Bunga Untuk Keanu
Layar monitor detak jantung di ruangan bernuansa serba putih itu berbunyi stabil, menusuk sunyi nya kamar perawatan intensif. Di atas ranjang tempat tidur pasien, tubuh Azka Alexander terbaring lemah, digerogoti sirosis stadium akhir yang kian mengikis daya tahannya meski telah menempuh berbagai upaya pengobatan hingga ke Jerman. Setahun lalu, diagnosis pahit itu sempat merenggut harapannya, sebelum takdir mempertemukannya dengan karya-karya lukisan indahnya Bunga Lestari. Ketulusan dan pesona Bunga yang polos, seorang gadis belia berusia 20 tahun yang kehilangan suara akibat trauma masa lalu, mampu meluluhkan hati Azka hingga mereka mengikat janji suci. Namun kini, kebahagiaan singkat itu berada di ambang kemelut duka.
Bunga berlutut di samping ranjang, menggenggam jemari Azka yang kian dingin. Air mata meluncur deras tanpa henti, membasahi pipinya yang pucat dan mata yang kian sembab akibat terlalu lama tenggelam dalam duka.
"Mas Azka, ku mohon bertahanlah!" jerit Bunga dalam hati, memohon pada Sang Pencipta agar keajaiban datang menolong pria yang telah menjadi pelindung dan cinta tulusnya itu.
Tuan Alexander berdiri di samping Bunga, menatap pasrah pada garis-garis kehidupan putranya yang kian redup di layar monitor. Ditepuknya pelan bahu menantunya dengan sisa kegetiran yang berusaha ia sembunyikan.
"Bunga, kamu yang sabar, kita sudah berapa kali melihat kondisi Azka seperti ini, Putraku pasti kuat menghadapi semua ini!" ucap Tuan Alexander mencoba untuk menenangkan, meski suaranya sendiri terdengar bergetar.
Bunga mendongak, jemarinya bergerak cepat menyampaikan jeritan jiwanya lewat bahasa isyarat yang biasa dipahami sang mertua.
"Pah, aku tidak sanggup dan tidak tega melihat suamiku tersiksa seperti ini, ingin rasanya rasa sakitnya Mas Azka diberikan padaku, aku tidak sanggup melihatnya seperti ini!" gerak tangan Bunga begitu gemetar, mengekspresikan kehancuran hati yang tak bersuara.
Tuan Alexander mengangguk pelan, mengusap puncak kepala menantunya dengan kepedihan mendalam.
"Papah mengerti Nak, tapi ini sudah menjadi suratan takdir, apapun yang akan terjadi dengan Azka nantinya kamu harus ikhlas Nak!"
Mendengar kata 'ikhlas' terlontar, pertahanan Bunga runtuh seketika. Tubuhnya ambruk ke lantai, tak sanggup lagi menopang beban kesedihan yang meluap. Dengan sigap, Tuan Alexander merengkuh dan memeluk erat tubuh mungil menantunya itu, membiarkan tangisan Bunga pecah tanpa suara di dadanya.
"Bunga, kamu harus kuat Nak, masih ada Papah dan juga Keanu, sebentar lagi dia akan tiba dari Amerika," bisik Tuan Alexander lembut di tengah deru napasnya yang berat. "Ini adalah pertemuan pertama kamu dengannya. Papah sengaja menyuruh Keanu pulang karena kondisi Azka yang semakin memprihatinkan."
Bunga memejamkan matanya rapat-rapat dalam pelukan Tuan Alexander. Sosok Keanu Alexander, kakak kandung Azka yang selama ini terpisah jarak karena sibuk memimpin ekspansi bisnis keluarga di luar negeri, memang tak pernah ditemuinya secara langsung. Namun di tengah keheningan ruangan itu, bayang-bayang perpisahan terasa kian nyata, meninggalkan luka dalam yang menanti takdir baru di hadapan mereka.
Langkah kaki yang tegas bertempo cepat bergaung di sepanjang koridor, sebelum akhirnya pintu ruangan VVIP itu terdorong terbuka. Sosok Keanu Alexander melangkah masuk bersama asisten pribadinya, Andika, yang mengekor setia di belakang. Pria berkemeja gelap itu memancarkan aura yang begitu pekat dan dominan. Berwajah tegas dengan garis rahang tajam serta tatapan matanya yang dingin Menusuk, Keanu seketika menguasai atmosfir ruangan.
