Indonesia
NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: “Upah”

“Tapi jelas banget Prof. Arya sudah mulai sesuatu.”

Kirana baru tahu seberapa serius “sesuatu” itu ketika kelas terakhirnya berakhir sore hari.

Gilang menunggu di dekat gerbang kampus dengan helm cadangan. Kotak sepatu tadi sudah tidak ada, tetapi tekad di wajahnya masih sama kerasnya.

“Aku antar pulang,” katanya.

Kirana berhenti dua langkah di depannya. “Tadi aku sudah bicara jelas.”

“Aku nggak kasih hadiah lagi. Cuma nganter.”

“Tetap nggak.”

“Kirana, jalan ke apartemen macet. Naik motor lebih cepat.”

“Saya yang akan mengantarnya.”

Suara itu datang dari belakang Kirana.

Arya berdiri di tepi trotoar dengan satu tangan di saku celana. Kemeja abu-abunya masih sama seperti pagi tadi, tetapi jas gelap kini tersampir di lengan. Sebuah sedan hitam menunggu beberapa meter di belakangnya.

Gilang segera menurunkan helm. “Prof. Arya.”

“Bukankah saya sudah memberi tugas kelompok untuk pekan depan?”

“Sudah, Prof. Saya kerjakan nanti malam.”

“Bagus. Gunakan waktu sore ini untuk mulai.” Tatapan Arya beralih pada helm di tangannya. “Saya perlu membicarakan tugas tambahan dengan Kirana. Sekalian saya antar dia.”

Kirana membuka mulut. “Tapi saya—”

“Ada keberatan?” tanya Arya.

Ada banyak. Sayangnya, semuanya akan terdengar aneh di depan Gilang.

“Tidak, Prof.”

Gilang menatap Kirana seolah menunggu ia berubah pikiran. Ketika tidak mendapat jawaban, ia mengangguk kaku dan berjalan menuju parkiran motor.

Begitu laki-laki itu menjauh, Kirana berbalik kepada Arya. “Saya bisa pulang sendiri.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa Prof ikut campur?”

“Karena kamu sudah menolaknya dengan jelas dan dia tetap menunggu.” Arya membuka pintu belakang, lalu tampak berubah pikiran. Ia membuka pintu penumpang depan. “Masuk.”

Nada itu tidak keras. Tetap saja tubuh Kirana bergerak lebih dulu daripada protesnya.

Tidak ada sopir di dalam. Arya sendiri yang duduk di balik kemudi. Begitu pintu tertutup, udara dingin dan aroma kulit memenuhi kabin. Kirana memasang sabuk pengaman, sengaja memandang lurus.

“Apartemen saya ke arah sana.” Ia menunjuk kanan saat mobil keluar dari gerbang.

“Kamu pulang ke Kebayoran Baru hari ini.”

Kirana menoleh cepat. “Prof tahu dari mana?”

“Tasmu.”

Di kursi belakang tergeletak tas pakaian kecil yang ia bawa pagi tadi.

“Bisa saja saya mau menginap di rumah Winda.”

“Winda tinggal satu apartemen denganmu.”

Kirana terdiam. “Prof cari tahu tentang saya?”

Arya mengarahkan mobil memasuki jalan utama. “Saya mengajar kelasmu. Mengetahui data dasar mahasiswa bukan kejahatan.”

“Alamat tempat tinggal bukan data dasar untuk dosen pengganti.”

“Kalau begitu, anggap saya punya alasan pribadi.”

Kemacetan sore membuat mobil bergerak pelan. Klakson bersahutan di luar, tetapi di dalam kabin, kesunyian terasa lebih menekan daripada kebisingan.

Kirana memeluk tas di pangkuan. “Malam di Singapura itu kecelakaan. Kita sama-sama dewasa dan sama-sama setuju. Saya sudah minta maaf soal uang. Harusnya selesai.”

Arya meliriknya singkat. “Kecelakaan?”

“Ya.”

“Kamu mencium saya lebih dulu.”

“Karena saya sedang nggak benar.”

“Kamu meminta saya berhenti mengejar dua kali.”

Kirana terdiam, mengingat bagaimana Arya memang berhenti setiap kali ia ragu. Bagaimana pria itu menunggu sampai Kirana sendiri menariknya kembali.

“Tetap saja,” katanya lebih pelan. “Itu cuma satu malam.”

Mobil berhenti di lampu merah. Arya memutar tubuh sedikit menghadapnya.

“Kamu meninggalkan uang.”

“Saya panik.”

“Saya tidak butuh penjelasan.”

“Lalu Prof mau apa?”

