Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:600
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. Meninggalkan Air, Menuju Salju

..."air mengajari kami cara bertahan. sekarang kami jalan ke salju... untuk belajar berdiri walau membeku"...

Hari Ketiga belas, mereka pamit dari wudang yang mengajarkan bagaimana cara nya mengalir, selanjut nya mereka jalan menuju kunlun.

Pagi hari di depan gerbang besar wudang. dengan kabut yang menyelimuti seisi wudang.

Di gerbang sudah ada 3 orang yang menunggu, Nyonya Yunshan, Yun Shu dan Paman Zhou.

Tidak ada 200 murid. Cuma 3 orang ini. Wudang memang selalu begitu.

Nyonya Yunshan menyerahkan 2 bungkusan kepada jing yue. "Ini bekal untuk 5 hari. Dan ini..." nyonya Yunshan memberikan 1 botol kecil. "ini minyak jahe. Kalau kalian kedinginan di Kunlun, oles di dada."

Yun Shu maju. Mata nya merah. Menyerahkan 1 sapu tangan. Sapu tangan yang di pakai saat Jing yue nyapu kemarin. Sudah dia cuci. "ini buat Kakak. Biar kakak selalu ingat, pernah nyapu bareng aku."

Jing yue tersenyum dan menerima sapu tangan dari Yun shu. dia melakukan sujud paling dalam. Datar. "Terima kasih, Nyonya. Terima kasih, Wudang. Wudang telah mengajari kami bagaimana cara nya bertahan."

Paman Zhou cuma bilang "Jalan yang lurus, Nak."

Sebelum mereka jalan, Nyonya Yunshan berbisik ke Jingyue "Kunlun itu sangat dingin. mereka semu angkuh. Tapi hati nya bersih seperti salju.

Jangan lawan mereka dengan keras. tapi lawan dengan tulus. Air bisa jadi es. Es juga bisa mencair."

Jingyue mengangguk mengerti. Menyimpan botol minyak jahe dan biji teh Wudang di dada.

Bai Ling menggenggam tangan jing yue "Ayo, jing yue." Mereka berdua menoleh sekali. Lalu turun bersama.

Yun Shu melambai sampai tidak kelihatan.

perjalanan ke Kunlun sangat jauh. mereka melewati padang dan hutan bambu.

Malam nya mereka bermalam di gua kecil yang lembab. Jingyue mengeluarkan biji teh Wudang. Menyeduh nya dengan air sungai. Aroma nya hangat dan menenangkan hati,serta mengusir dingin.

Bai Ling menatap ke arah jing yue "jing yue. 3 hari lagi kita akan sampai ke Kunlun." Jingyue menghangatkan tangan di api "Hua Shan kasih kami tulang. Wudang kasih kami air. Kunlun... semoga kasih kami puncak."

Dia mengeluarkan buku. dan menulis.

Hari ke-4. Dari lembah, terlihat puncak Kunlun. Putih. dan tinggi. Seperti pedang yang di tusuk ke langit.

Angin nya sudah beda. Dingin menusuk sampai tulang.

Bai Ling merapatkan jubah nya. "Itu dia. Gunung Salju." Jingyue meneguk teh Wudang untuk yang terakhir. dia menggenggam lencana pedang Hua Shan.

"Lurus sudah. Mengalir sudah." bisik nya datar.

"Sekarang... kita belajar berdiri di puncak."

Mereka berdua mulai mendaki.

pada siang nya. mereka samapi di depan gerbang Kunlun, Angin menusuk sampai ke tulang.

Gerbang Kunlun bukan dari kayu. Dari es biru setinggi 3 orang. Di depan nya berdiri 1 orang. mengenakan jubah putih. Rambut nya dan alis penuh dengan salju. itu tetua Xuan Bing. 80 tahun. Mata setajam pecahan es.

"Kau utusan dari Emei?" suara nya dingin. Tidak ada senyum. Jing yue sujud di atas salju. "Benar, Tetua. Kami datang untuk belajar."

Tetua Xuan Bing melirik lencana pedang Hua Shan di pinggang Jing yue. Dan botol minyak jahe Wudang di tangan Bai Ling. "Hmm. Sudah lewat pedang. Sudah lewat air. Sekarang... lewat salju."

Tetua menunjuk ke atas. Puncak yang tertutup awan. "Aturan nya satu. Bertahan 1 malam di Puncak Angin itu. Tanpa api. Tanpa tenda. dan tanpa bantuan."

"Kalau sampai pagi kalian masih hidup dan masih lurus... Kunlun akan bicara dengan Emei."

Bai Ling mau protes. Jing yue angkat tangan. Menatap Tetua. Datar. "Baik. Kami terima."

Tetua Xuan Bing melempar 2 selimut bulu tipis. "Ini saja yang kami berikan untuk kalian bertahan. Yang lain... hadapi sendiri."

Malam pun tiba. Suhu minus. Angin menyerbu seperti pisau.

Bai Ling menggigil. "jing yue... pakai minyak jahe itu." Jing yue menggeleng. Mengoleskan sedikit ke leher Bai Ling. "Kakak duluan saja. Aku kuat."

Mereka duduk bersandar, berbagi 1 selimut.

Jing yue mengeluarkan biji teh dari Wudang. Tidak di seduh. Dia kunyah pelan. Hangat nya menjalar ke tubuh sedikit.

"Kak, ingat kata Nyonya Yunshan?" bisik Jing yue.

"Air bisa jadi es. Es juga bisa mencair."

"Jadi kita jadi apa malam ini?" tanya Bai Ling.

Jing yue menatap langit penuh bintang. "Kita jadi es yang tidak mudah patah."

Jam 3 subuh. Jing yue hampir membeku. Dia tetap berdiri. berjalan kecil. Biar darah tetap jalan. Biar dia tidak tertidur. Bai Ling mengikuti. mereka saling menopang untuk bertahan.

saat fajar telah tiba. Matahari pertama menuju puncak. Salju terlihat berkilau.

Tetua Xuan Bing sudah menunggu. Tidak ada bekas kaki lain. Cuma jejak Jing yue dan Bai Ling yang muter-muter semalaman.

tetua Xuan Bing mendekat. Meraba wajah Jing yue. Dingin. Biru. Tapi mata nya masih jernih.

Tetua Xuan Bing diam lama. Lalu membuka jubah nya. Menutupi bahu Jing yue dan Bai Ling dengan jubah tebal Kunlun.

"20 tahun tidak ada orang lolos ujian ini."

"20 tahun." suara nya bergetar sedikit. "Kau... lurus seperti Hua Shan. Tahan seperti Wudang.

Dan sekarang... bersih seperti Kunlun."

Beliau mengeluarkan 1 keping giok putih. Bentuk bunga salju. "Ini. Tanda Kunlun mengakui Emei.

Gantung di gerbang Emei nanti."

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!