun luar biasa indah, bilahnya hitam pekat berkilauan samar, seakan menyerap cahaya di sekelilingnya. Pedang itu begitu besar, namun terasa ringan di tangan Lazark.

"Ini, Nona. Bawalah benda ini juga," ucap Lazark pelan namun tegas, lalu menyodorkan pedang itu kepada Angel dengan kedua tangan. "Ini hadiah dariku, karena kau akan mengikuti pelatihan itu. Aku dengar pelatihan itu isinya orang-orang yang kuat dan berbakat… tapi Nona-ku jauh lebih kuat dari mereka. Aku ingin Nona memakai hadiah dariku ini, agar Nona menjadi seseorang yang tidak akan diganggu oleh siapa pun! Hahahahaha!"

Tawanya bergema di ruangan itu — penuh kebanggaan dan keyakinan. Angel menatap pedang itu dengan mata terbelalak, merasakan kekuatan yang luar biasa namun tidak menakutkan, justru terasa seperti pelindung yang setia. Ia mendongak menatap Lazark, lalu perlahan mengulurkan kedua tangannya menerima hadiah itu dengan penuh rasa hormat.

"Terima kasih, Paman Lazark…" ucapnya tulus, memeluk pedang itu di dadanya. "Saya akan menjaganya dengan baik, dan saya akan menggunakannya untuk melindungi diri maupun orang lain."

Kael yang berdiri di dekat pintu tersenyum melihat itu, lalu berbicara pelan: "Guru memang selalu memberikan yang terbaik bagi Nona."

Lazark menoleh ke arahnya, tersenyum bangga. "Tentu saja! Bagaimana mungkin aku membiarkan Nona-ku pergi tanpa perlindungan yang pantas!"

Di sisi lain, Rebeca dan Yofaith saling bertukar pandang — mereka tahu betul pedang itu bukan benda sembarangan. Namun mereka juga tahu, Lazark tidak akan memberikan sesuatu yang akan membahayakan putri mereka. Malam itu, di dalam rumah kayu yang hangat, perlengkapan besok telah lengkap — bukan hanya pakaian, makanan, dan buku, melainkan juga kasih sayang, perlindungan, dan harapan dari setiap orang yang menyayanginya.

 

Malam semakin larut, dan seluruh rumah telah hening. Cahaya remang bulan menyinari ruangan, menyelimuti setiap sudut dengan ketenangan. Angel sudah terlelap di kamarnya, begitu pula Kael dan Lazark — keduanya beristirahat setelah seharian sibuk dan penuh emosi. Namun di meja makan yang diterangi cahaya lilin lembut, Yofaith dan Rebeca masih duduk berhadapan, tak kunjung terpejam. Pikirannya terus berputar pada kata-kata yang baru saja diucapkan Kael — tentang sistem sponsor, tentang aturan tersembunyi di balik pelatihan itu.

Rebeca menatap nyala api lilin, suaranya pelan namun penuh kegelisahan.

"Sayang… aku masih kepikiran apa yang dikatakan Kael tadi. Sebenarnya… aku punya sebuah rencana. Tapi aku tidak tahu apakah putri kita akan setuju atau tidak."

Yofaith menatap istrinya dengan lembut, namun tatapannya tetap serius.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Rebeca. Aku juga berpikir demikian. Sepertinya sebaiknya kita pergi menemui orang tuamu — dan mendiskusikan hal ini bersama mereka."

Mendengar itu, mata Rebeca membelalak sedikit, wajahnya tampak terkejut. Ia tak menyangka bahwa idenya persis sama dengan apa yang ada di benak suaminya.

"Jadi… bagaimana?" tanyanya pelan, matanya menatap Yofaith penuh harap sekaligus cemas. "Apakah besok saja kita berbicara dengan Angel? Sebelum ia berangkat ke akademik? Aku takut, Sayang… aku takut Angel akan mengalami hal yang sama — hal yang menimpanya saat pertama kali ia masuk ke akademik itu."

Yofaith mengangguk pelan, memahami sepenuhnya kekhawatiran istrinya. Ia meraih tangan Rebeca di atas meja, menggenggamnya erat.

"Baiklah… jika jalan itu satu-satunya, maka kita akan berbicara dengan Angel besok pagi, sebelum ia berangkat. Kita akan mendengarkan pendapatnya, dan bersama-sama kita akan memutuskan apa yang terbaik untuknya."

Malam itu, di bawah cahaya lilin yang berkedip, keduanya berjanji dalam hati — apa pun keputusan putri mereka, mereka akan berdiri di sampingnya, melindunginya, dan memastikan ia tidak pernah merasa sendirian.

 

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!