Indonesia
NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjodohan

“Pagi semuanya…” sapa Jingga ceria pada keluarganya yang sedang sarapan bersama di meja makan.

“Pagi, sayang,” sahut Ali, papihnya, sambil tersenyum hangat.

“De, hari ini temenin kakak, ya? Kita ke butik Mbak Yola. Kakak mau pilih baju buat acara lamaran nanti,” pinta Moza, kakak sulung Jingga yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.

“Iya, Kak, siap. Nanti setelah makan siang aku izin,” jawab Jingga sambil mengedipkan mata manja.

“Memangnya Mas Egha nggak nemenin, Kak?” tanya Grey, adik bungsu mereka.

“Mas Egha lagi sibuk, ada meeting sama klien di luar kota,” jelas Moza sambil menghela napas kecil.

“Mih, apa Mami mau ikut juga nemenin kita?” tanya Jingga pada sang ibu.

“Hari ini Mami nggak bisa. Ada pertemuan dengan investor yang penting, jadi kalian saja yang pergi, ya,” jawab Rika lembut, meski wajahnya terlihat lelah.

Rika adalah pemilik Alinka Hotel, sebuah hotel mewah yang dikelolanya bersama Moza. Sedangkan Jingga sendiri membantu Ali di perusahaan Alinka. Ali memang sengaja memberikan kepercayaan itu pada Jingga, karena kelak Moza akan lebih fokus melanjutkan bisnis hotel milik ibunya. Sementara Grey memilih jalannya sendiri sebagai dokter, meneruskan rumah sakit milik sang kakek.

“Iya, Mih. Nanti aku langsung nyusul ke butik dari rumah sakit,” sahut Grey sambil tersenyum.

Keluarga ini memang kompak. Ali dan Rika selalu menanamkan pentingnya quality time, sesibuk apa pun mereka. Bahkan sekadar sarapan bersama sudah menjadi kebiasaan yang hangat.

“Pih, mih aku berangkat duluan ya. Ada beberapa dokumen yang harus segera aku urus,” pamit Jingga sambil meraih tasnya.

“Udah kenyang makannya, Ji?” tanya Rika lembut.

“Udah, Mih.” Jingga tersenyum, lalu menunduk sebentar sebelum beranjak.

Ali mengangguk. “Hati-hati di jalan,Nak .”

“Iya, Pi,” jawab Jingga

---

Siang harinya, seperti yang dijanjikan, Jingga buru-buru pulang lebih awal untuk menemani Moza ke butik. Karena tergesa-gesa, mobilnya nyaris menabrak sedan hitam yang melintas di depannya.

Brak! Jingga menekan rem sekuat tenaga. Jantungnya berdegup kencang.

Seorang pria tampan keluar dari mobil itu. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam, dan langkahnya penuh percaya diri. Namun sayang, alih-alih menenangkan, ia malah mengetuk kaca mobil Jingga dengan kasar.

Dor! Dor! Dor!

“Buka pintunya!” teriaknya dengan nada kesal.

Dengan ragu, Jingga menurunkan kaca mobilnya.

“Maaf, saya tidak sengaja. Saya buru-buru…” ucapnya sopan.

“Makanya hati-hati kalau nyetir, Mbak. Baru belajar bawa mobil, ya? Nyawa orang itu taruhannya!” balas pria itu ketus.

Jingga mendengus, mencoba menahan kesal. “Saya sudah minta maaf, lagi pula kamu kan nggak apa-apa?”

“Untung saya nggak apa-apa. Kalau sampai terjadi sesuatu, bisa gawat. Negara ini bisa kehilangan orang penting,” jawabnya sombong.

Jingga ternganga. Astaga, siapa sih orang ini?

“Cih, sombong amat! Sekalian aja bilang kalau dunia bakal kiamat kalau kamu kenapa-kenapa!” balasnya sinis.

Pria itu hanya melirik dingin. “Sudahlah, aku nggak mau buang waktuku,” ucapnya, lalu kembali masuk ke mobil dan melaju pergi.

Jingga masih terdiam, menatap punggung mobil itu.Kemudian ia menggerutu sambil menginjak gas. “Dasar lelaki sombong!”

---

Setibanya di butik, Moza sudah menunggunya.

“Kenapa, De? Kok mukamu kusut begitu?” tanya Moza heran.

“Aku kesel, Kak. Tadi di jalan hampir nabrak mobil cowok tampan—tapi super sombong! Rasanya pengin kutabrak beneran tuh mobilnya,” sahut Jingga kesal.

