Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Compactness team.
Tiga tahun telah berlalu sejak insiden bola api liar di halaman Akademi Sihir Grandoria. Lima murid baru yang dulunya canggung saat pertama kali berkenalan kini telah tumbuh menjadi barisan petarung paling berbakat dan menjadi kebanggaan akademi. Mereka menyebut diri mereka Tim Vanguard.
Pagi itu, suasana di ruang ujian akhir akademi terasa sangat berbeda dan penuh tekanan. Tidak ada papan tulis yang dihiasi rumus sihir, tidak ada pula boneka jerami untuk latihan merapal mantra. Hanya ada sebuah meja kayu bundar besar di tengah ruangan, di mana Kepala Sekolah Alaric berdiri dengan wajah penuh gurat ketegangan. Di hadapannya, kelima anggota Tim Vanguard berdiri tegap dalam balutan jubah biru kebesaran akademi, menanti intruksi dengan debar jantung yang tertahan.
"Ujian akhir kalian bukanlah simulasi di dalam tembok pelindung ini," suara serak Kepala Sekolah Alaric memecah keheningan yang mencekam. Ia menunjuk ke arah sebuah peta perkamen kuno yang terbentang di atas meja. Jari telunjuknya yang keriput mengetuk sebuah area di ujung utara peta, sebuah wilayah yang diarsir dengan tinta hitam pekat. "Hutan Mistik di perbatasan utara. Selama seminggu terakhir, pos pantau kerajaan kehilangan kontak secara total dengan para penjaga perbatasan. Ada anomali sihir gelap yang menguat secara tidak wajar di sana, menelan cahaya apa pun yang mencoba masuk."
Monica menatap peta tersebut dengan kening berkerut. Tangan kanannya secara refleks menggenggam erat tongkat sihir kayu cendana berhiaskan kristal safir miliknya. "Apakah ini sekadar monster liar yang bermigrasi karena perubahan musim, Tuan?"
"Kami sangat berharap sesederhana itu, Monica," jawab Alaric, matanya memancarkan kekhawatiran yang jarang sekali ia perlihatkan kepada murid-muridnya. "Namun, residu sihir yang tertiup angin sampai ke menara observatorium akademi menunjukkan pola yang terlalu terstruktur. Seseorang—atau sesuatu—sedang sengaja mengumpulkan pasukan bayangan. Tugas kalian adalah menyelidiki sumbernya, mengevakuasi penjaga yang mungkin tersisa, dan jika memungkinkan, memusnahkan ancaman tersebut sebelum menyebar turun ke pemukiman warga kota. Ingat, ini adalah misi resmi pertama kalian sebagai penyihir pelindung kerajaan. Nyawa kalian adalah taruhannya."
Reno meninju telapak tangannya sendiri, membunyikan buku-buku jarinya dengan keras. Armor peraknya berdenting pelan beradu dengan senjatanya. "Tenang saja, Kepala Sekolah. Pertahanan perisaiku tidak akan tertembus oleh monster bayangan kelas teri."
"Jangan terlalu gegabah, Reno," sahut Kazuma pelan dari sisi meja. Pemuda berambut biru itu tampak memperbaiki letak kacamatanya, menyembunyikan kilat cemas di matanya. "Api sihirku memang membakar apa saja, tapi kalau jumlah mereka tidak terbatas seperti yang dirumorkan, kita bisa kehabisan pasokan mana jauh sebelum mencapai inti hutan."
"Itulah gunanya kita bekerja sebagai sebuah tim yang saling melengkapi," sela Elena dengan senyuman yang selalu berhasil menenangkan suasana. Gadis berambut cokelat itu mengusap busur emasnya dengan lembut. "Aku dan Danis akan memastikan tidak ada musuh yang bisa menyelinap dari jarak jauh maupun yang bersembunyi di balik bayangan pepohonan."
Danis, yang sedari tadi duduk santai bertengger di ambang jendela batu, hanya memberikan kedipan mata cepat sambil memutar-mutar belati kembar di jarinya. "Serahkan urusan mengintai jalan padaku. Aku bisa bergerak jauh lebih senyap dari embusan angin malam."
Monica menarik napas panjang, menatap lekat satu per satu wajah sahabatnya. Tiga tahun berlatih keras bersama siang dan malam, tertawa dalam kelelahan, dan saling menutupi kelemahan masing-masing telah mengikat mereka lebih kuat dari sekadar teman satu angkatan. Bagi Monica, mereka berempat adalah keluarganya.
