Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : Drama Murahan Menyebalkan
Beberapa hari setelah kehebohan presentasi Sejarah bersama Bu Dewi, suasana di kelas XI IPS 2 berjalan relatif lebih tenang—setidaknya begitu menurut perkiraan Kiara. Namun, efek domino dari taruhan Khafi di depan kelas ternyata berbuntut panjang. Berita bahwa sang Kapten Basket meminta maaf secara terbuka kepada seorang siswi baru bertubuh mungil menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru angkatan kelas sebelas.
Namun, tidak semua orang menikmati berita heboh tersebut dengan tawa.
Di koridor gedung kelas XI IPS 1, suasana terasa mencekam. Selly—siswi yang selama ini merasa dirinya memiliki hak istimewa atas Khafi—berdiri menyandarkan punggungnya di pembatas koridor dengan wajah terlipat gusar. Jemari tangannya menggegam ponsel erat-erat, sementara matanya memandang tajam ke arah kelas XI IPS 2 di ujung selasar.
Dua orang temannya, Chika dan Vanya, berdiri membisikkan gosip yang makin membakar amarah Selly.
"Serius, Sel! Gue denger sendiri dari anak-anak basket, katanya Khafi sampai bela-belain ngerjain tugas sejarah demi tuh cewek baru," kompor Chika seraya memoles lip tint di bibirnya.
"Iya, Sel. Mana katanya tadi pas di kelas, Khafi manis banget manggil nama tuh cewek," timpal Vanya tidak mau kalah. "Lo kan calon pacarnya Khafi, masa lo diem aja sih? Ntar posisi lo terancam lagi!"
Selly mendengus kasar, membetulkan letak bando pastel di rambutnya yang bergelombang. Matanya memancarkan kilat ketidaksukaan yang amat sangat. "Calon pacar apanya? Khafi itu punya gue! Tuh cewek baru aja yang kecentilan!" cetus Selly sinis seraya melangkah lebar menuju arah kantin utama. "Awas aja, gue harus kasih pelajaran ke anak baru itu biar tahu diri!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu, bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar baru saja berbunyi. Keriuhan khas jam pulang sekolah memadati selasar gedung utama.
Kiara sedang merapikan buku-buku catatannya ke dalam ransel, sementara Neona di sampingnya sibuk merapikan tatanan rambutnya di depan cermin saku.
"Ra, ntar jalan bareng kan sampai gerbang?" tanya Neona seraya mengatupkan cerminnya.
"Iya, Na. Jemputan gue nanti nunggu di depan parkiran," sahut Kiara seraya menyampirkan tas di bahunya.
Baru saja mereka berdua keluar menjejakkan kaki di selasar lorong kelas, suasana mendadak terasa sedikit aneh. Beberapa murid yang sedang mengobrol di dekat tiang koridor melirik-lirik ke arah Kiara seraya berbisik-bisik.
Tak jauh dari situ, tiga orang siswi kelas XI IPS 1 sedang berdiri bersedekap, menghalangi separuh jalan selasar. Di posisi paling depan, berdirilah Selly—gadis yang sejak hari pertama diwanti-wanti oleh Neona.
Selly tampil dengan seragam sekolah yang sengaja dikecilkan hingga agak mengetat, pita rambut berwarna merah menyala, serta riasan tipis dengan pemerah bibir yang lumayan menonjol untuk ukuran anak sekolah. Ia bersedekap dada seraya melempar tatapan sinis nan tajam, seolah sedang menyambut musuh bebuyutan.
Neona yang menyadari keberadaan Selly langsung menyenggol lengan Kiara keras-keras. "Wah, gawat, Ra. Anjir, ngapain dia mangkal di sini?" bisiknya setengah bergidik.
Kiara yang baru beberapa minggu pindah ke sekolah itu mengernyit bingung. "Siapa sih? Kayak kenal aja ngeliatin gue begitu."
"Itu Selly. Cewek obsesif yang gue ceritain tentang Khafi." desis Neona sewot. "Udah, jalan lurus aja, jangan diladenin. Dia emang hobi cari panggung."
Kiara hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatap polos ke arah Selly. Bagi Kiara yang baru beberapa minggu pindah ke sekolah ini, ia sama sekali tak punya urusan atau kenal secara pribadi dengan gadis itu. Buatnya, meladeni orang nggak jelas cuma buang-buang energi. Tapi rupanya Selly punya rencana lain, begitu Kiara dan Neona hampir melangkah melewati mereka, Selly sengaja melangkah maju untuk memotong jalur tepat di depan Kiara dengan dagu terangkat sinis.
