Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta di Balik Keheningan

Cinta di Balik Keheningan

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Dark Romance
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Ferrer

Di dunia yang bicara dengan peluru dan darah, satu-satunya bahasa yang benar-benar dipahami Xavier Callahan adalah keheningan seorang gadis.

Xavier adalah penguasa kartel paling ditakuti di Texas—dingin, kejam, tak tersentuh. Tapi di hadapan Luna, gadis bisu-tuli yang bicara lewat isyarat tangan, sang raja yang tak pernah tunduk pada siapa pun rela belajar tiga bahasa isyarat hanya agar bisa berbisik ke telinga yang masih bisa mendengarnya. Bagi dunia, Luna hanyalah "gadis cacat" yang lemah dan mudah diinjak. Bagi Xavier, ia adalah satu-satunya alasan jantungnya masih berdetak.

Namun cinta di kerajaan mafia tak pernah gratis.

Ketika sebuah pengkhianatan berdarah mengoyak keluarga Callahan dan tangan-tangan tak terlihat mulai menggerakkan bidak untuk menghancurkan semua yang Xavier cintai, Luna dipaksa memilih: tetap menjadi gadis rapuh yang selalu dilindungi, atau bangkit sebagai perempuan yang berani berkata "tidak"—bahkan kepada lelaki yang memujanya.

Dari peternakan gelap di Texas, salju Sankt Peterburg, hingga takhta berdarah keluarga mafia Italia, sebuah rahasia keluarga yang terkubur bertahun-tahun perlahan terungkap—rahasia tentang bayi yang hilang, darah yang dicuri, dan cinta yang menolak mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ferrer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nilai yang Tak Bisa Dibeli Uang

Julia tersenyum pada putrinya, memberi remasan lembut pada tangannya sebelum bangkit dari tepi ranjang.

"Nak, siap-siaplah. Kamu lebih suka makan siang di sini bersama para paman dan sepupumu, atau makan siang berdua saja denganku?"

Luna menata bantal di punggungnya, matanya berbinar oleh gagasan untuk menikmati kota.

"Kita keluar bareng-bareng saja, yuk, nikmati liburan keluarga? Kita bisa ke mal! Aku mau beli sesuatu untuk bayi Melina."

"Rencananya kita mau makan siang lalu mampir ke beberapa toko bahan makanan Brasil..." jelas Julia, tertawa oleh antusiasme putrinya. "Tapi kalau kamu bilang mau ke mal, ayahmu langsung mengubah semua rute dalam sedetik. Sudah kepikiran mau beli apa?"

"Belum," kata Luna. Ia membawa tangannya ke telinga, melepas alat kecil nan mungil itu dengan raut sedikit tak nyaman. "Bu, alat bantu dengarku ini bikin kepalaku sakit sekali... Aku hampir tidak sanggup memakai model ini."

Julia mengernyitkan kening, dilanda kekhawatiran seorang ibu.

"Kita beli model lain hari ini juga, Nak. Ini sudah keempat kalinya kamu mengeluhkan model baru itu. Jangan sampai kamu terus-terusan kesakitan."

Beberapa waktu kemudian, iring-iringan keluarga Vitale menggerakkan New York. Menuruti keinginan si bungsu, Tommaso mengabulkan permintaan itu tanpa ragu. Sebelum berbelanja, makan siang keluarga digelar di sebuah restoran khusus makanan laut, dengan meja-meja yang penuh dan piring-piring kepiting yang masih mengepul. Di antara gelak tawa, alat pemecah kepiting yang bekerja tanpa henti, dan Matteo yang berebut capit terbesar dengan Lorenzo, suasananya benar-benar santai.

Sore harinya, rombongan itu menuju salah satu jalan paling eksklusif di kota. Luna tak pernah tergila-gila pada pakaian bermerek; ia menyukai kenyamanan celana jinsnya yang longgar dan kaus-kaus polos. Namun, ia punya satu kegemaran yang ia akui terang-terangan: tas kelas atas.

Selagi keluarganya melihat-lihat etalase lain di mal, Luna masuk ke sebuah butik supermewah, tertarik pada satu barang yang dipajang. Ia mengenakan celana jins longgar dengan saku-saku utilitas, blus putih sederhana, sepatu kets, dan menenteng menyilang bahu sebuah tas Chanel edisi sangat terbatas, hadiah ulang tahun dari ayahnya tahun sebelumnya.

Luna mendekati etalase kaca, mengagumi detail aksesori itu. Ketika ia mengulurkan tangan untuk menyentuh gagangnya, seorang pramuniaga bersetelan rapi dan berperangai angkuh cepat-cepat menyela di antara Luna dan barang itu, sambil menyilangkan lengan.

"Ada yang bisa dibantu?" kata perempuan itu, suaranya melimpah oleh hinaan saat memindai pakaian sederhana Luna. "Area ini untuk pelanggan yang benar-benar berniat membeli. Barang seperti ini harganya puluhan ribu dolar."

Luna berkedip, terkejut oleh sambutan dingin itu, tetapi tetap menjaga kesopanan.

"Saya hanya ingin melihat tas itu lebih dekat, silakan, saya sangat suka modelnya."

