Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Armand berbaring di tempat tidur yang empuk dan bersih, menatap langit-langit kamar yang tinggi dan tenang.
Namun, di tengah keheningan itu, bayangan mantan istrinya yang dulu membentak dan menghinanya tiba-tiba melintas kembali di benaknya—suara jeritan Sarah, cacian tentang kemiskinannya, dan tatapan penuh kebencian yang selama bertahun-tahun meremukkan hatinya.
Kontras dengan kehangatan dan kemewahan tempat ia berada saat ini, dada Armand berdesir hebat.
"Ya Allah, apa semua ini?" gumam Armand lirih dengan mata berkaca-kaca, merasa takjub sekaligus haru atas perubahan takdir yang begitu cepat menghampirinya.
Di dapur, aroma harum rempah yang menggugah selera mulai membumbung tinggi.
Selesai masak, Nadya masuk ke kamar dan mengajak suaminya ke ruang makan.
"Mas, makanannya sudah siap. Ayo kita makan malam dulu," panggil Nadya lembut sambil memberikan senyuman hangat dari ambang pintu.
Armand segera bangkit dan mengekor di belakang Nadya menuju meja makan yang tertata rapi.
Melihat deretan hidangan yang tersaji, mata Armand berbinar.
"Dek, terima kasih atas semuanya," ucap Armand tulus, menatap penuh rasa syukur pada wanita yang kini menjadi pelindung sekaligus pendamping hidupnya.
Nadya tersenyum manis seraya menarikkan kursi untuk suaminya.
"Tidak usah terima kasih, Mas. Ini sudah kewajiban aku menjadi istri."
Dengan telaten, Nadya mengambil nasi dan rendang yang masih mengepul hangat, lalu meletakkannya di piring Armand.
Armand mulai menyuap makanan itu perlahan. Begitu bumbu rendang yang kaya rasa menyentuh lidahnya, matanya langsung membelalak kagum.
Ia menikmati masakan istrinya dengan begitu lahap.
"Masakan kamu sangat enak sekali, Dek," puji Armand tulus di sela-sela suapannya.
Nadya tertawa kecil, pipinya merona mendengar pujian sederhana namun sejujurnya itu.
"Ini baru belajar tadi, Mas, di media sosial," sahut Nadya terkekeh pelan, merasa bahagia bisa menyajikan hidangan yang disukai oleh suaminya.
"Tapi ini beneran enak, Dik. Kalau misal Adik bukan CEO, pasti Mas akan meminta agar Adik membuka rumah makan Padang," puji Armand jujur sambil menambah suapan nasi dan rendangnya.
Nadya tertawa kecil mendengar perkataan suaminya yang begitu polos namun manis.
Suara tawa renyahnya memenuhi ruang makan yang hangat itu, mengikis sisa-sisa canggung yang sempat membentang di antara mereka.
"Mas ini bisa saja," sahut Nadya di sela tawa pelannya, matanya berbinar menatap Armand.
"Kalau aku buka rumah makan Padang, nanti yang jadi koki utamanya tetap aku, dong? Lalu yang ngurus perusahaan siapa?"
Armand terkekeh pelan, ikut tersenyum melihat keceriaan yang terpancar dari wajah istrinya.
Momen makan malam yang sederhana itu terasa begitu hidup dan berharga—sebuah kenyamanan yang tak pernah Armand rasakan selama berpunya rumah tangga sebelumnya.
Selesai makan, Nadya merapikan piring-piring kotor di atas meja, lalu kembali duduk di hadapan Armand. Ia menatap suaminya dengan penuh rasa ingin tahu dan perhatian.
"Mas biasanya menerima jahitan apa?" tanya Nadya lembut.
Armand mengusap tengkuknya canggung, tersenyum tipis mengingat pekerjaannya sehari-hari di kontrakan dulu.
"Mas biasanya menjahit pakaian yang sobek dan permak celana jin," jawab Armand jujur, menyuarakan kesederhanaan keahlian yang selama ini ia jalani.
Nadya mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja pelan, seolah sedang memikirkan sebuah gagasan besar.
"Mas, bagaimana kalau Mas membuat pakaian seragam?" usul Nadya tiba-tiba.
Armand menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Maksud Adik?"
"Perusahaanku sedang mencari penjahit untuk membuat pakaian dinas. Di tempat biasa sedang penuh. Mas bisa?" tanya Nadya menatap lekat iris mata suaminya.
Tanpa menunggu jawaban, Nadya bangkit sebentar menuju tas kerjanya, lalu mengambil sebuah berkas sampel desain dan kain.
Nadya memberikan contoh pakaian dinas karyawannya kepada Armand.
Armand menerima berkas tersebut dengan tangan bergetar pelan.
Ia memperhatikan detail jahitan, potongan pola, dan kerapian kain bahan kemeja dinas eksekutif di tangannya.
"Tapi, apa Mas bisa, Dek?" tanya Armand ragu.
Memperbaiki celana jin sangat jauh berbeda dibanding membuat satu setel kemeja dinas berkelas untuk perusahaan besar.
Nadya mengikis jarak di antara mereka, memegang kedua bahu Armand dengan sorot mata yang memancarkan keyakinan mutlak.
