Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Hasrat Berbahaya Sang Komandan Posesif

Status: tamat
Genre:Preman / Dark Romance / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Jimat Penyelamat Nyawanya

Livia berusaha menenangkan napas sebelum menjawab.

"Bang Jordan, piring buahnya... terkena darah. Aku akan menggantinya dengan yang baru."

"Tidak perlu." Jordan terkekeh. "Buah yang terkena darah justru terasa lebih menantang."

Tatapannya menyapu Livia dari kepala sampai kaki.

Riasan norak masih bisa dimaklumi, tetapi selera pakaiannya benar-benar buruk.

Para pramusaji lain mengenakan rok pendek meski udara sedang dingin. Mereka sengaja memperlihatkan kaki agar lebih mudah menarik perhatian tamu dan menjual minuman.

Livia justru membungkus tubuh dengan mantel putih panjang. Dari leher ke bawah nyaris tidak ada kulit yang terlihat. Penampilannya seperti bungkusan besar yang tidak memiliki bentuk.

Tidak menarik sama sekali.

"Si buruk rupa," panggil Jordan, "kau bisa menyanyi?"

Livia tidak berani menyangkal. Ia mengangguk patuh.

Wajah ketakutan dan bahunya yang terkulai terlihat begitu menyedihkan sampai Jordan merasa geli. Ia bahkan mulai meragukan apakah gadis ini benar-benar bekerja di Imperia.

Jordan mengangkat tangan dan menekuk telunjuk ke arahnya.

"Tutup pintunya, lalu kemari."

Livia menurut.

Ketika melewati Keenan, Malik telah menghabiskan minuman di dalam gelas. Sekarang pria itu sedang mengunyah benda yang menjadi "isi" minumannya dengan wajah kesakitan. Bunyi renyah yang menjijikkan terdengar dari sela bibirnya.

Langkah Livia menjadi kaku. Ia begitu takut hingga tidak berani menarik napas terlalu dalam.

Tepat pada saat itu, Keenan berdiri.

Punggung pria yang lebar dan kokoh tersebut menyentuh tepi piring buah di tangan Livia. Benturan kecil itu sudah cukup untuk meruntuhkan ketenangannya yang tersisa.

Matanya terpaku pada belati yang masih meneteskan darah.

Bayangan karung berlumuran darah pada malam sepuluh hari lalu kembali memenuhi pikirannya. Kedua kaki Livia melemas. Ia kehilangan tenaga untuk berdiri.

Bruk!

Tubuhnya jatuh ke lantai.

Piring buah ikut terlepas. Potongan buah berwarna-warni berhamburan ke segala arah.

Bau amis darah bercampur dengan aroma buah yang manis, memenuhi seluruh ruangan dengan perpaduan yang membuat perut mual.

Keenan menurunkan pandangan kepada Livia.

Pupil gadis itu bergetar dan sedikit kehilangan fokus karena ketakutan. Namun cahaya bening di dalam matanya tidak mungkin disembunyikan. Sepasang mata besar yang dilapisi air itu tampak jernih seperti milik rusa muda.

Dan entah mengapa, terasa sedikit familier.

Sudut bibir Keenan melengkung.

Ia berjongkok di samping Livia.

Belati berkilau dingin berputar sekali di telapak tangannya sebelum kembali digenggam. Tanpa peringatan, ujungnya mengarah ke bahu kiri Livia dan bergerak cepat.

Sret!

Bahan mantel langsung terbelah. Isian sintetis putih yang murah beterbangan di antara mereka seperti kapas.

Keenan mengibaskan tangan dengan ekspresi jijik, tetapi gerakan tangan kanannya tidak berhenti.

Ujung belati menyayat kain dalaman putih dan tali pakaian dalam di bahu Livia.

Kupu-kupu biru yang baru ditato itu seketika terlihat sepenuhnya.

Keenan menyipitkan mata.

Indah.

Ujung belatinya mengikuti garis sayap kupu-kupu dengan perlahan, bergerak dari bahu menuju tulang selangka.

Berbeda dengan wajah yang tertutup bedak tebal, kulit yang selama ini disembunyikan Livia di balik pakaian tampak bersih dan halus. Garis tulang selangkanya ramping, dan kupu-kupu biru yang hinggap di atasnya terlihat seolah dapat mengepakkan sayap kapan saja.

