Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 : Menentukan nasib seseorang

Blair tidak langsung menjawab.

Matanya masih terpaku pada foto itu, terlalu lama untuk sekadar membaca. Lalu, tanpa peringatan, ia menghempaskan map tersebut ke sisi meja. Kertas-kertas di dalamnya bergeser, beberapa hampir terjatuh.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi dan menarik napas dalam, seolah mencoba menekan sesuatu yang hendak keluar dari dadanya.

Lucas tertegun.

“Blair—” ia membuka suara, ragu, namun kata-katanya terhenti saat Blair mengangkat wajah.

Tatapan gadis itu aneh. Bukan marah. Bukan bingung. Tapi kosong, namun tajam.

“Lucas,” katanya tiba-tiba. “kau percaya tidak, kalau aku...sebenarnya bukan Hakim Blair?”

Ucapan itu membuat udara di ruangan membeku.

Lucas diam terlalu lama. Ia menggeleng pelan, seakan mencoba mengusir kalimat barusan dari kepalanya, lalu mengangguk tanpa sadar, gerakan refleks yang bahkan ia sendiri tidak pahami.

Blair melihatnya, namun tidak menegur.

Ia tidak melanjutkan pembicaraan. Keheningan kembali turun, berat dan menekan. Lucas menelan ludah, jantungnya berdegup tidak nyaman.

“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya. “Blair… apa yang sedang kau bicarakan?”

Blair terdiam sejenak. Lalu ujung bibirnya terangkat.

Tawa kecil keluar dari tenggorokannya pelan, singkat, tanpa kehangatan. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menyilangkan kedua tangannya di atas meja. Kepalanya dimiringkan sedikit saat menatap Lucas, seolah sedang menilai sesuatu yang rapuh.

“Kau ingat...” katanya lirih, “pertama kali kau bilang, apa tugasku di sini?”

Lucas mengerutkan kening.

“Aku—aku bilang… kau menentukan nasib seseorang.”

Blair terkekeh lagi. Kali ini lebih jelas.

“Benar,” katanya. “Menentukan nasib... seseorang”

Ia berhenti sejenak, menatap jari-jarinya sendiri sebelum kembali menatap Lucas.

“Tapi kau salah satu hal.”

Lucas diam, menunggu.

“Aku bukan hanya menentukan nasib mereka,” lanjut Blair pelan. “Tapi juga menimbang apakah mereka layak diselamatkan… atau dibiarkan hancur oleh keputusan mereka sendiri.”

Nada suaranya tetap tenang, namun ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang membuat tengkuk Lucas terasa dingin.

Ia membuka mulut untuk bicara, tetapi Blair sudah lebih dulu bersandar kembali ke kursinya. Tatapannya kembali jatuh ke map di atas meja.

“Besok,” katanya singkat, “aku akan memimpin sidang ini.”

Lucas mengangguk pelan, meski pikirannya masih tertinggal pada kalimat sebelumnya.

“Dan Lucas,” Blair menambahkan tanpa menoleh, suaranya kembali datar, nyaris dingin,

“jangan pernah bertanya siapa aku sebenarnya… kalau kau belum siap mendengar jawabannya.”

Ruangan kembali sunyi.

Lucas tidak mengatakan apa pun lagi.

Kata-kata Blair barusan terasa terlalu dalam, terlalu kabur untuk dipahami, namun cukup tajam untuk membuatnya memilih diam. Ia hanya berdiri di tempat, menatap gadis itu dari balik meja dengan perasaan tidak nyaman.

Sementara itu, Blair kembali memusatkan perhatiannya pada berkas di hadapannya. Tatapannya tajam, tak berkedip, seolah kertas-kertas itu bukan sekadar laporan hukum, melainkan sesuatu yang sedang mengujinya secara pribadi.

Keheningan menekan ruangan.

Lalu—

Tok. Tok.

Ketukan di pintu memecah segalanya.

Lucas dan Blair menoleh serentak.

Dalam sekejap, ekspresi gelap di wajah Blair menghilang. Bahunya diluruskan, sorot matanya kembali dingin dan terkontrol. Ia menurunkan tangannya ke atas meja sebelum membuka suara.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Seorang pria mengenakan setelan jaksa melangkah masuk. Begitu melihat Blair duduk di kursinya, ia langsung menunduk hormat.

“Yang Mulia.”

Blair mengangguk singkat.

“Ada keperluan apa sampai Anda datang ke ruangan saya?”

Jaksa itu terdiam sesaat, seolah menimbang kata-katanya. Tangannya menggenggam map tipis yang ia bawa.

“Saya datang karena ada laporan mendadak dari kepolisian,” ujarnya akhirnya. “Terkait sidang yang akan Anda pimpin besok.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!