Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Serta Tekad
Xander menegang. Ia mencoba melepaskan rangkulan itu dengan gerakan kasar. "Lepasin aku, Viola! Istriku baru saja memergoki kita! Kamu gila, hah? Kalau Evita pergi dan minta cerai, hidupku bisa hancur!" bentak Xander, napasnya memburu tak beraturan, mencerminkan kepanikan seorang pria yang terjebak dalam perangkap buatannya sendiri.
Viola justru terkekeh pelan. Alih-alih melepaskan, ia malah menempelkan tubuhnya semakin erat ke punggung Xander, membiarkan dadanya yang telanjang bergesekan dengan kulit pria itu. Dengan gerakan perlahan, jari-jari lentik Viola merayap naik, membelai dada bidang Xander yang basah oleh keringat dingin.
"Hancur? Kenapa harus takut hancur hanya karena wanita kaku itu, Xander?" bisik Viola tepat di dekat telinga Xander, nadanya beracun namun menghanyutkan, bagaikan ular yang menggoda mangsanya untuk memakan buah terlarang.
Xander terdiam, napasnya memburu. Ia melirik sekilas lewat ujung matanya. "Kamu tidak mengerti, Viola. Evita bukan wanita sembarangan. Pernikahan kami sudah berjalan enam tahun. Dia istri yang terhormat, akademisi, dan keluarganya terpandang."
"Oh, ayolah, Xander! Sadarlah!" potong Viola tajam, nada suaranya berubah sinis namun penuh penekanan psikologis yang kuat. Wanita berusia akhir dua puluhan itu memutar tubuh Xander agar menghadapnya secara langsung. Viola menatap tepat ke dalam mata pria berusia 36 tahun itu tanpa secercah pun rasa bersalah di wajah cantiknya.
"Enam tahun? Itu bukan pernikahan, Xander. Itu adalah masa penahanan yang membosankan!" lanjut Viola dengan seringai tajam. Ia mengulurkan tangan, merapikan helai rambut Xander yang basah. "Apa yang dia berikan padamu selain aturan, ceramah moral tentang akademik, kesibukan mengajar ke sana ke mari, dan ranjang yang dingin setiap kali dia kelelahan? Dia itu membosankan, Xander! Dosen kaku yang tidak tahu bagaimana cara memuaskan suaminya sendiri!"
"Viola, jaga ucapanmu!" sergah Xander, meski suaranya terdengar mulai melemah, terombang-ambing oleh buaian ego dan hasrat sesaat yang ditanamkan wanita itu.
"Kenapa? Apa aku salah?" Viola mendengus meremehkan. Ia melangkah mendekat, memaksa Xander untuk mundur hingga bagian belakang paha pria itu membentur tepi ranjang. "Lihat aku, Xander. Apakah aku membosankan? Apakah aku membuatmu merasa terkekang seperti saat bersama istrimu itu?"
****
Viola menyeringai sadis. Di balik tatapan memikatnya, tersimpan ambisi gelap yang keji. Ia sama sekali tidak peduli pada air mata Evita atau kehancuran rumah tangga orang lain. Baginya, Xander Wiryawan adalah trofi bergengsi—seorang pengusaha sukses yang harus ia miliki seutuhnya, apa pun taruhannya.
"Biarkan saja dia pergi, Xander," bisik Viola lembut sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Xander, menarik wajah pria itu mendekat. "Buat apa mengejar wanita yang hanya bisa menangis dan menghakimimu? Biar dia pergi membawa kopernya. Toh, pada akhirnya, kamu akan bosan hidup sendiri, dan aku... aku akan selalu ada di sini untuk memanjakanmu dengan cara yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh Evita Desniati."
Pertahanan mental Xander runtuh seketika. Sentuhan tangan Viola yang lihai, dipadu dengan ego maskulinitasnya yang merasa diagung-agungkan, berhasil mengaburkan akal sehatnya. Bayangan wajah Evita yang menangis perlahan-lahan terkikis oleh bayang-bayang kenikmatan duniawi yang ditawarkan oleh wanita di hadapannya. Dengan desahan pasrah yang penuh dosa, Xander akhirnya menyerah. Ia meraih pinggang Viola, mengangkat tubuh wanita itu kembali ke atas ranjang, membiarkan racun kehancuran merasuki relung jiwa mereka berdua tanpa menyadari badai apa yang tengah menanti di depan.
****
Jauh dari kemewahan rumah minimalis tempat pengkhianatan itu terjadi, di sebuah kawasan Jakarta Pusat, sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah gedung apartemen bertingkat tinggi. Pintu taksi terbuka perlahan, dan keluarlah Evita dengan langkah gontai.
