Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Urusan Kaca, Ini Urusan Keluarga

PRANGGG!

Suara kaca pecah yang hancur berkeping-keping menggema luar biasa keras di lantai satu. disusul berbagai pasang mata yang membulat shock.

Silva membeku di tempat dengan kaki yang masih menggantung di udara, sementara Baffin hanya bisa memejamkan matanya erat-erat, merutuki nasibnya yang resmi harus menghadapi hari pertama sekolah paling hancur sepanjang sejarah hidupnya.

Detik setelah bunyi pecahan kaca itu mereda, koridor lantai satu Highscape High School mendadak sunyi senyap.

Baffin tidak bergerak satu senti pun. Cowok itu hanya menghela napas pasrah, menatap langit-langit koridor dengan sisa-sisa kesabaran yang sudah menipis di dasar jurang.

Lihatlah. Belum ada satu jam gadis itu menginjakkan kaki di sekolah barunya, dia sudah berhasil mengguncang ketenangan yayasan dengan tendangan mautnya.

Baffin menurunkan pandangannya, menatap Silva dengan kedua alis terangkat tinggi seolah menuntut pertanggungjawaban.

Silva yang ditatap seperti itu langsung mengkerut. Namun, seperti ritual wajib yang sudah mendarah daging, ia langsung menjadikan Baffin sebagai kambing hitam. "Kalau kamu gak nyalahin aku ceroboh dan langsung ngaku salah, aku gak bakal nendang bolanya karena kesel, Apin." tutur Silva pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menghindari ratusan pasang mata yang kini menguliti tubuhnya.

"Lagian... aku gak tahu kalau kacanya bakal pecah."

"Kamu gak tahu kaca kalo di tendang bola bakal pecah?"

"Bukan gitu..."

Tiba-tiba sesosok guru perempuan paruh baya dengan kacamata yang melorot hingga ke ujung hidung muncul menerobos kerumunan. Wajahnya yang sekaku papan tulis langsung berubah pias saat melihat puing-puing kaca berserakan di lantai.

"Astaga?! Siapa yang berani mecahin kaca di hari pertama sekolah?!" pekik guru itu dengan lengkingan suara tinggi yang membuat gendang telinga ngilu.

Silva yang ketakutan setengah mati refleks melangkah mundur, lalu menyembunyikan seluruh tubuh mungilnya di balik punggung tegap Baffin.                   Tangannya meremas kuat-kuat ujung jaket kasual cowok itu.

Di tengah keheningan mencekam pasca-teriakan sang guru, Baffin justru menyahut dengan suara beratnya yang terdengar sangat tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Saya, Bu."

Bisik-bisik langsung pecah dalam sekejap.

Guru perempuan itu membetulkan letak kacamatanya, menatap Baffin dari atas ke bawah. "Oh... kamu, Baffin?" Setelah bergumam pelan seolah memaklumi bahwa sang kapten futsal yang melakukannya, guru itu langsung memutar tubuhnya dan pergi begitu saja.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari ujung koridor, muncul Kepala Sekolah Highscape High School, Pak Wijaya, yang sedang berjalan gagah.

Di sebelah pria paruh baya itu, seorang siswi perempuan cantik itu tampak menggandeng erat lengan Pak Wijaya dengan manja.

"Siapa yang mecahin kaca sekolah?" tanya Pak Wijaya dengan suara berwibawa yang langsung membungkam seluruh koridor.

Ia mengedarkan pandangan tajamnya ke sekeliling, hingga akhirnya tatapannya terkunci rapat pada sosok Baffin yang berdiri tegak di tengah medan perang. Saat mata mereka bertemu, Baffin tidak menghindar. "Aku," jawab Baffin singkat, melupakan bahasa formal karena Pak Wijaya sebenarnya masih merupakan bagian dari lingkaran keluarga besarnya sendiri.

"Kamu?" Pak Wijaya menaikkan sebelah alisnya. Mata tuanya yang jeli mendadak menangkap sekelebat ubun-ubun kepala mungil yang sedang bergerak gelisah, berusaha bersembunyi di belakang tubuh bongsor Baffin. "Siapa itu di belakang kamu?"

