Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Air laut langsung masuk menderas memenuhi lambung kapal utama yang berlubang besar itu.
Alarm darurat dari kapal utama seketika meraung-raung memecah kesombongan mereka beberapa detik yang lalu.
"Kapten! Lambung kita berlubang sangat besar! Air laut masuk dengan cepat!" teriak salah satu anak buah kapal dengan suara panik yang bocor ke pengeras suara.
"Senjata macam apa itu! Itu bukan meriam biasa, itu seperti sinar laser dari film fiksi ilmiah!" jerit komandan preman laut itu mulai kehilangan akal sehatnya.
Keempat kapal lainnya yang melihat kejadian mengerikan itu langsung menghentikan mesin mereka secara mendadak hingga menimbulkan riak ombak besar.
Mereka semua mematung ngeri melihat kapal utama mereka mulai miring ke kanan dan tenggelam perlahan.
Di pinggir pantai, Elena menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya melihat pemandangan tidak masuk akal di depannya.
"A-Ardi, apa yang sebenarnya baru saja terjadi?" tanya Elena dengan mata membelalak lebar menatap bosnya.
"Hanya sedikit pertunjukan kembang api militer untuk mengusir nyamuk malam Elena," jawab Ardi santai sambil tersenyum ke arahnya.
Ardi kembali mengangkat megafonnya dan menatap gerombolan kapal musuh yang kini sedang dilanda kepanikan luar biasa.
"Waktu sepuluh detik kalian sudah habis!" teriak Ardi dengan suara yang terdengar seperti malaikat maut di telinga para musuhnya.
"Itu tadi hanyalah tembakan peringatan dari sistem pertahanan otomatis pulauku," bohong Ardi dengan sangat meyakinkan.
"Jika kalian tidak segera melompat dari kapal kalian dan berenang kembali ke kota, tembakan selanjutnya akan menguapkan tubuh kalian menjadi abu!"
Komandan preman laut di kapal utama yang kini sudah tenggelam separuh langsung menangis ketakutan meratapi nasibnya.
Dia sadar bahwa pemuda kaya ini bukanlah target empuk yang bisa mereka tindas dengan cara premanisme biasa.
"Ampun Tuan! Kami menyerah! Tolong hentikan senjata laser itu!" teriak sang komandan memohon belas kasihan dengan sangat menyedihkan.
"Kami akan segera berenang pergi dari sini Tuan, tolong ampuni nyawa kotor kami ini!"
Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut, ratusan anak buah preman laut itu langsung melompat berhamburan ke dalam air laut yang dingin.
Byur! Byur!
Suara cipratan air terdengar riuh saat gerombolan preman itu berenang sekuat tenaga menjauhi kapal mereka yang terbengkalai.
Mereka berenang ketakutan layaknya tikus got yang kebanjiran, meninggalkan kelima kapal besi mereka mengapung tak bertuan di perairan Ardi.
Ardi tertawa lepas melihat pemandangan memalukan dari gerombolan preman yang tadinya sangat arogan tersebut.
"Dunia ini memang selalu lucu, orang-orang sombong selalu menjadi yang paling cepat menangis saat melihat kekuatan yang sebenarnya," gumam Ardi meletakkan megafonnya.
Elena berlari kecil menghampiri Ardi dan langsung memeluk lengan bosnya itu secara spontan karena perasaan lega yang luar biasa.
"Kau benar-benar luar biasa Ardi, aku tidak tahu harus berkata apa lagi," ucap Elena menatap wajah Ardi dari jarak yang sangat dekat.
Aroma parfum maskulin Ardi bercampur dengan semilir angin laut membuat wajah Elena kembali memerah padam.
"Aku sudah berjanji pulau ini akan menjadi tempat yang paling aman untukmu bekerja Elena," balas Ardi tersenyum menatap mata indah wanita itu.
Ardi secara perlahan melepaskan pelukan Elena di lengannya, membuat wanita itu sedikit salah tingkah.
