Indonesia
NovelToon NovelToon
Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Anak Dewa Penghancur Terlalu Kuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: catsickle

Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Penantian Satu Hari dan Bintang Jatuh

setelah Rey mengantar Rebeca dan Kael masuk ke dalam ruangan pemulihan, keduanya segera melangkah mendekat ke tempat tidur. Di sana, mereka melihat Angel terbaring tak sadarkan diri dengan wajah tampak lelah sekali. Tidak jauh dari sana, Ellion juga sedang berbaring di tempat tidur pemulihan lainnya, tubuhnya masih terlihat lemah setelah mengerahkan sisa kekuatannya untuk meredakan amarah kekuatan Angel tadi.

Seolah merasakan kehadiran mereka, Ellion perlahan membuka matanya dan berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Namun Kael segera melangkah mendekat dan menahannya dengan lembut namun tegas.

"Kembalilah berbaring, Ellion," ucap Kael dengan nada penuh perhatian. "Tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Istirahatlah agar kekuatanmu kembali dengan baik."

Ellion mengangguk pelan, lalu kembali berbaring sambil menatap mereka berdua.

Sementara itu, Rebeca berdiri di samping tempat tidur Angel, menatap wajah putrinya yang pucat dan lelah. Hatinya terasa perih dan sesak. Rasa bersalah perlahan menyelimuti pikirannya — seandainya sejak awal ia tidak menyembunyikan segalanya, seandainya ia bisa mendampingi Angel dengan lebih baik, mungkin putrinya tidak akan harus mengalami hal seperti ini sendirian. Air mata perlahan menggenang di matanya.

"Maafkan aku, Angel..." bisiknya pelan dengan suara bergetar. "Aku seharusnya bisa menjadi ibu yang lebih baik untukmu... seharusnya aku bisa melindungimu agar tidak sampai menjadi seperti ini..."

Melihat kesedihan Rebeca, Ellion mencoba menenangkan dari tempat berbaringnya.

"Jangan risau, Rebeca..." ucapnya lembut. "Angel tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan yang luar biasa setelah mengerahkan kekuatan yang bukan miliknya sepenuhnya. Tidak ada luka yang serius di tubuhnya."

Rebeca menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Benarkah?"

"Iya," jawab Ellion mantap. "Dia hanya butuh waktu untuk memulihkan diri. Namun... kita harus menunggu satu hari penuh sampai dia sadar kembali. Kekuatan yang keluar dari dalam dirinya tadi telah menyedot banyak tenaganya."

Selama satu hari penuh penantian itu berlalu, di alam kesadaran Angel, ia kembali berada di tempat yang gelap dan asing. Dan di hadapannya, makhluk bayangan yang sama kembali muncul. Angel merasa kesal, menatap makhluk itu dengan penuh tanya.

"Kenapa kau selalu mengambil alih tubuhku tanpa izin?" tanya Angel dengan nada kesal. "Siapa sebenarnya kau?"

Makhluk itu yang tadinya berwujud mengerikan dan penuh bayangan perlahan berubah wujud. Bentuknya semakin jelas, hingga akhirnya berdiri di hadapan Angel seorang perempuan yang sangat cantik, dengan pakaian yang anggun dan megah persis seperti seorang ratu di dunia kegelapan.

"Aku adalah Frey," ucap perempuan itu dengan lembut namun berwibawa. "Aku adalah Sang Senjata Ego, sekaligus pemilik dari kekuatan Sang Dewa Penghancur."

Angel terkejut mendengarnya. Segala hal yang selama ini ia dengar seakan tersusun kembali — Valerian yang pernah meminta maaf padanya dan menceritakan bahwa pamannya, Kael, adalah murid dari tangan kanan Dewa Penghancur; serta cerita Ellion yang pernah menceritakan bahwa ia pun pernah berdiri di samping Sang Dewa Penghancur.

Frey tersenyum tipis seakan membaca pikiran Angel.

