Indonesia
NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — AWAL ARC 3: TIGA ARTEFAK PENYELAMAT

Gua rahasia yang tersembunyi jauh di balik pegunungan Alam Fana diliputi keheningan malam yang pekat. Lu Chen bersila di atas batu datar, memejamkan mata untuk memusatkan pikiran. Tepat di dadanya, Segel Penyelamat yang merupakan gabungan dari Tulang Dewa, Hati Manusia, dan Taring Iblis memancarkan pendaran cahaya tiga warna yang lembut dan stabil.

Di dekat pintu masuk gua, Xue Ling berdiri siaga sambil mengawasi keadaan luar, sementara Lin Yue masih duduk beristirahat dengan balutan perban di sekujur tubuhnya akibat pertempuran di Jurang Neraka.

[Panel: Status Setelah Arc 2] LU CHEN: UMUR 16 - TAHAP PENYATU PUNCAK SEGEL: 100% - 3 ARTEFAK UTAMA LENGKAP RACUN IBU: TERTEKAN 50% - MASIH TERIKAT DI PENJARA LANGIT MUSUH UTAMA: ISTANA LANGIT + KELOMPOK IBLIS + PEMBURU BAYARAN

Lu Chen perlahan membuka kelopak matanya. Manik matanya memancarkan ketenangan yang mendalam. "Aku bisa merasakan keberadaan Ibu."

"Di arah mana?" tanya Xue Ling cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari kegelapan hutan.

"Penjara Langit. Lapisan kesembilan Istana Sembilan Langit," jawab Lu Chen sambil mengepalkan tangannya erat-erat. "Tapi kita tidak bisa langsung menyerbunya sekarang. Kekuatan kita masih belum cukup."

Lin Yue terbatuk kecil, lalu berkata dengan suara serak, "Kita butuh pasukan yang besar. Dan yang terpenting, kita butuh tiga Artefak Penyelamat tambahan untuk menyembuhkan racunnya secara sempurna."

Lu Chen membentangkan sebuah peta kuno yang ia dapatkan dari pertapa gua terdahulu di atas tanah.

[Panel: Peta] TIGA ARTEFAK PENYELAMAT UNTUK PENYEMBUHAN SEMPURNA: 1. DAUN KEABADIAN - HUTAN ELF BUANGAN 2. AIR WAKTU - DANAU WAKTU TERLUPAKAN 3. JANTUNG BUMI - GUNUNG TULANG NAGA

"Jika ketiga benda ini berhasil digabungkan dengan segelku," jelas Lu Chen mantap, "maka racun langit di tubuh Ibu akan lenyap seutuhnya, dan ikatan rantai penyiksanya akan hancur."

Xue Ling mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita harus segera bergerak. Masalahnya, Istana Langit telah menyebarkan sayembara buronan berhadiah tinggi untuk kepala kita ke seluruh penjuru Alam Fana."

Tiba-tiba—

DUAR!

Gua rahasia itu bergemetar hebat. Lapisan pelindung luar mendadak retak akibat hantaman energi dari luar. Ada orang yang sedang memaksa masuk.

Fraksi Baru: Pemburu Bayaran

Di luar mulut gua, berdiri sekitar tiga puluh orang dari berbagai ras yang berbeda, mengenakan jubah seragam dengan lambang koin emas berkilau di dada mereka.

Pria paruh baya berumur sekitar tiga puluh tahun dengan topeng serigala menutupi separuh wajahnya maju ke depan.

[Panel: Scan] NAMA: KODE WOLF FRAKSI: KAWAN EMAS STATUS: PEMBURU BURONAN TINGKAT S

"Anak Noda," seru Wolf dengan nada suara mengejek. "Harga untuk kepalamu setara dengan satu kota penuh kekayaan. Mau menyerah secara baik-baik, atau mati dengan cara yang menyakitkan?"

Lu Chen melangkah keluar dari dalam gua tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku memilih opsi ketiga."

Wolf mengernyitkan dahi di balik topengnya. "Opsi ketiga apa maksudmu?"

"Bergabunglah denganku," jawab Lu Chen tenang.

