Indonesia
NovelToon NovelToon
Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.

Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.

Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.

Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tap. Tap. Tap.

Suara ketukan sepatu kulit menggema tajam di lorong panjang berlantai marmer sebuah gedung pencakar langit di ibukota.

Seorang pria paruh baya berkacamata tebal berjalan tergesa-gesa sambil memeluk sebuah map dokumen rahasia berwarna merah.

Pria itu bernama Dokter Tirta, kepala dewan riset dari perusahaan farmasi raksasa bernama Sindikat Medika Utama.

Cklek.

Pintu ganda ruangan direktur utama dibuka dengan kasar oleh Dokter Tirta tanpa mengetuk terlebih dahulu.

"Tuan Hendra, kita punya masalah besar yang tiba-tiba muncul dari daerah provinsi," ucap Dokter Tirta dengan napas tersengal.

Di balik meja kerja mahogany yang sangat besar, seorang pria berjas abu-abu duduk menghadap jendela kaca yang menampilkan pemandangan padatnya ibukota.

Pria itu memutar kursinya perlahan, menatap tajam ke arah Dokter Tirta dengan mata menyipit.

"Tenanglah, Tirta, kau ini seorang ilmuwan, bukan anak magang."

"Apa yang membuatmu panik seperti tikus yang sedang terjebak ini?" tanya Hendra dingin.

"Ini tentang Jenderal Aditama, Tuan," jawab Dokter Tirta sambil meletakkan map itu di atas meja kaca.

"Intelijen kita melaporkan bahwa cucunya, Aurel, yang menderita Sindrom Meridian Yin Es telah sembuh total secara tiba-tiba kemarin malam."

Brak!

Hendra menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras hingga cangkir kopinya bergetar dan sedikit tumpah.

"Itu sama sekali tidak masuk akal!" bentak Hendra dengan wajah memerah menahan amarah.

"Kita sudah sengaja menahan pasokan obat penahan rasa sakitnya agar Jenderal tua itu mau menyerahkan lahan proyek militer pada perusahaan kita."

"Bagaimana mungkin gadis itu bisa sembuh padahal semua dokter spesialis di negara ini sudah menyerah dan memvonisnya mati?" tanya Hendra dengan nada tidak percaya.

Dokter Tirta menelan ludah, tangannya sedikit gemetar saat membuka lembaran laporan di dalam map tersebut.

"Menurut laporan mata-mata kita, Jenderal Aditama membawa Aurel ke sebuah klinik tertutup bernama Klinik Nirwana," jelas Dokter Tirta.

"Klinik itu dikabarkan menjual pil ajaib seharga tiga ratus juta rupiah yang bisa menyembuhkan penyakit kronis apa pun hanya dalam satu jam."

Hendra menyipitkan matanya, insting bisnis licik dan sifat kejamnya langsung mengambil alih pikirannya.

Dia tahu betul, obat mujarab seperti itu bisa menghancurkan monopoli bisnis farmasinya yang bernilai triliunan rupiah.

"Kirim tim bayangan terbaik kitabesok pagi," perintah Hendra mutlak.

"Cari tahu siapa pemilik klinik itu, tangkap dia, dan rebut resep pil tersebut bagaimanapun caranya."

"Kalau tabib itu menolak bekerja sama dan bersumpah setia pada Medika Utama, bakar kliniknya dan lenyapkan nyawanya tanpa jejak," tambah Hendra dengan senyum psikopat.

"Baik, Tuan Hendra, saya akan segera mengaturnya," jawab Dokter Tirta lalu undur diri dari ruangan tersebut dengan cepat.

"Klinik Nirwana ya? Berani sekali ada lalat kecil yang bermain di wilayah kekuasaanku," gumam Hendra sambil menyesap kopinya yang mulai dingin.

...

Di waktu yang sama, suasana di Klinik Nirwana justru sedang sangat sibuk dan meriah.

Kring! Kring! Kring!

Tiga telepon di meja resepsionis terus berbunyi bergantian tanpa henti sejak klinik dibuka pagi tadi.

