Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26 : Semua Sedang di Awasi

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar ruangan.

Tok... tok... tok...

Adrian dan Clara saling pandang.

"Masuk," ujar Adrian.

Pintu terbuka, seorang pria dari tim audit masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.

"Maaf mengganggu, Pak Adrian."

Adrian mengangguk. "Ada apa?"

"Kami ingin memastikan, kapan audit utama akan mulai dilakukan? Beberapa staf sudah siap dengan dokumen yang diperlukan."

Adrian melirik jam tangannya. "Mulai siang ini."

Pria itu mengangguk. "Baik, Pak. Untuk pemeriksaan komputer divisi operasional, apakah akan dilakukan bersamaan?"

Adrian menggeleng pelan. "Jangan dulu. Data dari komputer divisi operasional menyusul. Saya masih harus menemui Anton terlebih dahulu."

Clara yang berdiri di samping meja langsung memahami maksud Adrian. Ia tahu Adrian sengaja tidak ingin membuat Anton merasa sedang menjadi sasaran utama audit.

"Kalau begitu, kami akan mempersiapkan audit bagian lain terlebih dahulu, Pak," ujar anggota tim audit tersebut.

"Ya. Pastikan semuanya berjalan seperti audit biasa. Jangan ada yang membuat karyawan merasa sedang dicurigai."

"Baik, Pak."

Setelah pria itu pergi, Adrian mengambil jasnya yang tergantung di kursi.

Clara menatapnya. "Bapak mau menemui Anton sekarang?"

"Ya."

"Apakah Bapak akan menyinggung soal transaksi perusahaan luar negeri itu?"

Adrian tersenyum tipis. "Tidak."

Clara sedikit terkejut.

"Kalau saya langsung membicarakan masalah itu, Anton akan tahu bahwa kita mencurigainya.

Adrian merapikan lengan kemejanya. "Saya hanya akan berbicara soal pekerjaan biasa. Bahkan kalau bisa, saya ingin membuat dia berpikir bahwa audit ini tidak ada hubungannya dengan dia."

Clara mengangguk dan tersenyum. "Baik, Pak."

Adrian kemudian berjalan keluar dari ruangannya.

Beberapa menit kemudian, ia tiba di area divisi operasional. Suasana di sana terlihat normal.

Para karyawan sibuk di depan komputer masing-masing. Beberapa orang bahkan tampak tidak menyadari kedatangan Adrian.

Namun, begitu Adrian muncul, beberapa karyawan langsung berdiri dan memberi salam.

"Selamat pagi, Pak Adrian."

"Pagi."

Adrian tersenyum santai, ia kemudian melihat Anton yang sedang berdiri di dekat mejanya sambil memeriksa beberapa dokumen.

"Anton."

Anton langsung menoleh. "Pak Adrian."

Wajah Anton sempat terlihat tegang, tetapi ia segera menyembunyikannya dengan senyuman.

Adrian berjalan mendekat. "Saya hanya ingin memastikan persiapan pengiriman untuk minggu depan."

Anton terlihat sedikit lega. "Oh, soal itu. Semuanya sudah saya siapkan, Pak."

"Bagus."

Adrian mengambil salah satu dokumen yang berada di meja Anton. "Pengiriman ke luar negeri masih sesuai jadwal?"

Anton mengangguk dengan cepat. "Masih, Pak."

Adrian mengangguk sambil membaca sekilas dokumen tersebut. "Pastikan jangan ada keterlambatan. Klien kita cukup sensitif soal waktu."

"Siap, Pak. Saya akan pastikan semuanya berjalan lancar."

Adrian mengembalikan dokumen itu. "Oya... satu lagi."

Anton kembali menatapnya.

"Siang ini tim audit akan mulai memeriksa beberapa bagian perusahaan. Jangan khawatir, ini hanya pemeriksaan rutin."

Anton berusaha mempertahankan wajah tenangnya. "Iya, baik Pak."

"Divisi kalian mungkin akan diperiksa setelah beberapa bagian lain selesai."

Anton mengangguk. "Baik, Pak. Kalau memang dibutuhkan, kami akan membantu."

Adrian tersenyum. "Terima kasih." Ia menepuk ringan bahu Anton sebelum berbalik. "Kerjakan saja seperti biasa. Tidak perlu mengubah apa pun."

"Baik, Pak."

Adrian kemudian meninggalkan divisi operasional.

Namun begitu sosok Adrian menghilang dari pandangan, senyum di wajah Anton perlahan memudar.

Ia menatap punggung Adrian yang semakin jauh.

Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Tetapi ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Mungkin memang hanya audit biasa."

Sementara itu, dari ujung lorong, Adrian berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, namun senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kalau kau memang tidak menyembunyikan apa-apa, Anton... kenapa wajahmu terlihat setegang itu?"

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul empat sore. Aktivitas di PT. Pratama Logistik Nusantara semakin padat.

Para karyawan sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka, sementara tim audit mulai menjalankan pemeriksaan di beberapa bagian perusahaan.

Adrian kembali ke ruangannya setelah dari divisi operasional. Ia duduk sebentar sambil memeriksa beberapa laporan yang baru saja diberikan kepadanya.

Clara berdiri di hadapannya. "Pak, tim audit sudah mulai bergerak ke bagian keuangan dan administrasi."

Adrian mengangguk. "Bagaimana hasilnya?"

"Sejauh ini normal, mereka juga sudah mulai mencocokkan beberapa transaksi dengan dokumen yang ada."

Adrian melihat jam tangannya. "Bagus." Ia kemudian berdiri dan mengambil jasnya. "Clara saya izin pulang lebih dulu hari ini."

Clara sedikit terkejut. "Pulang, Pak?"

"Ya. Saya ada urusan yang harus saya diselesaikan."

Clara mengangguk. "Baik, Pak. Kalau begitu, biar saya yang tetap memantau proses audit di sini."

Adrian tersenyum tipis. "Saya sudah mempercayai kamu, tolong awasi semuanya... termasuk awasi Anton."

Clara membalas dengan anggukan. "Tenang saja, Pak. Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."

Adrian kemudian berjalan keluar dari ruangannya.

Namun, sebelum meninggalkan kantor, ia berhenti sejenak dan menatap area kerja para karyawan dari kejauhan.

Semua terlihat normal, Anton masih sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa sejak pagi, setiap pergerakan di beberapa bagian perusahaan telah diamati dengan sangat ketat.

Audit yang sedang berlangsung memang terlihat seperti pemeriksaan biasa. Tetapi sebenarnya, ada rencana lain yang sedang dijalankan Adrian.

Beberapa orang yang berada di dalam tim audit bukan sekadar auditor biasa. Mereka merupakan orang-orang yang sudah dipercaya oleh Gunawan untuk membantu mengungkap berbagai kejanggalan di perusahaannya.

Bahkan sebelum audit dimulai, beberapa kamera pengawas tambahan sudah dipasang di tempat-tempat tertentu. Sebagian berada di sudut ruangan, sebagian lagi tersembunyi di balik peralatan kantor dan area yang sulit diperhatikan.

Dengan begitu, tidak ada karyawan yang bisa bermain-main dengan dokumen atau mengubah sesuatu tanpa diketahui.

Adrian sengaja tidak memberitahukan hal itu kepada siapa pun di luar lingkaran kepercayaannya. Bahkan Anton tidak mengetahui bahwa setiap aktivitas penting di divisinya sedang diawasi.

Di sisi lain, Clara tetap berada di kantor. Wanita itu sesekali berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, memastikan tim audit bekerja sesuai prosedur.

Namun sebenarnya, Clara juga mendapatkan tugas khusus dari Adrian. Ia harus memperhatikan Anton.

Bukan untuk membuatnya merasa dicurigai, tetapi untuk melihat bagaimana pria itu bertindak ketika tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diamati.

Sementara itu, Adrian akhirnya keluar dari gedung perusahaan. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Begitu pintu tertutup, ekspresi santai di wajahnya langsung berubah serius.

Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Bagaimana?" tanyanya singkat.

Suara seorang pria terdengar dari seberang telepon.

"Semua berjalan sesuai rencana, Pak. Tim audit sudah mulai memeriksa data."

"Anton?"

"Belum melakukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi kami terus mengawasinya."

Adrian mengangguk meskipun lawan bicaranya tidak bisa melihat. "Jangan sampai dia tahu, kalau dia sedang diawasi."

"Baik, Pak."

Adrian kemudian memutuskan sambungan telepon.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap jalanan dari balik kaca mobil.

Satu hal yang ada di pikirannya sekarang adalah Deren. Ucapan Clara tadi kembali terngiang-ngiang.

Beberapa hari sebelum mengundurkan diri, Deren pernah bertengkar dengan Anton di ruang arsip.

Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Dan apa yang membuat Deren sampai akhirnya meninggalkan perusahaan?

Adrian mengepalkan tangannya perlahan. "Kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan di perusahaan, aku harus segera menemukannya."

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!