Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 - kenangan masa lalu

Rizki dan Hana sedang membicarakan hal serius, membuat suasana menjadi hening.

"sayang, kamu sudah membujuk ibu mu?" tanya Hana. "Kapan kamu akan melamar aku? Kita sudah 4 tahun pacaran, orang tua ku terus membicarakannya."

"Kamu sabar dulu ya, Han," jawab Rizki. "Kondisi ibu sedang tidak baik. Nanti mas yang akan membujuk ibu. Kamu tenang saja, mas pasti akan menikahimu. Kamu sabar sedikit ya."

"Ya sudah, janji ya..." ucap Hana.

Hana berpikir dalam hati: "Kenapa wanita tua itu menghalangi aku dan Rizki? Seandainya dia mati aja kemarin, biar kami bisa berdua tanpa ada yang menghalangi."

Di dalam mobil, suasana kembali tenang.

"Kamu mau jenguk ibu ngga?" tanya Rizki.

"Yaudah, aku mau, mas," jawab Hana.

"Yaudah, kita mampir ke rumah sakit sebentar ya," kata Rizki.

Hana merasa malas bertemu dengan orang tua Rizki. "Malas sekali. Pasti ibunya tidak suka dengan aku. Malas banget harus menjenguk orang tua yang cerewet itu."

Sesampainya di rumah sakit, Ibu Rizki sudah berada di kamar rawat. Saat Maya melihat anaknya datang bersama wanita itu lagi, raut wajahnya seketika berubah menjadi tidak senang.

Rizki mendekat dan menyapa ibunya.

"Ibu... bagaimana keadaan Ibu? Maaf Rizki baru sempat datang menjenguk."

"Ibu, ada Hana juga di sini. Dia ingin ikut menjenguk Ibu," tambahnya.

"Iya..." jawab Maya singkat.

Hana maju membawa bingkisan buah, namun bisa dirasakan dari tatapan Ibu Rizki bahwa wanita itu sama sekali tidak senang akan kehadirannya.

"Iya, Tante... semoga Tante cepat sembuh ya," ucap Hana berusaha bersikap manis, berusaha mencari perhatian Maya.

Namun, Maya hanya menatapnya dingin.

"Iya..." jawabnya ketus. "Ngapain kamu ke sini?"

Suaranya meninggi penuh kebencian. "Masih berani-beraninya kamu mendekati anak saya...?"

"Sudah lah, Ma... Ibu tidak perlu bersikap seperti itu. Hana itu baik, dia memang tadi mau ikut menjenguk Mama," ucap Rizki mencoba melerai.

Namun Maya tetap teguh pada pendiriannya, suaranya bergetar menahan emosi.

"Tapi Mama itu tidak suka sama dia! Kamu paham tidak, Rizki? Mama sama sekali tidak setuju kalau kamu masih berhubungan dengan wanita itu!"

"Kamu itu tidak mengerti perasaan Mama," ucapnya dengan nada penuh penekanan. "Dia itu sama saja seperti ibunya... tidak ada satu pun hal yang baik pada diri mereka, Rizki."

"Masih banyak wanita lain di dunia ini, Rizki. Kenapa kamu harus memilih anak perempuan seorang perusak rumah tangga itu?"

Rizki menghela napas panjang, berusaha menenangkan. "Mama, sudah lah... jangan dibahas. Mama sedang sakit, jangan bahas-bahas masa lalu lagi."

Namun Maya tetap tak tergoyahkan, emosinya meluap. "Mama tidak suka dia, Rizki! Suruh dia keluar dari sini sekarang juga!"

Rizki menuntun Hana keluar dari kamar rawat ibunya, suasana terasa berat dan canggung.

"Lihat kan... Ibu kamu itu benar-benar tidak suka sama aku, Riz," keluh Hana dengan suara bergetar. "Dia benci banget sama aku. Sudah apa pun aku usahakan, tetap saja dia tak pernah suka padaku."

"Kamu yang sabar ya... Mama itu hanya sedang emosi saja," hibur Rizki lembut.