"Oh... jadi ini anak baru yang sok kecantikan itu?" suara Selly mengalun dengan nada halus yang dibuat-buat, penuh intonasi sinis yang disengaja.
Ia mengamati Kiara dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan pandangan meremehkan. "Muka biasa aja, pendek, tapi kelakuannya centil banget ya ke cowok orang."
Dua temannya di belakang—dayang-dayang setia Selly—spontan terkikik geli menimpali. "Iya nih, Sel. Masa anak baru udah berani tebar pesona ke Khafi."
Neona yang tidak terima temannya dipojokkan langsung maju selangkah. "Heh, Selly! Mulut lo bisa dijaga nggak? Siapa juga yang tebar pesona!" ucapnya dengan nada sewot, Kiara yang berada di sampingnya segera menahan lengan Neona.
Selly memutar bola matanya malas, mengabaikan Neona dan tetap menatap Kiara dengan dagu terangkat. "Gue nggak ngomong sama lo ya, Neona. Gue lagi ngasih tau sama temen baru lo ini. Eh... lo harusnya sadar diri ya. Jangan mentang-mentang Khafi kemarin yang katanya minta maaf di hadapan banyak orang, lo ngerasa di atas angin. Khafi itu cuma kasihan sama lo! Lagian semua orang juga tau, Khafi itu cuma punya gue seorang."
Kiara membeku sejenak. Ia menatap Selly lurus-lurus, mencoba mencerna rentetan ucapan menye-menye dari gadis di depannya ini. Bukannya takut atau panik, Kiara justru merasa geli bercampur heran.
"Maaf ya," suara Kiara mengalir pelan namun sangat jernih dan tenang. "Lo ini siapa ya? Dan urusan gue sama lo apa?"
Selly membelalakkan matanya, kaget luar biasa karena bukannya ciut, Kiara justru bertanya dengan nada seperti menganggapnya tidak ada. "Lo... lo enggak tau gue siapa?! Gue Selly! Calon pacar resminya Khafi!"
Kiara menyunggingkan senyum tipis yang amat sangat datar. "Oh. Calon pacar. Berarti belum resmi, kan? Lagian kalau lo ada masalah sama kelakuan Khafi, ya samperin Khafi-nya langsung. Kenapa malah ngelabrak gue? Nggak ada kerjaan banget."
"Lo—!" Selly menggebu-gebu, mukanya mendadak memerah karena balasan telak dan santai dari Kiara.
Tiba-tiba, dari arah belakang lorong, keriuhan suara langkah kaki dan gelak tawa terdengar mendekat. Empat pemuda jangkung berjalan santai menyusuri selasar—geng Anak Pojok: Ferdi, Kevin, Pandu, dan Khafi yang sedang memegang bola basket di himpitan tangannya.
Melihat keberadaan geng Anak Pojok, Selly seketika mengubah raut wajah galaknya secara drastis dalam hitungan detik. Wajah sinisnya menguap, berganti menjadi raut menye-menye yang super manja.
"Gawat, gawat! Drama kolosal lagi nih!" bisik Ferdi dari jauh seraya menghentikan langkahnya mendadak di belakang Khafi.
Kevin mendecak seraya menepuk dahinya. "Aduh, si Selly beraksi lagi. Capek banget gue ngelihatnya, sumpah. Kenapa harus di lorong kelas kita sih?"
Pandu yang paling normal hanya menghela napas panjang seraya membetulkan letak kacamatanya. "Gue kasian deh sama Kiara, pasti baru aja disemprot."
Khafi sendiri menghentikan langkahnya. Begitu matanya menangkap sosok Selly yang berdiri menghalangi jalan Kiara, raut wajah tampannya langsung berubah keruh. Matanya memancarkan rasa risih dan terganggu yang teramat sangat. Khafi sangat malas menghadapi drama cewek menye-menye seperti Selly, namun ia juga tak bisa membiarkan keributan terjadi di lorong kelasnya.
"Khafiiii~!" jerit Selly dengan suara melengking manja yang sengaja dimanis-maniskan. Ia langsung melangkah cepat melewati Kiara dan hendak menggamit lengan kemeja seragam Khafi. "Khafi, kamu dari mana aja sih? Aku dari tadi nungguin kamu tau! Terus ya, anak baru ini tuh masa berniat jahat sama aku, dia kayak nggak suka gitu kalau aku dekat-dekat sama kamu!"
