Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Ibu itu memandangnya sebentar. “Amanda yang kamar ini?”
“Iya.”
“oh, Amanda sudah pindah.”
Dimas seperti tidak mengerti. “Pindah?”
“Iya. Tadi siang barang-barangnya sudah diangkut semua, kamarnya sudah kosong. Pindahnya juga dadakan, padahal sewa kamar kosnya masih sisa 3 bulan lagi sebelum habis.”
“Ke mana?”
Ibu itu mengangkat bahu. “Saya kurang tahu. Katanya ada urusan keluarga. Kali aja pulang kampung”
Dimas langsung melongo mendengar kata pulang kampung? Ke Jogja? . “Tapi... dia nggak bilang apa-apa?”
“Tidak.” Ibu itu kemudian pergi meninggalkannya.
Dimas masih berdiri di depan pintu yang kini tidak lagi memiliki alasan untuk dibuka. Ia mengeluarkan ponsel dan langsung menelepon Amanda. Sekali. Tidak tersambung. Ia mencoba lagi. Nomor yang dihubungi tidak dapat menerima panggilan. Dimas menatap layar ponselnya. “Nggak mungkin...”
Ia membuka pesan. Mengirim satu kalimat. [Kamu di mana?]
Tidak terkirim. Ia mencoba menelepon lagi. Tetap sama. Nomornya sudah tidak bisa dihubungi. Dimas memasukkan ponsel ke saku, kemudian mengetuk pintu kamar kosong itu sekali lagi, seolah Amanda mungkin tiba-tiba muncul hanya karena ia mengetuk lebih keras. “Man...”
Tidak ada jawaban. Baru saat itu Dimas merasa benar-benar sendirian. Tira sudah pergi. Amanda juga menghilang. Ia bahkan tidak tahu harus mencari Amanda ke mana. Selama ini perempuan itu selalu tersedia ketika ia membutuhkannya.
Sekarang, ketika Dimas benar-benar ingin mencarinya, tidak ada alamat, tidak ada telepon, bahkan tidak ada pesan terakhir. Dimas duduk di bangku kecil dekat tangga. Ia menundukkan kepala, kedua tangannya bertaut di antara lutut. "Yah Man, kok kamu tega banget sih sama aku!"
Pagi tadi Amanda mengusirnya. Sorenya ia bertemu Tira dan gagal membujuknya membatalkan pernikahan. Laku ia datang kepada Amanda, tetapi perempuan itu sudah pergi. Rasanya seperti semua pintu yang selama ini terbuka untuknya ditutup bersamaan.
Ponselnya kembali ia keluarkan. Ia membuka nama Tira, kemudian Amanda. Dua nama yang selama bertahun-tahun selalu ada dalam hidupnya. Sekarang keduanya sama-sama tidak bisa ia raih. Dimas tertawa kecil, tetapi suara itu terdengar hambar. “Hebat, Dim,” gumamnya kepada diri sendiri. “Delapan tahun punya dua perempuan di hidupmu, sekarang dua-duanya hilang.”
Ia menyandarkan tubuh ke dinding. Baru kali ini ia merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan takut Tira menikah. Bukan takut Amanda menikah dengan Arga. Ia takut mereka benar-benar bisa hidup tanpa dirinya. Sebab selama ini Dimas selalu yakin, sehebat apa pun pertengkaran mereka, pada akhirnya mereka akan kembali. Ternyata tidak. Amanda bahkan sudah pergi tanpa memberitahunya. Dan Tira sudah memilih lelaki bernama Fahri yang baru dikenalnya, lelaki yang berani datang membawa keluarganya untuk meminta Tira secara resmi. Dimas menutup wajah dengan kedua tangan. “Aku harus bagaimana sekarang?” Tidak ada yang menjawab. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar tidak punya tempat untuk pulang.
"Aghhhhhh, masa endingnya apes begini!" Dimas benar-benar frustasi. Setelah diusir, ditolak, sekarang ia benar-benar kehilangan. Ia merasa berat dengan ini semua. "Nggak adil banget, awas kalian berdua!" Dimas marah, kesal. Semuanya bercampur aduk, makanya ia hanya bisa menendang pintu kamar kosan Amanda keras-keras untuk melampiaskan emosinya. Bruk, terdengar suara yang cukup keras.
