Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Keheningan di dalam ruangan itu terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan badai emosi yang baru saja memuncak. Keanu masih memeluk Bunga dengan erat, seolah tak ingin membiarkan ketakutan sekecil apa pun kembali merayapi istrinya. Jemari Keanu membelai lembut bagian belakang hijabnya Bunga, menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menopang jiwa wanita itu yang telah terlalu lama menanggung luka.
Setelah beberapa saat, Keanu perlahan melonggarkan dekapannya. Pria itu menyapu sisa air mata di pipinya Bunga menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut. Pandangan matanya yang biasa dingin dan tajam kini sepenuhnya dipenuhi kehangatan serta tekad yang tak tergoyahkan.
"Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi menanggung beban ini sendirian," ujar Keanu dengan suara berat dan dalam. "Setiap orang yang terlibat dalam tragedi empat belas tahun lalu... termasuk Panca Wiguna dan orang yang memerintahkannya, akan menerima pembalasan yang setimpal."
Bunga menatap wajah Keanu yang begitu dekat. Ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan rasa percaya penuh. Bunga mengambil kembali pena dan buku catatannya yang sempat tergeletak di sofa:
'Terima kasih, Kak Keanu... Aku mempercayaimu.'
Keanu membaca tulisan itu seraya tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang memperlihatkan dirinya. Ia mengusap puncak kepala Bunga sekali lagi sebelum akhirnya bangkit berdiri dan merapikan jasnya.
"Selesaikan pekerjaanmu tanpa terburu-buru. Hari ini kita pulang lebih cepat," kata Keanu kembali dengan nada kepemimpinannya yang tegas namun lembut.
Sementara itu, di sebuah sudut kota, Panca Wiguna mengepalkan tangannya usai mematikan sambungan telepon dari atasannya. Pria paruh baya itu berdiri di dekat jendela kamar persembunyiannya yang kumuh, menatap jalanan di bawah dengan raut wajah penuh kekesalan.
"Cih! Bos terlalu penakut," batin Panca dengan senyum licik mengembang di bibirnya yang hitam. Dia pikir aku akan diam saja melihat wanita bisu itu semakin berani menggali tanah kuburannya sendiri?"
Panca mengambil topi dan jaket kulit hitamnya dari atas kursi. Meskipun atasannya melarang keras untuk bertindak, naluri gelap Panca sebagai eksekutor berdarah dingin membuatnya enggan tinggal diam. Ia merasa harus memberi 'peringatan kecil' kepada Bunga agar wanita itu tahu bahwa bahaya selalu mengintai setiap langkah kakinya, tak peduli seberapa ketat Keanu Alexander menjaganya.
Dengan langkah tegap dan senyap, Panca menyusup keluar dari bangunan tua itu, merencanakan pergerakan diam-diam yang akan menguji sejauh mana Keanu sanggup melindungi istri barunya.
*
*
Menjelang akhir pekan saat libur bekerja tiba, Keanu memutuskan untuk membawa Bunga keluar dari hiruk-pikuk kota dan bayang-bayang ketegangan di Jakarta. Pria itu mengajak Bunga berkunjung ke sebuah bukit pegunungan nan asri di kawasan Bogor. Tempat itu menyajikan pemandangan alam liar yang memukau, perpaduan antara telaga danau yang jernih bagaikan cermin dan deretan hutan pinus yang menjulang tinggi dipeluk kabut tipis.
Bunga tampak sangat antusias sejak awal perjalanan, apalagi saat melihat Keanu sudah menyiapkan peralatan melukis lengkap, termasuk standar kayu dan kanvas bersih di bagasi mobil. Bagi Bunga, melukis bukan sekadar hobi, melainkan sarana utama untuk mengalirkan seluruh jiwa, ketenangan, dan bahasa hatinya yang tak mampu terucap oleh kata.
Setibanya di atas bukit, udara dingin yang segar menyapa kulit mereka. Bunga segera mendirikan kanvasnya di tepi tebing yang menghadap langsung ke arah danau dan hamparan pohon pinus. Dengan jemari yang telaten, ia mulai menggoreskan warna-warna alami di atas kain putih tersebut. Setiap tarikan kuasnya Bunga seolah bernapas dan memiliki jiwa, menghidupkan cahaya matahari yang memantul di permukaan air danau serta rindangnya dedaunan pinus dengan begitu luar biasa.
Keanu berdiri beberapa langkah di belakangnya, menyandarkan tubuhnya pada sebuah batang pohon pinus besar dengan kedua tangan terbenam di dalam saku jaketnya. Pandangan matanya terkunci penuh pada figur Bunga yang tampak begitu anggun dan damai saat menyatu dengan alam.
Goresan tangannya benar-benar indah... lukisannya hidup, batin Keanu mengagumi maha karya istrinya.
Melihat bakat tersembunyi yang begitu mengagumkan itu, sebuah rencana indah perlahan terbentuk di kepala Keanu. Ia tidak ingin Bunga terus-terusan larut dalam kesedihan dan trauma masa lalu. Keanu bertekad ingin mengenalkan karya-karya Bunga ke dunia luas, menjadikan wanita itu seorang pelukis terkenal yang karyanya dihargai banyak orang.