"Mas pasti bisa," puji Nadya menguatkan.
"Aku tahu kerapian dan ketelitian tangan Mas. Tinggal disesuaikan dengan pola yang ada di berkas ini."
Armand menarik napas panjang. Rasa percaya yang diberikan oleh istrinya meruntuhkan tembok keraguan di dalam dadanya.
"Hm, besok Mas coba ya, Dik," ucap Armand mantap, bertekad tidak akan mengecewakan wanita yang telah mengangkat harkat dan martabatnya dari kehancuran.
Nadya menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang merekah.
Kemudian Nadya mengajak suaminya ke kamar utama yang terasa amat luas dan tenang.
Langkah mereka disambut aroma wewangian terapi yang menenangkan, berpadu dengan pencahayaan hangat yang menembus celah gorden tebal.
Nadya melangkah mendekati tempat tidur berukuran king size yang empuk, lalu mengambil bantal dan guling dari atas peraduan.
Armand yang memperhatikan gerak-gerik istrinya mendadak mengernyitkan kening penuh kebingungan.
"Dek, kamu mau ke mana?" tanya Armand heran.
Nadya mendekap bantal di dadanya, lalu melemparkan senyum canggung yang teramat manis.
"Aku tidur di sofa, Mas. Mungkin Mas masih kurang nyaman kalau harus langsung tidur satu ranjang sama aku," tutur Nadya pelan, mencoba mengerti posisi suaminya yang baru saja melewati trauma besar dan pernikahan yang sangat serba cepat.
Mendengar penuturan tulus itu, dada Armand berdesir hangat. Rasa dihargai sebagai seorang pria merayapi relung hatinya.
Ia tidak ingin lagi terlihat lemah atau membuat wanita yang begitu memuliakannya ini merasa tersisih di rumahnya sendiri.
Armand melangkah mendekat, lalu dengan lembut mengambil bantal dan guling dari dekapan Nadya, meletakkannya kembali ke atas kasur.
Tangannya kemudian terulur menggenggam jemari Nadya yang terasa dingin.
"Dek, tidur di sampingku saja," ucap Armand tulus, menatap dalam ke iris mata Nadya.
"Kamu adalah istriku yang sah. Mas yang harusnya minta maaf kalau belum bisa jadi suami yang sempurna, tapi Mas ingin kita melewati malam pertama ini bersama... sebagai suami istri."
Pipi Nadya merona merah mendengar penegasan mantap dari bibir suaminya. Keberanian dan ketulusan Armand meruntuhkan sisa-sisa kekuatiran di dalam dadanya.
"Terima kasih, Mas," bisik Nadya lembut.
Malam itu, di bawah naungan atap rumah baru mereka, dua jiwa yang sama-sama pernah dirundung sepi dan luka saling merekatkan diri.
Armand merebahkan tubuhnya di samping Nadya, menyelimuti tubuh istrinya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam, tidak ada lagi hinaan yang meremukkan harga diri—hanya ada ketenangan, keikhlasan, dan sebuah ikatan suci yang kini mulai terajut erat di antara mereka.
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah dengan lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit, Sarah tampak sedang memanjakan diri di sofa berbahan beludru.
Ia baru saja selesai menata deretan perhiasan emas yang baru dibelinya saat ponsel mahalnya berdering. Nama ibunya muncul di layar.
"Kamu di mana?" tanya suara di seberang sana dengan nada yang tertahan, penuh dengan rasa penasaran yang mendesak.
Sarah mendengus pelan, lalu menyandarkan tubuhnya dengan angkuh.
"Aku di rumahku, Bu. Rumah mewah di perumahan elit."
"Ibu mencarimu dari tadi, Sarah! Ibu tidak tahu nomor teleponmu yang baru!" seru Ibu Mirna, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja lolos dari sebuah keributan.
Sarah sedikit mendongak, merasa sedikit risih dengan nada bicara ibunya, namun ia tetap merasa perlu pamer.
Dengan jemari lentiknya, ia mengirimkan lokasi tepat rumah barunya melalui aplikasi pesan singkat.
"Ini lokasinya, Bu. Datanglah kalau mau melihat bagaimana rupa orang kaya itu hidup."
Di sisi lain, Ibu Mirna mematung saat melihat layar ponselnya.
Matanya membelalak lebar melihat deretan alamat yang tertera; sebuah perumahan elit yang selama ini hanya bisa ia lihat dari gerbang depannya saja.
Senyum licik seketika mengembang di wajahnya, menggantikan sisa-sisa amarah yang tadi dibawa dari rumah kontrakan Armand.
"Sekarang anakku sudah kaya." gumam Ibu
Mirna dengan tawa kecil yang terdengar serakah.
Ia mulai membayangkan tumpukan uang yang bisa ia peras dari putrinya.
"Dan, aku akan meminta agar dia membayar semua hutang-hutangku, serta memberikan fasilitas mewah untukku juga. Armand memang tidak berguna, Sarah adalah tambang emas yang takkan kubiarkan lepas begitu saja."
Tanpa membuang waktu, Ibu Mirna segera menyambar tas usangnya dan bersiap berangkat, membayangkan kehidupan barunya yang akan segera berubah drastis di balik gerbang rumah mewah putrinya.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,