Siska duduk di kursi manajernya di ruang kantor lantai dua dengan wajah lelah namun dihiasi senyum kebahagiaan yang luar biasa.

Tumpukan map berisi daftar tunggu pasien VIP sudah setinggi gunung di atas meja kerjanya.

Tok. Tok.

Pintu ruangan Siska diketuk perlahan dari luar.

"Masuk saja, pintunya tidak pernah saya kunci untuk Anda," teriak Siska dari dalam ruangan.

Cklek.

Pak Herman masuk ke dalam ruangan itu dengan tawa bariton yang sangat renyah dan puas.

"Hahaha, luar biasa Siska, sepertinya kau sedang berenang di dalam lautan uang hari ini," sapa Pak Herman sambil duduk bersandar di sofa tamu.

"Pak Herman, Anda datang di saat yang tepat untuk membantu saya bernapas," balas Siska sambil menghela napas panjang.

"Daftar tunggu kita sudah mencapai seratus orang dari kalangan elit, bahkan ada bupati dari kota tetangga yang memohon untuk dimasukkan ke urutan atas."

"Ini semua berkat promosi gila-gilaan dari Pak Surya dan koneksi Anda, tapi Tuan Bayu bersikeras membatasi produksi pil hanya sepuluh butir bulan ini," keluh Siska dengan senyum bangga.

"Biarkan saja mereka menunggu dan memohon seperti pengemis," ucap Pak Herman santai sambil menyilangkan kakinya.

"Itu adalah strategi brilian Tuan Bayu untuk membuat mereka sadar bahwa uang saja tidak cukup untuk membeli nyawa di klinik ini."

Pak Herman menghentikan tawanya, menatap Siska dengan pandangan yang jauh lebih serius dari sebelumnya.

"Ngomong-ngomong, besok pagi Tuan Bayu sudah harus berangkat ke ibukota untuk pendaftaran universitas."

"Apakah kau yakin bisa menjaga tempat ini dari incaran para pesaing bisnis yang mungkin mulai menyadari keberadaan kita?" tanya Pak Herman.

Siska tersenyum tajam, aura CEO wanita yang kuat dan kejam kembali memancar dari sorot matanya.

"Jangan pernah meremehkan saya, Pak Herman."

"Siapa pun yang berani mengganggu aset milik Bayu di kota ini, harus melewati mayat saya terlebih dahulu," jawab Siska dengan nada mematikan.

"Bagus, aku juga sudah menyiagakan puluhan penjaga bersenjata dari yayasan untuk mengamankan area sekitar ruko ini siang dan malam," tambah Pak Herman.

"Kita harus memastikan halaman belakang Tuan Bayu tetap aman terkendali selama dia menaklukkan ibukota nanti."

"Lalu, apakah Anda tahu di mana Bayu sekarang?" tanya Siska sambil merapikan dokumennya.

"Dia sedang berada di apartemen mewahnya, sepertinya dia sedang mengadakan pertemuan perpisahan tertutup dengan beberapa orang," jawab Pak Herman sambil tersenyum penuh arti.

...

Di sebuah penthouse termewah di pusat kota, pemandangan kota di malam hari terlihat sangat indah dari balik dinding kaca.

Apartemen ini adalah hadiah spesial dari Siska untuk Bayu sebagai tempat tinggal sementara sebelum dia pindah.

Bayu duduk bersantai di atas sofa kulit yang sangat empuk, mengenakan kemeja santai berwarna hitam pekat.

Di sebelah kirinya, Bu Rina duduk merapat dengan mengenakan gaun tidur berbahan sutra merah yang sangat tipis dan menggoda.

Di sebelah kanannya, Natasha duduk dengan wajah merona merah, hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Bayu yang menutupi setengah pahanya.

1
syarif ibrahim
👍👍👍💪
syarif ibrahim
tidak perlu jendral, karena cucumu sdh jadi milikku... 🤣🤣🤣🤣🤣
syarif ibrahim
terbalik bab nya
Yui: Terimakasih atas koreksinya kak😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!