Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Aku Tak Mau Ganti Suami
Nathan: Baru saja. Ada apa, Ci?
Keira membaca balasan itu dua kali. Kecepatan Nathan menjawab membuat Apartemen Verde terasa sedikit kurang sunyi.
Keira: Ko Fabian sudah pulang. Dia menungguku di parkiran.
Panggilan video masuk sebelum ia selesai mengetik kalimat berikutnya.
Keira mengangkatnya. Layar menampilkan langit Cambridge yang pucat dan wajah Nathan dari sudut rendah. Ia mengenakan jaket lari hitam, napasnya berembun.
"Kau di rumah?"
"Sudah. Pintu terkunci."
"Dia menyentuhmu?"
"Tidak. Dia hanya mengajak makan dan bertanya apakah aku menikah untuk menghindarinya."
Nathan berhenti berlari. "Jawabanmu?"
"Aku memilihmu. Itu jawaban yang kuberikan."
Untuk beberapa detik, Nathan hanya menatapnya. Ketegangan di antara alisnya mengendur, digantikan sesuatu yang terlalu hangat untuk disebut puas.
"Katakan sekali lagi."
"Jangan mencari kesempatan. Fokus pada masalahnya."
"Aku sedang fokus. Suaraku bahkan sangat profesional."
Keira mendengus. Ia membawa ponsel ke dapur, menuangkan air, lalu menceritakan riwayat Fabian secukupnya. Tentang pengakuan bertahun-tahun lalu, penolakan yang tidak pernah benar-benar diterima, dan laki-laki yang mendadak menjauh setiap kali mulai serius mendekatinya.
Nathan mendengarkan tanpa menyela. Saat Keira selesai, rahangnya terlihat keras.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Kita baru menikah kemarin. Aku belum sempat membuat daftar seluruh masalah hidupku."
"Buat sekarang. Kirim kepadaku."
"Nathan."
"Baik. Itu lelucon." Ia mulai berlari lagi di sepanjang Sungai Charles. "Setengah lelucon."
Keira menyandarkan pinggul pada meja dapur. "Jangan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Aku tidak mau satu orang mengatur hidupku, lalu suamiku menganggap solusinya adalah ikut mengatur."
Nathan menatap kamera. "Aku dengar. Aku akan memberitahumu kalau menyangkut keselamatanmu."
"Semua yang menyangkut aku."
"Semua yang menyangkutmu," ulangnya.
Angin mengguncang gambar. Di belakang Nathan, seorang pemuda berjaket cokelat melintas lalu menghilang dari layar. Nathan memindahkan ponsel, tetapi gerak matanya berubah.
"Keira, rekam layar."
"Kenapa?"
"Sekarang. Jangan tutup panggilan."
Keira menekan tombol perekam. Nathan memperlambat langkah di dekat pagar sungai. Pantulan kaca gedung di seberang memperlihatkan sosok jaket cokelat berhenti beberapa meter di belakangnya.
"Orang itu mengikutimu?"
"Sudah tiga belokan."
Nathan berbalik mendadak. Pemuda itu mengangkat ponsel seperti turis yang sedang memotret sungai, tetapi lensa kecil terlihat di kerahnya.
"Jangan mendekat," kata Keira. "Panggil polisi."
"Tom dan Jerry ada di belakangnya."
Dua laki-laki muncul dari sisi jalur. Tom, lebih tinggi dan berambut hitam, menangkap pergelangan tangan si penguntit. Jerry menahan bahunya sebelum ia sempat lari. Perlawanan itu singkat. Ponsel Nathan tetap menghadap kejadian, membuat wajah serta barang bukti terekam jelas.
"Aku baru menikah," ucap Keira, jantungnya memukul tulang rusuk. "Aku tidak mau mengganti suami karena kau sok berani di negara orang."
Nathan menoleh ke layar. Senyum kecil muncul di wajahnya. "Kau menyebutku suami."
"Bukan waktunya senang."
"Aku bisa melakukan dua hal sekaligus. IQ-ku cukup."
Tom menggeledah jaket pemuda itu di depan kamera. Tidak ada senjata. Mereka menemukan kamera mikro, alat perekam suara, baterai tambahan, dan kartu akses hotel.
"Kami panggil polisi?" tanya Tom dalam bahasa Inggris, lalu Nathan menerjemahkan singkat untuk Keira.
"Tanya dulu siapa yang membayar," jawab Nathan. "Semua tetap direkam."
