Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 27 - Jangan Gerak-gerak
Setelah sambungan telepon dengan Nadine terputus, wajah Mommy Aluna tidak langsung kembali seperti semula. Ia masih memandangi layar ponselnya dengan wajah yang terlihat murung.
'Ethan terlihat semakin kurus.' Kalimat Nadine tadi jadi terus terngiang di kepalanya.
Aluna memang sudah cukup lama tidak bertemu dengan putranya secara langsung. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Ethan, tetapi pria itu selalu mengatakan sedang sibuk. Bahkan ketika Aluna mengatakan ingin datang ke mansion, Ethan dengan tegas meminta ibunya untuk tidak datang terlebih dahulu.
Awalnya Aluna mengira putranya hanya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun sekarang ia mulai merasa tidak tenang, khawatir.
"Ada apa?" Suara seorang pria dari sampingnya membuat mommy Aluna menoleh.
Daddy Davion sejak tadi duduk di sofa yang sama sambil membaca beberapa dokumen. Pria itu langsung menutup berkas di tangannya ketika melihat perubahan wajah sang istri.
"Kamu terlihat cemas," ucap Daddy Davion lagi, bicara dengan penuh perhatian. Bahkan kini sorot matanya tertuju sepenuhnya pada sang istri.
Aluna menghela napas. "Tadi Nadine menelepon, Dad."
"Dari Nadine?"
Aluna mengangguk. "Dia mengatakan Ethan terlihat semakin kurus ketika bertemu dengannya."
Davion langsung mengerutkan kening. "Semakin kurus?"
"Iya." Aluna menatap suaminya. "Aku jadi khawatir."
"Memangnya kapan terakhir kali kamu melihat Ethan?"
"Sudah cukup lama, mungkin sekitar lima bulan lalu."
"Dan kenapa kamu tidak mengunjunginya?"
Aluna menghela napas lagi. "Aku pernah bilang ingin datang, tetapi Ethan melarangku."
Davion mengangkat alis. "Dia melarangmu?"
"Iya, katanya sedang sangat sibuk dan tidak ingin diganggu."
Wajah Davion langsung berubah. "Anak itu berani melarang ibunya datang?"
Aluna hampir tertawa melihat perubahan ekspresi sang suami. "Jangan marah dulu," ucap mommy Aluna, juga memeluk lengan sang suami.
"Aku tidak marah."
"Kamu sudah memasang wajah seperti ingin memakan Ethan sekarang juga."
Daddy Davion terdiam dan mommy Aluna tersenyum kecil. Memang begitulah suaminya. Davion sangat menyayangi anak-anaknya, tetapi rasa sayangnya kepada Aluna bahkan jauh lebih besar. Jika anak-anak mereka sampai membuat Aluna sedih atau tidak memperhatikannya, maka Davion bisa menjadi orang pertama yang memarahi mereka.
"Aku hanya ingin melihat keadaan Ethan," kata Aluna pelan. "Tapi dia bilang sedang sibuk. Aku harus bagaimana, Dad?"
Davion menatap istrinya beberapa saat. "Kamu ingin datang?"
Aluna mengangguk.
"Kalau begitu datang saja."
"Tapi Ethan melarangku."
Davion mendengus kecil. "Kamu adalah ibunya."
Aluna terdiam.
"Dia boleh menjadi jenderal di luar sana. Dia boleh memiliki jabatan setinggi apa pun." Davion mengambil tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Tapi di hadapanmu, dia tetap anakmu."
Aluna akhirnya tersenyum. "Jadi aku boleh datang?"
"Tentu saja boleh."
"Bagaimana kalau Ethan marah?"
"Biar aku yang memukulnya nanti."
Aluna tertawa kecil. "Kamu ini..."
Davion mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut. "Aku tidak akan membiarkan anakku terlalu sibuk sampai lupa menjaga ibunya sendiri."
Aluna menatap suaminya dengan tatapan hangat. "Kalau begitu, malam ini kita pergi ke mansion Ethan?"
Daddy Davion langsung mengangguk setuju dan mommy Aluna tersenyum senang, setidaknya sekarang hatinya sedikit lebih tenang. Mommy Aluna ingin melihat sendiri keadaan putranya.
Sementara itu di mansion Ethan, suasana kembali tenang setelah Nadine pergi.
Ethan tidak lagi memikirkan tentang kedatangan wanita itu. Begitu memastikan Nadine sudah meninggalkan mansion, ia langsung menuju ke ruang kerjanya.
Berbagai laporan sudah menunggu dan Ethan bekerja dalam keheningan.
Waktu berlalu begitu cepat.
Satu jam.
Kemudian dua jam.
Ethan bahkan tidak menyadari bahwa matahari sudah mulai bergeser dari posisi sebelumnya. Tangannya masih sibuk membalik halaman laporan, sampai akhirnya terdengar suara pintu yang diketuk.
Tok! Tok! Tok! "Suamiku, ini aku Ashlyn. Apa aku boleh masuk?" tanya Ashlyn dari arah luar, dia sudah belajar bahwa harus mengetuk pintu sebelum masuk ke sebuah ruangan. Tiap hal yang ia pelajari selalu Ashlyn terapkan dengan sangat baik.