Khafi refleks menarik lengannya ke belakang sebelum jemari Selly sempat menyentuh seragamnya. Langkahnya bergeser setengah meter ke samping, secara terang-terangan menunjukkan bahwa ia sangat risih.
"Jangan megang-megang, Sel. Panas," ucap Khafi datar, dingin, dan tanpa ekspresi sedikit pun.
Ferdi di belakang Khafi sampai harus menutup mulutnya dengan kedua tangan demi menahan tawa agung yang hampir meledak. "Panas katanya, njir! Es batu mah bebas!" bisik Ferdi pada Kevin.
Kevin mengacungkan jempolnya pelan. "Mantap Kapten, pertahankan benteng pertahanannya."
Selly yang mendapat reaksi dingin itu langsung memajukan bibirnya penuh rajukan. "Khafi kok gitu sih sama aku! Aku kan cuma mau ngingetin kamu biar nggak usah dekat-dekat sama cewek baru ini. Dia itu enggak jelas, Khaf!"
Khafi menghela napas berat. Rasa malasnya menangani Selly mendadak memicu ide jahilnya yang kumat secara tidak bertanggung jawab. Matanya bergulir melirik ke arah Kiara yang masih terdiam di tempatnya seraya bersedekap dada dengan wajah datar.
Nih anak baru mukanya lempeng banget ngelihatin drama, batin Khafi sengit.
Sisi provokatif Khafi seketika menyala. Daripada meladeni Selly yang makin bikin pusing, lebih baik ia membawa Kiara ke dalam pusaran masalah ini sekalian.
Tanpa aba-aba, Khafi melangkah maju melewati Selly, menghampiri Kiara yang sedang berdiri tenang. Sebelum Kiara sempat bereaksi atau menghindar, tangan panjang Khafi secara santai mendarat di bahu mungil Kiara, merangkulnya dengan gaya super akrab khas anak muda.
Deg!
Kiara membelalakkan matanya kaget. Neona mendadak menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara Ferdi dan Kevin di belakang melongo tak percaya, sedangkan Pandu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Khafi.
"Apaan sih lo?!" bisik Kiara tajam seraya mencoba melepaskan rangkulan tangan Khafi di bahunya. Namun, genggaman dan postur tubuh Khafi yang jauh lebih besar mengunci bahu Kiara dengan rapat.
Khafi menunduk sedikit, menyunggingkan senyum miring nan provokatif ke arah Kiara, lalu mengalihkan pandangannya ke Selly yang sudah membeku di tempat dengan wajah pucat menahan emosi.
"Sorry ya, Sel," suara Khafi terdengar sangat santai namun sanggup meremukkan hati Selly seketika. "Gue nggak ada waktu buat ngobrol. Gue sama Kiara udah janjian mau balik bareng. Iya kan, Ra?"
Khafi menyenggol bahu Kiara pelan, menuntut jawaban. Kiara mendongak menatap wajah Khafi dari samping dengan tatapan yang bisa membunuh orang jika pandangan mata adalah pisau.
Ini cowok gila ya?! Malah makin bikin keruh suasana! jerit Kiara dalam hati.
"Gue nggak janji—" Baru saja Kiara mau membantah dan menyemprot Khafi, cowok jangkung itu sudah lebih dulu menyelipkan jemarinya di tali ransel Kiara dan menarik pelan gadis itu untuk berjalan bersamanya menerobos kerumunan.
"Yuk balik, Kiara. Ntar sore keburu macet," potong Khafi cepat, sengaja mengeraskan suara pada kata 'Kiara'.
Selly menjerit panik di belakang seraya menghentakkan kakinya ke lantai keramik. "Khafiiii! Kok kamu tega banget sih sama aku?! Khafiii!"
Dayang-dayang Selly sibuk menenangkan ketua mereka yang mulai merajuk heboh, sementara Ferdi, Kevin, dan Pandu berjalan menyusul di belakang seraya menahan tawa setengah mati.
"Anjir, si Khafi! Tamengnya pake anak baru!" kekeh Ferdi pelan.
"Parah sih, si Selly di-ghosting terang-terangan di depan umum," timpal Kevin seraya menggelengkan kepala.
Begitu melangkah keluar dari gerbang utama sekolah dan tiba di tepi jalan selasar yang agak sepi, Kiara langsung menghentakkan bahunya secara kasar, melepaskan cengkeraman tangan Khafi dari bahunya.
Sret!
Kiara berbalik arah tegak lurus, menatap Khafi dengan mata berapi-api.
