Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Kabar mengenai histeria dan kemarahan meledak-ledak Savea di Sayap Barat menyebar bagaikan api menyambar jerami kering di seluruh penjuru Istana Blackwood. Gosip itu merayap cepat dari mulut ke mulut di antara para pelayan, hingga akhirnya menembus dinding-dinding kokoh Kediaman Utama—kediaman megah tempat Raja dan Ratu bertakhta.

Di dalam salon pribadi yang mewah dengan interior berhiaskan emas dan perak, Yang Mulia Ratu Baxeena duduk anggun di kursi berpelapis beludru. Cangkir porselen berisi teh herbal hangat menggantung di jemarinya yang berhiaskan cincin permata.

Di hadapannya, seorang pelayan senior menunduk dalam-dalam, mengabarkan peristiwa memalukan di mana Savea memaki-maki Ava, pengasuh muda Pangeran Ocean, di tempat terbuka dan menuduhnya sebagai penggoda Arthur.

Ratu Baxeena menghembuskan napas panjang, meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan denting halus. Wajahnya yang tenang dihiasi raut lelah yang mendalam.

Entah kesalahan apa yang sebenarnya telah diperbuat oleh putra tunggalnya, Arthur, hingga berkali-kali memicu kemarahan gila dari Savea. Namun, sebagai seorang Ratu yang bijaksana, Baxeena menolak untuk ikut campur terlalu jauh ke dalam ranah domestik rumah tangga putranya. Ia mengenal betul tabiat Arthur sejak kecil.

Pria tegap yang dibesarkan dalam disiplin militer yang ketat itu tidak mungkin melakukan hal sehina itu—berselingkuh dengan seorang pelayan di halaman istana.

Ratu Baxeena menatap pelayan kepercayaannya, lalu bersuara halus namun tegas, "Panggil Arthur kemari untuk menemuiku sekarang."

"Baik, Yang Mulia Ratu," jawab pelayan itu patuh.

Baxeena kembali menghela napas. Ia merasa perlu memberikan nasihat hangat seorang ibu kepada putranya.

Pernikahan Arthur dan Savea memang tampak tidak harmonis sejak awal, dan di tengah kondisi pangeran mungil—Ocean—yang mungkin masih sering rewel, Savea pasti merasa kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya. Baxeena hanya ingin Arthur sedikit lebih bersabar menghadapi tabiat istrinya demi menjaga kedamaian istana.

•••

Sementara itu, di lorong tenang Sayap Barat, pelayan utusan Ratu Baxeena melangkah cepat menuju kediaman Arthur. Pria tegap itu baru saja hendak memasuki ruang kerjanya setelah menyelesaikan urusannya di kamar Ocean.

"Pangeran Arthur," panggil pelayan kerajaan itu seraya membungkuk hormat sembilan puluh derajat. "Yang Mulia Ratu Baxeena memanggil Anda untuk segera menghadap di Kediaman Utama."

Arthur menghentikan langkahnya. Rahangnya menegang tipis, namun ia hanya mengangguk dingin. "Baiklah. Katakan pada Ibu, aku akan segera ke sana."

Dari sudut lorong yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Snow melangkah pelan sembari membawa pakaian bersih untuk Ocean. Langkahnya terhenti saat mendengar pemanggilan tersebut.

Dari jauh, sepasang mata bening Snow menatap lurus pada sosok Arthur. Ada pendar kecemasan, kebingungan, dan pertanyaan tersirat di dalam pandangannya melihat kedatangan utusan dari Kediaman Utama.

Arthur seakan mengerti maksud dari tatapan dalam wanita itu. Sebelum melangkah pergi, Arthur membalas tatapan Snow, mencoba menyalurkan sinyal ketenangan melalui binar matanya—sebuah pesan tanpa kata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, demi Tuhan... setiap kali Arthur menatap langsung ke dalam manik mata Snow, rasa bersalah dan perasaan hina melahap jiwanya. Arthur merasa dirinya sangat pengecut. Pria yang memimpin pasukan tempur di medan perang ini justru bersikap penakut, menyembunyikan wanita yang teramat sangat dicintainya di balik status 'ibu susu' yang rendah.

Ia ingin berteriak kepada dunia bahwa Snow adalah miliknya. Namun, jika ia mengakui hal itu sekarang secara impulsif, skandal raksasa akan mengguncang dan menghancurkan Kerajaan Blackwood.

Terkecuali... aku menceraikan Savea, batin Arthur menjerit kesakitan.

Namun, bagaimana caranya menceraikan Savea tanpa harus membongkar rahasia besar Miliknya?

Di mata publik dan hukum kerajaan, Savea adalah istri sahnya. Dan yang paling menyiksa benak Arthur: Pangeran Ocean—putra mahkotanya—lahir dari rahim Savea melalui prosedur medis resmi. Mengabaikan Savea berarti menaruhkan masa depan dan legalitas anak yang amat dicintainya itu.

Arthur melangkah pelan menyusuri lorong. Saat posisinya berjalan sedikit melewati Snow yang berdiri kaku di tepi dinding, langkah Arthur mendadak melambat.

Dengan mata yang perlahan berkaca-kaca, dipenuhi oleh kepedihan dan rasa cinta yang menyesakkan dada, Arthur memalingkan wajahnya sedikit, menatap tepat ke dalam mata Snow.

Deg.

