Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28. Arga buat bubur untuk lisna

Hari itu adalah hari kedua aku masih belum merasa sepenuhnya pulih. Demam memang sudah turun, namun nafsu makanku hilang sepenuhnya. Setiap kali melihat makanan yang berat, perutku terasa mual dan tak sanggup menelannya. Di rumah pun tak ada yang bisa kubuat selain minum air putih, dan aku tahu tubuhku butuh asupan agar cepat pulih. Namun entah kenapa, setiap kali sendok diangkat, rasanya tak bisa masuk ke mulut.

Sore itu, aku duduk di beranda depan rumahku, memeluk lutut sambil menatap jalanan yang sepi. Angin sore berhembus pelan, dan aku memejamkan mata sejenak, berusaha mengurangi rasa pening yang masih tersisa di kepala. Tiba-tiba suara motor berhenti pelan di depan pagar rumahku. Aku membuka mata dan mendongak, jantungku seketika berdebar kencang saat melihat sosok yang turun — Arga. Ia mengenakan jaket polos dan helm yang baru saja dilepas, di tangannya terdapat sebuah kotak makan yang tertutup rapat, dibungkus dengan kain agar tetap hangat.

Ia berjalan mendekat ke pagar, tersenyum lembut saat melihatku yang masih duduk diam memandangnya tak percaya. "Kau belum makan ya?" tanyanya pelan begitu aku membukakan pintu pagar. "Aku tadi lewat, dan sepertinya kau butuh sesuatu yang hangat dan ringan."

"Kak... kau ke sini? Sendiri?" tanyaku pelan, masih tak menyangka ia berani datang ke rumahku, padahal orang-orang di sekitar belum tahu hubungan kami. "Tak ada yang melihat kan?"

Arga tersenyum tipis, meyakinkanku. "Aku datang dengan sengaja saat jam di mana orang-orang sedang sibuk di dalam rumah. Tak ada yang melihat. Dan... aku tak bisa tenang kalau tahu kau belum makan. Tanpa makanan, tubuhmu tak akan kuat melawan sisa sakitmu."

Ia masuk sebentar ke ruang tamu, lalu meletakkan kotak makan itu di meja. Dengan hati-hati ia membukanya, dan uap hangat seketika mengepul keluar, membawa aroma yang sangat harum dan menenangkan. Di dalamnya terdapat bubur putih yang lembut dan kental, dengan sedikit taburan daun seledri dan potongan daging ayam yang empuk, serta sedikit kecap manis di pinggirnya. Terlihat sederhana sekali, namun terasa begitu hangat di hati.

"Ini... kau yang membuatnya?" tanyaku tak percaya, menatapnya lekat-lekat.

Arga mengangguk pelan, sedikit tersenyum malu. "Iya. Tadi pagi sebelum berangkat ke kampus, aku sempat menyiapkannya. Aku tahu kau sedang tak nafsu makan, jadi aku buat yang lembut dan tak berbau menyengat. Semoga cocok dengan lidahmu."

Mataku seketika berkaca-kaca. Aku tak pernah menyangka bahwa pria seperti Arga — yang setiap hari sibuk dengan tugas-tugas akademis, yang selalu terlihat tegas dan sibuk — ternyata punya waktu untuk bangun lebih pagi, menyiapkan bubur khusus untukku, bahkan mengingat bahwa aku tak suka makanan yang terlalu berbau tajam. Hal itu begitu kecil, namun begitu bermakna hingga rasanya hatiku terasa penuh sekali.

"Terima kasih, Kak..." suaraku tercekat, air mata bahagia hampir jatuh membasahi pipiku. "Tak ada yang pernah melakukan hal seperti ini untukku. Terima kasih sudah repot-repot membuatnya sendiri."

Arga duduk di kursi di hadapanku, matanya penuh kasih sayang. "Tak perlu berterima kasih, Lisna. Membuatkanmu makanan saat kau sakit itu bukan beban bagiku. Justru itu caraku merawatmu walau tak selalu di sisimu. Makanlah selagi masih hangat, ya. Nanti kalau sudah dingin rasanya tak enak lagi."

Ia mengambil sendok, mengaduk bubur itu pelan agar suhunya merata, lalu mengangkat sesendok penuh dan meniupnya pelan sebelum menyodorkannya ke mulutku. "Cobalah. Ini tak terlalu hambar, kan? Aku tambahkan sedikit garam dan penyedap yang ringan, biar ada rasanya tapi tetap aman untuk perutmu."

Aku membuka mulutku pelan, memakan sesendok bubur itu. Rasanya begitu lembut, hangat, dan sangat enak. Bukan karena bumbunya yang mewah, melainkan karena ada rasa kasih sayang yang tercampur di dalamnya. Setiap suapan terasa begitu menenangkan, seakan menyembuhkan bukan hanya tubuhku, tapi juga hatiku yang sedang merindukannya.

"Enak, Kak... sangat enak," ucapku tulus sambil tersenyum bahagia.

Arga tersenyum lega melihatku mau makan. "Syukurlah. Makanlah sampai habis ya, biar tubuhmu cepat pulih. Aku tak bisa tinggal lama di sini, takut ada tetangga yang lewat dan curiga. Tapi percayalah... setiap kali kau sakit, aku akan selalu berusaha ada di sini, walau hanya sebentar, walau hanya untuk memastikan kau makan dan minum dengan baik."

Ia menemaniku sampai aku menghabiskan setengah mangkuk, lalu berkata, "Sisanya simpan dulu, nanti kalau lapar lagi hangatkan. Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, ya. Dan besok kalau sudah lebih baik, datanglah ke kampus. Aku rindu melihatmu duduk di bangku depan dengan wajah ceria seperti biasa."

Sebelum pergi, ia menyentuh tanganku sekilas — sentuhan yang hangat dan penuh arti. "Cepat sembuh, Lisna. Untukku."

Aku mengangguk pelan, tak mampu berkata-kata lagi karena hatiku terlalu penuh dengan rasa bahagia dan syukur. Setelah ia pergi, aku duduk diam sebentar di ruang tamu, menatap kotak makan yang kosong sebagian itu. Bubur itu sederhana sekali, tak mewah, tak mahal. Tapi bagiku, itu adalah makanan terlezat yang pernah kualami. Karena di setiap sendoknya, ada kasih sayang yang tulus, perhatian yang tak pernah berlebihan namun selalu tepat, dan bukti bahwa Arga benar-benar mencintaiku — bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan yang paling sederhana namun paling menyentuh hati.

Sore itu aku menyadari satu hal: cinta sejati itu bukan tentang hal-hal yang megah dan menakjubkan. Seringkali cinta sejati itu ada di hal-hal yang paling sederhana — seperti semangkuk bubur buatan tangan sendiri, yang dibuat dengan perhatian penuh, dibuat khusus untuk orang yang dicintai, dan diberikan tanpa pamrih apa pun. Dan semangkuk bubur itu, akan selalu menjadi kenangan terindah di hatiku — kenangan tentang pria yang tak hanya memegang tanganku, tapi juga merawatku dengan sepenuh hatinya.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!