Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kado Terlarang dan Ciuman yang Mencairkan Es
Malam semakin larut di kediaman mewah keluarga Dirgantara. Acara pernikahan privat yang penuh kejutan itu akhirnya selesai. Kebanyakan tamu sudah pulang, meninggalkan atmosfer tenang di dalam rumah bergaya modern-klasik tersebut.
Di lorong lantai dua menuju kamar utama, Achmad berjalan beriringan dengan Exel. Wajah Achmad dihiasi cengiran paling menyebalkan yang pernah ada dalam sejarah hidupnya.
"Cel," panggil Achmad seraya merangkul bahu tegap sahabatnya. "Gua tahu lu itu pria perkasa dengan emosi yang tertahan bertahun-tahun. Tapi ingat pesan gua... istrimu itu masih mungil, baru lulus SMA aja belum. Jadi tolong... jangan beringas ya malam ini. Kasihan Nyonya muda kita."
Exel menyikut perut Achmad kencang hingga pria itu terbatuk-batuk kecil. "Jaga bicaramu, Achmad. Gua bukan binatang. Pernikahan ini tetap cuma formalitas."
"Formalitas tapi tadi pas ijab kabul suaranya mantap banget, kencang kaya pakai pengeras suara masjid," ledek Achmad tak mau kalah, melangkah mundur saat Exel memberinya tatapan membunuh.
Di saat yang bersamaan, di dalam kamar utama yang bernuansa gold-cream, Alexa sedang dikepung oleh ketiga sahabatnya sebelum mereka pamit pulang.
"Ca, ini kado khusus dari kita bertiga," ujar Rin sambil menyodorkan sebuah kotak hadiah berukuran sedang yang dibungkus kertas kado pita merah muda. "Awas ya, jangan dibuka sekarang! Bukanya nanti pas kamu cuma berdua sama 'Om Suami' kamu di kamar!"
"Kado apaan sih? Kok dicium baunya harum banget?" tanya Alexa curiga sambil memeluk kotak tersebut.
"Adalah! Pokoknya rahasia wanita malam pertama!" goda Safi dengan logat Melayu khasnya, menyikut pelan lengan mungil Alexa seraya menaikan alisnya. "Kau jangan gugup sangat, Ca. Kau kan dah sah jadi bini orang kaya raya."
"T-tapi aku takut tahu!" cicit Alexa pelan, pipinya kembali merona merah.
"Tenang aja, kamu pasrah aja, Ca," bisik Melati terkekeh halus seraya memeluk Alexa hangat. "Ya udah, kami pamit pulang dulu ya. Sopir aku udah nunggu di depan."
Ketiga sahabat Alexa melangkah keluar dari kamar. Saat menyusuri tangga menuju pintu utama, mereka berpapasan dengan Achmad yang sedang berdiri di dekat area ruang tamu.
Saat rombongan gadis SMA itu berjalan melewatinya, mata Achmad yang biasanya selalu dipenuhi binar jenaka mendadak tertahan pada satu sosok. Safi. Gadis berpipi manis dengan gaya bicara Melayu yang ramah itu berjalan sambil tertawa kecil mengobrol dengan Melati.
Cahaya lampu gantung kristal memantul di wajah Safi, memancarkan kesan polos dan hangat yang entah mengapa membuat dada Achmad berdesir hebat secara tiba-tiba. Tatapan mata Achmad terkunci penuh pada Safi—sebuah tatapan dalam, aneh, dan penuh ketertarikan yang belum pernah dirasakan oleh asisten pribadi berdarah dingin itu sebelumnya.
Achmad membeku di tempatnya hingga ketiga gadis itu melangkah keluar dari pintu utama tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata pria dewasa yang menatap salah satu dari mereka tanpa berkedip.
Kenapa jantung gua mendadak deg-degan begini? batin Achmad kebingungan, meraba dadanya sendiri setelah Safi benar-benar menghilang di balik pintu. Achmad bahkan tak menyadari bahwa benih-benih rasa suka telah jatuh di hatinya malam itu.
Sementara itu, di kamar utama...
Setelah mematikan lampu tengah dan menyisakan lampu tidur yang temaram, Alexa duduk kaku di tepi ranjang king size. Suara gemericik air dari kamar mandi menandakan Exel sedang membersihkan diri.
"Aduh, aku mendingan buka kado dari Rin sama yang lain deh daripada kepikiran yang enggak-enggak!" gumam Alexa mencoba mengalihkan rasa paniknya.
Jemari mungilnya merobek kertas kado pita pink itu dengan cepat. Begitu tutup kotak terbuka, mata bulat Alexa melotot sempurna. Pekikan cemprengnya hampir saja meledak jika ia tidak cepat-cepat menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangan!
Di dalam kotak itu terbaring selembar baju tidur lingerie berbahan sutra tipis berwarna merah menyala dengan potongan super terbuka dan renda-renda yang sangat minim! Ada juga selembar memo kecil bertuliskan tulisan tangan Rin: ‘Selamat menikmati malam pertama, Si Botol Yakult! Pakai ini biar Om Es Batu makin meleleh!’