"Ayo kita lanjutkan makan malam kita yang sempat tertunda tadi, daging wagyu-nya mungkin sudah agak dingin," ajak Ardi kembali menuju meja makan.
"B-baik Ardi, saya akan meminta koki untuk menyiapkan hidangan penutup yang baru untukmu," jawab Elena mengikutinya dari belakang dengan senyum bahagia.
Saat mereka berdua kembali duduk di meja makan, antarmuka emas Sistem tiba-tiba kembali muncul melayang di depan Ardi.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Tuan Rumah telah berhasil menunjukkan dominasi teritorial yang mutlak dengan menghancurkan armada musuh.]
[Reputasi Pulau Nirwana sebagai benteng yang tidak bisa disentuh telah tersebar di dunia bawah tanah.]
[Sebagai penghargaan atas keberanian Tuan Rumah, Sistem membuka penawaran khusus untuk memperluas gurita bisnis Anda ke dunia hiburan nasional.]
Ardi mengangkat sebelah alisnya membaca kategori bisnis baru yang ditawarkan oleh Sistemnya malam ini.
Dunia hiburan adalah tempat di mana para artis sombong dan agensi besar berkumpul untuk mencari ketenaran dan uang.
Mengingat kejadian dengan Siska di pelabuhan tadi siang, Ardi merasa sudah waktunya dia merambah ke ranah tersebut.
[Flash Sale Perusahaan Hiburan Terbuka!]
[Item: Akuisisi 100 Persen Kepemilikan Star Media Entertainment, Agensi Artis Terbesar Nomor Satu di Negara Ini.]
[Harga Spesial: Rp1.]
[Waktu Tersisa: 23 Jam 59 Menit.]
"Star Media Entertainment?" batin Ardi sambil mengiris daging di piringnya.
"Bukannya itu agensi tempat semua artis papan atas yang hadir di pesta pelabuhan tadi bernaung?" gumamnya tersenyum licik.
Ardi tidak butuh waktu berpikir dua kali untuk menekan layar transparan di depannya itu.
"Beli sekarang juga," perintah Ardi tanpa ragu sedikit pun.
[Memproses transaksi akuisisi raksasa dunia hiburan...]
[Pembelian Berhasil. Saldo rekening Anda telah terpotong Rp1.]
[Seluruh dokumen kepemilikan dan hak paten agensi telah diteleportasi ke brankas Penthouse Anda.]
[Mulai besok pagi, Anda adalah bos besar yang mengendalikan seluruh karier artis papan atas di Star Media Entertainment.]
Ardi mengunyah potongan daging sapi mahalnya dengan perasaan yang sangat puas malam ini.
Lawan-lawannya terus berdatangan silih berganti, namun mereka semua berakhir tragis di bawah telapak kakinya.
"Besok aku akan kembali ke ibu kota Elena," ucap Ardi memecah keheningan makan malam mereka.
"Secepat itu Ardi? Apakah Anda tidak ingin berlibur sedikit lebih lama di pulau ini?" tanya Elena dengan nada yang terdengar jelas merasa sangat kecewa.
"Ada perusahaan baru yang menuntut kehadiranku di sana, aku harus segera merapikan beberapa artis sombong yang butuh pelajaran sopan santun," jawab Ardi sambil tersenyum tipis.
"Tapi tenang saja, aku pasti akan sering berkunjung kemari untuk menemuimu," janji Ardi memberikan harapan yang membuat Elena kembali tersenyum cerah.
"Saya akan selalu menunggu kedatangan Anda di sini Ardi," balas Elena dengan tatapan penuh arti.
Malam itu berlalu dengan sangat indah dan romantis di bawah taburan bintang-bintang langit Pulau Nirwana.
Di sisi lain lautan, ratusan preman laut musuh masih berenang kedinginan dalam kegelapan, meratapi kebodohan mereka karena berani menantang sang dewa kekayaan.
Kisah dominasi Ardi kini bersiap memasuki babak baru yang lebih gemerlap dan penuh intrik di dunia hiburan ibu kota.