Hana menunduk pilu. "Mungkin... aku memang tidak pantas bersamamu."

"Kamu pantas kok, Han," jawab Rizki tegas. "Jangan dengarkan ucapan Mama tadi. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kita pulang sekarang."

Hana menatap punggung Rizki di depannya dengan perasaan mendongkol. Dasar wanita tua yang menyebalkan! batinnya menggerutu. Padahal aku sudah bersusah payah datang ke sini, tapi balasannya malah dihina habis-habisan.

Rizki berjalan sambil merenung dalam hati. Ia paham betul alasan di balik ketidaksukaan ibunya terhadap Hana—karena dulu ibu Hana pernah merebut hati ayahnya, kejadian yang membuat ibunya sempat sangat tertekan dan tak henti-hentinya memikirkannya.

Di kamar, Indah sedang memegang ponselnya saat tiba-tiba notifikasi pesan masuk berdering. Pengirimnya Daffa.

Ping... Ping...

Daffa: Dah? Belum tidur kan?

Indah: Iya, kenapa?

Daffa: Lu ada waktu nggak hari Minggu? Temenin gue ke acara pameran.

Indah: Minggu ya? Hmm... kosong si gue.

Daffa: Yaudah, temenin gue ya.

Indah: Iya.

Sebenarnya Daffa sengaja mencari berbagai alasan, sekecil apa pun, hanya agar bisa terus menghabiskan waktu bersama Indah. Baginya, kehadiran wanita itu jauh lebih berharga daripada sekadar sahabat—Indah adalah sosok yang mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya.

Hubungan mereka begitu dekat dan akrab, hingga tak sedikit orang yang melihatnya mengira bahwa mereka sedang berpacaran.

Daffa sebenarnya telah lama menyimpan rasa di hati untuk Indah. Namun, baginya terasa begitu sulit untuk meluapkan isi hatinya secara terang-terangan. Ia takut jika ia menyampaikannya, Indah akan menolak perasaannya. Meski begitu, ia tidak bisa terus berada dalam ketidakpastian ini.

"Aku harus mendapatkan kepastian," tekadnya dalam hati. "Aku akan berusaha sekuat tenaga. Semoga saja... semoga Indah benar-benar bisa menjadi milikku."

Daffa teringat kembali, perasaannya pada Indah sebenarnya sudah tumbuh sejak masa SMA. Ia begitu menyukai wanita itu—selalu bercanda bersama, pergi ke mana pun beriringan—namun hingga kini ia tak pernah mampu meluapkan isi hatinya.

Ketakutan akan penolakan begitu besar di hatinya. Bagaimana jika Indah menolak perasaanku? batinnya gelisah. Atau yang lebih menyakitkan... bagaimana jika dia justru menjauhiku setelahnya? Aku takut sekali menghadapi kemungkinan itu.

Indah menatap pesan di layar ponselnya dengan rasa heran.

Tumben sekali dia mengajakku ke pameran... Padahal biasanya Daffa itu tidak terlalu suka tempat seperti itu. Aneh banget kelakuannya, batinnya bergumam penuh tanda tanya.

Sebenarnya, jika dipikir-pikir, biasanya akulah yang paling antusias pergi ke pameran—menikmati melihat karya-karya ternama sambil sekaligus belajar. Namun rasanya begitu tiba-tiba mendengar Daffa yang kini justru mengajak dan seolah menyukai tempat itu.

Terdengar suara panggilan Mama dari bawah.

"Sayang, ayo turun makan malam! Papa sama Mama sudah menunggumu."

"Iya, Mah... sebentar, Indah turun sekarang," jawabku.

Sambil berjalan menuruni tangga, aku mendengar percakapan mereka.

"Anak itu sudah dewasa, tapi masih saja disuruh makan seolah anak kecil," ucap Papa.

"Siapa suruh Mama memanjakannya," balas Mama.

"Kamu ini selalu membela anakmu, padahal dia sudah dewasa," canda Papa lagi.

"Pah... Mama sebenarnya ingin sekali punya cucu dari Indah," kata Mama dengan nada harap. "Tapi Indahnya belum juga menikah."