Semua anak buah Kawan Emas terdiam kaku mendengar jawaban tersebut, sebelum akhirnya meledak menertawakan kebodohan sang pemuda.

Wolf tertawa sinis. "Kau ini sudah gila ya? Kau adalah buronan paling diincar, tapi justru mengajak kami bergabung?"

Lu Chen mengangkat tangannya, membiarkan pendaran cahaya tiga warna dari Segel Penyelamat terpancar terang menyilaukan mata. "Aku tidak tertarik berperang melawan kalian. Aku hanya ingin menyelamatkan ibuku. Kalian menginginkan harta dan kekayaan, bukan? Bantu aku menyelesaikan misi ini, dan setelah ibuku bebas, aku akan memberikan hak kepemilikan atas Kota Harapan di Lapisan Keempat untuk kalian."

Lin Yue terbelalak kaget. "Kau serius dengan tawaran itu...?"

Wolf terdiam sejenak, menimbang risiko dan keuntungan dalam kepalanya selama tiga detik penuh. "Kesepakatan yang menarik. Tapi jika kau berani menipu kami, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."

KRAK! Mereka berjabat tangan, mengukuhkan aliansi berbahaya tersebut.

[Panel: Tim Baru] TIM PENYELAMAT: LU CHEN - KETUA UTAMA XUE LING - WAKIL KETUA LIN YUE - STRATEGIS KAWANAN EMAS - 30 PERSONEL ELIT

Target Pertama: Hutan Elf Buangan

Tiga hari kemudian, perjalanan panjang membawa mereka tiba di sebuah hutan raksasa purba. Pepohonan di tempat itu menjulang tinggi hingga dua ratus meter ke udara, dan seluruh daunnya berwarna putih perak menyala.

Namun, kawasan tersebut dilindungi oleh susunan sihir penghalang yang sangat kuat.

"Ini adalah Hutan Elf Buangan," kata Lin Yue memperingatkan. "Penduduk di sini memendam kebencian mendalam terhadap semua ras dari luar."

Baru saja mereka melangkahkan kaki melewati batas pohon pertama, puluhan anak panah berhawa dingin melesat cepat ke arah mereka. SHING! SHING! Dua puluh orang Elf bertelinga panjang dengan manik mata keemasan muncul dari balik tajuk pohon.

Pemimpin mereka adalah seorang wanita muda Elf berusia delapan belas tahun dengan busur panah terhunus sempurna.

[Panel: Scan] NAMA: LUNA RAS: ELF TERAKHIR STATUS: PENJAGA UTAMA DAUN KEABADIAN

"Manusia, iblis, dan para pembunuh," ucap Luna dingin. "Segera enyah dari tanah suci kami, atau kalian mati."

Lu Chen maju satu langkah ke depan, lalu melepas jubah luarnya, memperlihatkan lambang segel suci di dadanya.

Luna terbelalak kaget. "Aura itu... Tiga Jenis Darah?"

"Namaku Lu Chen," kata Lu Chen sungguh-sungguh. "Aku datang untuk mencari Daun Keabadian. Aku membutuhkannya untuk menyembuhkan ibuku yang sedang disiksa oleh Istana Langit."

Luna terdiam sejenak, lalu melepaskan tali busurnya. Anak panah melesat, berhenti tepat satu sentimeter di depan bola mata Lu Chen tanpa berniat melukainya.

"Kau pembohong," ucap Luna tajam. "Jika ucapanmu terbukti palsu, kau akan langsung tewas di tempat."

Lu Chen sama sekali tidak mengelak atau memasang pertahanan. "Silakan periksa sendiri. Aku tidak akan melawan."

Luna merapal sihir pemindai. CAHAYA KEBENARAN. Di dalam pikirannya, memori Lu Chen terpampang jelas: detik-detik Shen Yue disiksa, air mata Lu Chen, hingga sumpah setianya untuk menyelamatkan sang ibu.

Perlahan-lahan, ujung busur Luna diturunkan kembali ke bawah.

