Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 4: Ujian di Balik Selimut
...MENGULANG LUKA...
Bab 4: Ujian di Balik Selimut
Gemercik air dari arah kamar mandi memutus keheningan kamar utama yang luas itu. Valencia, yang berbaring memunggungi ruangan, tidak benar-benar tidur. Sepasang matanya terbuka lebar menatap dinding kamar yang temaram. Jantungnya berdegup dengan ritme yang teratur—bukan lagi karena debaran cinta yang menggebu seperti tiga tahun lalu, melainkan karena rasa waspada yang tinggi.
Di kehidupan pertamanya dulu, Julian tidak pernah menyentuh ranjang ini jika dia hanya pulang untuk mengambil dokumen. Pria itu biasanya langsung pergi ke hotel atau memilih tidur di kamar tamu yang terletak di sayap barat mansion. Kehadiran Julian di kamar mandi malam ini adalah sebuah anomali besar. Garis waktu masa lalu yang Valencia ketahui kini mulai bergeser akibat perubahan sikapnya sendiri.
Klek.
Suara pintu kamar mandi dibuka membuat Valencia menegang sesaat. Samar-samar, dia mendengar langkah kaki bertelanjang kaki yang mendekat ke arah ranjang. Valencia refleks menolehkan kepalanya sedikit untuk mengintip, dan detik itu juga, matanya membelalak sempurna.
Julian keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan jubah mandi handuk (bathrobe) berwarna putih longgar. Pria itu sengaja tidak mengikat talinya dengan benar, membiarkan jubah itu terbuka lebar di bagian depan dan memamerkan deretan otot perutnya yang kokoh, atletis, serta sisa-sisa butiran air yang berkilau di atas kulit dadanya yang bidang. Julian sengaja melakukan ini, murni untuk memamerkan bentuk tubuhnya dan menguji sampai mana ketahanan benteng es yang baru dibangun oleh istrinya.
Melihat pemandangan polos yang terlalu tiba-tiba itu, wajah Valencia seketika memanas. Tanpa sadar, dia langsung menarik selimut tebalnya ke atas hingga menutupi seluruh wajahnya di balik kain.
“Apa-apaan dia?! Kenapa dia malah pamer tubuh seperti itu?!” batin Valencia menjerit panik di balik selimut.
Ini adalah pertama kalinya Valencia melihat Julian berpenampilan seberani dan sepolos ini di depannya. Di kehidupan sebelumnya, Julian selalu memakai pakaian tidur yang rapi, kaku, dan menutup diri, seolah-olah menciptakan pembatas tak kasat mata di antara mereka sebelum akhirnya mengabaikan Valencia total.
Valencia meremas ujung selimutnya dengan bingung. Kenapa Julian tidak pergi dan tidur di kamar tamu saja seperti biasanya? Apa pria itu tidak takut kalau Valencia yang "dulu"—yang selalu haus akan perhatiannya—akan langsung menerkam dan memeluknya saat dia tertidur nanti?
Kasur berukuran king size di belakangnya terasa ambles secara perlahan saat sebuah beban berat menumpunya. Julian naik ke atas ranjang.
Aroma segar sabun mint bercampur wangi maskulin kayu cendana yang pekat segera menyeruak masuk ke balik selimut Valencia. Julian merebahkan tubuh tegapnya di sisi ranjang yang kosong, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Dari balik selimut, Valencia bisa merasakan embusan hawa hangat yang menguar dari tubuh polos suaminya itu.
Julian menolehkan kepalanya, menatap gundukan selimut yang membungkus total tubuh Valencia. Satu sudut bibirnya terangkat sinis. Kedatangannya ke ranjang ini murni sebuah ujian ego. Julian ingin membuktikan teorinya bahwa Valencia hanya sedang berakting menggunakan taktik tarik ulur untuk memikatnya kembali.
"Kau menyembunyikan wajahmu, Valencia. Apa kau sedang menolak untuk melihat suamimu sendiri?" suara bariton Julian memecah kesunyian, terdengar sangat dekat, berat, dan penuh nada provokasi di kegelapan kamar.
Valencia yang berada di dalam selimut berusaha sekuat tenaga mengatur napasnya agar terdengar teratur. Dia menolak untuk memberikan reaksi manis apa pun yang bisa memuaskan ego pria di sampingnya itu. Di masa depan, dia sudah selesai dengan permainan emosi Julian Edgar. Jika Julian ingin mengujinya dengan umpan tubuh atletis ini, maka Valencia hanya perlu menganggapnya sebagai patung pajangan kamar—sama seperti Julian yang dulu menganggapnya sebagai istri pajangan rumah.