Baffin melirik Silva sekilas melalui sudut matanya. "Silva."

Gadis cantik ber-name tag Edelweiss Zannia di sebelah Pak Wijaya itu -atau biasa dipanggil Edel- yang sejak tadi menyimak, mendadak memandangi ayahnya dengan mata membelalak heboh. "Silva? Silva itu... tunangannya Kak Baffin bukan ya, Pa?"

Pak Wijaya tampak berpikir sejenak, mencoba memutar memori di otaknya. Sedetik kemudian, senyum penuh arti terbit di wajah pria paruh baya itu saat ia menatap Baffin lekat-lekat. "Ah, iya... Silva itu tunangan kamu yang ajaib itu, ya?"

Baffin hanya bisa mengangguk pasrah, mengunci mulutnya rapat-rapat demi menyelamatkan sisa harga dirinya yang sudah resmi hancur lebur di hari pertama sekolah.

BOOM!

Melihat anggukan validasi dari Baffin, seluruh barisan siswi perempuan di koridor langsung dilanda badai shock massal tingkat internasional.

Apa-apaan ini?! Alasan utama mereka begitu bersemangat bangun pagi dan masuk sekolah hari ini adalah demi bisa melihat ketampanan sang kapten futsal berhati es.

Tapi di hari pertama sekolah, kenyataan pahit justru menampar mereka secara instan: Baffin sudah sold out alias punya tunangan! Lebih menyakitkan lagi, spek tunangannya adalah seorang murid pindahan ceroboh yang baru datang langsung memecahkan fasilitas sekolah!

Melihat anggukan pasrah keponakannya, Pak Wijaya justru terkekeh renyah tanpa ada gurat amarah sedikit pun. "Jadi... ini dia yang mecahin kacanya?"Baffin mengangguk lagi, membiarkan omnya itu menertawakan penderitaannya.

Masih dengan kekehan ringannya, Pak Wijaya berucap. "Kalau gitu mending kalian cepat-cepat nikah aja. Biar jiwanya Silva genap"

Kalimat ajaib yang keluar dari mulut Kepala Sekolah itu seketika membuat ratusan murid yang sedang menonton kekacauan di koridor dilanda kebingungan massal. Menikah? Biar jiwanya genap? Teori macam apa itu?

Sementara itu, Baffin sendiri langsung mematung di tempat dengan mata melebar kaget. Gila! batin Baffin menjerit frustrasi. Apakah omnya yang berpendidikan tinggi ini ternyata juga ikut-ikutan percaya pada mitos takhayul kuno tentang lahir di hari, tanggal, dan jam yang sama?

Habis sudah. Orang dewasa di sekitar kehidupannya ternyata tidak ada yang waras satu pun. Di rumah ada orang tuanya yang kolot, di sekolah ada omnya yang ikut sekte mitos penyeimbang, belum lagi di markas ada teman-temannya yang sibuk mendirikan sekte "Bapaknya Upin Ipin".

Tepat saat Baffin sedang meratapi nasib buruknya, sesosok pria paruh baya dengan napas yang putus-putus tampak berlari tergopoh-gopoh menerobos kerumunan murid dari arah gerbang depan.

Itu Baskara. Setelah menunggu Silva di gerbang untuk memberikan topi yang ketinggalan, laki-laki itu akhirnya memilih untuk masuk karena Silva tidak kunjung datang.

Juga karena perasaannya tidak enak Khawatir putrinya yang grasah-grusuh itu berbuat sesuatu yang aneh di hari pertama, Baskara nekat masuk ke dalam area sekolah sambil membawa topi sekolah Silva di tangannya.

Begitu melihat kerumunan orang yang memadat di koridor, ditambah pemandangan puing-puing kaca yang hancur berantakan di lantai marmer, insting seorang ayah langsung bekerja dengan sangat akurat.