"...ikutlah denganku," bisik Luna melunak. "Tapi ingat, jika kau menyentuh satu lembar daun pun untuk kepentingan dirimu sendiri, aku yang akan menghabisimu."

Ujian Daun Keabadian

Tepat di jantung hutan, berdiri sebuah pohon raksasa tunggal yang di puncaknya memancarkan sehelai daun emas berkilau suci.

Namun, pohon tersebut dijaga oleh monster penjaga kuno—Roh Hutan: Naga Kayu.

ROAR! Naga kayu raksasa setinggi lima puluh meter bangkit mengaum nyaring.

Wolf dan anak buah Kawan Emas segera melepaskan tembakan sihir. DUAR! DUAR! Serangan itu sama sekali tidak meninggalkan goresan di tubuh sang naga.

Lu Chen maju menengahi. "Biar aku saja yang menghadapinya."

Tinju Tiga Alam: 60%. BOOM! Hantaman tinju bertenaga itu berhasil membuat sang naga kayu terpental mundur.

Namun alih-alih melanjutkan serangan, Lu Chen justru menurunkan tangannya dan duduk bersila di tanah. "Wahai penjaga. Aku tahu kau telah dijebak dan dikurung di tempat ini selama ribuan tahun. Ikutlah bersamaku; setelah ibuku bebas, aku berjanji akan menghancurkan penghalang kutukan ini dan membebaskanmu."

Naga kayu itu terdiam menatapnya sesaat, lalu perlahan merebahkan tubuh besarnya di tanah, menyatakan kepatuhan.

Luna dan para prajurit Elf terperangah tak percaya.

Lu Chen memanjat naik dan mengambil Daun Keabadian di puncak. SHUUU! Daun suci itu meleleh masuk terserap ke dalam inti segel di dadanya.

[Panel: Segel Update] ARTEFAK PENYELAMAT: 1/3 TERKUMPUL EFEK SAMPING: REGENERASI TUBUH +50%

"Terima kasih," ucap Lu Chen tulus kepada sang naga yang langsung pergi menghilang ke dalam tanah.

Luna menatap Lu Chen dengan pandangan yang jauh berbeda dari sebelumnya. "Kau... sangat berbeda dari manusia lainnya. Kau tidak dikuasai oleh keserakahan."

"Ibuku mengajariku banyak hal," balas Lu Chen singkat.

Malam di Hutan Peristirahatan

Di sekeliling kobaran api unggun malam itu, tim kecil tersebut beristirahat.

Wolf mendekati Lu Chen. "Bos, apakah kita benar-benar berniat menantang kekuatan Istana Langit?"

"Ya," jawab Lu Chen mantap.

Wolf tersenyum miring di balik topengnya. "Gila. Tapi aku menyukai jalan cerita ini. Hitung aku di barisan terdepan."

Luna duduk di samping Lu Chen sambil melirik pelan. "Besok kita harus menuju ke Danau Waktu. Penjaga di sana adalah entitas abstrak yang tidak bisa diajak bernegosiasi dengan kata-kata."

Lu Chen mengangguk. "Kalau begitu, kita akan melewatinya dengan paksa."

Tiba-tiba, Segel di dadanya memanas hebat. Bayangan ilusi muncul di hadapan mereka.

Terlihat Shen Yue sedang dipukuli secara kejam oleh Dewa Eksekusi. "DIMANA ANAKMU BERSEMBUNYI?!" Shen Yue memuntahkan darah segar ke lantai, lalu tersenyum menantang. "Dia jauh lebih kuat daripada gabungan seluruh dewa busuk di kahyangan!"

KRAK! Bayangan itu pecah berkeping-keping.

Lu Chen mengepalkan tinjunya hingga kulitnya berdarah.

"Dua artefak lagi," bisik Lu Chen penuh tekad. "Ibu... bertahanlah sedikit lebih lama lagi."

Xue Ling meletakkan tangannya di bahu Lu Chen. "Kita akan bergerak lebih cepat."

Tanpa mereka sadari, dari balik awan malam yang gelap, bayangan ratusan Penegak Langit melintas cepat mengintai pergerakan mereka.

Perang besar semakin mendekat di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!