"Tampaknya ibunda Anda, Sang Pembunuh Langit, belum menceritakan semuanya kepada Anda ya..." ucap Frey dengan nada sangat sopan.

Angel semakin terkejut. "Pembunuh Langit? Siapa itu... Ibuku?"

Frey mengangguk pelan. "Kau akan perlahan mengetahui siapa dirimu sebenarnya, dan siapa ibumu. Dan ingatlah, Tuanku yang pertama — ayahmu — akan segera datang menemuimu."

Seketika itu juga, dari bawah kaki mereka muncul air yang sangat gelap, pekat seperti tinta, sehingga tidak ada yang bisa dilihat di dalamnya. Air itu perlahan naik, menenggelamkan Angel dan Frey sedikit demi sedikit. Saat air itu hampir menutupi seluruh tubuhnya, Angel tiba-tiba terbangun...

Mata Angel terbuka lebar. Napasnya terengah-engah. Ia masih berada di ruangan pemulihan. Semua itu hanya terjadi di dalam alam kesadarannya selama satu hari penuh.

Angel menatap sekeliling dengan pandangan yang masih linglung, sepenuhnya belum sadar sepenuhnya dari keadaan yang dialaminya. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Ellion masuk. Melihat Angel sudah membuka mata, wajah Ellion tampak lega.

"Angel... kau sudah siuman," ucap Ellion mendekat. "Bagaimana keadaanmu?"

Angel mencoba tersenyum lemah. "Saya baik-baik saja, Tuan Kepala Akademik."

Angel berusaha bangun dan duduk di tepi tempat tidur untuk berbicara dengan Ellion. Namun Ellion segera menahannya dengan lembut.

"Tidak usah bangun, tetaplah berbaring terlentang. Tubuhmu masih lemah, baru saja sadar," perintah Ellion dengan nada penuh perhatian.

Angel menurut, namun wajahnya tampak cemas. "Tuan Ellion... apakah aku telah melakukan kesalahan besar? Aku mendengar bangunan akademik ini tampak rusak parah..."

Ellion tertawa kecil, berusaha meredakan kekhawatiran gadis itu. "Tidak usah berpikir begitu, Nak. Wajar saja, bangunan ini sudah berdiri terlalu lama, makanya gampang sekali hancur!" candanya sambil tersenyum.

Namun kekhawatiran Angel belum hilang. Ia masih terbayang dengan kejadian saat kekuatan Frey mengambil alih tubuhnya. Ellion pun menyadari hal itu dan berusaha menenangkannya lebih lanjut.

"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Ellion lembut. "Saat kau tidak sadar, kekuatanmu memang sempat mengamuk. Tapi tidak ada satu pun yang terluka, semua murid dan penghuni akademik baik-baik saja."

Angel merasa bersyukur namun sekaligus masih merasa takut karena telah menyebabkan kekacauan besar. Ellion melihat ketakutan di matanya dan segera berkata dengan tegas namun lembut.

"Tidak perlu takut, Nak. Masih ada satu ujian terakhir yang belum diadakan. Jadi gunakanlah waktumu untuk berlatih dan bersiap menghadapinya. Itulah yang paling penting sekarang."

Mendengar itu, hati Angel perlahan merasa lega. Rasa takutnya berubah menjadi semangat baru. "Terima kasih... terima kasih sudah menyemangatiku, Tuan Ellion."

Sejak saat itu, sesuatu yang luar biasa terjadi pada Angel. Kekuatan yang begitu besar telah terbangun di dalam dirinya, dan Angel pun resmi menjadi seorang Penyihir — hal yang mustahil dibayangkan sebelumnya, mengingat dulu ia bahkan tidak mampu memegang pedang atau mengeluarkan sihir sedikit pun. Ellion secara pribadi mengajari Angel cara mengendalikan kekuatan barunya agar tidak lagi mengamuk dan menyebabkan kerusakan, membimbingnya langkah demi langkah agar kekuatan itu bisa dikuasai dengan baik.