Mata gelap itu menahannya di tempat. “Kamu meninggalkan upah seolah saya laki-laki yang bisa dibayar. Sekarang saya yang akan menagih upahnya.”

Tenggorokan Kirana mengering. “Dengan uang?”

“Dengan cara saya.”

Lampu berubah hijau. Arya kembali menghadap jalan, meninggalkan kalimat itu menggantung di antara mereka.

“Itu ancaman?” tanya Kirana.

“Janji.”

Kirana menatap profil wajahnya. “Kalau Prof mengejar saya cuma karena merasa harga diri terluka, berhenti sekarang. Saya nggak mau jadi trofi balas dendam.”

Arya memperlambat mobil saat kendaraan di depan mengerem. “Kamu pikir saya memindahkan jadwal kerja, tinggal di Depok, dan mengajar satu semester hanya untuk membalas selembar uang?”

Pengakuan itu membuat Kirana lupa bernapas. “Prof pindah ke apartemen dekat kampus?”

“Untuk sementara.”

“Karena saya?”

“Kamu akhirnya bertanya hal yang benar.”

“Itu bukan jawaban.”

“Ya.”

Satu suku kata tersebut jatuh lebih berat daripada kalimat panjang. Kirana menatap jalan lagi, tetapi bayangannya di kaca memperlihatkan pipi yang memerah.

“Prof bahkan nggak kenal saya.”

“Saya tahu kamu tidak tahan makanan terlalu pedas. Saya tahu kamu minum kopi saat belum sarapan. Saya tahu kamu lari setiap pagi kalau sedang kesal dan memilih jalan memutar daripada membiarkan seseorang melanggar batasmu.”

“Itu hasil menguntit dua hari.”

“Mengamati.”

“Sama saja.”

“Kalau saya menguntit, saya akan tahu alamat rumahmu. Kamu masih berhasil merahasiakannya.”

Kirana tidak tahu harus kesal atau lega. “Jangan bangga karena cuma tahu separuh hidup saya.”

“Saya tidak terburu-buru.” Arya menggeser tangannya di atas kemudi. “Satu semester cukup panjang.”

“Dan setelah semester selesai?”

Tatapannya berpindah pada Kirana, kali ini tanpa senyum.

“Saya tidak datang untuk pergi setelah satu semester.”

Ponsel Arya berdering sebelum ia sempat membalas. Nama Eyang Sekar muncul di layar mobil.

Arya mengembuskan napas pendek lalu menerima panggilan melalui pengeras suara. “Ya, Eyang.”

“Jangan jawab seperti direktur sedang menerima laporan,” suara perempuan tua terdengar lantang. “Eyang menelepon cucu sendiri.”

Sudut bibir Kirana bergerak. Arya menangkapnya dan menatap tajam, tetapi tidak benar-benar marah.

“Arya sedang menyetir.”

“Bagus. Berarti telingamu tidak sibuk. Mama-mama teman Eyang sudah menawarkan cucunya lagi. Kamu mau Eyang pilihkan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, bawa perempuan pilihanmu pulang. Satu bulan.”

Tangan Kirana yang memegang tas mengencang.

Arya meliriknya. “Eyang terlalu cepat menyimpulkan.”

“Eyang membesarkanmu. Kalau suaramu berubah setengah nada saja, Eyang tahu ada perempuan di dekatmu.”

Kirana langsung menahan napas.

“Satu bulan, Le,” lanjut Eyang Sekar. “Kalau tidak, Eyang mulai atur pertemuan.”

Sambungan terputus sepihak.

Keheningan kali ini berbeda. Kirana menatap jendela, berpura-pura tertarik pada deretan kendaraan.

“Eyang Prof lucu,” katanya akhirnya.

“Beliau serius.”

“Semoga Prof cepat menemukan orang yang tepat.”

Arya menatapnya cukup lama sampai Kirana gelisah. “Saya sudah menemukannya.”

“Jangan lihat saya.”

“Saya sedang lihat jalan.”

“Bohong.”

Arya tersenyum kecil.

Saat mobil memasuki Kebayoran Baru, Kirana meminta turun dua persimpangan sebelum rumahnya. Arya tidak memaksa, hanya menepikan mobil di bawah pohon besar.

“Terima kasih sudah mengantar.” Kirana membuka sabuk pengaman. “Tapi saya tetap tidak berutang apa-apa.”

“Kita lihat nanti.”

Kirana turun dan menutup pintu. Ia baru berjalan tiga langkah ketika kaca mobil turun.

“Rana.”

Ia menoleh.

Arya menatapnya dari balik kemudi, tenang dan pasti.

“Satu bulan itu lebih dari cukup.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!