Di tengah kesibukannya memoles warna, Bunga sesekali memalingkan wajahnya, mencuri pandang ke arah Keanu yang sedang memperhatikannya tanpa henti. Saat mata mereka tak sengaja saling bertemu, Bunga tersenyum tipis nan manis sebelum kembali menunduk malu memegang kuasnya.
Deg!
Tatapan mata dan senyuman polos itu seketika membuat dadanya Keanu berdebar kencang tak beraturan. Rona merah tipis mendadak menyusup di kedua pipinya. Keanu buru-buru memalingkan wajahnya ke arah danau, berdehem pelan seraya mengusap tengkuknya untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak liar.
"Bagaimana? Apakah tempat ini cukup tenang untuk melukis?" tanya Keanu dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin demi menutupi kegugupannya.
Bunga mendongak, lalu mengangguk antusias dengan mata berbinar senang. Jemarinya bergerak cepat menorehkan tulisan di buku catatan kecil yang ada di pangkuannya, lalu menyodorkannya pada Keanu:
'Tempat ini sangat indah dan tenang, Kak Keanu... Terima kasih banyak sudah membawaku ke sini.'
Keanu membaca pesan singkat itu. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya, mengikis sisa-sisa rasa canggung di antara mereka di tengah sejuknya angin pegunungan Bogor.
Di balik rimbunnya semak dan barisan pohon pinus yang rapat, sepasang mata tajam terus mengawasi gerak-gerik Keanu dan Bunga dari kejauhan. Panca Wiguna, yang mengenakan topeng hitam penutup wajah dan pakaian serba gelap, menatap Bunga dengan seringai licik di balik kainnya. Pria itu menyusup tanpa suara, memanfaatkan embun tipis dan suara angin pegunungan untuk menyamarkan langkah kakinya.
Kesempatan emas yang ditunggunya akhirnya tiba. Ponsel di saku Keanu berdering nyaring. Keanu sedikit menjauh beberapa meter dari posisi Bunga untuk menerima panggilan telepon penting dari kantornya.
Melihat Keanu lengah dan membelakangi Bunga, Panca langsung bergerak senyap bagaikan bayangan. Ia melangkah cepat keluar dari balik pepohonan, memotong jarak hingga berdiri tepat di hadapan Bunga yang sedang memegang kuasnya.
Bunga tersentak kaget saat sebuah bayangan tinggi besar mendadak menutupi cahaya matahari di atas kanvasnya. Begitu mendongak dan mendapati sosok bertopeng hitam itu berdiri begitu dekat, seluruh tubuhnya Bunga seketika membeku. Aura dingin dan ancaman kematian membuncah hebat dari pria di hadapannya.
Tanpa membuang waktu, Bunga menjatuhkan kuasnya dan mundur berjarak dengan langkah gemetar. Ketakutan yang amat sangat menyelimuti jiwanya saat Panca maju perlahan, mengambil langkah demi langkah yang mengancam.
"Hei bisu," bisik Panca dengan suara parau yang amat rendah dan menakutkan. "Awas saja kalau kau sampai mencoba membuka mulut soal kematian kedua orang tuamu! Dan jika sampai kau memperkarakan kasus ini kepada pihak kepolisian, kematianmu akan jauh lebih menyakitkan dari kedua orang tuamu!"
Bunga tersengal, napasnya tertahan di tenggorokan. Meskipun pria itu mengenakan topeng yang menutup rapat wajahnya, pendengaran Bunga yang teramat tajam tidak bisa dibohongi. Ia mengenali nada suara serak, berat, dan mengerikan itu, suara pria yang sama yang telah mencekik lehernya belasan tahun lalu dan menembak mati penyelamatnya. Itu adalah suara Panca Wiguna!
Trauma kelam menghantam kesadarannya hingga membuat kepalanya pusing luar biasa. Bunga terus mundur dengan langkah terhuyung-huyung, matanya terbelalak menatap Panca yang terus melangkah mendekat.
Tanpa Bunga sadari dalam kepanikannya, langkah mundurnya semakin mendekati tepian bukit, sebuah tebing curam dan licin yang mengarah langsung ke permukaan danau di bawah sana.
Panca menyadari posisi berbahaya Bunga, namun bukannya berhenti, pria itu justru menyeringai semakin licik di balik topengnya. Ini adalah kesempatan sempurna untuk membungkam sang saksi kunci selamanya tanpa meninggalkan jejak yang jelas.
"Selamat tinggal, putri manis," bisik Panca dingin.
Dengan gerakan cepat dan tanpa belas kasihan, Panca mengulurkan kedua tangannya dan mendorong kuat dadanya Bunga!
Brak!
"Mmph!"
Tubuh mungil Bunga kehilangan keseimbangan total. Pijakan tanah di tepi tebing runtuh, dan Bunga jatuh terperosok berguling-guling menuruni jurang curam yang dipenuhi batuan tajam serta ranting pinus, sebelum akhirnya meluncur deras jatuh ke arah danau di bawahnya.
Bersambung...
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya
apakah kematian diana juga ada kaitannya dengan papa alexander