Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Bagaimana ini?" gumam Keira, kembali ke tempat berteduh.
"Keira, pakai ini dulu," ujar Keira, lalu mengeluarkan jas hujan plastik dari tasnya. Sebenarnya ia sudah menyiapkannya sejak tadi, ia tahu tubuhnya pasti akan sakit jika terkena hujan.
"Kau bagaimana?"
"Jangan pikirkan aku. Yang penting kau dulu."
Keira berjongkok membantu Keyna memakai jas hujan itu. "Bisa?" tanyanya.
"Bisa, bisa," jawab Keyna, akhirnya berhasil memakainya.
Namun sebelum itu, Keira melepaskan sepatunya dan memakaikannya ke kaki Keyna.
"Kenapa kau memberikannya padaku lagi?" Keyna terkejut.
"Kakimu bisa terluka duri kalau kita berjalan tanpa alas."
"Lalu kau?" Keyna kesal, merasa Keira lebih memikirkan dirinya sendiri daripada tubuhnya sendiri.
"Nanti saja kita bicara. Ayo jalan."
"Mau lanjut jalan?" tanya Keyna cemas. Hujan semakin deras. Bagaimana jika terjadi sesuatu di tengah hutan begini?
"Iya, nanti gelap. Jejak kita bisa hilang. Pegang erat-erat," jawab Keira, lalu menggendong Keyna kembali.
Sakit.
Keira berteriak dalam hati. Seluruh tubuhnya terasa lelah. Kakinya sakit karena memijak pecahan kaca, ranting, dan duri tanpa alas kaki. Ia juga tak tahu arah mana yang harus diambil, jejak mereka sudah hilang terhapus hujan.
"Keira, kau panas sekali," kata Keyna, merasakan suhu tubuh saudaranya yang semakin tinggi, padahal cuaca begitu dingin.
Tiba-tiba langkah Keira terhenti. Tubuhnya terjatuh ke tanah.
"Keira!" Keyna berteriak, hampir jatuh bersama sahabatnya.
"Maaf... membuatmu jatuh," ujar Keira pelan, disertai batuk-batuk yang semakin hebat.
"Keira..." Keyna panik melihat batuk Keira yang semakin parah hingga mengeluarkan darah.
"Aku tidak apa-apa. Ayo lanjut," Keira mencoba berdiri, namun kakinya tak kuasa menopang tubuhnya.
"Istirahat dulu saja."
"Tak bisa. Kita harus kembali. Aku tak mau kau terluka lagi."
"Keyna!" teriakan terdengar dari kejauhan, berulang-ulang.
"Keira, itu mereka! Teman-teman kita!" seru Keyna gembira. Mereka sedang berteduh di bawah pohon besar saat itu.
"Tak bisa..." jawab Keira lemah.
"Maksudmu? Tentu saja bisa! Ayo kita pergi!"
"Tak bisa. Lihat tanahnya... tanahnya longsor," ujar Keira dengan suara pelan.
"Kalau begitu, biar aku yang membantumu. Sekarang giliranku," kata Keyna tegas.
"Tinggalkan aku saja..."
"Kau gila?!" seru Keyna tanpa sadar, matanya membelalak tak percaya melihat tindakan Keira.
Dengan perlahan, Keira melepaskan genggaman tangan Keyna, lalu melangkah mendekati tebing batu yang curam di hadapan mereka.
Tanpa banyak bicara, ia berusaha membantu saudaranya naik ke atas, ia mendorong tubuh Keyna melewati bebatuan yang menjulang, menuju tempat yang lebih aman.
"Kau yakin kuat, Keira?" tanya Keyna ragu, suaranya bergetar.
"Iya, cepat cari ranting yang kuat di sekitar sana, lalu pegang erat-erat. Aku akan mendorongmu naik dengan tanganku," jawab Keira tegas, meski napasnya sudah mulai memburu. Ia tak lupa menggunakan kedua tangannya sebagai penopang, membiarkan Keyna menginjaknya untuk naik lebih tinggi.
Akhirnya, Keyna berhasil naik ke tempat yang lebih aman.
"Aku sudah naik. Sekarang giliranmu!" seru Keyna sambil mengulurkan tangannya ke bawah.
"Tinggalkan aku. Lari, jangan sampai kau kehilangan jejak kelompok yang lain," kata Keira dari bawah, suaranya terdengar lemah namun tegas.
"Tapi kau? Bagaimana denganmu?!" Keyna tak percaya, matanya berkaca-kaca.
"Aku tidak apa-apa," jawab Keira singkat, berusaha terdengar tenang.
"Baiklah, aku akan mencari bantuan dulu. Tunggu di sini, kau harus tetap kuat!" Teriak Keyna, lalu berbalik berlari sekuat tenaga mencari bantuan, berharap segera menemukan seseorang yang bisa menolong mereka berdua.
'Tak bisa... aku tak cukup kuat...'
Perlahan kesadarannya mulai memudar.