Jantung Snow berdegup kencang secara mendadak. Ia tertegun, terpaku di tempatnya berdiri. Tatapan mata Arthur yang basah dan rapuh menghantam dadanya begitu kuat. Ada luka yang begitu dalam terpancar dari pria gagah itu—sebuah tatapan yang belum pernah Snow lihat selama mereka kembali bertemu di istana ini.

Ada apa dengannya? Kenapa dia menatapku seperti itu? batin Snow bertanya-tanya, napasnya tertahan di tenggorokan.

Namun, Snow tidak mungkin melontarkan pertanyaan itu secara terbuka. Koridor tempat mereka berdiri dipenuhi oleh lalu lalang pelayan dan pengawal kerajaan yang mengawasi setiap pergerakan.

Snow hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membiarkan Arthur melangkah pergi meninggalkannya menuju Kediaman Utama dengan punggung tegap yang tampak memikul beban seberat bumi.

Begitu sosok Arthur menghilang di belokan koridor utama, Snow melangkah cepat menuju kamar Ocean. Setelah meletakkan lipatan kain bersih di atas meja, ia berjalan mendekati jendela kaca yang menghadap langsung ke arah pelataran Kediaman Utama.

Pikirannya melayang jauh, dipenuhi oleh rasa penasaran yang membakar ulu hatinya. Tatapan mata Arthur yang berkaca-kaca tadi terus berputar di dalam kepalanya bagaikan bayangan gelap.

"Kenapa dengan tatapan itu, Arthur?" bisik Snow amat pelan pada dirinya sendiri. Jemari tangannya meremas tepi kain gorden sutra dengan erat.

Sensasi getaran di dadanya tak kunjung surut. Pria sekeras dan setangguh Arthur tidak akan pernah membiarkan air mata tergenang di matanya tanpa alasan yang teramat dahsyat.

Apakah terjadi sesuatu di Kediaman Utama? Apakah Savea telah melangkah terlalu jauh dan membocorkan hal yang membahayakan? Atau... apakah Arthur mulai menyadari kerumitan benang takdir yang melilit mereka bertiga?

Snow memandangi lanskap istana yang megah di luar sana. Rasa ingin tahunya kini bercampur dengan kewaspadaan yang makin tajam.

Apapun yang sedang terjadi antara Arthur dan ibunya hari ini, Snow tahu bahwa pusaran konflik di Istana Blackwood bergerak makin cepat—dan ia harus siap menghadapi badai apa pun yang akan meledak selanjutnya.

°°°

Di balik bayangan pilar granit yang menjulang di sudut lorong Sayap Barat, sepasang mata mengamati seluruh pergerakan itu dengan saksama sejak fajar menyingsing.

Mata itu milik Eve—pengasuh setia Pangeran Ocean yang pagi tadi menjadi korban amukan dan makian histeris Savea. Perempuan berusia Tiga Puluh tahun itu masih berdiri mematung, meremas jemari tangannya yang dingin di balik lipatan gaun kerjanya.

Sebagai sosok yang telah mengasuh Ocean sejak bayi mungil itu baru berusia satu hari, Eve mengenal betul setiap sudut, ritme, dan kebiasaan yang berlaku di kediaman ini.

Selama dua bulan memegang tanggung jawab atas Ocean, Eve sangat paham bagaimana tabiat sang majikan.

Pangeran Arthur adalah sosok yang amat dingin, berjarak, dan irit bicara. Jangankan bersikap ramah, menyapa Eve secara pribadi pun hampir tak pernah dilakukan sang Duke.

Jika pria itu berkunjung untuk melihat Ocean, Arthur hanya akan berdiri kaku di samping boks bayi, memandangi putranya dalam diam, atau sekadar meminta Eve menyerahkan sang bayi secara formal tanpa banyak interaksi.

Sebab itulah, pemandangan pagi tadi saat Arthur berdiri di pelataran Sayap Barat terasa bagaikan pertanda kiamat bagi Eve.

Kecanggungan di antara Arthur dan Snow memang ada, sangat jelas dan teraba di udara pagi yang dingin. Namun, sebagai wanita yang lebih tua dari Snow dan kenyang pengalaman mengamati dinamika manusia, Eve tidak bisa dibohongi oleh insting alaminya.

Ada keanehan yang begitu kentara. Pria setangguh dan sesempurna Arthur, yang biasanya tak tersentuh oleh siapa pun, memperlihatkan tatapan yang sama sekali berbeda saat sepasang matanya terkunci pada Snow.

Itu bukan tatapan seorang tuan kepada ibu susu Putranya. Itu adalah tatapan sarat kerinduan, kepemilikan yang mendalam, dan luka yang tersembunyi rapat.

Eve menyenderkan punggungnya pada dinding marmer yang dingin, menghela napas pelan. Hatinya yang tulus dan penuh kepedulian mendadak diliputi rasa iba. Ia tahu betul betapa mengerikannya hidup di bawah bayang-bayang nyonya Savea yang impulsif dan penuh prasangka.

Pagi tadi, dirinya sendiri diserang dan dituduh secara keji tanpa alasan yang masuk akal.

Namun kini, menyaksikan bagaimana tatapan mata Arthur yang berkaca-kaca sempat tertumpu pada Snow sebelum melangkah menuju Kediaman Utama, Eve makin yakin bahwa ada rahasia besar yang sedang menyelimuti istana ini.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!