kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi harinya di suite hotel bintang lima, cahaya matahari menerobos masuk dari sela-sela gorden tipis, menyiram barang-barang bermerek yang berserakan di atas karpet bulu. Hazel menggeliat perlahan, tersenyum puas membayangkan kehidupan barunya.
Namun, ketenangan itu hancur seketika saat terdengar suara klak keras dari arah pintu utama, diikuti dentum bel beruntun yang memekakkan telinga.
Hazel berdecak kesal. Menggunakan jubah mandi mewahnya, ia berjalan gusar dan membanting pintu suite.
"Gila ya, jam segini sudah bikin ricuh?!" sembur Hazel murka.
Tetapi kata-katanya terhenti di tenggorokan. Di depan pintunya, berdiri tiga manajer hotel berseragam rapi diapit empat petugas keamanan bertubuh tinggi besar. membuat jantung Hazel merosot tajam ,, salah satu dari rombongan tersebut berdiri santai dengan senyum manis nan dingin.
"Nona Hazel," ujar Manajer Hotel tanpa senyum sedikit pun. "Kartu kredit yang Anda gunakan untuk pemesanan kamar dan seluruh transaksi belanja di fasilitas hotel kami telah ditolak oleh sistem perbankan. Kartu tersebut terindikasi menggunakan akun jaminan bodong yang saat ini sudah diblokir total."
Wajah Hazel mendadak pucat pasi. "N-nggak mungkin! Kartu itu milik Mr. R! Kalian tahu siapa saya?!"
salah satu pria tegap itu melangkah maju, memamerkan selembar dokumen pengambilalihan aset di hadapan wajah Hazel.
"Mr. R yang kamu maksud sudah kabur melarikan diri sejak semalam karena penipuan investasi, Nona Hazel," bisik pria tersebut santai. "Dan seluruh barang belanjaan mewah yang kamu beli menggunakan fasilitas jaminan utang tersebut... sudah disita penuh oleh pihak eksekutor hukum."
Belum sempat Hazel memproses syoknya, dua petugas keamanan langsung melangkah masuk ke dalam kamar, mengangkut seluruh tas bermerek, perhiasan, hingga gaun-gaun mahal yang baru dibeli Hazel kemarin.
"TIDAK! JANGAN AMBIL BARANG-BARANGKU!" jerit Hazel histeris, mencoba merebut kembali tas kulit mewahnya.
"Nona Hazel," pangkas Manajer Hotel tegas, memberi isyarat agar petugas keamanan menahan Hazel. "Karena Anda tidak bisa membayar biaya suite dan seluruh fasilitas yang sudah digunakan, pihak manajemen memutuskan untuk menolak pelayanan. Semua barang bawaan Anda ditahan sebagai jaminan kerugian hotel."
Petugas keamanan melempar pakaian lusuh yang dipakai Hazel saat baru datang kemarin tepat ke hadapannya.
"Anda diberi waktu lima menit untuk berganti pakaian dan segera angkat kaki dari area hotel ini secara sukarela," lanjut Manajer Hotel tanpa belas kasihan. "Jika tidak, kami akan menyeret Anda keluar ke jalanan."
Dengan tangan gemetar dan tangis yang pecah, Hazel terpaksa melepas jubah mandi mewahnya dan berganti pakaian lusuhnya kembali. Tanpa membawa satu pun barang bermerek, tanpa uang sepeser pun di dalam dompetnya, Hazel digiring dan diusir keluar melewati pintu belakang hotel.
Gadis yang semalam merasa menjadi ratu itu kini berdiri tertegun di tepi jalanan raya, di bawah terik matahari, dengan rambut berantakan dan wajah sembap,.benar-benar terlunta-lunta tanpa tujuan.
"Kenapa jadi begini....Mama.... tolong Hazel mah!.
Matahari siang membakar terik jalanan Jakarta. Hazel melangkah terhuyung-huyung di atas trotoar yang panas, mengenakan pakaian lusuh yang sama persis saat ia kabur , Tenggorokannya kering, kakinya lecet terbungkus sepatu hak tinggi, dan kedua tangannya kosong melompong, tak ada lagi tas bermerek atau perhiasan berkilau yang menyertainya, hanya Ada ponsel sederhana pemberian manager hotel tadi, karena ponsel mewah miliknya juga di sita.
Rasa lapar dan dahaga yang hebat memaksa Hazel menepi di area perempatan jalan yang ramai, mencari deretan warung makan tepi jalan untuk sekadar menumpang duduk di bawah bayangan pohon.
Namun, baru saja Hazel mengusap keringat di dahinya, pendengarannya ditampar oleh suara ratapan yang sangat ia kenali dari balik pos satpam kosong dekat warung makan.
