Indonesia
NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

MARCO D'AMATO

Aku tiba di kantor lebih pagi dari biasanya, dan Irina sudah ada di ruanganku.

"Selamat pagi, Tuan Marco," sapanya. "Syukurlah Anda sudah datang... Kita perlu membahas suatu hal penting."

"Tentu... Tunggu sekretarisku datang, dan lihat dulu apakah aku punya waktu luang pagi ini," jawabku.

"Tapi dia belum datang."

"Tentu saja belum. Kantor buka pukul 09:00, sekarang baru 08:50. Dia masih punya 10 menit. Dia tidak wajib datang lebih awal cuma karena aku memutuskan datang lebih pagi dari biasanya."

"Tapi..."

Sebelum Irina sempat berkata lebih jauh, Pietra masuk ke kantor.

Rambutnya tergerai dalam gelombang lembut. Ia mengenakan blus formal yang tampak sempurna di tubuhnya, dan rok hitam ketat. Bukan rok pendek, tapi cukup memperlihatkan sedikit pahanya. Ia memakai sepatu hak hitam yang membuatnya tampak makin anggun.

"Selamat pagi, Tuan D'Amato," sapanya.

"Selamat pagi, Pietra."

Irina memandangi Pietra dari atas ke bawah, dan amarah mulai tampak jelas di wajahnya.

"Pakaian itu tidak pantas untuk seorang sekretaris... Apalagi sekretaris yang duduk di ruangan bos," kata Irina.

Pietra menghentikan apa yang sedang dikerjakannya dan melempar tatapan pada Irina, tatapan yang seolah berkata:

Jangan macam-macam denganku hari ini, karena aku sedang tidak sabar.

"Ada masalah apa dengan pakaianku?" tanya Pietra.

"Perlukah aku menjelaskannya?"

"Tidak ada masalah sama sekali, Pietra. Kau tampak lebih dari sempurna," ucapku sambil memandanginya dari atas ke bawah.

Dan sedetik, aku melihat bukan cuma tatapannya yang goyah, tapi juga sikap tubuhnya.

"Apa? Lihat rok yang dia pakai!" seru Irina.

"Tidak ada yang salah dengan pakaiannya, Irina! Jangan kekanak-kanakan dan mencari-cari masalah di tempat yang tidak ada masalahnya!"

Pietra duduk dan mengambil agendaku.

"Sebutkan jadwal apa saja yang ada di agendaku hari ini," pintaku.

"Baik, Tuan."

Ia berkata sambil bangkit dengan agenda di tangan dan berjalan hingga berdiri di depan mejaku.

"Anda ada makan siang dengan 2 pemegang saham pukul 12:30. Setelah itu, Anda ada rapat lewat panggilan video dengan pemegang saham baru Anda dari Italia. Hanya itu janji yang terjadwal. Sisanya berupa dokumen dan telepon yang harus Anda lakukan."

"Bagus! Sekarang kita sudah bisa membahas hal serius itu?" sela Irina.

"Silakan lanjutkan," kataku sambil menunjuk kursi di depan mejaku.

Pietra menjauh dan duduk di mejanya sendiri.

"Ada orang baru yang ingin beraliansi dengan perusahaan Anda," kata Irina.

Aku memberi isyarat agar Irina diam.

"Ada apa?" tanyanya.

"Pietra," panggilku dengan suara tegas.

"Ya?" jawabnya sambil mengangkat kepala menatapku.

"Duduklah di sini," kataku sambil menunjuk kursi di sebelah kursi tempat Irina duduk.

"Tapi kupikir hal ini hanya menyangkut Anda..."

"Untuk urusan yang berkaitan dengan perusahaan, kau harus hadir."

"Baik."

Ia mengambil buku catatan dan pena, lalu duduk di kursi sebelah Irina.

Irina memutar bola matanya dan kembali bicara.

"Baiklah... Tadi aku bilang ada orang baru yang ingin menjalin aliansi dengan Anda, tapi ini bukan hal yang baik untuk perusahaan. Aku sudah bilang padanya bahwa kita tidak menginginkan aliansi ini, tapi dia bersikeras ingin bicara dengan Anda."

"Tunggu sebentar... Coba aku pastikan aku mengerti dengan benar. Kau..." Pietra berkata sambil menunjuk Irina. "...bilang pada orang itu bahwa Marco D'Amato tidak mau menjalin aliansi dengannya."

"Ya, memang begitu," sahut Irina sambil menyilangkan kaki.

"Dan kapan tepatnya kau berkonsultasi denganku atau dengan Tuan D'Amato untuk tahu apakah beliau mau atau tidak?"

"Aku tidak perlu berkonsultasi apa pun denganmu," ucap Irina sambil meninggikan nada suaranya pada Pietra.

"Turunkan nada suaramu, Irina. Dan ya, kau harus berkonsultasi dengan Pietra. Pietra bisa dianggap sebagai mata dan telingaku di perusahaan ini. Jadi aliansi atau negosiasi apa pun harus melewati Pietra dulu, lalu aku."

"Tapi aliansi ini berkaitan dengan perusahaan mode... Kita sama sekali tidak berurusan dengan mode!"

"Aliansi tidak selalu harus menyangkut bidang yang sama dengan perusahaanku," jawabku.

"Kadang orang itu cuma ingin menegosiasikan sesuatu... Sebuah investasi... Kesepakatan antarperusahaan..." kata Pietra. "Lagi pula, zaman sekarang perusahaan mode justru yang paling menguntungkan. Apalagi yang untuk peragaan busana internasional."

"Bawa orang itu ke sini hari ini, Irina," perintahku.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi! Kau akan membawa orang itu ke sini hari ini, titik."

"Baiklah."

Ia berkata sambil bangkit dan keluar dari kantor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!