"Aaaaa! Rin, Safi, Melati gilaaaa!" jerit Alexa histeris tanpa suara, wajahnya seketika membara panas bagaikan kepiting rebus. Ia melemparkan baju haram itu kembali ke dalam kotak seolah-olah benda itu beracun.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka. Exel melangkah keluar hanya dengan mengenakan celana kain hitam kasual dan kaus polos berwarna abu-abu. Rambut basahnya yang sedikit berantakan memancarkan kesan maskulin yang begitu kuat, membuat Alexa mendadak menahan napas.
Exel mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, lalu melirik ke arah Alexa yang sedang duduk mematungi kotak kado di atas kasur dengan wajah yang merah padam luar biasa.
"Kamu kenapa?" tanya Exel kaku, suaranya yang berat memecah kesunyian. "Wajahmu merah begitu. Sakit?"
"G-gak! Gak sakit!" jawab Alexa heboh, reflek menduduki kotak kado itu dengan bokongnya agar tidak kelihatan oleh Exel. "Aku... aku sehat walafiat!"
Exel berdeham kaku, melangkah mendekati sisi kasur yang lain. Tiba-tiba, rasa canggung yang teramat sangat menyelimuti mereka berdua. Bagaimanapun kaku dan dinginnya Exel, malam ini adalah malam pertama mereka berada di satu kamar yang sama sebagai suami istri yang sah.
Exel perlahan naik ke atas tempat tidur, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia melirik Alexa yang masih duduk kaku bagaikan patung batu.
"Tidur," perintah Exel datar. "Sudah jam sebelas malam. Besok kamu harus sekolah."
Alexa menelan ludah kaku. "T-tidur di mana? Di... kasur ini? Berdua?"
Exel memutar bolanya malas. "Lalu kamu mau tidur di lantai? Kasur ini muat untuk empat orang, Alexa. Tidak usah berpikiran aneh-aneh. Aku tidak akan memakanmu malam ini."
Alexa bernapas lega, meski ada sedikit rasa gengsi yang tersentil. Gadis mungil itu mematikan lampu tidur di sampingnya, lalu merebahkan tubuhnya di ujung kasur kanan—seluar mungkin memberi jarak dari Exel.
Satu jam berlalu dalam keheningan. Exel belum bisa memejamkan matanya. Terbiasa tidur sendiri dalam keheningan total, kini ada hembusan napas halus dan wangi aroma stroberi yang terus menerus mengusik indra penciumannya.
Exel menoleh ke samping. Di bawah paparan cahaya bulan yang menerobos lewat celah gorden, ia melihat Alexa meringkuk kaku tanpa selimut, tubuh mungilnya sedikit bergoyang kedinginan akibat hembusan AC kamar yang menusuk.
Exel menghela napas panjang. Pria itu menggeser tubuhnya pelan, meraih selimut tebal di ujung kasur, lalu menariknya untuk menutupi tubuh Alexa hingga sebatas dada.
Namun, saat Exel hendak menarik kembali tangannya, Alexa mendadak membalikkan tubuhnya secara refleks dalam tidurnya!
Sret!
Tangan mungil Alexa menarik kerah kaus Exel, membuat tubuh tegap sang CEO kehilangan keseimbangan dan tertarik ambruk ke depan!
Waktu seolah berhenti seketika.
Jarak wajah mereka kini hanya terpaut kurang dari satu sentimeter. Hembusan napas hangat Alexa menyapu permukaan kulit pipi Exel. Exel membeku total, jantungnya berdegup sangat kencang—sebuah detakan liar yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Saat Exel menatap bibir tipis merah muda milik istrinya yang sedikit terbuka, sebuah dorongan aneh yang tak tertahankan menguasai pikiran rasional sang CEO dingin.
Exel menundukkan kepalanya sedikit... dan mendaratkan bibirnya di atas bibir lembut Alexa.
First kiss.
Ciuman itu terasa sangat lembut, hangat, dan sarat akan perasaan aneh yang membakar es di dalam dada Exel.
Tiba-tiba, mata bulat Alexa terbuka sedikit! Gadis itu terbangun gara-gara sentuhan hangat di bibirnya. Saat menyadari wajah tampan Exel berada tepat di atasnya dan bibir mereka saling bertautan, mata Alexa melotot sempurna dalam kegelapan!
Exel tersadar seketika dari sihirnya. Ia dengan cepat menarik tubuhnya menjauh, duduk tegap di tepi kasur sambil membelakangi Alexa. Napas sang CEO memburu kencang, rona merah yang teramat sangat membakar hingga ke ujung telinganya.
"Maaf," suara Exel terdengar sangat serak dan bergetar kaku. "Itu... tidak sengaja."
Alexa menutup bibirnya dengan kedua tangan mungilnya, jantungnya berdebar bagaikan genderang perang. Wajahnya yang sudah panas kini makin membara hebat di balik kegelapan. Ia tidak bisa mengeluarkan suara cemprengnya sama sekali—terlalu syok dan salah tingkah setengah mati oleh ciuman pertama yang baru saja dicuri oleh 'Om Suami Es Batu'-nya!
Malam pertama mereka memang gagal total sebagai pasangan suami istri pada umumnya, namun di balik keheningan kamar yang canggung itu, sebuah ikatan rasa yang tak kasat mata telah resmi terpatri di antara keduanya.