"Gara-gara anak tidak tahu diri itu! Semuanya habis, Faris! Kita mau makan apa hari ini..., sisa yang kita habis di ambil preman?!" suara Anggun melengking parah, parau bercampur isak tangis yang frustrasi.
"Diam kamu, Anggun! Jangan menambah pusing kepalaku... Ini juga karena kebodohan putrimu itu!" bentak Faris dengan nada serak dan penuh keputusasaan.
Hazel membeku di tempatnya. Ia memberanikan diri mengintip ke balik tembok pos satpam.
Di sana, di atas kain spanduk bekas yang tergelar di tanah, Faris dan Anggun duduk. Pria yang dulu selalu tampil klimis berjas mewah itu kini tak terurus ,kemejanya lusuh penuh noda tanah, sementara wajahnya kusam berwajah kotor. Anggun tak kalah mengenaskan, gaun mewahnya sudah koyak di beberapa bagian, rambut sanggulnya berantakan, dan wajah nya kini belepotan debu jalanan. Di dekat mereka, hanya ada satu koper pakaian yang sudah penyok.
"Mama...? Papa...?" bisik Hazel parau, matanya membelalak tak percaya.
Faris dan Anggun mendadak menoleh patah-patah. Begitu pandangan mata Faris menangkap sosok Hazel yang berdiri gemetar di depan mereka, raut wajah frustrasi pria itu berubah menjadi amarah liar yang membara.
Faris bangkit berdiri dengan napas memburu, melangkah lebar dan langsung mencengkeram bahu Hazel hingga gadis itu meringis kesakitan...
Plakkkk....!
Plakkkk....!
Faris menampar hazel dengan amarah yang membakar hatinya.
"ANAK HARAM SIALAN!" amuk Faris, suaranya menggelegar hingga menyita perhatian para pengendara di jalan raya. "Dari mana saja kamu?! Kamu menjual rumah kita! Kamu menandatangani surat utang gila itu lalu kabur bersenang-senang, sementara kami diusir seperti anjing!"
"P-Papa... ampun, Pa! Hazel juga ditipu! Hazel diusir dari hotel, semua barang Hazel disita!" jerit Hazel histeris, menangis sejadi-jadinya sembari mencoba melepaskan cengkeraman Faris.
Anggun ikut bangkit, namun bukannya membela putri kesayangannya, ia justru menatap Hazel dengan tatapan penuh kebencian dan rasa kecewa yang mendalam.
"Kamu tega sama Mama, Hazel?" bisik Anggun dengan air mata menetes di atas dadanya yang kotor. "Mama membela kamu di depan semua orang... tapi kamu malah mematikan telepon dan membiarkan rumah kita disita?!"
Tiga orang yang dulu hidup dalam kemewahan dan keangkuhan itu kini saling menyalahkan, berteriak, dan menangis meratapi kehancuran mereka sendiri di tepi jalan raya,menjadi tontonan gratis dan hinaan bagi setiap pasang mata yang melintas.
Hazel menyungkurkan tubuhnya di atas trotoar yang berdebu. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat ujung gaun Anggun yang sudah kotor dan koyak. Tangisnya pecah, suara sesenggukan yang begitu memilukan bercampur rasa penyesalan yang terlambat.
"Mama... maafin Hazel, Ma..." jerit Hazel tersedu-sedu, wajah mewahnya kini penuh coretan debu dan air mata. "Hazel khilaf... Hazel pikir uang itu bisa bikin kita makin kaya... Maafin Hazel, Ma!"
Anggun meraba dadanya yang sesak. Amarah yang tadinya membara mendadak luluh menjadi rasa duka yang teramat dalam. Ditatapnya putri tunggal yang selalu ia manjakan itu kini berlutut seperti peminta-minta di hadapannya. Anggun ikut luruh ke tanah, memeluk Hazel erat-erat. Ibu dan anak itu menangis meraung-raung di tepi jalan raya, meratapi surga mereka yang telah berganti neraka.
Faris berdiri membisu di samping mereka. Matanya kosong, tatapannya mati. Pria yang dulu dipuja sebagai pengusaha sukses itu mendadak linglung. Musibah seolah datang bertubi-tubi tanpa jeda setelah kehadiran Nina, baru saja ia mengumpulkan sisa kekuatan, satu koper pakaian yang di dalamnya tersimpan seluruh surat-surat penting perusahaan dan dokumen kepemilikan aset tersisa... baru saja dirampok oleh dua pengendara motor yang melaju kencang beberapa menit lalu.
Kini, Faris benar-benar tak memiliki apa-apa lagi. Surat bernilai milliyaran itu lenyap. Perhiasan emas dan berlian di tubuh Anggun pun sudah raib tak berbekas disita pihak eksekutor.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