Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menang Bersama Mu Di Hari Sabtu

Hari Sabtu pagi membawa keriuhan yang berbeda di lapangan tengah sekolah menengah mereka. Sinar matahari pagi yang cerah menyiram barisan papan mading dari seluruh kelas 7 yang sudah berdiri tegak sejak pukul tujuh. Lapangan semen itu kini penuh sesak oleh ratusan murid yang saling berdesakan, mengagumi corak warna-warni kreasi, sementara tiga guru juri berjalan lambat membawa papan nilai di antara barisan karya.

Di sudut barisan kelas 7-B, mading berbahan styrofoam dengan latar belakang awan biru muda buatan Auren dan Evan tampak berdiri kokoh. Guntingan kain flanel dan tata letak artikel yang rapi membuat karya mereka menjadi salah satu yang paling banyak dikerumuni oleh murid dari kelas lain.

Auren berdiri di tepi lapangan, meremas tali tas ranselnya dengan gugup. Meskipun kemarin sore mereka sudah bekerja keras di lantai kelas, rasa cemas tetap tidak bisa dihindari saat melihat mading kelas 7-A yang tak kalah megah. Di sebelah kanannya, Putra sesekali menepuk pundaknya untuk menenangkan. "Tenang, Ren. Karya lo sama Evan kemarin itu udah level master. Pasti menang."

Tak lama kemudian, sebuah suara dehem halus terdengar dari sisi kirinya. Auren menoleh dan mendapati Evan sudah berdiri di sana. Rambut poninya sedikit berantakan tertiup angin pagi, namun senyum lebarnya yang memamerkan lesung pipit manis langsung membuat dada Auren terasa jauh lebih tenang.

Tok... tok...

Bukan mengetuk meja, melainkan ketukan dua jari Evan pada pelindung bahu tas ransel Auren—gestur ketukan khas miliknya yang kini terasa seperti pelampung penyelamat bagi kegugupan Auren.

"Gak usah gugup begitu, Sekretaris," goda Evan lirik, mencondongkan kepalanya sedikit lebih dekat hingga Auren bisa mencium samar wangi parfum khas cowok itu. "Mau juri bilang apa nanti, buat gue, mading kelas kita tetap yang paling juara karena ada sketsa cerita lo di dalamnya."

Auren merasakan pipinya mendadak menghangat dan merona merah jambu sempurna. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah panggung utama demi menyembunyikan salah tingkahnya. "Evan, ih, banyak anak kelas lain yang lihat tahu."

Di seberang lapangan, di dekat tenda juri, Balisya berdiri bersama beberapa siswi kelas 7-C. Jilbab putihnya seperti biasa tegak sempurna tanpa lipatan sedikit pun. Namun, matanya tidak fokus pada panggung. Pandangan dinginnya tertuju lurus pada interaksi manis di sudut barisan 7-B. Rasa cemburu yang luar biasa pekat kembali membakar hatinya, melihat bagaimana Evan selalu bisa membuat Auren tersenyum lebar di tengah keramaian sekolah, sesuatu yang tidak pernah bisa ia lakukan sekeras apa pun ia mencoba tampil sempurna sebagai bendahara kelas.

"Cek... satu, dua..." suara mikrofon dari pengeras suara panggung utama mendadak memutus riuh rendah lapangan sekolah. Kepala sekolah menengah mereka sudah berdiri di depan podium membawa selembar kertas putih berpita emas. "Anak-anak sekalian, setelah melalui penilaian yang sangat ketat dari para juri, tiba saatnya mengumumkan pemenang utama pameran mading angkatan kelas 7 tahun ini."

Suasana lapangan mendadak senyap seketika. Auren menahan napasnya erat-erat, matanya tidak berkedip menatap podium. Di sebelahnya, Evan diam-diam menurunkan tangan kirinya ke bawah, lalu dengan gerakan yang sangat lembut namun mantap, ujung jari telunjuknya mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali di sela-sela lipatan seragam mereka—sebuah ketukan rahasia yang seolah menyalurkan seluruh ketenangan dan kekuatan ke dalam dada Auren.

"Dan juara pertama pameran mading jatuh kepada... Kelas 7-B!"

