Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di matanya, tempat ini bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan medan perang baru tempat bertemunya para pewaris rumah sakit dan sindikat farmasi raksasa.
Brak!
Suara benturan keras tiba-tiba terdengar dari arah taman fakultas yang berada tepat di depan gedung rektorat, menarik perhatian banyak mahasiswa.
"Kau buta ya, anak udik?!" bentak suara arogan seorang pria yang menggema memecah suasana kampus.
"Sepatuku ini keluaran terbatas dari Milan, harganya lebih mahal dari biaya kuliahmu selama empat tahun di sini!"
Seorang mahasiswa baru berkacamata tebal jatuh terduduk di aspal yang panas, memunguti berkas-berkas beasiswanya yang berserakan berantakan.
Di depannya, berdiri seorang senior bertubuh jangkung dengan jas almamater yang tidak dikancingkan, dikelilingi oleh tiga temannya yang tertawa mengejek.
Senior itu bernama Raka, ketua himpunan mahasiswa sekaligus putra dari salah satu direktur rumah sakit pusat di ibukota.
"Ma-maafkan saya, Kak, saya benar-benar tidak sengaja tersandung batu tadi," ucap mahasiswa baru itu dengan suara bergetar ketakutan, nyaris menangis.
Raka mendengus jijik, menatap mahasiswa miskin itu layaknya melihat tumpukan sampah yang bau.
"Kampus ini semakin hari semakin hancur karena pihak rektorat terus menerima gembel penerima beasiswa sepertimu."
"Jilat kotoran di sepatuku sampai bersih pakai lidahmu, baru aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu," perintah Raka dengan senyum psikopat yang sangat merendahkan.
Banyak mahasiswa yang berhenti dan menonton kejadian itu, membentuk lingkaran kerumunan.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani ikut campur atau membela mahasiswa baru tersebut.
"Kasihan sekali anak itu, baru hari pertama sudah menyinggung Raka dari keluarga rumah sakit Medika," bisik salah satu penonton dengan nada simpati.
"Sstt, pelankan suaramu, kalau Raka dengar, kau juga bisa dikeluarkan dari kampus ini lewat jalur koneksi ayahnya," tegur mahasiswa lain dengan panik.
Mahasiswa baru yang berkacamata itu menundukkan wajahnya, harga dirinya hancur lebur, namun dia mulai merangkak maju perlahan menuju sepatu Raka.
Demi mempertahankan beasiswa impiannya, dia rela membuang harga dirinya di depan umum.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki yang sangat tenang dan berirama membelah kerumunan penonton tersebut, membuat sebagian orang refleks menyingkir memberi jalan.
Bayu melangkah masuk ke tengah lingkaran, sama sekali tidak berniat menjadi pahlawan kesiangan yang membela orang lemah.
Namun sayangnya, jalan utama menuju tangga gedung rektorat terhalang tepat oleh keributan konyol yang diciptakan oleh Raka.
Bayu berhenti tepat dua langkah di depan Raka, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Minggir, kalian menghalangi jalanku," ucap Bayu datar, menatap langsung ke arah mata Raka dengan pandangan yang sangat meremehkan.
Keheningan seketika menyelimuti area taman fakultas tersebut.
Semua orang menahan napas, tidak percaya ada mahasiswa baru yang berani menyuruh Raka menyingkir dari jalannya dengan nada sedingin itu.
Raka menoleh, menatap Bayu dari ujung sepatu hingga ke ujung rambutnya dengan kening berkerut.
"Siapa anak kampung ini?" ejek Raka setelah melihat kemeja kasual Bayu yang terlihat tidak memiliki merek ternama.
"Kau punya nyali yang cukup besar untuk menyuruhku minggir di wilayah kekuasaanku sendiri, bocah."
Tiga teman Raka langsung melangkah maju, mengepung Bayu dari sisi kiri dan kanan dengan raut wajah mengancam.
"Sepertinya anak beasiswa tahun ini perlu diajari sopan santun dengan cara kekerasan," kekeh salah satu teman Raka sambil mematah-matahkan buku jarinya.
Bayu menghela napas panjang, merasa sangat bosan dengan stereotip anak orang kaya yang selalu merasa bisa menindas siapa saja dengan uang.
"Biar aku tebak, kau pasti anak dari direktur rumah sakit atau semacamnya yang merasa dunia berpusat di sekitarmu?" sindir Bayu tepat sasaran.
"Aku tidak punya waktu bermain dokter-dokteran dengan anak manja, jadi minggir sebelum kakimu yang salah tempat itu kupatahkan."
Wajah arogan Raka langsung berubah merah padam menahan amarah yang meledak karena dihina di depan ratusan juniornya.
"Bangsat kau! Mati saja kau di sini!" raung Raka kehilangan kendali.
Wush!
Raka mengayunkan kepalan tangannya yang cukup berotot, mengarah langsung ke rahang Bayu dengan niat untuk menghancurkan gigi pemuda itu.
Grep!
Tangan kanan Bayu bergerak secepat kilat, nyaris tidak terlihat oleh mata telanjang, dan langsung menangkap pergelangan tangan Raka di udara.
Cengkeraman Bayu tidak terlihat kuat dari luar, namun efek yang dirasakan Raka sangatlah mengerikan.
Bayu dengan sengaja menekan titik meridian yang menghubungkan saraf sensorik utama di pergelangan tangan tersebut menggunakan energi giok hijaunya.
Krak!
Suara tulang yang bergeser paksa terdengar sangat jernih di tengah keheningan, diiringi oleh sensasi terbakar yang langsung merobek saraf Raka.
Aaaarrgghhh!
Jeritan melengking yang sangat menyayat hati meluncur dari mulut Raka, matanya mendelik ke atas menahan rasa sakit yang tidak masuk akal.
Bruk.
Pewaris rumah sakit elit itu langsung jatuh berlutut di aspal panas, tubuhnya gemetar hebat sementara tangannya masih terkunci dalam genggaman Bayu.
Semua mahasiswa yang menonton langsung berteriak kaget dan mundur beberapa langkah karena teror.
Tidak ada yang melihat Bayu memukul, mereka hanya melihat Bayu menangkap tangan Raka dan senior paling ditakuti itu langsung tumbang menangis.
Tiga teman Raka yang tadinya berniat mengeroyok kini membeku di tempat, wajah mereka pucat pasi melihat ketua mereka dibuat berlutut hanya dalam satu detik.
Bayu menundukkan wajahnya, menatap Raka yang sedang merintih kesakitan dengan sorot mata sedingin es abadi.
"Wilayahmu?" bisik Bayu dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Raka.
"Mulai hari ini, setiap jengkal tanah yang ku pijak di kampus ibukota ini, adalah wilayahku."
Bayu melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat tubuh Raka ambruk sepenuhnya ke aspal sambil memegangi tangannya yang kini lumpuh sementara.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, Bayu melanjutkan langkahnya menaiki tangga gedung rektorat, meninggalkan badai kebingungan dan ketakutan yang akan segera menyebar ke seluruh penjuru universitas.
Naga dari daerah itu telah resmi menancapkan cakar pertamanya di tanah ibukota.