Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sepatu Bekas Untuk Mira
Keesokan paginya, seperti biasa Mira kembali mengayuh sepeda mininya menuju sekolah.
Wajah cerianya tidak pernah berubah meskipun semalam ia tidur dengan pikiran yang cukup banyak. Entah kenapa sedari tadi ia kepikiran terus tentang ibunya juga tentang uang tabungan yang sudah ia kumpulkan dalam beberapa Minggu ini.
Mira ingin sekali menggunakan uang itu untuk membeli sepatu, tapi nampaknya masih belum cukup hingga membuatnya harus bekerja dan bekerja lagi.
"Nanti pulang sekolah aku mau cari kerja lebih giat lagi," gumamnya sambil mengayuh sepedanya.
Sesampainya di sekolah, Mira langsung memarkirkan sepedanya. Baru saja ia hendak masuk ke dalam kelas, terdengar suara seseorang memanggilnya.
“Mira!”
Mira menoleh dan ternyata Shasa sedang berdiri tidak jauh dari sana, gadis kecil itu melambaikan tangannya pada Mira.
“Kak Shasa?”
Shasa berjalan menghampirinya. “Tumben datang pagi,” ujar Mira sambil tersenyum.
“Aku memang biasanya datang pagi.”
“Oh iya.”
Mereka kemudian berjalan bersama menuju kelas. Sejak kejadian kemarin, hubungan mereka perlahan menjadi lebih dekat. Shasa yang biasanya lebih banyak diam kini mulai sering berbicara kepada Mira.
Bahkan ketika mereka hendak masuk ke kelasnya masing-masing tiba-tiba saja pandangan Shasa tertuju pada sepatu Mira yang terlihat kaos kakinya.
“Mira," panggilnya pelan.
“Ada apa Kak?”
“Sepatumu," ucap Shasa tidak berani meneruskan ucapannya.
Mira langsung melihat ke bawah, ia tahu sepatunya memang sedang rusak dan untuk saat ini masih belum bisa kebeli namun gadis itu mencoba untuk santai menghadapi situasinya.
“Kenapa Kak?
“Tambah rusak.”
Mira terkekeh. “Memang dari kemarin juga sudah rusak Kak."
“Kamu enggak punya sepatu lain?” tanya Shasa hati-hati.
Mira menggeleng. “Enggak punya."
Shasa terdiam. Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung karena takut menyinggung perasaan teman barunya itu.
Sementara Mira tidak terlalu memikirkannya.
Baginya sepatu itu masih bisa digunakan. Selama belum benar-benar hancur, ia masih bisa memakainya, lagian yang bolong hanya di bagian depan saja tidak semuanya.
"Sudah Kak, jangan terlalu memikirkan sepatuku, nanti kita ketemu lagi ya," ujar Mira sebelum masuk di kelasnya.
Shasa hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya, mereka pun masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Jam pelajaran pun dimulai, hari itu berjalan seperti biasa.
Mira mengikuti semua pelajaran dengan serius. Sesekali ia menjawab pertanyaan guru ketika teman-temannya tidak mengetahui jawabannya.
Namun ketika jam istirahat tiba, seorang anak laki-laki yang kemarin sempat mengejeknya kembali menghampiri.
“Eh, Mira.”
Mira menoleh santai. “Apa?”
“Sepatumu belum diganti juga?”
Beberapa anak yang berada di dekatnya mulai menertawakan, tapi Mira tidak mau terkecoh dengan ejekan mereka.
“Katanya mau jadi dokter.” Anak itu menunjuk kaki Mira. “Dokter kok sepatunya bolong?”
Mira hanya diam. Ia tidak ingin meladeni bukan karena takut, selama tubuhnya tidak terluka Mira tidak pernah mau meladeni hal kecil seperti itu. Namun sebelum sempat pergi, Shasa berdiri di sampingnya.
“Memangnya kenapa kalau sepatunya bolong?”
Anak laki-laki itu menatap Shasa. “Enggak usah ikut campur.”
“Kalau kamu boleh mengejek Mira, aku juga boleh membelanya.”
Suasana mulai hening. Shasa tidak lagi terlihat seperti anak yang kemarin menangis ketika dibully. Ia berdiri tegak di samping Mira dengan tatapan yang berani.
“Sepatu orang bukan urusanmu, urusanmu di sekolah ini hanya belajar agar nilaimu bagus," ujar Mira.
Anak laki-laki itu mendengus kesal ketika disinggung dengan nilai sekolah, dan tidak lama kemudian dia pergi bersama teman-temannya.
Mira menatap Shasa takjub, jika kemarin gadis kecil itu menangis sekarang tidak.
“Kakak enggak takut?”
Shasa menggeleng. “Dulu aku takut.”
“Sekarang?”
Shasa tersenyum kecil. “Sekarang aku punya teman.”
Mira ikut tersenyum. “Berarti Mira teman Kakak?”
“Iya.”
“Bagus.”
Mereka kemudian tertawa kecil. Namun setelah itu Shasa kembali memperhatikan sepatu Mira. Hanya dia masih belum tahu harus memulainya dari mana.
☘️☘️☘️☘️
Bel pulang akhirnya berbunyi. Anak-anak mulai meninggalkan sekolah. Mira berjalan paling akhir tapi siapa sangka Shasa sedari tadi berdiri di depan pintu kelas Mira.