Pramuniaga itu melepaskan tawa lewat hidung, menatap lekat tas yang tersampir di bahu Luna.

"Nona, tolonglah, tas 'Chanel' Anda itu tiruan yang norak, dari jauh saja kelihatan. Kami tahu cara membedakan siapa yang benar-benar punya uang dan siapa yang datang ke sini mengadu nasib atau mencuri. Saya minta Anda keluar dari toko sebelum saya panggil satpam mal."

Darah Luna membeku. Penghinaan yang tak adil itu membuat pipinya terbakar. Sebelum gadis itu sempat menjawab, pintu kaca butik terbuka dengan keras.

Tommaso, Matteo, dan Lorenzo masuk ke toko. Sang Don, dengan setelan tanpa cela dan aura berbahaya yang membuat merinding siapa saja, seketika menangkap wajah putrinya yang merona dan sikap defensif si pramuniaga.

"Ada masalah di sini, Nak?" suara Tommaso menggema berat, membelah udara sejuk toko itu bagai geluduk.

Pramuniaga itu seketika pucat pasi saat menatap ketiga lelaki yang mengelilingi gadis bercelana jins tadi. Potongan setelan Tommaso dan putra-putranya, arloji koleksi mahal, dan kehadiran mereka yang mendominasi membuat jelas, dalam sepersekian detik, betapa besar kesalahan yang baru saja ia perbuat.

Hantaman kata-kata penuh prasangka dari pramuniaga itu melukai Luna lebih dalam daripada bilah pisau mana pun. Dengan dada sesak dan air mata yang tumpah tanpa permisi, gadis itu tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mundur dua langkah, menutupi wajahnya, dan berlari keluar dari butik mewah itu, melewati begitu saja ayah, saudara-saudaranya, dan calon iparnya.

"Luna!" Tommaso memanggil, hati seorang ayah seketika teremas melihat tangis putus asa si bungsu.

Tanpa sedikit pun menoleh ke pegawai toko itu, sang Don berbalik dan berlari menyusuri koridor mal mengejar putrinya, siap menghancurkan siapa saja yang berani membuatnya menangis.

Di dalam toko, suasana membeku. Lorenzo menyilangkan lengan di pintu masuk, memastikan tak seorang pun keluar. Matteo, yang ditemani Ágata, berjalan dengan langkah pelan dan berbahaya menuju meja kasir. Ia sepenuhnya mengabaikan pramuniaga angkuh itu, yang kini gemetar dari kepala sampai kaki dan mencoba menggagap permohonan maaf.

Matteo mengangkat tangan, membungkam perempuan itu dengan satu gerakan, dan memanggil pegawai lain yang mengamati adegan itu dari belakang, jelas-jelas merasa tak enak.

"Kamu," kata Matteo, suaranya dingin dan rendah. "Tas mana yang tadi dilihat adikku?"

Pramuniaga muda itu cepat-cepat menunjuk ke etalase kristal.

"Yang itu, Tuan, edisi terbatas dari kulit ukir."

Matteo menoleh pada Ágata di sisinya, melembutkan nadanya sesaat.

"Kamu mau tas juga, sayang?"

Ágata tersenyum penuh kasih, menggeleng pelan.

"Tidak usah, Matteo, sungguh."

"Aku memaksa," jawabnya, berbalik pada si pegawai yang sopan. "Bungkus yang disukai adikku dan ambilkan yang satunya dari manekin itu untuk kekasihku."

Ia berjalan ke kasir, mengeluarkan kartu Centurion Black dari sakunya, dan menyerahkannya tanpa sekali pun bertanya harga kedua barang itu, yang jika digabung bernilai suatu kekayaan. Mesin berbunyi memastikan transaksi dalam hitungan detik.

Matteo mengambil kedua kantong belanja yang elegan itu, menyerahkan milik Ágata dengan kecupan di keningnya, lalu berbalik pada perempuan yang penuh prasangka tadi, menatapnya dengan mata setajam silet.

"Mal ini milik Om Eros dan ayahku. Artinya, gadis yang baru saja kau perlakukan dengan hina itu adalah pewaris langsung seluruh pusat perbelanjaan ini," ujar Matteo, nadanya sarat wibawa yang tanpa ampun. "Tunggu saja surat pemecatanmu, hari ini juga. Semoga ini jadi pelajaran: jangan pernah, dalam keadaan apa pun, menilai seorang pelanggan dari pakaiannya."

Tanpa menunggu jawaban, Matteo mengambil kantong belanja untuk Luna dan keluar bersama Ágata dan Lorenzo.

Di koridor, tak jauh dari sana, Tommaso sudah membalut Luna dalam pelukan seorang ayah yang melindungi, mengecup puncak kepalanya selagi gadis itu menumpahkan isi hatinya di dadanya. Matteo mendekat dengan lembut dan mengulurkan kantong belanja itu pada adiknya.

"Ini, si mungil," kata Matteo, sambil tersenyum menenangkan. "Ini milikmu, dan kalau ada pegawai toko mana pun di mal ini berani menatapmu sinis lagi, kami tutup tempatnya seketika. Kamu ini pemilik semua ini."

Luna menarik ingus, melepaskan tawa kecil di sela air mata, dirangkul oleh cinta dan perlindungan tanpa syarat dari keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!