Ia menyeret kopernya menaiki anak tangga lobi dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Matanya bengkak, merah, dan sembab akibat tetesan air mata yang tak kunjung berhenti sejak ia keluar dari rumahnya. Udara malam kota Jakarta terasa sangat dingin menusuk tulang, namun tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang membeku di dalam rongga dadanya.
Evita menempelkan kartu akses pada mesin pemindai di lobi lift. Pintu lift terbuka. Di dalam kotak besi berjalan itu, ia menatap pantulan dirinya sendiri melalui dinding cermin. Penampilannya tampak begitu menyedihkan: rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tampak berantakan, riasan wajahnya luntur oleh air mata, dan sorot matanya kosong melompong.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai 14. Evita berjalan gontai menyusuri koridor sepi hingga berhenti di depan sebuah pintu bernomor 1404. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan sehelai anak kunci kuno yang sudah lama tidak pernah ia sentuh.
Klek.
****
Pintu terbuka. Bau debu tipis langsung menyambut penciumannya. Apartemen pribadi ini adalah tempat tinggalnya semasa ia masih lajang dan meniti karier sebagai dosen muda, sebelum akhirnya ia memutuskan menikah dengan Xander Wiryawan enam tahun lalu. Semenjak hari pernikahannya, apartemen ini praktis ia tinggalkan begitu saja karena ia memilih tinggal di rumah besar milik suami tercintanya. Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak Evita bahwa suatu hari ia akan kembali ke tempat ini—bukan sebagai tempat singgah sementara, melainkan sebagai tempat pengungsian jiwa yang terluka parah.
Evita melangkah masuk. Ia menutup pintu di belakangnya rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam seolah ingin mengisolasi diri dari dunia luar yang begitu kejam.
Begitu punggungnya bersandar di balik daun pintu yang tertutup, pertahanan terakhir Evita runtuh seketika. Tas tangan di genggamannya meluncur bebas jatuh ke lantai. Kakinya mendadak lemas, tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri. Evita merosot jatuh bersimpuh di atas lantai ubin yang dingin, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya.
Isak tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian akhirnya meledak begitu saja. Suara tangisannya pecah mengisi ruangan apartemen yang sunyi senyap, memecah kesunyian malam dengan ratapan pilu seorang istri yang dikhianati secara biadab.
"Ya Allah... Ya Tuhan..." rintih Evita di sela-sela isakannya, suaranya parau dan terputus-putus. Dadanya terasa sesak seolah dihantam palu godam berukuran besar.
Ia tidak menyangka. Sungguh, Evita tidak pernah menyangka sedikit pun bahwa pria yang selama ini ia banggakan di hadapan rekan-rekan kampusnya, pria yang setiap pagi ia sediakan kopi dan pakaian kerjanya, pria yang ia cintai dengan segenap kesucian hatinya, tega menusuk dari belakang dengan cara sekeji itu.
****
Enam tahun, Xander... Enam tahun kita bersama... batin Evita meronta dalam kesakitan yang teramat sangat.
Bayangan saat ia memergoki Xander dan wanita jalang bernama Viola itu bergelut di atas ranjang suci mereka kembali berputar terang di benaknya bagaikan kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Pemandangan itu bagaikan sayatan pisau tajam yang terus-menerus mengiris hatinya tanpa ampun. Rasa jijik merayap di sekujur tubuhnya, membuat perutnya mual seketika.
Evita mengangkat kepalanya, menatap sekeliling ruangan apartemen yang remang-remang diterangi cahaya lampu kota dari balik jendela kaca besar. Tempat ini saksi bisu masa lalunya yang mandiri, masa di mana ia hidup tenang sebelum mengenal cinta yang berujung pada pengkhianatan busuk.
Air mata masih terus mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Namun, di balik isak tangis yang begitu menyayat hati, perlahan-lahan sorot mata Evita mulai berubah. Tatapan putus asa dan rapuh itu perlahan-lahan tergantikan oleh kilatan emosi yang tajam—sebuah kobaran api kemarahan, kebencian, dan harga diri yang diinjak-injak hingga titik nadir.
Evita mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Ia tidak akan tinggal diam. Pengkhianatan ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja.
"Kalian pikir kalian bisa mempermainkanku begitu saja?" bisik Evita tajam seorang diri di tengah kesunyian apartemennya, suaranya bergetar hebat namun dipenuhi tekad yang membara. "Kalian telah menghancurkan hidupku... dan aku pastikan kalian tidak akan pernah bisa hidup tenang setelah ini."