"Sabar saja, Mah. Nanti juga dapat jodohnya," hibur Papa.

Aku tiba di meja makan dan menyela sambil tersenyum, "Kalian seru banget mengobrolnya... Pasti sedang membicarakan aku, kan?"

Mama mengangguk jujur. "Iya, kita sedang membicarakanmu, Indah. Mama ingin sekali punya cucu. Rumah ini terasa terlalu sepi. Lagipula, kamulah anak satu-satunya Mama."

"Ya ampun, Mama... bahasannya menikah terus. Jodohnya saja belum ada," keluhku sambil duduk.

Papa ikut tertawa, "Itulah dia. Biarkanlah anaknya menikmati masa mudanya, jangan disuruh menikah terus-terusan."

"Lihat kan, Papa saja mendukungku," ucapku lega. "Mama ini buru-buru sekali..."

Wajah Mama tampak sedikit kecewa namun tetap beralasan. "Soalnya teman-teman Mama yang seusia, anak-anaknya sudah banyak yang memberikan cucu. Mereka sering pamer, jadi Mama juga ingin merasakannya."

Aku hanya menggeleng kecil sambil tersenyum. "Mama ini ada-ada saja... masih saja termakan ucapan orang lain."

"Iya benar, anak Mama ini kan cantik, pasti banyak sekali laki-laki yang menaksirnya," ucap Mama penuh yakin dan bangga.

"Oh iya, ... Indah dengar-dengar kabar Tante Maya masuk rumah sakit, ya?" tanyaku beralih topik.

"Iya, Sayang. Kemarin dia kena serangan jantung dan harus segera dioperasi," jawab indah.

"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku lagi dengan cemas.

"Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik," jawab indah lega.

"Syukurlah kalau begitu," ucapku.

Mama melanjutkan pertanyaannya, "Kamu tahu kan anaknya Tante Maya itu?"

"Iya, tahu. Rizki, kan?" jawabku yakin.

"Menurutmu... bagaimana pendapatmu tentang dia?" tanya Mama tiba-tiba.

"Ih, Mama... kok tiba-tiba bahas dia?" tanyaku sedikit terkejut.

"Dia itu anaknya Tante Maya, sudah mapan dan ganteng juga lho," ujar Mama memuji.

"Kamu... tidak suka sama dia?" tanyanya lagi penuh harap.

"Ya ampun, Mama ini..." keluh ku sambil tersenyum kaku. "Lagipula ada tuh... mana mungkin dia mau sama aku. Dia itu sekarang orang yang sudah ternama, Mah."

"Anak Mama ini juga cantik, pintar, dan sudah jadi dokter pula," ucap Mama membanggakan putrinya.

Indah hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Mama ini ada-ada saja pemikirannya..."

Suasana meja makan sejenak hening sebelum Indah melanjutkan dengan nada lebih lembut dan tulus.

"Sebenarnya... dari dulu aku memang suka sosok Rizki. Waktu kita masih kecil, dia anak yang sangat baik. Dulu saat bermain bersama, hubungan kita begitu akrab dan hangat. Hanya saja... semenjak kita tumbuh dewasa, komunikasi kita tidak lagi sedekat dulu."

Aku teringat kenangan masa kecil bersamanya, saat kami berusia tujuh tahun dan masih tinggal di satu kompleks perumahan yang sama.

*"Indah, ayo kita main di sini!" ajaknya ceria.

"Tunggu Rizki... jalannya jangan terlalu cepat," seruku mengejar.

"Ayo, coba kejar aku!" tantangnya riang.

Namun terburu-buru, aku tersandung dan terjatuh. Bruk!

Rizki yang melihatnya langsung panik dan segera bergegas menolongku.

"Kamu ini, hati-hati ya jalannya, Putri Manis," ucapnya lembut sambil menatapku khawatir.

"Iya, tidak apa-apa kok, tidak sakit," jawabku berusaha tegar.

"Sini, biar aku obati," katanya sigap. "Aku pasangkan plester bentuk hati ya... biar kamu cepat tidak sakit lagi."

 

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!