Sorak-sorai riuh dan tepuk tangan menggila langsung pecah dari barisan anak-anak kelas 7-B. Putra langsung melompat kegirangan sambil berteriak heboh, diikuti oleh teman-teman sekelas lainnya yang saling berpelukan merayakan kemenangan.

Auren terpaku di tempatnya, rasa bahagia yang luar biasa membuncah penuh hingga air mata kelegaan hampir menetes di pelupuk matanya. Ia menoleh ke arah Evan, dan pada detik yang sama, Evan juga sedang menatapnya dengan binar mata yang begitu hangat dan pekat oleh rasa bangga.

"Kita menang, Ren," ucap Evan pelan, suaranya melembut, mengalahkan riuhnya sorakan anak-anak di sekeliling mereka. Ia tidak peduli pada puluhan pasang mata yang sedang melihat ke arah mereka, termasuk pandangan perih Balisya yang langsung memutar tubuhnya pergi meninggalkan lapangan. Evan maju satu langkah, menatap Auren lurus-urus dengan senyuman terbaiknya. "Terima kasih ya, sudah mau berjuang bareng gue di hari Sabtu ini."

Auren mengangguk pelan, sebuah senyuman manis yang paling tulus akhirnya terukir sempurna di wajahnya. Di bawah terik matahari hari Sabtu yang cerah di lapangan sekolah menengah itu, piala kemenangan mungkin akan ditaruh di lemari kaca sekolah. Namun bagi Auren, mendekap buku sketsa biru di dalam tasnya, kemenangan yang sesungguhnya adalah keberhasilan mereka menjaga warna-warni rasa yang kian tumbuh kuat di antara mereka. Di usia dua belas tahun yang riuh ini, dalam balutan seragam putih-biru, Auren tahu bahwa ia telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah piala—ia telah memenangkan sekeping hati milik Ketua Kelasnya, sebuah cerita romansa remaja yang manis yang siap ia bawa hingga lembar terakhir usai ditulis.

Setelah riuh rendah sorak-sorai di lapangan mulai mereda, anak-anak kelas 7-B berbondong-bondong mengarak piala perak berukuran sedang itu kembali ke dalam ruang kelas. Putra memimpin barisan depan dengan wajah yang dipenuhi kebanggaan luar biasa. Namun, di tengah keriuhan malam minggu yang mulai terasa sejak hari Sabtu siang itu, Evan sengaja memperlambat langkah kakinya di koridor lantai satu sekolah menengah mereka.

Ia sengaja berjalan di barisan paling belakang, menyamakan ritme langkahnya dengan Auren yang sedang mendekap buku agenda sekretaris kelas di dadanya.

"Ren," panggil Evan pelan, suaranya terdengar sangat rendah dan hanya ditujukan untuk indra pendengaran gadis di sebelahnya.

Auren menoleh, menatap siluet samping wajah Evan yang diterpa cahaya matahari Sabtu siang yang hangat. "Iya, Van? Ada apa?"

"Gak usah ikut anak-anak ke kelas dulu yuk. Ikut gue sebentar," ajak Evan. Tanpa menunggu jawaban, cowok itu membelokkan langkahnya ke arah kanan, menuju sebuah lorong sepi di samping gedung laboratorium biologi yang jarang dilewati oleh murid-murid lain jika hari Sabtu.

Auren sempat ragu, namun kakinya tetap melangkah mengekor di belakang punggung tegap sang Ketua Kelas. Begitu mereka sampai di sudut selasar yang teduh di balik rimbunnya pohon pucuk merah, Evan menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Auren.

Keheningan yang manis mendadak merayap di antara mereka berdua, memotong seluruh riuh rendah suara anak-anak yang masih terdengar sayup-sayup dari arah lapangan tengah. Evan menopang tubuhnya bersandar pada pilar beton, menatap Auren lekat-lekat dengan sepasang mata jernihnya yang kini memancarkan kehangatan yang begitu pekat.

"Mana buku sketsa biru dari gue?" tanya Evan tiba-tiba, menyunggingkan senyuman tipisnya yang selalu berhasil membuat pertahanan hati Auren runtuh dalam sekejap.

"Ada di dalam tas. Mau diisi sekarang?" Auren balik bertanya, tangannya sudah bersiap membuka ritsleting tas ranselnya.