Ethan langsung mengangkat kepala. "Masuklah," jawab Ethan kemudian, sedikit tertegun mendengar Ashlyn yang lebih dulu meminta izin.
Ashlyn kemudian muncul dari balik pintu. "Suamiku!"
Namun sebelum Ethan sempat bicara apapun, Ashlyn sudah lebih dulu berlari masuk. "Suamiku!"
"Ashlyn, jangan berlari_" ucapan Ethan terhenti, sebab Ashlyn sudah tak mendengarkan. Ashlyn langsung berlari menghampiri Ethan. Dan tanpa berpikir panjang, Ashlyn duduk begitu saja di atas pangkuan sang suami.
Deg! Tubuh Ethan seketika menegang. Tangannya yang tadi memegang pena seketika berhenti di udara.
Ashlyn sama sekali tidak menyadari ketegangan yang Ethan rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, pangkuan Ethan adalah satu tempat duduk favorit Ashlyn.
Ashlyn kemudian mengangkat selembar kertas yang sejak tadi digenggamnya. "Suamiku, lihat!"
Ethan menelan ludah kasar. Ia benar-benar harus mulai membiasakan diri dengan semua ini. Ashlyn terlalu polos dan gadis itu sama sekali tidak memahami bahwa duduk di pangkuannya seperti ini bisa membuat dirinya sendiri dalam situasi yang sangat canggung.
Ethan menarik napas panjang, berusaha mengembalikan ketenangan.
"Apa itu?" tanya Ethan akhirnya.
Ashlyn menunjukkan kertas tersebut dengan penuh kebanggaan."Ini gambar Ashlyn!"
Ethan menatap kertas itu. Di sana terdapat gambar seorang wanita dengan rambut panjang, seorang pria tinggi, sebuah rumah besar, dan beberapa bunga yang bentuknya tidak terlalu jelas. Semua gambar itu bentuknya tidak jelas.
Ashlyn menunjuk gambar wanita tersebut. "Ini Ashlyn."
Kemudian jarinya berpindah kepada gambar pria. "Ini Suamiku."
Ethan menatap gambar itu cukup lama. "Dan ini?"
Ashlyn menunjuk rumah yang ukurannya jauh lebih besar daripada kedua manusia di dalam gambar.
"Ini rumah kita," jawab Ashlyn.
Ethan terdiam, entah kenapa gambar tak beraturan yang dibuat dengan tangan kecil itu justru membuat sesuatu terasa hangat di dadanya.
Ashlyn menatap wajah Ethan penuh harap. "Bagus, kan?"
Ethan mengangguk perlahan. "Bagus."
Mata Ashlyn langsung berbinar. "Suamiku suka?"
"Iya."
Ashlyn tersenyum lebar. "Ashlyn menggambar kita."
Ethan menatap gadis yang masih duduk di pangkuannya tersebut. Semakin ia menatap Ashlyn entah kenapa jadi semakin tak ingin berpaling. Ashlyn yang apa adanya seperti ini membuat Ethan tak perlu waspada.
"Kamu belajar menggambar selama dua jam?" tanya Ethan.
"Iya!"
"Dan setelah selesai langsung mencariku?"
Ashlyn mengangguk cepat. "Ashlyn mau menunjukkan dulu kepada Suami."
Ethan menghela napas pelan. "Kenapa tidak menunggu aku datang?"
"Ashlyn tidak sabar, maaf ya Ashlyn tidak sabar," jawab Ashlyn lalu tersenyum malu-malu.
Ethan menahan senyum yang ingin muncul di bibirnya, sikap Ashlyn yang seperti ini terlihat seperti seekor anak kucing yang manja.
Ashlyn kemudian menyandarkan kepalanya sebentar di dada Ethan sambil memegang gambar tersebut. "Suamiku sedang sibuk ya?"
Ethan menatap rambut panjang yang berada begitu dekat dengan dagunya. Tangannya perlahan terangkat, lalu tanpa sadar ia mengusap kepala Ashlyn.
"Sebentar lagi selesai."
"Benarkah?"
"Iya."
Ashlyn kembali tersenyum. "Kalau selesai, Suami mau lihat gambar Ashlyn lagi?"
Ethan menatap kertas di tangan gadis itu. "Kalau kamu mau menunjukkan, aku akan melihatnya."
Ashlyn tertawa kecil. "Suamiku baik sekali."
Ethan hanya menghela napas, juga memeluk pinggang Ashlyn agar tidak jatuh.
"Suamiku," panggil Ashlyn lagi.
"Hm?"
"Terima kasih ya."
"Terima kasih untuk apa?"
"Karena bersedia jadi suami Ashlyn, sekarang Ashlyn punya rumah seperti istana dan punya tempat duduk favorit ini. Nyaman sekali," jelas Ashlyn lalu bergerak-gerak merasa keenakan.
"Hm! Jangan gerak-gerak," pinta Ethan.