Kabar ini pun menyebar di seluruh akademik. Sebagian besar murid merasa sangat terkejut dan tidak percaya — bagaimana mungkin gadis yang selama ini dianggap tidak memiliki bakat apa pun, tiba-tiba menjadi seorang penyihir dengan kekuatan yang begitu dahsyat? Namun ada dua pihak yang tidak terkejut sama sekali: Rey, sahabat setianya yang selalu mendampinginya, serta para murid terlatih langsung dari Ellion yang telah ditugaskan untuk mengawasi Angel sejak awal — mereka semua sudah menyaksikan sendiri kekuatan yang sesungguhnya dimiliki gadis itu.

Setelah itu, Angel dan Rey dipertemukan kembali. Saat melihat Angel, Rey tampak sangat lega dan segera menyambutnya dengan senyuman hangat. Mereka berdua saling bercerita tentang keadaan masing-masing, dan sejak saat itu mereka berlatih bersama setiap hari, saling mendukung agar siap menghadapi ujian terakhir demi mencapai kelulusan yang baik.

Waktu berlalu, dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu — hari ujian terakhir. Ujian ini bukan sekadar ujian kekuatan biasa. Ujian ini akan menentukan: apakah seseorang layak menjadi seorang Pahlawan, atau hanya akan menjadi Pendamping Pahlawan — sosok yang hanya bisa memberikan kekuatannya kepada orang lain, dan pada akhirnya harus rela mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan sang Pahlawan saat berada di ujung kematian.

Ujian pun dimulai. Banyak murid yang gagal meraih kelulusan sebagai Pahlawan. Namun tidak sedikit juga yang berhasil lulus. Di antara mereka yang lulus adalah Valerian, anak dari Caelus — yang memiliki keunikan mampu mengendalikan elemen pedang petir. Ada juga Rey, yang membuktikan ketangkasannya sebagai seorang Pembunuh Bayangan. Dan tak kalah dibicarakan adalah seorang murid yang bertubuh besar dengan senjata yang sangat berat — perisai dan palu raksasa — namanya adalah Nagi Ezrimo. Nagi lahir dari kelompok Guardian, mereka yang ditakdirkan menjadi pelindung dunia, berdiri di garis terdepan menahan segala serangan musuh demi melindungi orang-orang di belakangnya.

Dan tibalah saat ujian terakhir selesai. Sang Kepala Akademik, Ellion, naik ke atas panggung untuk mengumumkan siapa yang berhak menjadi Pahlawan dan siapa yang dinyatakan gagal. Pengumuman itu berlangsung dengan suasana yang sangat menyedihkan — perbedaan status ini dengan mudah bisa memicu diskriminasi di antara mereka. Namun tidak ada satu pun yang mengajukan protes. Mereka semua memahami bahwa begitulah kenyataan kehidupan, dan setiap orang harus menerima hasil dari perjuangannya masing-masing.

Setelah pengumuman selesai, Ellion kembali berbicara kepada para murid sebelum upacara kelulusan. Ia berharap para murid membentuk kelompok-kelompok kecil, sebuah tim yang nantinya akan bekerja sama untuk memecahkan berbagai masalah yang akan datang di masa depan. Mendengar hal itu, para murid segera bergerak membentuk kelompoknya masing-masing.

Valerian membentuk kelompok yang terdiri dari lima anggota. Anggotanya adalah: Valerian sendiri, Rian Veyra — seorang penyihir angin yang juga adik dari Elara, Elara Froztine — penyihir es sekaligus kakak dari Veyra, Ezra Dorn — seorang jawara yang ahli dalam pertarungan tangan kosong, dan Dariku Volkov — seorang petarung yang memiliki darah werewolf.

Di sisi lain, Rey yang telah mendengarkan seluruh pengumuman itu langsung berjalan menuju tempat Angel berdiri. Saat tiba di hadapan sahabatnya, Rey menatap Angel dengan tatapan penuh harap.

