Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Pak Dosen Killer

Suamiku Pak Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.

Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.

Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Masa Lalu

Keberhasilan penyerahan tugas besar maket dan tuntasnya kasus sabotase Siska meninggalkan rasa lega yang mendalam bagi Nadhira. Namun, dinamika di Fakultas Seni dan Desain tak pernah benar-benar surut dari kesibukan.

Hanya berjarak dua minggu setelah insiden laboratorium tersebut, atmosfer Gedung FSD kembali bergejolak. Kali ini oleh persiapan Design Expose, pameran tahunan terbesar dan paling bergengsi yang menjadi ajang unjuk gigi karya-karya terbaik mahasiswa dari seluruh angkatan.

Sore itu, aula utama FSD tampak ramai oleh panitia pameran yang sibuk menyusun stan, memasang pencahayaan panggung, dan merapikan panel pamer.

Nadhira, yang terpilih sebagai salah satu koordinator seksi acara bersama Kania, berdiri di dekat pintu masuk utama sambil memegang papan klip rincian denah.

"Katanya sponsor utama pameran tahun ini perusahaan studio arsitektur dan desain interior raksasa yang baru ekspansi ke kota kita ya, Nad?" ujar Kania seraya menyenggol lengan Nadhira pelan. "Direktur utamanya masih muda banget lho. Baru lulusan luar negeri dua tahun lalu."

Nadhira merapikan helai rambutnya yang terjatuh di dahi. "Oh ya? Bagus dong, artinya dana operasional pameran kita aman. Pak Reyhan kan ketat banget soal rincian anggaran kalau nggak ada sponsor besar yang menopang acara."

Baru saja nama Reyhan tersebut di bibirnya, suasana di pintu masuk aula mendadak berubah riuh. Beberapa dosen senior dan anggota dekanat tampak berjalan berdampingan menyambut sekelompok tamu bersetelan formal.

Di barisan terdepan tamu tersebut, berdiri seorang pria muda bertubuh jangkung dengan setelan jas hitam. Wajahnya rupawan, dipadu dengan gaya rambut undercut modern dan senyum ramah yang sangat percaya diri.

Mata Nadhira membelalak seketika. Papan klip di tangannya hampir saja merosot jatuh ke lantai.

"G-gak mungkin, gue pasti salah liat..." bisik Nadhira dengan suara pelan.

Pria itu adalah Rangga Dewa Kusuma.

Kakak kelas sekaligus mantan kekasih Nadhira semasa SMA. Pria yang dulu pernah mengisi hari-harinya sebelum akhirnya hubungan mereka kandas secara sepihak karena Rangga memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Seolah memiliki radar alami, pandangan mata Rangga yang tadinya menyapu dekorasi aula mendadak terhenti tepat pada sosok Nadhira yang berdiri mematung di samping panel pameran.

Senyum di bibir Rangga semakin lebar, senyuman penuh kehangatan familiar yang dulu sangat dihafal Nadhira. Tanpa memedulikan rombongan dekanat di sampingnya, Rangga melangkah lebar memotong area aula, langsung menuju ke arah Nadhira.

"Nadhira?" panggil Rangga dengan suara beratnya yang khas.

Nadhira mengendalikan deru napasnya yang mendadak tak teratur. "R-Rangga?"

"Ya Tuhan, Nadhira! Ini beneran kamu!" seru Rangga penuh kebahagiaan yang tak tertutupi.

Tanpa rasa ragu, Rangga maju satu langkah dan secara spontan menarik Nadhira ke dalam pelukan hangat yang cukup erat.

Nadhira tersentak kaget. Tubuhnya membeku kaku di dalam dekapan itu. Rasa canggung yang luar biasa hebat menyergapnya, membuat Nadhira buru-buru menepuk dada Rangga pelan dan mendorong tubuh pria itu mundur secara halus.

"Rangga... tolong jaga jarak, ini di lingkungan kampus," cicit Nadhira panik, matanya secara refleks melirik ke sekeliling aula.

Rangga tertawa kecil, mundur setengah langkah namun tatapan matanya sama sekali tak lepas dari wajah Nadhira. Matanya menyusuri setiap detail paras Nadhira dengan pendar kerinduan yang sangat kentara.

"Maaf, maaf. Aku cuma terlalu senang," ujar Rangga dengan yang cukup keras hingga terdengar oleh beberapa panitia di sekitar mereka.

"Sejak aku selesai kuliah di luar negeri dan balik ke sini, aku selalu mikirin kamu, Nad. Kamu makin cantik aja, aku sama sekali gak nyangka bisa ketemu kamu lagi di sini."

Kania yang berdiri di samping Nadhira sampai menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak menatap drama romantis dadakan di depannya.