Tatapan Keenan menggelap sesaat. Jakunnya bergerak tanpa sadar.

Ada dorongan asing yang tiba-tiba bangkit di dalam tubuhnya—panas, liar, dan sama sekali tidak biasa.

Perasaan itu baru sekaligus menarik baginya.

Keenan menikmatinya, tetapi Livia nyaris mati ketakutan.

Sentuhan logam dingin di kulit membuat seluruh sarafnya menegang. Tubuhnya terus gemetar, sementara kedua matanya tidak pernah meninggalkan belati yang bergerak sesuka hati di bahunya.

Setelah mengitari pola kupu-kupu, ujung tajam itu berhenti tepat di tempat bekas luka seharusnya berada.

Ketakutan Livia mencapai puncak.

Satu detik lagi, mungkin pria ini akan menembus penyamarannya. Setelah itu, belati tersebut akan berpindah ke tenggorokan dan mengakhiri hidupnya.

Livia bergeser sedikit ke samping.

Tangan kanannya terangkat dengan ragu, menarik bagian mantel yang robek untuk menutupi tato. Rahangnya bergetar begitu keras hingga giginya hampir berbunyi.

Suara Keenan terdengar dari atas kepalanya.

"Kau sangat takut kepadaku?"

Pertemuan pertama, ia melihat pria itu membunuh orang. Pertemuan kedua, Keenan memotong telinga seseorang di depan matanya.

Bagaimana mungkin ia tidak takut?

Livia hanya berani mengatakannya dalam hati. Dengan wajah pucat, ia perlahan mengangkat mata.

Tubuh Keenan yang tinggi menghalangi hampir seluruh pandangannya. Bayangan yang jatuh dari tubuh pria itu pun menelan dirinya bulat-bulat.

Bilah dingin kembali mendekat.

Kali ini Keenan tidak menyibak pakaiannya. Ia menggerakkan sisi belati perlahan di sepanjang leher Livia yang ramping, meninggalkan hawa dingin yang membuat jantungnya hampir berhenti.

Nada suaranya ikut turun.

"Jawab."

Aku akan mati!

Bulu mata Livia bergetar. Air mata tumpah tanpa dapat ditahan. Ia menunjuk Malik dan menjawab dengan suara lirih yang terputus-putus.

"Takut... Aku takut. Tadi Tuan memotong telinganya, lalu menyuruh dia minum... minum... Tuan Keenan, aku benar-benar takut."

Livia sengaja menangis semakin menyedihkan.

Air mata merusak lapisan alas bedak tebal di wajahnya. Kosmetik bercampur noda darah, sementara eyeliner dan perona mata hitam melebar menjadi gumpalan-gumpalan kotor.

Ia terlihat buruk dan sangat kacau.

Meski demikian, mata almondnya tetap terang. Bulu mata yang basah bergetar sedikit saja, lalu menjatuhkan butiran air mata baru.

Pemandangan itu dapat membangkitkan sisi gelap seseorang—keinginan untuk meremas makhluk rapuh tersebut di dalam genggaman hanya untuk melihat apakah ia akan pecah.

Setelah mengamatinya beberapa saat, sebuah istilah aneh muncul di benak Keenan.

Jelek, tetapi menggemaskan.

Pria itu tertawa kecil. Kesabaran yang jarang ia tunjukkan tiba-tiba muncul dalam suaranya.

"Dia mendengar sesuatu yang tidak seharusnya didengar. Jadi telinganya tidak lagi berguna."

Keenan berhenti beberapa detik. Ia menatap lurus ke mata Livia, lalu bertanya dengan makna yang sulit ditebak.

"Dengan logika yang sama, kalau seseorang melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat atau mengatakan sesuatu yang tidak boleh dikatakan, menurutmu apa hukumannya?"

Livia tidak tahu apakah pertanyaan tersebut hanya ujian atau bukti bahwa Keenan telah mengenalinya.

Ia mengerutkan bibir sebelum menjawab terbata-bata.

"Co... congkel matanya. Lalu potong... lidahnya?"

"Pintar."

Senyum Keenan tampak puas, tetapi suaranya sedingin sebelumnya. Kilatan kejam melintas di dasar matanya.

Hati Livia tenggelam.