"Angel..." panggilnya lembut. "Apakah impianmu sudah tercapai sekarang?"

Angel terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa. Lalu ia tersenyum pelan. "Aku pikir... impianku sebenarnya baru saja dimulai sejak ujian terakhir ini selesai." Angel kemudian menatap balik ke arah Rey. "Dan kau, Rey? Bagaimana dengan impianmu?"

Rey menatapnya dalam, lalu dengan tiba-tiba ia berlutut dengan tegas di hadapan Angel. Tindakan itu membuat Angel terkejut setengah mati.

"Impianku juga baru saja dimulai," ucap Rey dengan suara mantap dan penuh keyakinan. "Izinkan aku memintamu menjadi pemimpinku, Angel. Aku akan menjadi pedang dan perisaimu — aku akan menebas siapa pun yang berani mengganggu langkahmu."

Wajah Angel seketika memerah karena malu dan terkejut. "Rey... apa yang kau lakukan?! Bangunlah, jangan bersikap seperti itu..."

Namun di balik rasa malunya, Angel tersenyum dengan senyuman yang begitu indah dan tulus. Ia melanjutkan dengan lembut namun tegas.

"Rey... aku juga membutuhkan sebuah tim. Namun lebih dari itu, aku membutuhkan orang-orang yang bisa menjadi milikku — apa pun yang terjadi. Dan aku berjanji... aku akan melindungi setiap orang yang ada di sisiku dari segala musuh, sekuat tenagaku."

Seketika itu juga, Rey dan Angel telah resmi membentuk tim. Mereka berdiri berdua sambil mengobrol, membicarakan rencana dan hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan selanjutnya. Namun di tengah percakapan mereka, seseorang tiba-tiba berjalan mendekat dan berdiri tepat di antara mereka.

Itulah Nagi Ezrimo. Tubuhnya yang begitu besar dan kekar tampak mengintimidasi siapa pun yang melihatnya, dengan perisai dan palu raksasa yang tersampir di punggungnya. Namun siapa yang menyangka — sosok yang dianggap sebagai murid terkuat dari segi fisik ini ternyata memiliki sifat yang sama persis dengan Lazark: konyol, ceria, dan seolah-olah otaknya terbuat dari otot murni.

(Tenang saja, Lazark... aku buatkan kamu teman yang setipe, jadi kamu tidak sendirian hahahahaha)

Nagi tersenyum lebar dengan wajah penuh semangat, lalu menyapa dengan nada yang terdengar begitu ceria namun konyol.

"Halo, teman-teman!" serunya dengan suara yang menggelegar namun lucu. "Sepertinya kalian membutuhkan seseorang yang kuat, tampan, dan tidak sombong untuk bergabung ke dalam tim kalian, kan? Hahahaha!"

Rey menatap Nagi dari atas hingga ke bawah, menyaksikan penampilan dan cara bicaranya yang begitu aneh. Senyumannya menyiratkan rasa mengejek — di dalam hatinya, Rey berpikir bahwa orang yang bertingkah konyol seperti ini pasti akan mudah tewas jika menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.

Sementara itu, Angel justru tersenyum lembut. Hatinya terasa hangat. Selama lima tahun di akademik, tidak pernah ada satu pun orang yang berani mendekat dan memintanya menjadi teman. Setiap kali Angel mencoba menyapa atau mendekati seseorang, mereka justru berlari menjauh seakan takut tertular sesuatu. Dan sekarang, seseorang yang tampak begitu kuat justru datang dengan sukarela ingin bergabung bersamanya.

Dengan terbentuknya tim-tim ini, berakhirlah sudah masa latihan selama tiga tahun di akademik. Para murid segera bergegas keluar dari gerbang akademik, menuju rumah masing-masing setelah sekian lama terpisah dari keluarga.