"Kamu... sponsor utamanya?" tanya Nadhira terbata-bata.

"Iya. Kusuma Design Group," jawab Rangga mantap dengan senyum menawan.

"Aku tahu kamu kuliah di jurusan ini dari teman-teman SMA kita dulu. Begitu proposal pameran FSD masuk ke mejaku minggu lalu, aku langsung tandatangani tanpa pikir panjang. Nad... aku kembali ke kota ini sebenarnya memang buat cari kamu."

Kata-kata itu meluncur tanpa beban di tengah aula yang mulai hening. Nadhira merasakan tenggorokannya mendadak kering.

"Cari aku? Rangga, aku ini sudah menikah!" batin Nadhira menjerit panik.

Namun, karena pernikahan ini masih dirahasiakan, Nadhira menahan lidahnya untuk tidak menyuarakan fakta tersebut di depan publik.

Sebelum Nadhira sempat membalas perkataan Rangga, sebuah aura dingin yang mencekam mendadak berembus dari arah koridor utama aula.

Langkah kaki yang begitu tegas, berat, dan teratur bergejolak di lantai marmer.

Reyhan melangkah masuk ke dalam aula. Pria itu mengenakan kemeja formal abu-abu gelap dengan dasi hitam terikat sempurna. Di tangannya terapit sebuah map dokumen kurasi pameran. Langkah Reyhan terhenti lima meter dari posisi Nadhira dan Rangga berada.

Dari balik lensa kacamatanya yang jernih, sorot mata Reyhan mendadak berubah tajam, sebuah tatapan mata yang jauh lebih dingin daripada saat ia membongkar kesalahan Siska minggu lalu.

Reyhan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria asing bersetelan jas mahal itu memeluk istrinya di depan umum dan mengutarakan kalimat rayuan yang terang-terangan.

Dekan FSD yang berjalan di samping Reyhan segera mencairkan suasana. "Ah, Pak Reyhan! Mari, saya perkenalkan. Ini Mas Rangga Dewa Kusuma, CEO dari Kusuma Design Group, sponsor tunggal utama pameran tahunan kita kali ini. Dan Mas Rangga, ini Pak Reyhan Arkananta, Profesor Muda sekaligus ketua tim kurator dan penanggung jawab teknis pameran."

Rangga berbalik, menyunggingkan senyum profesionalnya yang percaya diri. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Reyhan. "Selamat sore, Pak Reyhan. Senang bisa bekerja sama dengan akademisi hebat seperti Anda."

Reyhan berdiri tegap, postur tubuhnya yang jangkung dan atletis tampak sangat imbang bertarung aura dengan Rangga. Pria itu membetulkan letak kacamatanya menggunakan jari tengah tangan kirinya, sebuah gestur khas yang kini terasa sangat mengintimidasi, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Rangga.

"Selamat sore, Saudara Rangga," sahut Reyhan.

Intonasi suaranya begitu datar tanpa sedikit pun keramahan. "Atas nama fakultas, saya mengucapkan terima kasih atas dana sponsorship yang diberikan."

"Sama-sama, Pak Reyhan," balas Rangga santai, masih mempertahankan senyumnya.

Lalu, tanpa rasa canggung sedikit pun, Rangga kembali menoleh ke arah Nadhira dan merangkul pundak udara gadis itu. "Lagipula, mendukung pameran ini artinya saya mendukung karya Nadhira juga. Nadhira ini... junior sekaligus sosok yang sangat spesial untuk saya sejak zaman SMA dulu."

Pernyataan terang-terangan itu seperti menyiramkan minyak ke dalam kobaran api tersembunyi di dalam dada Reyhan.

Nadhira yang berada di antara kedua pria itu bisa merasakan ketegangan yang begitu hebat hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Nadhira melirik Reyhan dengan raut wajah panik.

Rahang Reyhan mengetat keras, garis otot di sekitar pipinya menegang sempurna, menahan gejolak cemburu dan amarah.

Namun, sebagai seorang akademisi dan pria berpendidikan tinggi, Reyhan tidak membiarkan emosinya meledak secara murahan.

Reyhan menarik tangannya dari genggaman Rangga, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap tubuh yang sangat superior dan berjarak.

"Hubungan personal di masa lalu adalah hal yang tidak relevan dalam koridor profesional pameran ini, Saudara Rangga Dewa Kusuma," tegur Reyhan.

"Sebagai sponsor utama, fokus Anda adalah mendukung kelancaran fasilitas teknis, bukan mencampuri atau memberikan perhatian khusus yang tidak berimbang kepada salah satu panitia mahasiswa."

