Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Tahun Penantian dan Lembaran Baru

Waktu tidak pernah menunggu siapa pun untuk sembuh, namun waktu bersedia menemani mereka yang berjalan dengan sabar. Dua belas bulan telah berlalu sejak badai fitnah dan perpisahan tragis di kantor Dean menghancurkan seluruh duniakah Valerie. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang gadis untuk mengobati trauma batin, menata kembali harga diri yang terkoyak, dan belajar mempercayai ketulusan seorang pria lagi.

Sepanjang tiga ratus enam puluh lima hari itu, Carlo membuktikan setiap kata yang pernah diucapkannya di bawah lampion kedai ramen dan di balik pintu apartemen Valerie. Pria itu tidak pernah menuntut status yang terburu-buru. Dia tidak pernah menggunakan pesonanya sebagai senior populer untuk mendesak Valerie membuka hati.

Carlo memilih menjadi bayang-bayang yang kokoh; dia ada di sana saat Valerie harus mempersiapkan ujian laboratorium yang melelahkan, dia ada di sana saat Valerie merayakan kelulusan semester empatnya dengan tawa riuh, dan dia ada di sana saat Valerie sesekali masih menatap kosong ke arah lorong apartemennya, teringat akan luka masa lalu. Konsistensi tanpa cela dan kehangatan tulus yang Carlo berikan akhirnya berhasil mengeringkan sisa-sisa air mata di pipi Valerie, mengubah tanah gersang di hatinya menjadi sebuah taman baru yang siap mekar kembali.

Hari itu adalah hari Jumat sore di akhir semester enam. Udara Jakarta terasa hangat dengan semburat langit senja berwarna jingga keemasan yang indah. Valerie melangkah keluar dari gedung gedung fakultas biologi bersama Tiara. Binar ekspresif dan ceria di wajah Valerie kini telah kembali seutuhnya. Dia tampak begitu segar dengan blus kasual berwarna kuning cerah, warna yang dulu sempat redup namun kini memancarkan kembali energi positifnya yang khas.

"Val, lihat ke arah sana," goda Tiara, menyenggol lengan sahabatnya dengan siku sambil tersenyum lebar. "Pangeran denim-mu sudah stanby di tempat biasa."

Valerie mendongak dan menatap ke arah gazebo taman dekat air mancur kampus [local]. Di sana, Carlo sedang berdiri bersandar pada tiang kayu, mengenakan jaket denim kasualnya yang khas. Pria itu baru saja menyelesaikan sidang komprehensif kelulusannya dua hari lalu, namun alih-alih beristirahat, dia tetap memilih untuk menunggu Valerie menyelesaikan kelas terakhirnya. Begitu matanya menangkap sosok Valerie, senyum hangat yang selalu memancarkan validasi teduh langsung terkembang di bibirnya.

"Sana samperin, Val. Jangan buat dia mengantre di daftar tunggu hatimu untuk tahun kedua," bisik Tiara dengan mata berkaca-kaca haru, merasa sangat bahagia melihat sahabatnya telah benar-benar pulih dari kehancuran yang dulu disebabkan oleh kakak kandungnya sendiri.

Valerie tersenyum manis, mengangguk pada Tiara sebelum melangkah cepat menuju gazebo. Jantungnya berdegup dengan ritme yang konstan namun manis, sebuah debaran yang berbeda dengan rasa cemas yang dulu sering dia rasakan bersama Dean. Ini adalah debaran kebahagiaan yang aman.

"Sore, Kak Carlo. Menunggu lama?" sapa Valerie, mendongak menatap sepasang mata cokelat hangat milik seniornya.

"Untukmu, satu tahun saja terasa seperti beberapa menit, Val," jawab Carlo dengan nada bercanda yang sangat halus, namun sorot matanya menyiratkan keseriusan pekat yang tak terbantahkan. Dia mengambil tas kuliah Valerie dari pundaknya, membawakannya dengan gestur penuh inisiatif yang selalu konsisten dia lakukan selama setahun ini. "Ayo, aku mau mengajakmu ke suatu tempat malam ini. Merayakan selesainya semester enam-mu."

Carlo membawa Valerie kembali ke kedai ramen kecil di sudut jalan dekat kampus—tempat di mana satu tahun lalu Carlo berjanji untuk mengantre di belakang kesembuhan hati Valerie. Malam ini, kedai itu tampak sedikit lebih sepi, menyisakan alunan musik akustik yang tenang dari sudut ruangan.

Setelah dua mangkuk ramen hangat tersaji di atas meja, Carlo tidak langsung menyantap makanannya. Dia menatap lekat-lekat wajah Valerie yang berada di hadapannya di bawah temaram lampu lampion yang temaram.

"Valerie," panggil Carlo, suaranya merosot ke nada yang lebih rendah, pekat, dan sarat akan kesungguhan mutlak.

"Ya, Kak?" Valerie meletakkan sumpitnya, menatap Carlo dengan binar mata yang kini sepenuhnya terbuka untuk pria di depannya.

Carlo merogoh saku jaket denimnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru dongker, lalu membukanya di atas meja kaca. Di dalamnya, terdapat sebuah gelang perak minimalis dengan gantungan kecil berbentuk bunga daisy putih kesukaan Valerie—sebuah perhiasan yang sederhana namun indah, sangat mencerminkan bagaimana Carlo selalu memperhatikan setiap detail kecil tentang preferensi Valerie.