"Gak usah dikeluarkan," tahan Evan lembut. Ia membiarkan tangan kirinya maju satu langkah, lalu dengan gerakan yang sangat berani namun penuh kelembutan, jemari hangat Evan perlahan menyentuh dan merapikan beberapa helai anak rambut Auren yang sedikit berantakan di dekat dahinya karena angin lapangan tadi, lalu menyelipkannya ke belakang daun telinga Auren.

Sentuhan kulit yang begitu dekat dan nyata itu seketika mengirimkan getaran hebat yang luar biasa dahsyat ke seluruh tubuh Auren. Napas gadis dua belas tahun itu mendadak tercekat. Jantungnya memberikan letupan kencang yang tak beraturan, berdegup berkali-kali lipat lebih cepat daripada saat ia mendengar pengumuman juara mading tadi. Pipinya langsung merona merah jambu sempurna, memanas hebat di bawah tatapan dalam dari Evan.

"Gue cuma pengin bilang secara langsung tanpa ada gangguan dari si Putra atau bisikan anak-anak lain, Ren," bisik Evan pelan, suaranya melunak pekat, dipenuhi oleh ketulusan yang mendalam. Ia menurunkan tangannya dari telinga Auren, lalu beralih menggenggam pergelangan tangan Auren dengan sangat erat dan hangat di balik bayangan pilar beton. "Piala yang dibawa anak-anak ke kelas itu emang punya kelas 7-B. Tapi buat gue, pemenang yang sesungguhnya di hari Sabtu ini adalah gue sendiri. Karena gue berhasil melewati minggu yang penuh rumor ini sambil tetap memegang tangan lo."

Auren terpaku di tempatnya berdiri, menatap lurus ke dalam mata jernih Evan yang penuh dengan janji perlindungan yang mutlak. Rasa canggung, malu, dan debaran manis yang membuncah di dalam dadanya melebur menjadi satu perasaan bahagia yang teramat penuh.

"Aku juga makasih ya, Van... karena kamu gak pernah lepasin tangan aku di depan yang lain," balas Auren sangat lirih, hampir berupa bisikan kecil yang tertelan oleh angin sore. Bersamaan dengan kalimat itu, sebuah senyuman manis yang paling tulus akhirnya kembali terukir sempurna di wajahnya yang merona merah.

Evan yang melihat senyuman indah itu langsung mengulum senyum lebarnya yang sangat tampan, memperlihatkan lesung pipit tipis di wajahnya. Secara refleks, ia mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali menggunakan jari telunjuknya—gestur ketukan khas milik mereka yang kali ini dilakukan dengan genggaman yang kian mengerat, mengunci komitmen manis remaja mereka rapat-rapat di bawah naungan selasar sekolah yang sepi.

Di sudut koridor atas yang menghadap langsung ke arah laboratorium, siluet jilbab putih yang tegak tanpa cela tampak berdiri mematung di balik kaca jendela. Balisya menyaksikan seluruh adegan romantis itu dari kejauhan dengan sepasang mata yang menyipit menahan perih. Rasa cemburu yang luar biasa membakar kembali menghujam dadanya, melihat bagaimana Evan memperlakukan Auren dengan begitu istimewa dan penuh kasih sayang di tempat tersembunyi itu. Namun kali ini, Balisya tidak lagi berniat membuat rumor baru. Punggungnya yang kaku perlahan berbalik, melangkah pergi meninggalkan koridor dengan air mata cemburu yang akhirnya luruh, menyadari bahwa di hari Sabtu ini, ia tidak hanya kalah dalam urusan mading kelas, melainkan telah kalah seutuhnya dalam memperebutkan hati sang Ketua Kelas.

Sementara di bawah rindangnya pohon pucuk merah, Auren dan Evan masih berdiri bersama di bawah sisa matahari senja yang menguning. Di usia dua belas tahun yang canggung namun penuh warna ini, Auren tahu bahwa lembar cerita putih-birunya di hari Sabtu ini telah resmi ditutup dengan goresan sketsa romansa yang paling indah, sebuah cerita manis yang akan ia jaga rapat-rapat bersama cowok di hadapannya sampai lembar terakhir usai ditulis nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!