Pemuda itu mencoba menyangkal sampai Jerry menunjukkan kamera di kerahnya. Setelah beberapa menit, ia mengaku menerima instruksi melalui surel sekali pakai. Tugasnya bukan menyerang. Ia diminta merekam siapa yang ditemui Nathan, dengan siapa ia menelepon, dan bahasa apa yang dipakai.
"Kompetitor?" tanya Keira.
"Mungkin. NARA sedang menuju peluncuran. Banyak pihak ingin tahu arah kami."
Tim masuk ke panggilan dari komputer lain dan memperlihatkan data dasar yang berhasil ia tarik. Surel itu dibuat tiga minggu lalu. Instruksinya selalu dikirim pada jam yang sama, dengan pembayaran melalui layanan aset digital yang diputar melewati beberapa dompet. Tidak ada nama. Hanya kode tugas dan permintaan agar percakapan berbahasa Indonesia diberi penanda khusus.
"Jadi yang dicari bukan hanya urusan NARA," kata Keira.
Nathan menatap catatan itu. "Belum tentu. Mereka bisa ingin tahu jaringan bisnisku di Indonesia."
"Atau ingin tahu apakah kau menelepon istrimu."
Tim berpura-pura sibuk di layar lain. Nathan tidak. "Kalau begitu mereka sudah mendapat jawaban. Aku menelepon istriku setiap kali dia mau mengangkat."
"Kau yang selalu menelepon lebih dulu."
"Detail kecil."
Keira hampir tersenyum, lalu kamera mikro di telapak Tom mengembalikan rasa dingin ke perutnya. Seseorang telah membayar orang asing untuk berdiri cukup dekat dan mendengar suaranya. Ia menarik cardigan lebih rapat meski apartemen tidak dingin.
Nathan meminta alamat surel dan bukti transfer. Tim mengakses penyimpanan perangkat dari vila, menyalin seluruh rekaman, lalu memastikan tidak ada data pribadi lain yang disebarkan. Setelah identitas dan pengakuan tertulis diamankan, Nathan menyuruh Tom melepaskannya di depan kamera.
"Kenapa dilepas?" Keira bertanya setelah pemuda itu pergi.
"Karena kalau kami menahannya, pengirim akan tahu jalurnya putus. Aku ingin alamat surel itu tetap dipakai. Tim akan mengawasi siapa yang masuk."
"Dan polisi?"
"Pengacaraku membuat catatan kejadian. Kalau dia kembali atau materi tersebar, semua bukti diserahkan. Mengikuti dan merekam orang diam-diam tetap pelanggaran, meski tidak membawa senjata."
Keira mengangguk pelan. Keputusan itu dingin, terukur, dan lebih masuk akal daripada tindakan pamer keberanian yang sempat ia khawatirkan.
Nathan kembali berjalan. "Ada yang ingin kau katakan?"
"Aku tadi berdoa supaya bukan Ko Fabian."
"Tapi kau curiga kepadanya."
"Ya. Dia baru pulang, dan sore tadi dia sudah tahu kau berada di Amerika. Namun orang ini bisa saja dikirim kompetitormu."
"Bisa." Nathan tidak mengatakan apakah ia percaya. "Tim akan melacak surelnya. Kau jangan menemui Fabian sendirian."
"Aku tidak berniat."
"Dan besok gunakan sopir."
"Aku akan menyetir sendiri."
"Ci."
"Kau berjanji tidak mengatur."
Nathan menarik napas, menahan bantahan. "Baik. Beri kabar saat berangkat dan tiba. Itu permintaan, bukan perintah."
"Bisa dipertimbangkan."
"Kejam sekali."
Percakapan beralih ke sarapan Nathan dan tenggat Keira. Ketegangan turun perlahan, tetapi tidak benar-benar hilang. Saat panggilan berakhir, Keira menatap layar hitam dan melihat wajahnya sendiri yang pucat.
Ia menyimpan rekaman di dua penyimpanan berbeda, lalu memindahkan tongkat kejut dari meja ke bawah bantal.
Sebelum tidur, ia membuka ruang doa kecil di sudut kamar, menyalakan lampu tanpa lilin, dan merapatkan kedua tangan.
Semoga penguntit itu benar-benar dikirim pesaing bisnis.
Jangan Ko Fabian.
Namun ketika Keira memejamkan mata, ia teringat cara Fabian mengetahui jadwal penerbangan Nathan. Doanya terdengar seperti kebohongan yang bahkan tidak ia percayai sendiri.
Di meja samping ranjang, ponselnya menyala sekali. Nathan mengirim satu pesan: Kunci pintunya, Ci. Aku tetap di sini.
Sampai pagi.