"Lo punya masalah apa sih sama hidup gue, hah?!" semprot Kiara dengan emosi yang akhirnya pecah. Dagu tegaknya terangkat, memandang Khafi penuh ketidaksetujuan.
"Lo gila ya?!" semprot Kiara langsung. Mukanya udah gedeg banget.
"Maksud lo apaan pake ngomong gitu ke si Selly?! Sejak kapan gue janjian balik sama lo?!"
Khafi nahan tawa, tangannya masuk ke saku celana. "Elah, santai napa. Cuma biar dia diem doang. Lo juga selamat kan dari gangguan dia?"
"Selamat apanya?! Yang ada tuh cewek makin makin gedeg sama gue gara-gara kelakuan ajaib lo!" Kiara ngomongnya ngegas, gak ada anggun-anggunnya lagi. "Gue tuh gak ada urusan ya sama fans club lo itu!"
Neona yang berlari kecil menyusul dari belakang langsung berhenti di samping Kiara dengan napas terengah, ia ikut menambahi. "Tau tuh, Khafi! Lo mah seneng banget numbalin orang."
Khafi memutar bola basket di jemari tangannya, lalu menyandarkan punggungnya di tiang gerbang sekolah dengan gaya santai. Wajah tampannya memamerkan ekspresi tanpa dosa yang luar biasa menyebalkan.
Ferdi, Kevin, dan Pandu yang baru tiba di gerbang langsung berhenti, menonton percekcokan itu dengan antusias bagaikan menonton bioskop gratis.
"Wah, wah... Baku hantam ronde dua dimulaaii," bisik Ferdi heboh.
"Khafi mah emang memicu pertempuran," kekeh Kevin.
Khafi yang ditatap tajam oleh Kiara bukannya merasa bersalah, justru makin merasa terhibur. Sifat ketegangan dan pendirian kuat yang dipancarkan gadis mungil di depannya ini selalu sukses memancing rasa usilnya yang tak tertahankan.
Khafi memajukan kepalanya sedikit, mendekati wajah Kiara seraya menyunggingkan seringai miringnya yang khas.
"Lagian muka lo biasa aja kali, nggak usah galak-galak," celetuk Khafi dengan nada suara yang sangat santai. "Kalau lagi marah gitu, tuh kan... mirip Kuntil lagi."
Deg.
Kata itu keluar lagi secara mulus dari mulut Khafi Mahendra.
Mata Kiara sudah membulat kesal, ia membeku sesaat. Panggilan menyebalkan yang kemarin sempat dipensiunkan secara formal di depan kelas kini kembali digaungkan dengan begitu tak berdosa oleh sang Kapten Basket. Pendirian Kiara yang tidak suka dipermainkan seketika mendidih hebat.
"KHAFI MAHENDRA!" jerit Kiara sengit seraya mengepalkan kedua tangannya di udara. "LO LUPA YA SAMA JANJI TARUHAN KEMARIN?"
Khafi meledak dalam tawa pelannya—sebuah tawa lepas yang sangat jarang diperlihatkan di depan orang lain. Ia berbalik santai menuju area parkiran motor tempat motor besarnya terparkir.
"Janjinya kan cuma berlaku di dalam kelas, Kuntil!" teriak Khafi seraya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang. "Sampai ketemu besok, Kuntil!"
Neona menepuk jidatnya sendiri. "Kan! Apa gue bilang, janji kemarin cuma bertahan sehari dua hari."
"DASAR JANGKUNG NYEBELIN! GUE SUMPAHIN BAN MOTOR LO KEMPES YA!" teriak Kiara meluapkan kekesalannya yang membumbung tinggi ke udara sore, sementara Khafi cuma ngangkat tangannya santai tanpa nengok lagi.
Ferdi dan Kevin tertawa terbahak-bahak melihat respon Kiara, sebelum akhirnya berlari menyusul Khafi ke area parkiran.
Neona merangkul lengan Kiara seraya mengeluh pasrah. "Sabar ya, Kiara... Gue udah ngingetin dari awal, urusan sama Khafi itu butuh stok kesabaran seluas samudra."
Kiara menghela napas panjang-panjang, merapikan letak ranselnya yang sedikit miring. Meski dadanya masih dibakar rasa kesal yang luar biasa pada cowok jangkung bernama Khafi Mahendra itu, sebuah kenyataan tak bisu di dalam hatinya mengakui: sekolah barunya ini benar-benar tidak akan pernah membosankan.