"Tepat satu tahun yang lalu, di meja yang sama ini, aku berjanji padamu untuk berdiri di sampingmu, menemanimu berjalan, dan membantumu tersenyum kembali tanpa pernah memaksakan kehendakku," ucap Carlo, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Valerie dengan ketulusan yang teramat sangat besar. "Selama tiga ratus enam puluh satu hari, aku menyaksikan bagaimana kamu berjuang menyembuhkan retakan di hatimu. Aku melihat ketulusanmu, ketabahanmu, dan hari ini... aku bisa melihat cahaya indahmu telah kembali sepenuhnya."

Carlo mengulurkan tangan kanannya, dengan sangat sopan menyentuh ujung jemari Valerie di atas meja. "Aku tidak ingin lagi menjadi sekadar senior yang mengantarmu pulang atau menemanimu belajar di perpustakaan. Aku ingin menjadi pria yang menggenggam tanganmu di depan duniakah, menjagamu dari setiap dinginnya malam, dan memastikan bahwa kamu tidak akan pernah merasa diabaikan atau dinomorduakan lagi oleh siapa pun. Valerie... maukah kamu memulai lembaran baru dan resmi menjadi kekasihku malam ini?"

Mendengar pernyataan cinta yang begitu indah dan penuh penghormatan dari mulut Carlo, air mata Valerie mendadak menetes perlahan membasahi pipinya. Namun kali ini, tidak ada rasa sakit, tidak ada sesak yang mencekik dada. Yang ada hanyalah rasa lega yang luar biasa besar dan keharuan yang memenuhi seluruh jiwanya. Perjuangan sabar Carlo selama satu tahun penuh telah berhasil membuktikan bahwa dirinya berharga, bahwa ketulusannya layak mendapatkan tempat tertinggi di hati seorang pria sejati.

Valerie menyeka sisa air matanya dengan jemarinya, lalu mengangguk mantap dengan senyuman lebar yang memancarkan kebahagiaan sejati yang tiada tara. "Iya, Kak Carlo. Aku mau. Terima kasih... terima kasih karena sudah bersabar menungguku selama satu tahun ini."

Carlo mengembuskan napas panjang dengan binar mata yang berapi-api penuh rasa syukur. Dia mengambil gelang perak daisy tersebut dari kotaknya, lalu memakaikannya di pergelangan tangan kiri Valerie dengan gerakan yang sangat lembut, sebelum mengecup punggung tangan kekasih barunya itu dengan kehangatan yang merayap ke seluruh tubuh Valerie. Malam itu, di bawah kesaksian lampion kedai ramen yang hangat, Valerie secara resmi menutup buku masa lalunya yang kelam dan membuka babak baru hubungan yang penuh romantisme, penghargaan, dan kebahagiaan sejati bersama Carlo.

Sementara di belahan kota yang lain, di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara dan mewah, Dean duduk sendirian menatap jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu malam Jakarta. Setelan jas hitamnya masih melekat sempurna, namun penampilannya tampak jauh lebih kaku dan lelah. Sudah satu tahun penuh dia menjalani hidup dalam penyesalan bisu yang terlambat, mengubur dirinya dalam tumpukan dokumen korporat demi mengalihkan rasa rindu yang kian hari kian membakar dadanya.

Ponsel pribadinya di atas meja bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Tiara. Dean segera meraih ponselnya dengan setitik harapan rapuh yang selalu dia pelihara setiap kali nama adiknya tertera di layar—satu-satunya jembatan informasi yang memungkinkannya memantau Valerie dari kejauhan.

Namun, pesan dari Tiara malam itu berisi sebuah foto dan kalimat pendek yang meruntuhkan sisa pertahanan mental sang CEO kaku:

“Kak Dean, malam ini Valerie sudah resmi pacaran dengan Kak Carlo setelah satu tahun pendekatan tulus yang dilakukan Kak Carlo tanpa cela. Lihat foto ini, Valerie tersenyum sangat lebar dengan gelang daisy barunya. Kakak sudah kalah telak oleh waktu dan kehangatan. Tolong, jangan pernah muncul lagi untuk merusak kebahagiaan yang baru saja dia temukan.”

Dean menatap foto Valerie yang sedang tersenyum lebar sambil memamerkan gelang peraknya di depan kamera kedai ramen. Wajah gadis itu tampak begitu bercahaya, begitu bahagia—sebuah ekspresi kebahagiaan sejati yang tidak pernah bisa Dean berikan selama dua tahun kebersamaan kaku mereka dulu.

Logika perfeksionis Dean kembali dipaksa menghadapi kekalahan mutlak. Setitik air mata penyesalan yang langka lolos membasahi pipinya yang mengeras. Dia merosot di kursi kebesarannya, menutup wajahnya dengan kedua belah tangan dalam kegelapan malam kantor yang sunyi. Bagi Dean, ini adalah hukuman mati yang paling adil bagi seluruh kebodohannya di masa lalu, dan dia harus menerima kenyataan pahit bahwa wanitanya kini telah benar-benar melangkah masuk ke dalam dekapan hangat pria lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!