"Kami menerima misi ini, Kepala Sekolah," ucap Monica dengan nada tegas dan tak terbantahkan. Kuncir satu rambut hitamnya bergoyang ringan saat ia menundukkan kepala memberi hormat. "Tim Vanguard akan menyelesaikan tugas ini, menghancurkan sumber kegelapan itu, dan kembali ke sini dengan selamat."
Perjalanan darat menuju perbatasan utara memakan waktu dua hari penuh melintasi jalur pegunungan terjal. Ketika mereka akhirnya tiba di mulut Hutan Mistik menjelang senja di hari kedua, udara di sekitar mereka berubah drastis bagai ditarik ke dalam dimensi lain. Jika biasanya hutan itu memancarkan aura sihir alam yang menenangkan jiwa, kini yang tercium hanyalah bau belerang yang menyengat paru-paru dan aroma kebusukan sisa pertempuran. Kabut kelabu pekat setinggi lutut mengular pelan di antara pepohonan mati yang ranting-rantingnya tampak membeku seperti cakar melengkung ke langit malam.
"Ini sangat buruk," bisik Elena lirih. Matanya yang berwarna hijau zamrud memindai kegelapan di balik kabut tebal. Intuisi alaminya berteriak kencang memperingatkan akan bahaya besar yang mengintai di setiap sudut.
"Danis, periksa jalur di depan. Jangan bergerak terlalu jauh dari jangkauan pandanganku," perintah Monica tanpa ragu, langsung mengambil alih komando. Tongkat safirnya mulai berpendar biru redup, memberikan satu-satunya sumber pencahayaan di tengah kegelapan hutan yang mulai turun menyelimuti mereka.
Secepat kilat, sosok Danis melebur tanpa suara ke dalam bayangan pohon terdekat. Ia menghilang layaknya hantu. Keempat temannya maju perlahan dengan langkah waspada, membentuk formasi tempur solid. Reno berjalan paling depan dengan tameng raksasanya yang siap diangkat kapan saja, diikuti Monica di posisi tengah sebagai pusat komando, Kazuma di sisi kanan, dan Elena di sisi kiri dengan anak panah bersinar yang sudah bertengger kencang di tali busurnya.
Keheningan hutan itu terasa sangat menekan rongga dada. Tidak ada suara jangkrik yang mengerik, tidak ada kepakan sayap burung malam. Hanya ada suara gemerisik ranting kering yang remuk terinjak sepatu bot besi mereka.
Tiba-tiba, dari arah semak belukar di depan, Danis melompat keluar nyaris terjatuh. Napasnya memburu cepat, raut wajahnya pucat pasi—sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa bagi seorang pengintai selincah dan setenang dirinya.
"Monica, bersiaplah!" desis Danis sambil menghunus kedua belatinya dengan kuda-kuda merendah. "Ratusan dari mereka... tidak, mungkin lebih dari ribuan. Makhluk tanpa wajah, semuanya murni terbuat dari miasma bayangan padat. Mereka sadar kita ada di sini dan sedang merayap cepat menuju ke arah kita!"
Belum sempat Monica memberikan aba-aba lanjutan untuk mundur ke area terbuka, pekikan melengking yang memekakkan telinga merobek keheningan hutan. Dari balik kabut kelabu, ratusan pasang mata merah menyala muncul serentak bagai lautan api kecil. Makhluk-makhluk bayangan berwujud mengerikan seperti serigala cacat raksasa dan manusia bungkuk bertangan panjang merangkak beringas ke arah mereka, membawa aura kematian yang begitu pekat hingga membuat napas tercekat.
"Formasi pertahanan penuh, sekarang!" teriak Monica memecah kepanikan.
Reno langsung menancapkan ujung bawah tamengnya ke tanah bergemuruh. "Aegis Wall!"
Dinding energi transparan berbentuk setengah lingkaran langsung melengkung melindungi tim dari arah depan. Detik berikutnya, gelombang pertama monster bayangan menghantam perisai itu dengan kekuatan luar biasa keras, menimbulkan dentuman mengerikan. Bayangan-bayangan itu mencakar, menggigit, dan menggeram liar, mencoba menembus pertahanan magis Reno yang seketika mulai bergetar hebat menahan beban.
"Sekarang giliranmu, Kazuma!"
Tanpa membuang waktu, Kazuma melompat sigap ke atas pundak besar Reno, merentangkan kedua tangannya yang kini berkobar oleh sihir api merah menyala nan panas.