Baskara mengedarkan pandangan tajamnya, mencari keberadaan sang putri. Dan benar saja, di balik tubuh tegap Baffin, ada Silva yang sedang mengintip polos dengan mata bulatnya.

Baskara langsung berkacak pinggang, menatap putrinya dengan pandangan menghakimi yang super telat. "SILVANNA?! Ini pasti kamu kan yang mecahin kaca sekolah?!"

Pak Wijaya menoleh, lalu wajahnya yang berwibawa seketika cerah saat mengenali sosok pria paruh baya yang baru datang tersebut. "Eh, Pak Baskara..." sapa Pak Wijaya ramah.

Sebagai om dari Baffin yang sering berkunjung ke rumah keponakannya di akhir pekan, Pak Wijaya tentu sudah sangat familier dengan Baskara.

Hubungan mereka sudah seperti teman lama yang sering terlibat obrolan ala bapak-bapak di teras rumah—biasanya terjadi saat Baskara sedang sibuk menyiram tanaman, lalu Pak Wijaya yang baru turun dari mobil menyempatkan diri untuk menyapa dan mengobrol santai dari balik pagar. Jadi, intinya mereka memang sudah saling kenal dekat di dunia nyata.

"Ah... Pak Wijaya," sahut Baskara dengan helaan napas berat, senyumnya mendadak terasa kecut. Ia menatap Kepala Sekolah itu dengan perasaan yang teramat tidak enak. "Aduh, maaf ya, Pak... putri saya baru juga hari pertama masuk sekolah baru, langsung buat kekacauan besar begini."

Mendengar permintaan maaf itu, Pak Wijaya justru kembali terkekeh santai, mengibaskan tangannya di udara seolah puing-puing kaca di lantai itu tidak ada harganya sama sekali. "Nggak apa-apa... santai aja, Pak Baskara. Lagian nanti kalau anak-anak ini sudah nikah, kita juga bakal jadi satu keluarga besar. Santai aja, gak usah dipikirkan."

Baskara hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, merespons rentetan tawa santai Pak Wijaya dengan senyuman canggung. "Ya sudah kalau begitu, Pak. Saya keluar dulu, mau nyari toko kaca di sekitaran sini buat ganti jendela yang pecah."

Sebelum memutar tubuhnya untuk pergi, Baskara memberikan lirikan peringatan yang tajam ke arah putri tunggalnya yang masih mengintip takut-takut di balik punggung Baffin. "Kamu jangan bertingkah aneh-aneh lagi ya, Silva!"

Pandangan Baskara kemudian beralih pada Baffin, menatap pemuda tegap itu dengan binar penuh harap. "Jagain Silva ya, Baffin."

Baffin mengangguk pelan namun tegas. "Iya, Om."

Dari jarak beberapa meter sebelum melangkah keluar menuju gerbang utama, Baskara tiba-tiba mengangkat tangan kanannya yang memegang topi sekolah Silva, lalu melemparkannya ke udara.

Dengan gerakan refleks yang sangat terlatih sebagai kapten futsal, Baffin menangkap topi tersebut dengan satu tangan secara mulus.

Baffin berbalik sepenuhnya menghadap Silva. Tanpa banyak bicara, tangan besarnya bergerak meletakkan topi sekolah tersebut tepat di atas kepala Silva yang tertutup rambut halus, lalu merapikan posisinya agar tidak miring.

"Ayo," titah Baffin pendek.

Sebelum Silva sempat membalas, Baffin sudah meraih pergelangan tangan mungil gadis itu, menggandengnya dengan gerakan tegas namun lembut untuk membelah kerumunan murid.

Ia menarik sang "pawang bencana" keluar dari koridor yang pengap menuju ke arah lapangan utama sekolah.

Berhubung ini adalah hari pertama masuk setelah libur kenaikan kelas, seluruh murid diwajibkan untuk berkumpul di lapangan guna mengikuti upacara pembukaan tahun ajaran baru.

Namun, Silva langsung menyelutuk "hape aku." Ucapnya sambil menatap ke belakang dimana ponselnya tergeletak mengenaskan di lantai koridor.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!