Bunga yang masih tersedu mendadak bungkam. Saat pandangan Keanu sempat tertuju padanya, tubuh Bunga bergetar hebat. Ada perasaan takut dan tertekan yang luar biasa hingga gadis belia itu tak sanggup mendongak, menyembunyikan wajah pucatnya yang dipenuhi ketakutan.
"Akhirnya kau tiba juga dengan cepat, Ken. Cepat lihat kondisi adikmu!" pinta Tuan Alexander dengan suara parau.
Keanu menatap sekilas sosok Bunga yang bersimpuh gemetar di lantai, lalu tanpa sepatah kata pun memindahkan pandangannya ke arah ranjang pasien. Tatapan dingin itu seketika melunak, berganti duka mendalam saat menatap Azka, adik kandung yang teramat disayanginya sejak sang ibu berpulang.
Ketidakhadiran Keanu pada pesta pernikahan Azka dan Bunga setahun lalu bukanlah semata karena kesibukan bisnis di Amerika. Pria itu menolak keras pernikahan yang dianggapnya terlalu terburu-buru. Apalagi ketika Azka bercerita tentang latar belakang Bunga, seorang gadis panti asuhan yang tidak mampu berbicara akibat trauma kelam pembunuhan orang tuanya. Keanu selalu bersikap ragu dan curiga terhadap wanita yang hadir di hidup adiknya.
Tuan Alexander yang paham betul tabiat putra sulungnya, segera memegang jemarinya Bunga dan menuntunnya berdiri. Untuk menghindari gesekan dan hal yang tak diinginkan, sang ayah mertua memutuskan membawa Bunga keluar dari ruangan tersebut.
Kini ruangan melingkup sunyi. Keanu perlahan melangkah dan melabuhkan tubuhnya di kursi samping tempat tidur. Ditemani rasa bersalah yang menggebu, Keanu menggenggam jemari kanan adiknya yang terasa semakin terasa dingin.
"Azka... maafkan aku karena baru bisa menjenguk mu. Aku kakak yang buruk untukmu," bisik Keanu, suaranya bergetar berat.
Mendengar gema suara yang amat dirindukannya, kelopak matanya Azka bergerak lambat. Dengan tatapan yang sayu dan napas tersendat-sendat, ia menatap sosok di sampingnya.
"K...Kak Keanu!" ucap Azka sangat terbata.
"Azka, akhirnya kamu sadar juga!" Keanu mendekat, memastikan adiknya mendengar suaranya.
Azka menghimpun sisa tenaga untuk membalas genggaman tangan sang kakak. "Kak, aku sudah tidak memiliki banyak waktu lagi... kumohon tolong kabulkan permintaan terakhirku!"
"Apapun permintaanmu pasti akan Kakak kabulkan, Azka. Asalkan kamu bisa sembuh!"
Azka mengukir senyum tipis yang getir, menggeleng pelan. "Aku tidak akan bisa sembuh, Kak... Kakak janji akan mengabulkan permintaan terakhirku?"
Pertahanan pria setegar Keanu akhirnya runtuh. Air mata menetes melewati pipinya yang tegas. "Aku janji padamu, Azka... katakanlah, apa permintaanmu!"
"Kak... selama aku menikah dengan Bunga, aku belum sempat membahagiakannya. Dan aku belum bisa menjadikannya istri yang seutuhnya... aku belum pernah menyentuhnya sama sekali dari awal menikah sampai sekarang," bisik Azka, mengumpulkan sisa napas di dadanya.
Keanu mengernyitkan keningnya rapat-rapat, terkejut mendengar pengakuan tulus sekaligus pahit dari sang adik.
"Kak, janji ya... setelah aku pergi, aku minta Kakak menikahi Bunga!"
Deg!
Bagai disambar petir di siang bolong, Keanu terlonjak kaget. Ia refleks melepas genggaman tangannya dan beranjak berdiri dari tempat duduk.
"Apa?! Menikahi Bunga?" tanyanya syok, menatap adiknya dengan pandangan tak percaya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
fatmawati (pipit)
diawal ini sudah menangis karena ada yg akan pergi dari kehidupan bunga yaitu seseorang yg sangat berarti bagi dua kehidupan yg berbeda
2026-08-30
2
Teh Euis Tea
baru bab 1 aku udah mewek😭😭😭😭😭
2026-08-30
1
Nar Sih
hadir kakk ,bab awal yg udah bikin nyesek😭😭
2026-08-30
1