Ia tahu, ketika seorang pembunuh tanpa belas kasihan sudah berniat mengambil nyawa, semua kepura-puraan bodoh dan lemah tidak akan ada gunanya.

Maut berada di depan mata. Tidak ada jalan untuk melarikan diri.

Livia menghentikan tangis. Ia menutup mata seolah menerima nasib dan menunggu siksaan yang akan datang.

Namun Keenan tidak mencongkel matanya atau memotong lidahnya seperti yang ia bayangkan.

Sebaliknya, pria itu mengambil selembar tisu dari meja.

Ia melepaskan tangan Livia yang mencengkeram mantel, kemudian menghapus darah di leher, tulang selangka, dan pipinya dengan gerakan lambat yang nyaris lembut.

Setelah selesai, Keenan menyimpan belati, berdiri, dan kembali duduk di sofa.

Reza maju satu langkah. Ia mengambil gelas bersih dan menuangkan minuman baru untuk Keenan.

Livia membuka mata. Ia benar-benar tidak memahami apa yang baru saja terjadi.

Keenan duduk dengan kedua kaki terbuka santai, memandangnya dari posisi tinggi. Lengan kanannya terletak malas di sandaran sofa, sementara jari-jari panjang dan kuat menggoyangkan gelas di tangan.

Es batu beradu dengan dinding kaca dan mengeluarkan bunyi berdenting.

Keenan menengadah. Jakunnya bergerak ketika ia menelan satu teguk minuman dan menahan sepotong es di mulut.

Melihat Livia masih duduk terpaku, ia menggigit es tersebut hingga pecah. Senyum tipis muncul di bibirnya.

"Bang Jordan masih menunggumu," ia mengingatkan dengan baik hati.

Livia telah melihat banyak iblis di Kota Kayan.

Namun ia belum pernah melihat iblis seperti Keenan—begitu tampan hingga sulit dipercaya, tetapi setiap kata dan sorot matanya dipenuhi kekerasan liar.

Untuk sesaat, Livia menatapnya tanpa sadar.

Di sisi lain, Jordan hampir tertawa terbahak-bahak. Gadis itu tadi tergeletak di lantai sambil menangis dan gemetar seperti saringan. Sedetik kemudian, ia malah memandang Keenan dengan wajah terpesona seperti penggemar bodoh.

Benar-benar menghibur.

Jordan mencondongkan tubuh ke depan dan melambaikan tangan.

"Hahaha! Menarik, sangat menarik. Si buruk rupa, cepat kemari."

"Baik."

Livia tersadar. Ia menutupi bahu dengan satu tangan, lalu bangkit.

Di sebelahnya, Malik telah menelan benda yang tadi dikunyah. Bibirnya terkatup rapat, tetapi tubuhnya terus membungkuk karena menahan mual.

Keenan menoleh kepadanya.

"Saat kembali ke Geng Kayu Hijau, kau tahu apa yang harus dikatakan?"

"Tahu, aku tahu." Malik mengangguk berkali-kali. "Aku akan menyampaikan setiap kata Tuan tanpa ada yang tertinggal."

Keenan memejamkan mata setengah.

"Pergi."

Livia berjalan memutari Malik dan duduk patuh di samping Jordan. Kedua tangannya bertumpuk di atas lutut, posturnya serapi anak sekolah.

Ia memandang Malik yang berlumuran darah merangkak keluar dari ruangan. Namun dari sudut mata, ia terus mencuri pandang kepada pria yang duduk santai di bawah cahaya merah anggur.

Livia tidak tahu apakah Keenan telah mengenalinya.

Ia juga tidak percaya pria tersebut akan berbaik hati membiarkannya hidup.

Jika Keenan memang sudah tahu siapa dirinya tetapi memilih tidak bertindak, hanya ada satu penjelasan.

Jordan berada di sini.

Orang yang dibunuh Keenan sepuluh hari lalu pasti memiliki hubungan dengan Jordan, dan untuk alasan tertentu, Keenan tidak ingin pewaris Serikat Air Hitam itu mengetahui kejadian tersebut.

Livia menurunkan bulu mata dan menarik kembali pandangannya.

Kemudian, dengan sangat hati-hati, ia menoleh kepada Jordan Halim.

Pewaris Serikat Air Hitam.

Jimat penyelamat nyawanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!