Di depan gerbang, para orang tua telah menanti dengan penuh kerinduan. Di antara kerumunan itu, berdiri Kael dan Rebeca — mereka pun menanti kedatangan putri kesayangan mereka. Tak lama kemudian, Angel keluar dari gerbang. Namun kali ini ia tidak berjalan sendirian seperti pada hari pertama masuk sekolah. Angel berjalan di tengah-tengah dua orang sahabatnya: Rey di satu sisi, dan Nagi yang berjalan dengan gagah namun konyol di sisi lainnya.

Melihat pemandangan itu, mata Rebeca dan Kael berkaca-kaca. Hati mereka terasa haru dan bahagia tak terlukiskan. Angel yang dulu selalu menyendiri, yang tidak pernah memiliki teman satu pun, kini berjalan dengan penuh percaya diri bersama dua orang sahabat yang setia di sisinya.

Angel segera menghampiri mereka dan tersenyum lebar. "Ibu! Paman Kael!"

"Angel..." Rebeca memeluk putrinya dengan erat.

"Ibu, Paman Kael... izinkan aku memperkenalkan teman-temanku," kata Angel dengan bangga. "Ini Rey, sahabatku yang selalu mendampingi sejak awal. Dan ini Nagi Ezrimo — rekan terbaruku."

Nagi segera membusungkan dadanya dengan penuh semangat. "Halo! Aku Nagi Ezrimo! Berasal dari Kelompok Guardian! Spesialisasiku adalah pertahanan dan kekuatan fisik — aku bisa mengangkat beban seberat apa pun dan menahan serangan musuh paling dahsyat sekalipun! Hahahaha!"

Rey tersenyum miring sambil menepuk bahu Nagi dengan nada bercanda. "Ya, spesialisnya memang sudah jelas — kekuatan fisiknya luar biasa, tapi sayangnya otaknya penuh dengan otot saja, tidak ada ruang untuk akal sehatnya sedikit pun."

Mendengar candaan Rey, Kael dan Rebeca tidak bisa menahan tawa. Suasana yang hangat dan penuh tawa itu membuat hati mereka terasa damai.

Tak lama kemudian, rombongan dari Kelompok Guardian datang menjemput Nagi pulang. Mereka menyapa Rebeca, Kael, serta orang tua Rey dengan ramah dan penuh hormat. Setelah berpamitan, Nagi pun pulang bersama kelompoknya menuju tempat asalnya. Keluarga Angel dan keluarga Rey pun masing-masing berpisah menuju rumah mereka.

Selama satu minggu sebelum acara kelulusan, Angel menghabiskan waktunya bersama Kael dan Rebeca di rumah. Angel sangat merindukan mereka berdua, terutama ibunya — selama tiga tahun di akademik, ia selalu merasa ada yang kurang setiap hari karena tidak ditemani oleh Rebeca seperti dulu. Kini mereka bertiga menjalani kehidupan keluarga yang harmonis, penuh canda dan tawa, menikmati waktu bersama sebelum hari peresmian kelulusan tiba.

Namun tepat satu hari sebelum acara kelulusan, Angel tidak bisa tidur. Ia berdiri di dekat jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang. Pikirannya dipenuhi rasa cemas — apakah ia benar-benar mampu melindungi ibu dan pamannya selamanya? Mengingat semua kejadian yang dialaminya selama ini, ketakutan itu masih tersisa di sudut hatinya.

Saat ia sedang melamun, tiba-tiba sebuah cahaya melesat di langit — sebuah bintang jatuh. Mata Angel terbelalak. Ia pernah mendengar bahwa jika melihat bintang jatuh dan segera mengucapkan permohonan, permintaan itu akan dikabulkan. Tanpa menunggu lagi, Angel memejamkan mata dan berdoa dalam hati:

"Ayah... jika kau mendengar doaku, aku mohon... datanglah menemuiku pada hari kelulusanku. Aku ingin bertemu denganmu."

 

1
holong manti Sirait
kembangkan lagi broo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!