"Heh, ngapain lu!" tiba-tiba seorang mas-mas penjaga kosan keluar. "Lu mau ngerusak fasilitas kosan gue ya!" ia maju, mendekati Dimas, lalu menarik kerah bajunya Dimas. "Oh lu ... tadi pagi, gara-gara bertengkar sama lu, mbak Amanda keluar dari kosan ini. Memang sial lu ya!" penjaga kosan itu kesal pada Dimas yang membuat penghuni kosannya kamar. "Minggat nggak lu, kalau enggak gue bogem lu!"
"Iya iya, maaf Bang." Dimas menunduk, lalu buru-buru cabut dari tempat itu sambil mengumpat, memaki Amanda dan Tira.
***
Mendekati hari pernikahan, komunikasi Tira dan Fahri semakin sering. Bukan lagi sekadar bertanya, “Sudah makan?” atau “Sudah sampai rumah?”, melainkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah Tira pikirkan.
Jumlah undangan, susunan acara, katering, pakaian keluarga, sampai siapa yang akan menjemput penghulu. Anehnya, hampir semua urusan itu lebih banyak dipegang Fahri. Tira hanya menerima kabar, memberikan pendapat jika diminta, lalu mengangguk ketika Fahri mengatakan semuanya sudah diurus.
“Abang, memangnya nggak capek?” tanya Tira suatu malam saya Fahri kembali datang ke rumahnya untuk memberikan laporan.
“Ya ada capeknya juga.” jawab Fahri santai.
“Terus kenapa semuanya Abang yang urus? Kenapa nggak berbagi tugas sama aku?”
Fahri tertawa kecil. “Karena kalau dua-duanya sibuk, nanti malah nggak jadi nikah. Kamu kan sedang ada issue di kantor, fokus saja dulu supaya pas kita nikah semuanya sudah selesai jadi konsentrasi kamu nggak kebagi-bagu. Lagipula aku nggak ngerjain semua sendiri, Ayah dan ibu kamu kan banyak ngebantuin aku juga.”
“Baiklah, jadi aku akan jadi pengantin yang tau beresnya aja nih,” Tira mencoba berkelakar.
“Bukan begitu.”
“Terus?”
“Saya cuma tahu kamu gampang pusing kalau terlalu banyak yang dipikirkan.”
Tira menggeleng sambil tersenyum. “Sok tahu.”
“Sudah hampir sebulan kenal, masa saya nggak boleh tahu sedikit?”
Tira tidak membalas. Ia sendiri kadang masih merasa aneh memanggil lelaki itu Abang. Fahri bukan seseorang yang tumbuh bersamanya. Bukan teman kuliah. Bukan lelaki yang menemani masa mudanya. Bahkan beberapa bulan lalu nama itu sama sekali tidak ada dalam hidupnya. Namun sekarang, lelaki itu akan menjadi suaminya.
Hari itu adalah pertemuan terakhir mereka sebelum akad. Fahri meminta Tira menemuinya di sebuah rumah yang sejak awal tidak pernah mereka bicarakan.
Begitu turun dari mobil, Tira mengerutkan kening. “Kita di mana?”
Fahri hanya tersenyum. “Masuk dulu.”
Tira mengikuti langkahnya. Rumah itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman. Catnya masih baru. Halamannya cukup untuk menanam beberapa pohon kecil. Di bagian depan terdapat carport untuk satu mobil, sementara ruang tamunya masih kosong. Tidak banyak perabot. Hanya beberapa kardus yang tertata di sudut. Tira memandang sekeliling. “Rumah siapa?”
Fahri menyerahkan sebuah kunci kepadanya. “Rumah kita, eh tapi kalau kamu mau nikah sama aku lho ya.”
Tira tidak langsung mengambilnya. “Maksudnya?”
“Buat calon istri.”
“Buat calon istri berarti... aku?”
“Ya. Buat kita setelah menikah.”
Tira memandang kunci itu, kemudian memandang Fahri. “Abang beli rumah? Kapan?”
"Baru sepekan, memang dari dulu saya sudah punya rencana beli rumah ketika menikah.”
Tira masih belum bergerak. “Tapi kenapa nggak bilang?”
“Belum ada yang perlu diberi tahu.” Fahri memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Saya memang sudah menabung untuk rumah. Waktu Ayah menyampaikan tentang kamu, kebetulan rumah ini sedang ditawarkan. Saya cocok dengan lokasinya, jadi saya ambil.”
Tira akhirnya menerima kunci tersebut. “Abang serius?”
“Kalau soal rumah, saya biasanya serius.”