"Inferno Burst!"
Sebuah semburan api raksasa melesat dahsyat dari kedua telapak tangannya, bergulung-gulung bagai naga api dan menyapu bersih gelombang pertama musuh hingga menjadi abu hitam. Udara di sekitar mereka mendadak terasa panas menyengat, membakar sebagian kabut di udara.
Namun, pertarungan jauh dari kata selesai. Dari setiap debu musuh yang hancur, dua bayangan baru justru muncul merayap dari balik rimbunnya pohon. Mereka bergerak sangat gesit, memanjat batang pohon dan mencoba mengapit formasi tim dari sayap kiri dan kanan secara bersamaan.
Tali busur Elena bergetar cepat dengan bunyi desingan tajam.
"Piercing Light!"
Tiga anak panah bercahaya putih melesat sekaligus hanya dalam satu tarikan napas panjang, menancap sangat presisi tepat di dahi tiga monster yang mencoba menyergap Kazuma dari sisi buta di atas pohon. Di saat yang bersamaan, Danis menari lincah di antara kerumunan musuh terdekat. Belatinya menebas leher-leher bayangan dengan kecepatan mematikan, menjadikannya tameng pelindung tak kasat mata bagi titik-titik lemah pertahanan timnya.
Meski kelima sahabat itu mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka, jumlah musuh benar-benar seolah tak ada ujungnya. Tekanan energi gelap di hutan itu perlahan mulai menguras tenaga sihir mereka lebih cepat dari batas wajar. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Reno yang mati-matian menahan tamengnya. Monica, dengan ketajaman intuisinya, menyadari bahwa serangan sporadis tidak akan cukup untuk membalikkan keadaan.
Ia harus menghancurkan resonansi sihir yang mengikat kerumunan monster ini menjadi satu kesatuan.
Monica memejamkan mata sejenak, mengabaikan auman monster di depannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa fokus dan murni energi mana ke titik pusat kristal safir di ujung tongkatnya. Angin dingin tiba-tiba berpusar kencang di sekelilingnya, membuat jubah birunya berkibar hebat. Melalui mata batinnya, ia berhasil menangkap benang-benang energi hitam yang terhubung ke setiap monster di sekeliling mereka.
"Reno, buka perisaimu sepenuhnya dalam hitungan ketiga!" perintah Monica, suaranya menggema lantang membawa resonansi magis. "Satu... Dua... Tiga!"
Reno menarik tamengnya dengan paksa. Tepat pada detik kawanan monster itu meloncat buas menerkam mereka secara serentak, Monica membuka matanya yang kini menyala memancarkan pendar cahaya biru murni. Ia melompat ke depan, menghunjamkan ujung tongkat safirnya dengan keras ke permukaan tanah berbatu.
"Tidal Freeze: Absolute Zero!"
Gelombang kejut berwarna biru kristal es meledak dahsyat dari titik benturan tongkatnya, menyapu ke segala arah bagai badai badai salju dalam radius lima puluh meter. Suhu udara anjlok secara ekstrem ke titik terendahnya. Ratusan monster bayangan, baik yang sedang melayang menerkam di udara maupun yang tengah berlari merangkak di tanah, membeku seketika menjadi patung-patung es hitam legam dalam hitungan detik.
Keheningan mutlak kembali menyelimuti wilayah itu. Angin dingin berhenti berhembus.
Dengan satu jentikan jari Monica yang tenang, retakan merambat cepat di seluruh patung es tersebut. Detik berikutnya, ratusan monster itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu kristal yang berkilauan pucat di bawah cahaya bulan, musnah tersapu tanpa sisa.
Napas keempat sahabatnya memburu lega, lutut mereka nyaris goyah menatap takjub pada skala kehancuran dan kekuatan mutlak yang baru saja dilepaskan sang ketua tim. Namun Monica sama sekali tidak tersenyum. Wajahnya tegang menatap lurus ke kedalaman hutan yang masih gelap gulita. Di sana, dari arah lembah terdalam, ia bisa merasakan sebuah tekanan luar biasa berat mengurung hatinya. Sepasang mata purba yang sangat kuat baru saja terbuka akibat ledakan sihirnya, menatap buas menembus kegelapan malam langsung ke arah jiwanya. Sesuatu yang jauh lebih besar, lebih kuno, dan lebih mematikan dari sekadar boneka bayangan—seekor naga kegelapan yang tengah bersabar menanti langkah mereka selanjutnya.