Rangga sedikit tersentak oleh ketegasan tanpa filter dari dosen muda di hadapannya itu. Senyum di bibirnya agak menyurut. "Saya hanya menyampaikan rasa kagum dan niat baik saya pada Nadhira, Pak Reyhan. Saya rasa itu tidak melanggar aturan apapun."

"Niat baik yang ditunjukkan secara tidak proporsional di area kerja dapat menciptakan bias profesionalisme dan ketidaknyamanan bagi mahasiswa yang bersangkutan," balasan Reyhan.

Pria itu beralih menatap Nadhira lurus-lurus. Sorot mata Reyhan pada Nadhira, meski tertutup ketegasan dosen, menyalurkan kepemilikan terselubung yang amat dalam. "Nadhira."

"I-iya, Pak Reyhan?" cicit Nadhira cepat.

"Kembali ke area penyusunan stan bagian utara. Tugas kurasi denah kamu belum selesai. Jangan menghabiskan waktu efektif untuk percakapan non-akademis di jam kerja panitia," perintah Reyhan penuh otoritas.

Nadhira seperti mendapatkan tali penyelamat untuk kabur dari situasi yang menghimpit ini. "Baik, Pak Reyhan! Saya permisi dulu!"

Nadhira segera menarik tangan Kania dan setengah berlari menuju ke bagian belakang aula, sama sekali tidak menoleh lagi ke arah Rangga.

Rangga memperhatikan langkah Nadhira yang menjauh dengan tatapan yang dipenuhi tekad. Saat Nadhira sudah menghilang di balik panel, Rangga kembali menatap Reyhan dengan senyum tipis yang kini berubah menjadi sedikit menantang.

"Pak Reyhan sepertinya sangat ketat menjaga mahasiswanya ya," ujar Rangga dengan nada sindiran halus.

"Tapi sekadar informasi saja, Pak... saya dan Nadhira punya banyak kenangan manis di masa SMA dulu sebelum saya harus berangkat kuliah ke luar negeri. Dulu saya terpaksa melepas dia karena jarak. Sekarang, saat pendidikan saya sudah selesai dan saya kembali ke kota ini, saya berniat penuh untuk merebut hatinya lagi dan memperbaiki apa yang sempat tertunda."

Pernyataan perang itu diucapkan Rangga dengan sangat percaya diri di tengah aula.

Reyhan tidak bergerak seinci pun. Pria itu membetulkan letak kacamata berbingkai tipisnya dengan sangat tenang. Tatapan mata di balik lensa menatap Rangga seolah-olah sedang mengamati sebuah objek analisis yang tidak berarti.

"Setiap orang berhak memiliki ambisi dan ilusi masa lalu, Saudara Rangga," sahut Reyhan dengan suara pelan namun menembus ulu hati.

"Namun, hidup bergerak berdasarkan kenyataan masa kini, bukan nostalgia sekolah menengah yang sudah kedaluwarsa."

Reyhan melangkah satu titik lebih dekat ke arah Rangga, merendahkan suaranya khusus untuk didengar oleh pria di hadapannya itu saja. "Dan di fakultas ini, di bawah pengawasan saya Nadhira adalah tanggung jawab penuh saya. Saya sarankan Anda fokus pada komitmen investasi perusahaan Anda, daripada mengejar sesuatu yang sudah tidak lagi menjadi milik Anda."

Setelah melontarkan balasan yang menghantam telak harga diri Rangga itu, Reyhan berbalik arah tanpa menunggu respons balik. Pria itu melangkah tegap menyusuri aula dengan map kurasi di tangannya, memancarkan aura dominasi seorang suami yang siap mempertahankan hak miliknya dari ancaman siapa pun.

Di sudut aula yang sepi, Nadhira mengintip dari balik panel dengan dada bergemuruh kencang. Ia menyaksikan bagaimana dua pria itu baru saja saling melempar sinyal perang. Dan Nadhira tahu pasti, pameran tahunan FSD kali ini tidak akan pernah berjalan biasa saja.

...Bersambung... ...

...****************...

Halola para readers, mincoo ucapkan terima kasih sudah menjadi bagian perjalanan kisah Nadhira dan Reyhan.

Biar mincoo semangat terus nulisnya jangan lupa beri dukungan ke mincoo dengan cara like, vote, dan komen-komenannya ya🥰

Oh iya, subscribe juga nih cerita-cerita mincoo biar gak ketinggalan update-an dari mincoo.

1
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,saya suka keren,lnjutka
Hajjah Mahniati
cerita nya bagus ,dilnjut ya
Suhirno Cilok
lanjut
Rian Moontero
mampiiirr
Hajjah Mahniati
lanjut siip
Ivana Putri
lanjut lagi dong ka seru banget
Hajjah Mahniati: ceritanya bagus keren ,lanjukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!