"Kak Shasa nungguin aku ya," kata Mira.
"Kita pulang bareng Yuk."
Mereka berdua berjalan menuju halaman sekolah. Namun baru beberapa langkah, Mira tiba-tiba melihat seseorang di pinggir jalan yang sedang sibuk memunguti jualannya yang terjatuh di pinggiran aspal.
“Ibu!”
Melihat wajah yang tak asing itu Mira langsung berlari kencang. Sementara Rina terlihat sedang jongkok di pinggir jalan. Beberapa bungkus makanan berserakan di tanah.
Keranjang dagangannya terjatuh. Ada beberapa makanan yang sudah rusak karena terkena tanah, Mira yang melihat itu segera membantu mengumpulkan barang-barang tersebut.
“Ibu kenapa?” tanyanya sedikit berembun.
“Enggak apa-apa Nak, kamu jangan panik ya," ucapnya mencoba untuk lembut.
“Tapi dagangannya...”
Rina tersenyum meskipun wajahnya terlihat lelah. “Tadi tersenggol motor.”
“Gak bisa seperti ini Bu, dagangan Ibu yang rusak banyak? Kita harus cari orang yang menyenggol dagangan Ibu."
Rina menggeleng. "Gak usah Nak, lagian ini gak terlalu banyak kok yang rusak."
Mira terpaku melihat dagangan yang berceceran itu. Ia tahu ibunya sedang berbohong. Ia melihat beberapa makanan yang sudah tidak mungkin dijual kembali.
Senyumnya perlahan menghilang. “Tapi Ibu rugi?”
Rina terdiam. “Sedikit.”
Mira kembali memunguti dagangan yang masih bisa diselamatkan, tangan kecilnya dengan cepat memilah dagangan itu.
“Bu, beneran enggak apa-apa?”
Rina menatap anaknya, sebenarnya ia tidak mau merepotkan sang anak akan tetapi keadaan kembali mendesak keduanya. “Kita masih punya uang tabungan.”
Mira berhenti. Ia teringat uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit itu. Uang yang rencananya ingin ia gunakan untuk membeli sepatu baru.
Namun Mira tidak mengatakan apa-apa. Ia justru mencoba tersenyum agar sang Ibu tidak melihat kesedihannya.
“Pakai saja, Bu.”
Rina menatapnya. “Mira...”
“Kan itu juga uang kita.”
Mata Rina mulai berkaca-kaca. Anak sekecil itu selalu saja membuat hatinya terasa sesak.
“Kalau uangnya habis bagaimana?”
Mira mengangkat bahu. “Nanti Mira cari lagi.”
“Sekolah saja sudah cukup membuat kamu capek Nak."
“Mira enggak capek.”
Rina tahu anaknya berbohong lagi. Namun kali ini ia tidak sanggup membantah sementara dari kejauhan, Shasa memperhatikan ibu dan anak itu.
Ia kemudian menatap sepatu Mira. Ada sesuatu yang kembali muncul dalam pikirannya. Setelah semua dagangan yang masih bisa diselamatkan dimasukkan kembali ke dalam keranjang, Mira bersiap pulang.
Shasa tiba-tiba memanggilnya.
“Mira.”
“Iya?”
“Nanti ikut aku sebentar.”
“Mau ke mana?”
“Ke rumah.”
Mira mengernyit. “Kenapa?”
“Aku mau kasih sesuatu.”
Mira langsung menggeleng. “Jangan.”
Shasa bingung. “Kenapa?”
“Mira enggak mau dikasih.”
“Aku belum bilang mau kasih apa.”
Mira tersenyum malu. “Pasti sepatu.”
Shasa terdiam. Ternyata Mira sudah bisa menebak. “Aku memang punya sepatu bekas. Masih bagus. Sudah enggak aku pakai.”
Mira menunduk melihat sepatunya sendiri, bahkan untuk sepasang sepatu pun ia harus merepotkan orang lain.
"Aku gak mau ngerepotin Kakak."
"Gak akan ngerepotin," sahut Shasa.
“Kalau cuma-cuma, Mira enggak mau.”
Shasa menghela napas. “Kamu ini susah sekali.”
Mira nyengir. “Mira enggak mau dikasihani.”
“Aku enggak kasihan.”
“Terus?”
Shasa berpikir sebentar. Kemudian tiba-tiba wajahnya berubah cerah. “Kalau begitu begini saja. Bagaimana? Setiap pulang sekolah kamu goncengin aku.”
Mira mengerutkan kening. “Terus?”
“Nanti sepatu itu jadi upah kamu.”
Mata Mira langsung berbinar. “Benar?”
Shasa mengangguk. “Benar.”
Mira tersenyum lebar. “Kalau begitu Mira mau!”
“Mulai besok.”
Mira mengangguk berkali-kali. “Iya!”
Mira tidak pernah menyangka, baru saja ia memikirkan tentang sepatu baru yang tak tahu kapan ia bisa membelinya. Tapi tanpa disadari rejeki hadir tanpa diminta.
Sementara Shasa ikut tersenyum lega. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa kesepakatan sederhana tentang sebuah sepatu bekas dan tumpangan pulang itu akan menjadi awal dari banyak hal dalam kehidupan mereka.
Bersambung .....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