“Hah? Tabrakan? Kamu nggak apa-apa, kan?” Moza langsung panik, melirik tubuh adiknya dari ujung kepala hingga kaki.

“Tenang aja, Kak. Aku selamat. Ya sudah, ayo kita pilih bajunya,” ucap Jingga cepat-cepat mengalihkan topik.

Tak lama kemudian, Grey datang tergesa-gesa.

“Sorry telat, Kak. Tadi ketemu sahabat lama yang baru pulang dari Jerman,” ucapnya sambil tersenyum canggung.

“Gak apa-apa, De. Makasih sudah sempetin datang,” jawab Moza menepuk pundak adiknya.

Setelah puas memilih baju, mereka pun pulang bersama.

---

Malam harinya, kediaman keluarga Alinka kedatangan tamu spesial: Tama dan istrinya, Wina. Mereka adalah sahabat lama Ali dan Rika sejak SMA, dan hubungan mereka tetap dekat hingga kini, bahkan saling mendukung dalam bisnis.

Ting tong!

“Ji, tolong bukakan pintu. Mungkin Om Tama datang,” pinta Ali.

“Iya, Pih,” jawab Jingga sambil berlari kecil ke pintu.

“Assalamu’alaikum,” sapa Tama dan Wina bersamaan.

“Wa’alaikumsalam. Eh, Om, Tante, silakan masuk,” sahut Jingga sambil menyalami dan mencium tangan mereka.

“Aduh, makin cantik saja nih Jingga,” puji Wina ramah.

Jingga tersenyum malu. “Terima kasih, Tante.”

Setelah semua berkumpul di ruang tengah, suasana hangat dipenuhi canda tawa. Namun, perlahan Ali menghela napas panjang, lalu menatap putrinya dengan serius.

“Ji, sebenarnya ada hal yang ingin Papi bicarakan. Papi harap kamu mau mendengarkannya dengan tenang,” ucap Ali sambil mengusap pundaknya.

Jingga menatap ayahnya, bingung. “Ada apa, Pih? Aku dengerin, kok.”

Tama lalu menimpali, “Sebenarnya kedatangan kami malam ini untuk membicarakan sesuatu yang penting. Kami ingin menjodohkan kamu dengan anak semata wayang kami… Levin.”

Duar!!!

Seolah tersambar petir di siang bolong, Jingga terdiam membisu.

“Hah? Levin? Dia kan seumuran sama aku, Pih!” seru Grey, kaget mendengar kakaknya akan dijodohkan dengan sahabat lamanya.

“Papi, Mami, apa-apaan sih? Mau jodohin aku sama bocah?” batin Jingga menjerit.

“Umur bukan hambatan, Grey,” potong Rika lembut, memberi isyarat agar anak bungsunya tidak banyak komentar.

Ali menenangkan suasana. “Kita nggak minta kalian menikah sekarang juga. Anggap saja ini kesempatan untuk saling mengenal dulu.”

Jingga menggigit bibirnya. Ia bukan tipe yang suka membantah orang tua. “Baik, Pih… Aku akan coba kenalan dengan dia. Tapi… apa dia sendiri mau dijodohkan denganku?” tanyanya pelan.

“Tentu saja. Anak seperti Levin pasti senang punya calon istri secantik dan sepintar kamu,” jawab Wina mantap.

Dalam hati Jingga mendengus. Pasti lah, mana ada laki-laki yang bisa menolak aku, batinnya dengan percaya diri.

Namun, di balik senyum tipisnya, hatinya bergemuruh. Malam itu ia hanya diam, berusaha tegar di depan keluarganya. Padahal, dalam hatinya ia merasa kebebasannya untuk memilih cintanya sendiri telah direnggut.

Malam kian larut, namun obrolan kedua keluarga itu justru semakin hangat. Gelak tawa sesekali pecah di antara mereka, diselingi cerita-cerita lama dan pembahasan bisnis yang sedang mereka jalankan.

Hingga akhirnya, setelah cukup lama bercengkerama, Tama dan Wina pun berpamitan untuk pulang.

“Terima kasih atas jamuannya, Li, Ri,” ujar Tama ramah.

“Lain kali giliran kami yang menjamu kalian di rumah,” tambah Wina dengan senyum tulus.

"Dengan senang hati win, kapan-kapan kami berkunjung ke rumah mu" balas Rika dengan penuh kehangatan.

Ali dan Rika mengantar sahabat lamanya itu sampai ke pintu, sementara Jingga hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk. Malam itu meninggalkan jejak yang berbeda—sebuah awal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bersambung .....

Sekian dan terima kasih

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!